Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pengakuan


__ADS_3

"Ada yang perlu kamu katakan padaku?" tanya Biema setelah beberapa detik keheningan tercipta di antara mereka.


"Soal apa?" Paris tidak paham apa yang di maksud Biema. Namun dia tidak menggunakan nada sengit seperti biasanya. Dia memilih nada bicara biasa tanpa emosi.


Berbeda dengan Biema yang menggunakan nada bicara ketus. "Dia. Karyawan magangku. Lei," ujar Biema membuat Paris berdebar. Dia tidak tenang. Biema ingin membahas Lei. "Aku baru tahu kalau Lei itu adalah mantanmu." Paris memandang Biema dengan terperangah.


Biema tahu?


"Oh, soal itu ...," ujar Paris pelan.


"Hanya itu tanggapanmu?" tanya Biema merasa tidak adil respon gadis ini hanya sebuah gumaman. "Kamu tidak berusaha memberi aku penjelasan?" kejar Biema ingin tahu lebih jauh.


"Penjelasan apalagi, Biem?"


"Penjelasan tentang bocah tadi."


"Bocah? Lei? Dia bukan bocah."


"Jangan membelanya. Itu membuatku marah." Paris menghela napas pelan. Biema benar marah kali ini. "Kenapa kamu membiarkan aku tidak tahu soal dia Paris?"


"Bukannya sekarang kamu sudah tahu."


" ... tapi itu bukan darimu. Jika saja aku tidak tahu, kamu pasti akan tetap tutup mulut. Kamu akan tetap leluasa berbincang dan melakukan hal lainnya tanpa aku tahu ada hubungan apa dengan kalian."


"Aku hanya mengobrol, Biem. Aku tidak melakukan hal-hal aneh." Paris membela diri. Nada bicara sedikit meninggi.


"Kamu tersenyum bahagia dan tersipu di depannya." Paris mendengkus. Merasa konyol dengan alasan Biema. "Aku tidak suka itu."


"Bukankah ini juga sama seperti kisahmu dengan Mela," ujar Paris mulai kesal. "Jangan berlebihan."


"Kalau begitu, aku juga bisa bilang padamu kamu juga tidak perlu bersikap berlebihan saat tahu aku pernah mengajak Mela menikah."

__ADS_1


"Aku berlebihan? Apa maksudmu?" Paris yang tadi selalu memelankan suara, kini mulai menaikkan suara lagi.


"Bukankah kamu juga tidak terima jika aku pernah mengajak Mela menikah sebelum akhirnya aku menikahimu. Itu juga cerita lama, tapi kamu sempat menghindariku dan marah. Aku panik hingga berpikir banyak hal saat itu."


"Aku tidak menghindarimu dan marah. Soal Mela itu terserah kamu," ujar Paris kesal. "Jika saat itu aku segera pergi setelah mendengar bahwa kamu pernah mengajaknya menikah, itu semua hanya karena aku kaget. Aku hanya kaget, oke?" Paris tidak terima.


"Jadi hanya kaget? Tidak ada perasaan lain?" Biema bertanya ini dengan matanya menyipit. Wajahnya menunjukkan dia terluka.


"Apa yang kamu inginkan? Sejak awal perjodohan ini salah. Kita berdua tidak seharusnya menikah. Seharusnya aku tidak menuruti keinginan bundaku yang begitu menggelikan dengan menjodohkanku denganmu. Apalagi menikah. Aku menikah itu konyol, Biem."


"Konyol? Kamu bilang pernikahan ini konyol?" tanya Biema tidak percaya dengan kalimat gadis ini. "Jadi kamu tidak pernah punya perasaan spesial untukku?"


Paris tersentak kaget mendengarnya. Membenarkan posisi duduknya dan berkata, "Aku akui, memang aku senang saat kamu berada di sampingku dan memperlakukan aku dengan lembut. Aku juga tersipu dan merona saat kamu merayu dan memujiku. Aku juga sakit hati mendengar ternyata aku hanya pelarianmu saja, tapi ... " Suara Paris memelan. Di tengah kalimat ini Paris terlihat sangat terbebani. Dia menghela napas berat. "jika kamu bertanya apa aku mencintaimu? Maaf, aku belum bisa menjawab." Paris menjawab dengan tegas.


Biema membungkam. Paris sudah mengatakan dengan tegas isi hatinya. Pria itu tertegun di tempatnya berdiri. Paris membuang muka saat Biema menatapnya lama. Setelah itu keduanya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing.


