Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Memori Asha dan Arga


__ADS_3

Rendra berdiri saat Asha sengaja keluar dari kamar perawatan demi membuat bayinya tenang.


"Eh, senior." Walaupun tadi sudah tahu kalau di luar ada Rendra, tapi karena ketegangan yang menerpa di dalam tadi, Asha jadi lupa kalau ada pria ini.


"Panggil Rendra saja," potong Rendra tidak nyaman. Itu sebutan Asha untuknya, kala perempuan ini masih menjadi pelayan di kediaman keluarga Hendarto. Asha tertawa.


"Oke, Rendra." Asha setuju.


"Itu lebih baik. Arash rewel?" tanya Rendra yang mendekat melihat ke arah Arash yang terlelap dalam buaian bundanya.


"Enggak. Hanya saja dia berkali-kali menggeliat di dalam. Jadi aku pikir lebih baik di luar saja."


"Sepertinya semua sudah usai." Rendra melihat ke pintu kamar perawatan ayah mertua. Asha menaikkan alisnya tidak paham. "Soal Paris," kata Rendra.


"Oh itu. Iya. Paris sudah bisa ikut ujian lagi." Pasti Rendra tahu dari Arga. Dan kemungkinan Arga menyuruh pria ini mencari informasi yang di perlukan demi membuat gadis itu bisa lulus sekolah dengan memegang ijazah. "Selain mencari tahu soal bagaimana Paris supaya kembali bisa ujian, apa Arga menyuruh kamu mencari informasi yang lain?"


"Informasi yang lain?"


"Ya. Misalkan kamu di suruh mencari tahu tentang seseorang." Rendra terdiam sambil melihat ke arah istri atasannya.


"Seseorang? Siapa yang kamu maksud?" Rupanya Rendra tidak segera menjawab pertanyaannya. Pria ini sepetinya sengaja. Demi menyimpan informasi yang harus di rahasiakan, Rendra sengaja berbelit-belit sat bicara. Asha tahu mungkin Arga yang menyuruhnya bungkam.


"Priski. Teman Paris." Rendra masih diam. "Paris bilang gadis itu selalu mengganggunya. Mungkin saja kamu juga di suruh mencari tahu informasi soal dia."


"Tuan Arga tidak membicarakannya?"


"Tidak."


"Maaf. Aku tidak tahu apa-apa soal gadis bernama Priski." Rendra tetap memilih tutup mulut. Pria ini memang akan tetap seperti itu jika tidak ada perintah lain.


Saat itu Arga muncul dari dalam. Rendra yang tengah menghadap ke arah pintu tahu. Dia segera membungkuk sedikit. Asha menoleh kebelakang dan langsung tersenyum pada suaminya. Rendra bergeser agak jauh. Membiarkan atasannya berbicara berdua dengan istrinya. Sementara Asha berjalan mendekati suaminya.


"Sedang bicara apa dengan Rendra?" tanya Arga melihat ke arah pria tenang itu.


"Dia hanya ingin menyapa Arash."


"Benarkah? Sepertinya tadi lebih lama ngobrolnya."

__ADS_1


"Iya memang ngobrol banyak. Ngomongin Paris yang akhirnya ikut ujian. Terus ngobrol soal Arash yang menggeliat terus."


"Benarkah?" Arga masih berulang kali melirik ke arah Rendra berdiri.


"Sayangg ..." Asha memaksa wajah Arga menatap ke arahnya. "Jangan berpikir macam-macam. Pada Rendra lagi. Itu aneh." Arga hanya mengangkat bahunya. "Kenapa kesini?" tanya Asha heran. Karena Arga membiarkan Biema sendirian.


"Iya. Sengaja."


"Sengaja? Enggak sopan sekali kamu kalau begitu."


"Aku lagi kangen kamu," ujar Arga membuat Asha melebarkan bola matanya terkejut. Lalu spontan melirik ke arah Rendra.


"K-kangen?" tanya Asha sampai terbata-bata saat bicara. Arga mengangguk manja. "Kenapa kangen?"


"Suami kangen kok enggak boleh ...," kata Arga merajuk.


"Bukan enggak boleh. Kita sejak tadi bersama-sama di ruangan itu. Masa kamu mendadak bilang kangen." Asha tergelak saat mengatakan itu. Arga menipiskan bibir di tertawakan istrinya.


"Iya. Aku lagi ... Emm ... apa itu yah, yang biasanya perempuan bilang." Arga mengetuk keningnya sedang berpikir.


"Itu ... Emm ... Baper," seru Arga senang menemukan jawaban.


