Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Asha heran


__ADS_3

"Eh, iya," jawab Paris singkat.


"Dia memang sangat lapar sekarang. Nafsu makannya sangat besar," ujar Biema memberitahu.


"Benarkah?" tanya Asha terkejut. Pria ini sudah hampir menyelesaikan makannya. Paris mengusap pelan bekas makanan di ujung bibir Biema dengan tisu, lalu mengambilkan air minum untuknya.


"Mau nambah?" tanya Paris sambil melihat pria ini minum. Setelah air sampai di kerongkongan dan tertelan, Biema menoleh pada istrinya.


"Tidak. Aku rasa sepertinya kamu yang ingin nambah," tuduh Biema yang menemukan jejak kelaparan dari raut wajah gadis ini.


"Benar," jawab Paris tergelak. Asha yang mendengarkan jadi ikut menguping.


"Nambah?" tanya Asha ikut ngobrol.


"Benar," sahut Paris seraya memamerkan deretan giginya. Setelah membereskan tempat makan Biema yang sudah habis, dia berjalan ke arah penjual. Meminta satu porsi nasi jagung lagi. Asha dan Biema memperhatikan gadis itu. Jika Biema hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang lucu, Asha merasa heran.


"Paris jadi doyan makan," ujar Asha sambil menyenggol pelan lengan Arga dengan sikunya. Arga yang hampir menyelesaikan makannya mendongak.


"Itu bagus. Bukannya ayah khawatir dia tidak makan dengan teratur ... Itu berarti Biema sudah membuatnya makan banyak sekarang. Dimana artinya dia membuat adikku itu bahagia," kata Arga sambil menunjuk Biema dengan dagunya. Biema menaikkan alis samar. Ia di puji. Hatinya senang juga di puji. Karena ia merasa berhasil membuat bahagia.


Paris datang dengan membawa seporsi nasi jagung. Wajahnya riang gembira saat kembali gabung dengan yang lain. Ini membuat Asha yang tahu bagaimana sebenarnya Paris tambah heran. Namun dia bukan perempuan kepo. Dia hanya menyaksikan setelah di awal berkomentar.

__ADS_1


**


Setelah perut Paris benar-benar bisa di bilang kenyang, mereka berempat berpisah untuk kembali ke rumah. Namun Paris tentu masih harus kembali ke rumah mertua. Suasana rumah tampak lengang. Sepertinya orang rumah sudah tidur. Mungkin Sandra saja yang terlihat mondar-mandir di ruang tengah.


"Kalian baru pulang?" tanya Sandra. Paris mengangguk. Setelah itu, Sandra pergi ke kamarnya lagi.


"Sebaiknya kita langsung tidur saja. Kamu pasti kenyang dan merasa ngantuk," kata Biema. Paris mengangguk. Namun gadis itu bukannya ikut berjalan ke tangga, malah belok ke dapur. Untung saja Biema segera menyadari istrinya tidak berada di belakangnya. Ia segera mengikuti Paris. "Mau kemana?" tanya Biema heran.


"Dapur," tunjuk Paris.


"Untuk apa? Makan lagi?" tanya Biema tidak bisa tidak menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Oh haus ..." Biema tergelak menyadari ia keliru karena berpikir bahwa istrinya ingin makan lagi.


"Aku sudah kenyang ..." Paris memegangi perutnya. Biema menundukkan pandangan melihat perut istrinya. Mengerjap sesaat. Paris mulai membuka pintu kulkas dan mengambil air minum. Ia ingin minum air dingin. Saat akan meneguk minuman di tangannya, sebuah lengan melingkar di perutnya. Paris menoleh miring. Biema tengah memeluknya. "Kenapa menggangguku minum?" tanya Paris yang tidak jadi minum.


"Aku tidak akan mengganggu mu. Minumlah." Biema membantu memegangi gelas di tangan Paris. Gadis ini minum hingga habis. "Haus sekali ya?" tanya Biema yang mengambil gelas di tangan Paris dan meletakkannya di atas kulkas. Paris mengangguk. Kemudian mengusap sisa air di sekitar bibirnya dengan punggung tangan.


"Kamu bilang aku harus tidur," protes Paris karena tangan pria ini justru menyusup ke balik kemejanya. Biema tidak menjawab. Pria ini justru menciumi leher dan tengkuk Paris. Membuat gelenyar di sekujur tubuh, akibat adanya sentuhan di titik-titik sensitif.


Suara pintu terbuka di belakang, membuat mereka terkejut. Apalagi Paris. Dia yang baru saja hampir mendesah langsung mendorong tubuh Biema agar menjauh darinya.

__ADS_1


"Kalian ... sudah pulang ternyata ..." Mama muncul. Paris tersenyum.


"Ya. Baru saja," sahut Biema.


"Lebih baik cepat tidur. Biema kan barusan sehat. Lalu Paris juga tadi kelelahan," pesan mama yang membuat Paris dan Biema menyingkir dari dekat kulkas. Karena beliau ternyata mau mengambil air minum juga.


"Iya, Ma. Sebentar lagi kita tidur," sahut Biema lagi. Paris hanya mengangguk saja. Dia yang sangat terkejut karena sedang dalam posisi yang akan membuatnya malu jika di lihat orang lain, tetap tidak mengeluarkan kata-kata apapun.


Setelah menuangkan air ke dalam gelasnya, Mama pergi lagi ke kamar tidur.


"Oh, ya. Tadi beli yang mama bilang kan?" tanya beliau ingat. Biema mengangguk.


"Ya. Itu," tunjuk Biema pada tas kresek di meja pantry tidak jauh dari mereka. Paris mengerjap mendengar mama bertanya soal tes pack yang baru saja mereka beli.


"Jangan lupa besok pagi di coba," ujar mama tersenyum.


"Iya, Ma." Biema ikut tersenyum. Paris terdiam mendengarnya. Berarti ia harus mencoba alat itu untuk pertama kalinya. Biema mendekat lagi pada istrinya. Memeluk tubuh itu dengan erat dan mencumbunya. Namun hati Paris seperti tidak tenang.


"Biem ... Kita tidur saja yuk. Harus jaga kesehatan. Karena baru saja sembuh, lebih baik cepat tidur saja," kata Paris di sela-sela Biema sedang menikmati leher nya.


__ADS_1


__ADS_2