"Jadi kamu tidak mencintaiku, Paris?" tanya Biema dengan nada berharap. Paris mendongak sejenak, lalu menunduk mendapat pertanyaan itu. Paris bersikukuh dengan jawaban tadi. Berarti Paris memang masih tidak mencintainya. "Sial!" Biema mengumpat seraya melayangkan tinju ke udara. Sampai Paris memejamkan kata sebentar, ngeri melihat itu. Ini pertama kalinya Paris melihat dia marah.



Paris mengucek mata dan beranjak bangun. Lalu ia keluar hendak ke kamar mandi. Di lihatnya kamar Biema masih tertutup. Pria itu belum bangun? Tumben. Paris segera membelokkan tubuh menuju ke kamar mandi.


Selepas dia membersihkan diri dari kamar mandipun kamar itu masih tertutup. Pantry kosong. Di depan tv juga sepi. Apartemen ini lengang. Hanya dirinya yang berdiri di tengah-tengah ruangan sambil mencoba mencari-cari dimana pria itu berada.


Akhirnya Paris memilih masuk ke kamar untuk mengganti baju. Ini waktunya dia berseragam. Kemana Biema? Saat berpakaian, pikiran Paris melayang memikirkan pria itu. Suasana lengang apartemen begitu aneh. Biasanya Biema sudah bangun terlebih dahulu dan melakukan sesuatu si pantry. Ataupun kegiatan lainnya. Namun kali ini tidak ada kegiatan apapun di pantry. Bahkan batang hidung pria itu tidak muncul barang sedetikpun.


Setelah selesai berpakaian, Paris keluar kamar. Masih sepi. Paris melongok ke pintu kamar Biema. Apa dia masih tertidur? Apa aku harus membangunkannya?


Ponselnya berdering. Nama Fikar muncul di sana.


"Ada apa pagi-pagi sudah meneleponku?" tanya Paris.

__ADS_1


"Kamu tidak berangkat ke sekolah?" tanya Fikar.


"Ya. Aku sudah memakai seragam, tapi ini belum waktunya berangkat." Paris mendongak melihat ke arah jam dinding. "Masih bisa sarapan dulu. Lagipula Biema belum bangun, aku mungkin harus membangunkannya," ujar Paris melirik ke pintu kamar Biema.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang," usul Fikar.


"Kenapa? Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah. Kamu mau aku mengantuk di sana?" sungut Paris. "Lagipula kenapa kamu yang menyuruhku berangkat sekarang? Bukannya Biema yang akan mengantarku ke sekolah. Kenapa kamu yang ribut mengaturku berangkat sekarang atau nanti?" Paris mencibir.


"Biema tidak mengantarmu ke sekolah."


"Jangan bercanda. Dia memang masih belum keluar dari kamar, tapi dia akan mengantarku sekolah sebentar lagi."


"Tidak. Biema tidak akan mengantarmu ke sekolah. Mulai hari ini, aku yang akan mengantar dan menjemputmu sekolah," kata Fikar membuat Paris langsung mengerjap. Tertegun.


"Kamu yang akan melakukan itu? Kenapa?" tanya Paris lambat.


"Emmm ... Soal kenapa, aku tidak tahu. Namun Biema sudah memberi aku perintah. Jadi aku wajib melakukan itu. Entah kamu setuju atau tidak." Paris membeku mendengar Fikar bicara. Kepala Paris menengok pelan ke arah pintu kamar Biema. Menatapnya dengan tertegun. "Paris ...," tegur Fikar karena tidak mendengar suara apapun.


"Ya. Aku mendengarmu."


"Aku mengusulkan kita berangkat sekarang, karena aku pikir kamu harus sarapan dulu. Kita akan sarapan bersama. Karena aku juga belum sarapan."


Mendengar Fikar belum sarapan karena harus mengantarnya, Paris mengikuti saran pria itu. "Baiklah kalau begitu. Aku akan mengambil tasku."


"Oke. Aku tunggu di depan apartemen." Klik! Sambungan telepon terputus. Menyisakan Paris yang menunduk dengan perasaan aneh di hatinya. Biema tidak mengantarku lagi? Paris memandang pintu kamar pria itu. Kenapa? Apa karena tadi malam?


Kruyuk ...


Suara dari perut Paris yang lapar terdengar sangat keras. Menagih makanan untuk di konsumsi.


"Kenapa aku sangat lapar sekali pagi ini? Sebaiknya aku cepat keluar untuk sarapan." Paris bergegas menuju kamar untuk mengambil tas ranselnya.

__ADS_1



__ADS_2