Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Dia adalah ...


__ADS_3


Saat itu sepasang suami istri melintasi mereka berdua. Namun mendadak kaki salah satu dari mereka berhenti dan menoleh ke arah Paris dan Sandra. Memiringkan kepala dan mengintip ke arah Paris. Kaki yang lainnya ikut berhenti.


"Paris, ya?" sapanya terdengar ragu. Mendengar namanya di sebut, Paris menengok ke belakang. Sandra juga ikut melihat ke belakang. Ingin tahu siapa yang telah menyapa Paris barusan.


"Kak Evan?" Paris terheran-heran melihat laki-laki ini.


"Sudah aku duga itu kamu." Evan menjentikkan jarinya. Merasa puas karena tebakannya benar. Lalu Paris memindah arah pandangnya dari Evan ke perempuan di sebelahnya. Tidak salah lagi itu Chelsea, istrinya. Setelah cerita mereka berdua yang berisi ketidaksukaan, Paris mencoba bersikap sopan kali ini. Kepalanya mengangguk memberi salam pada mantan kakaknya ini. Chelsea juga bersikap sama.


"Siapa?" tanya Sandra yang tidak paham tentang mereka. Terutama pada Evan.


"Sandra, kamu di panggil oleh Tuan," ujar Fikar yang muncul di antara mereka. Evan dan Chelsea mengangguk memberi salam pada Fikar. Kepala Fikar pun mengangguk menerima sapaan tamunya.


"Oh, ya? Ada apa?" tanya Sandra yang melihat ke arah dimana orangtuanya sedang berkumpul bersama Biema juga.


"Aku kurang paham. Lebih baik kamu segera ke sana," saran Fikar pada Sandra.


"Paris juga?"


"Jangan aneh-aneh. Aku lebih nyaman di sini dengan salad buah," gerutu Paris. "Jangan membuat aku jenuh dengan berada di sana."


"Tidak. Tuan memanggil kamu saja."


"Baiklah. Aku kesana dulu, ya ..." Sandra melangkahkan kaki meninggalkan Paris dan kedua orang yang belum di ketahuinya siapa. Pertanyaannya tadi belum terjawab karena kedatangan Fikar.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Evan setelah Paris hanya sendirian dengan heran.

__ADS_1


"Aku teman sekolah gadis barusan yang merupakan putri pemilik perusahaan ini," jelas Paris. Evan dan Chelsea melihat ke kursi dimana Sandra duduk di sana. "Kak Evan sendiri kenapa bisa berada di sini?" Kali ini Paris yang terheran-heran.


"Itu karena kita mendapat undangan dari perusahaan ini," jawab Evan sambil menoleh pada Chelsea yang mengangguk.


"Undangan? Apa kak Evan bekerja di sini?" tanya Paris kurang percaya. Melihat reaksi Fikar saat melihat mereka berdua sepertinya tidak saling kenal. Jadi jika mereka adalah karyawan perusahaan ini, sangat tidak mungkin. Namun Paris tidak bisa memikirkan hal lain selain itu.


"Tentu saja tidak. Aku masih tetap bekerja dengan kakakmu, Arga." Evan tersenyum.


"Kita datang sebagai keluarga orang yang punya kaitan sebenarnya dengan perusahaan ini." Chelsea ikut menjelaskan. Paris melihat Chelsea seraya berpikir.


"Ya. Mereka datang sebagai keluargaku, Paris ...." Lei muncul dengan senyuman di belakangnya. Tentu saja pria ini, batin Paris. Dia sempat lupa soal adanya pria ini di perusahaan. Karena hanya sebagai karyawan magang, Paris sempat tidak berpikir bahwa Lei juga mendapat undangan mengajak keluarganya untuk datang.


"Kapan kalian datang?" tanya Lei melihat Evan dan Chelsea.


"Baru saja. Lalu Evan melihat Paris ada di sini juga," jelas Chelsea. Lei melirik Paris. Dia masih ingat soal hubungan mereka yang tidak baik, juga soal putusnya hubungan dia dan Paris. Namun melihat raut wajah gadis ini yang tidak menyiratkan kebencian, Lei lega.


"Ya. Dia sahabat putra-putri pemilik perusahaan ini. Maka itu dia juga di undang." Lei menunjuk Paris dengan jenaka.