"Baper?" Asha tergelak lagi. "Baper apaan?"


"Aku jadi ikutan ingat masa sebelum nikah barusan."


"O ... Soal Chelsea?" sebut Asha dengan tujuan sekedar bercanda.


"Hei ...," ujar Arga dengan bola mata tajam. Dia tahu arahnya kemana. Asha terkekeh melihat suaminya panik.


"Apa dong?"


"Lihat Biema sama Paris jadi ingat kita masa pacaran dulu," ujar Arga sambil tersenyum manis. Kepalanya mendongak. Wajahnya bahagia dengan mata berbinar indah menerawang ke masa indah itu. Namun mata itu menjadi dingin saat Asha berkata lain.


"Tentu enggak sama dong. Mereka di jodohin. Sementara kita berjuang sendiri. Bukannya kamu waktu di jodohin juga?" kata Asha tidak sependapat dengan Arga dan sekarang malah membahas kisah itu. "Kalau kamu menikah sama Hanny mungkin kisahnya akan sama."


"Ashaaa ... kamu sedang meledekku? Kamu sengaja mengerjaiku?" desis Arga mulai geregetan. Asha memang sedang senang meledek suaminya. Kemudian dia membetulkan letak baby Arash yang sedang di gendongnya. Tahu-tahu bibir Asha sudah menempel di bibir pria itu. Rupanya dia menempatkan baby Arash dengan benar agar saat mengecup bibir suaminya, bayi itu tidak terganggu. "Asha?" Arga terkejut mendapat kejutan ini.

__ADS_1


"Eh, maaf kebablasan." Asha panik dan melihat ke sekitar. Di sini memang area VIP, dimana orang lain tidak akan muncul kecuali keluarga, teman, dan kolega. Namun di sana masih ada Rendra. Asha jadi malu saat ingat ada Rendra di sana. "Aku lupa ada Rendra."


"Enggak apa-apa. Aku suka," ujar Arga kegirangan. "Ulangi," perintah Arga dengan bola matanya yang berkabut.


"Eh?" Asha terkejut mendengar perintah suaminya. Jarinya memberi kode pada Rendra yang tidak sengaja menoleh ke arah mereka untuk memutar tubuhnya. Memaksa pria itu untuk memunggunginya. "Ga ...," cegah Asha tahu apa yang akan di lakukan pria ini selanjutnya. Namun Arga tidak peduli. Ya. Arga mencium bibir istrinya dengan serakah. Mengabaikan kalau-kalau ada seseorang yang muncul. Karena dia yakin Rendra akan menanganinya.



"Nngg ..." Baby Arash menggeliat. Ciuman Arga berhenti karenanya. Mereka berdua spontan melihat ke arah bayi mereka. Asha langsung menepuk pantat bayi ini lembut. Arash akhirnya tertidur lagi.


"Hampir saja," desah Arga lega.


"Ini gara-gara kamu," desis Asha. Arga tersenyum seraya mengusap bibir istrinya yang terlihat memerah.


"Sakit?" tanya Arga.


"Kenapa tanya?"


"Aku berlebihan barusan," sesal Arga mengaku salah.


"Itu sudah biasa. Sejak dulu saat aku belum pasti jadi kekasih kamu."


"Saat aku menciummu di tempat jemuran itu?" tanya Arga yang tersenyum mengingat itu. Asha hanya memutar bola matanya. Arga tidak perlu jawaban karena dia sudah tahu jawabannya.


Ada beberapa perawat dan dokter yang datang untuk melihat perkembangan kesehatan tuan Hendarto. Arga dan Asha ikut masuk ke dalam ruangan juga.


Setelah ayah Hendarto di periksa, Mereka berdua kembali bergabung untuk bercengkrama. Paris menemukan Asha yang sesekali mendesis pelan. Masih sedikit terasa panas bibirnya seusai pergulatan lidah tadi.


Asha melirik ke arah pria yang berjalan di sampingnya. Paris ikut melihat. Hidung Asha mendengus. Arga terlihat sangat puas sudah melakukannya. Untung saja tadi Arash tidak terganggu jadinya Arga berhenti melakukannya.


Paris menggelengkan kepala melihatnya. Dia tahu apa yang baru saja terjadi pada mereka.


Dasar kak Arga. Sempat-sempatnya melakukan itu. Eh, tunggu apa Biema juga seperti itu? Seperti kak Arga?


Mendadak Paris panik sendiri dengan semburat merah di pipinya.


__ADS_1


__ADS_2