Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Kita


__ADS_3


Paris keluar dari kamar dengan memakai baju di berikan oleh Biema tadi. Tangannya membawa gaunnya yang sudah di lipat rapi. Saat menoleh pada ranjang, Biema sepertinya sudah terlelap. Paris melipat bibir. Apa yang di harapkannya? Memangnya Biema akan mau menggantikan dirinya untuk tidur di lantai? Sepertinya jangan banyak berharap deh.


Setelah meletakkan gaunnya di atas meja, Paris mulai bersiap tidur. Namun, ada yang sedikit mengganggunya. Aroma tubuh Biema terasa sangat dekat. Karena sekarang dia sedang memakai baju Biema, aroma itu seperti Biema sedang memeluknya. Ini membuat Paris jadi malu sendiri.


"Ini pikiran yang tidak-tidak," gerutu Paris pelan sambil melebarkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Akhirnya dia berusaha tidur meskipun perasaan aneh menyelimutinya. Perasaan sedang di peluk pria yang sudah tertidur di atas ranjang itu.


Biema membuka mata dan terduduk. Dia tidak tidur. Belum. Dia hanya menutup mata untuk membuat Paris nyaman berada di dalam kamarnya. Tubuh pria ini bangkit dan melongok ke bawah. Di sana, gadis itu sedang meringkuk memeluk guling. Bibir Biema tersenyum. Dia bisa melihat gadis itu bagai gadis kecil tanpa dosa.


Tubuh Paris bergerak melepas gulingnya. Paris benar-benar tertidur sangat lelap. Biema bangkit dan mendekat. Tangannya meraih tubuh itu dan mengangkatnya. Memindah tubuh Paris ke atas ranjang. Tidak mungkin dia membiarkan gadis itu tidur di lantai beralaskan karpet, sementara dirinya tidur di atas ranjang dengan nyaman.


Biema perlu menuruti sedikit kemauan gadis itu untuk melegakan hatinya. Berada di tempat asing sungguh tidak menyenangkan. Biema mengerti perasaan gadis ini.


Dengan lembut Biema meletakkan tubuh Paris di atas ranjang. Kemudian dia hendak menjauh untuk pindah tempat tidur. Namun sebuah tangan menariknya. Mencegah dirinya pergi dari sana. Biema menoleh. Tangan Paris mencegahnya pergi.


Biema berusaha melepaskan cekalan tangan Paris pada lengannya. Namun pegangan Paris semakin kuat. Hingga membuat tubuh Biema yang sudah duduk dengan posisi tidak nyaman, tidak sanggup menahan beban tubuhnya. Biema terjatuh di atas ranjang. Tepat di samping Paris.


"Mmmm ...," gumam Paris dalam tidurnya. Biema terkejut saat Paris meletakkan lengannya tepat di atas tubuhnya. Mungkin gadis ini mengira tubuhnya adalah guling. Hingga tangannya memeluk erat tubuhnya selayaknya sebuah guling. Bola mata Biema melebar. Dia sangat terkejut. Sejurus kemudian tersenyum geli.


Kenapa aku harus berontak? Ini kemauannya. Bukan aku.


Akhirnya Biema membiarkan tubuhnya di peluk oleh Paris dengan erat. Biema menoleh ke samping. Menatap wajah Paris dengan lekat. Tangannya terulur menyentuh sisi pipi gadis ini. Tubuh Paris bergerak pelan mendapat sentuhan ini.


"Sampai kapan kamu akan bersikap dingin padaku?" lirih Biema. Sentuhan Biema yang kedua pada pipi itu, membuat tubuh Paris bergerak merapat padanya. Biema tersenyum.


...----------------...



...----------------...

__ADS_1


Paris bangun tidur dengan menggeliat. Rasanya tubuhnya menjadi segar. Tidak sakit seperti yang di bayangkannya saat tidur di lantai. Tangannya mengucek mata berulang-ulang untuk menyingkirkan kabut yang melewati matanya.


Sekali lagi tubuhnya menggeliat. Ada yang mengganjal di sampingnya. Kepala Paris menoleh. Seorang pria. Bola matanya di kerjap-kerjapkan untuk mengusir kantuk yang tersisa. Juga meyakinkan diri bahwa memang ada seorang pria tertidur di sampingnya.