Saat itu Biema menemukan Paris berbincang dengan beberapa orang. Kali ini mereka hanya berdua karena yang lain pergi meninggalkan mereka. Sorot matanya semakin tajam saat melihat itu.


"Oh, ya. Kamu kan satu sekolah dengan Paris. Berarti tahu, siapa pria yang sedang berbicara dengan Paris sekarang?" tanya Biema sembari mengangkat dagu. Memberitahu posisi Paris. Dia ingin mengorek tentang Lei pada adiknya.


"Yang sedang berbicara dengan Paris ...." Manik mata Sandra menyipit berusaha mengamati seorang pria di depan Paris. Karena pria itu sedang memunggungi mereka, Sandra tidak bisa langsung mengenalinya. "Siapa ya?"


"Paris bilang dia kakak kelasnya pas SMA." Biema memberi sedikit kata kunci bantuan untuk adiknya.

__ADS_1


"Benarkah?" Sandra mengamati lagi. "Hah? Itu kan kak Lei," seru Sandra terkejut. "Ya ... dia memang kakak kelas kita. Dia juga ..." Sandra langsung men-stop mulutnya untuk bicara. Tanpa sadar itu membuat raut wajahnya terkejut dan bola matanya melebar. Perlahan dia melirik ke arah Biema di sebelahnya. Dia berharap kakaknya tidak melihat keterkejutannya. Rupanya Biema memperhatikan ekspresi wajah itu.


"Dia apa? Lanjutkan saja," ucap Biema datar. Saat ini dia merasa Sandra akan mengatakan suatu hal yang penting.


"Emmm ... a-pa ya. Tiba-tiba aku lupa," ujar Sandra seraya meringis. Biema menatap adiknya lurus-lurus.


"Coba di ingat lagi. Sepertinya kamu ingat sesuatu."


"T-tidak. Aku tidak tahu. Aku tidak ingat," racau Sandra panik.


"Benarkah?" tanya Biema mengintimidasi. "Jika itu hal penting dan aku melewatkannya, sepertinya Paris akan marah."


"Tentu saja tidak. Justru jika kakak tahu siapa dia, Paris akan ... " Tidaaaakkk!! Sandra berteriak dalam hati. "Bukan. B-bukan begitu." Kakaknya berhasil menggiringnya untuk membuka rahasia.


"Aku tahu ada hal penting yang berkaitan dengan Paris dan pria itu." Biema bisa menyimpulkan. Sandra ketar-ketir memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Jadi kamu memilih tutup mulut, San? Kamu lebih memilih menyembunyikan hal itu daripada memberitahu kakakmu ini?"


"Bukan begitu, Kak. Seharusnya kakak jangan tanya aku. Jika begini aku kan jadi serba salah. Kalau bisa jangan membawaku dalam urusan Paris dan Kak Biema. Ini tidak menyenangkan. Apalagi untuk hal seperti ini." Sandra mulai berkeluh kesah. Dia memang pada posisi tidak nyaman. Jika memberitahu, Paris akan celaka. Jika tidak memberitahu, kakaknya akan terluka.


"Dia kekasih Paris? Mantan?" tebak Biema tidak lepas dari memandang Gadis itu.


"Aku tidak mau jawab. Tanya Paris sendiri."


"Berarti iya. Status bocah itu adalah salah satunya." Biema menerka. Sandra menghela napas dengan tetap menutup mulut. "Kemungkinan jika dia kekasihnya, bocah itu tidak akan terima jika aku selalu saja mendekati Paris. Namun bocah itu diam saja saat aku bersama Paris. Berarti kemungkinan besar, dia adalah mantan."


"Mantan terindah yang tetap terkenang di hati," imbuh Fikar tanpa sadar. Dia yang baru saja muncul, mengeluarkan pernyataan yang menghebohkan. Sandra menyenggol lengan Fikar sambil melotot geregetan. Orang ini menuangkan minyak tanah di atas api. Menambah keruh suasana.


Fikar melirik Biema. Setelah di sadarkan Sandra akan kalimatnya yang begitu mengguncang. Fikar was-was. Dia telah menyulut kemarahan Biema.

__ADS_1


Pria ini mendengar, tapi tidak menggubris. Jauh sebelum Fikar mengatakan itu, Biema sudah tersulut api. Dia sedang cemburu. Apalagi ini berkali-kali dia melihat Paris dengan Lei. Gadis itu tampak lebih bahagia daripada dengannya.



__ADS_2