Setelah yakin matanya jernih dari kantuk dan lelah, Paris menoleh ke samping lagi. Benar. Ada seorang pria. Biema! Paris mendelik karena terkejut. Tubuh Paris langsung bangkit dan mendorong tubuh Biema.


"Biema, bangun." Paris menggeram. Ternyata bukan hal sulit membangunkan pria ini. Dia bukan tipe laki-laki yang sulit untuk bangun.


"Kamu sudah bangun Paris?" tanya Biema masih dengan bola mata berusaha menyesuaikan dengan keadaan.


"Minggir." Paris mendorong Biema dengan kesal dan segera berlari menuju ke kamar mandi. Kepala Biema menoleh mengikuti tubuh yang melesat cepat itu.


Di dalam kamar mandi, Paris tidak langsung mandi. Dia berdiri di balik pintu dan berpikir. Kenapa aku bisa ada di atas ranjang? Bahkan tubuh kita merapat. Kenapa? Paris memejamkan mata. Menghentak-hentakkan kaki dengan kesal.


Bayangan bermacam-macam kejadian langsung memaksa masuk ke otaknya. Paris menggeram. Ada rasa marah dan sedih di sana.


"Paris," tegur Biema dari luar. Bibir Paris bungkam tidak ingin menyahut. "Paris, kamu tidak apa-apa?" tanya Biema cemas. Paris masih tidak ingin menjawab. Lalu dia bergegas mendekat ke arah shower. Menyalakan shower. Menjawab panggilan Biema tanpa harus mengeluarkan suara. "Aku akan keluar. Mandi di kamar mandi di luar. Aku sudah menyiapkan baju ganti dan handuk di dekat pintu. Kamu bisa keluar sebentar untuk mengambilnya." Biema memberi tahu bahwa kamar sebentar lagi kosong. Itu akan membuat gadis ini nyaman saat mandi.


Paris menggelengkan kepala. Kemudian keluar dan mengambil pakaian dan handuk yang di maksud Biema tadi. Lalu menyalakan shower dan mandi.


...----------------...



...----------------...


Paris keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sama. Kaos dan celana training. Hanya saja itu baru. Tangan Paris mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk. Saat itu Biema sudah berada di atas sofa single. Dari rambutnya yang terlihat basah juga, sepertinya dia sudah mandi.


Biema yang sedang memainkan ponselnya mendongak. "Kamu sudah selesai mandi?" tanya Biema dengan tersenyum. Wajah bahagia tadi malam terpatri sampai sekarang. Namun Paris menyambutnya berbeda. Bola mata gadis ini menatap Biema dengan tajam.


"Katakan, kenapa aku bisa berada di atas ranjang?" Biema mengerjap karena di tanya soal itu.

__ADS_1


"Oh, itu. Aku ..."


"Apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Paris memotong kalimat Biema.


"Aku tidak ..."


"Apa yang sudah terjadi pada kita tadi malam?" tanya Paris lagi. Dia tidak membiarkan Biema menjawab pertanyaannya. Namun dia terus saja memberikan pertanyaan berbeda. Biema menghela napas dan diam.


Saat ini Paris marah. Biema baru menyadari itu. Dia yang sudah terlena dengan kebahagiaan tadi malam, tidak peka jika gadis ini marah padanya.


"Katakan Biema, apa yang sudah terjadi pada kita tadi malam?" tanya Paris masih berdiri dengan handuk di tangannya.


"Tidak ada yang terjadi pada kita, Paris," sahut Biema tenang. Dia tahu apa yang di maksud gadis ini.


"Tidak mungkin! Pagi tadi, aku sudah di atas ranjang itu, dengan tubuh kita yang merapat," tunjuk Paris ke arah ranjang.


"Tubuh kita memang merapat. Ada apa dengan itu?" tanya Biema tetap tenang membuat Paris semakin mengerutkan kening.


"Apa tidak ada pikiran lain yang terlintas di kepalamu apa yang terjadi jika kita merapatkan tubuh seperti itu?!" tanya Paris geram. Biema memandang Paris. Agak lama. Dia sebenarnya ingin terkekeh saat ini, tapi tidak boleh.


"Tidak."


"Jangan berbohong, Biem. Katakan sejujurnya. Apa yang terjadi pada kita semalam?" desak Paris seperti frustasi.


"Tidak ada yang terjadi pada kita Paris." Biema menjelaskan dengan tegas.


"Aku tidak tahu lagi harus bertanya bagaimana padamu. Kita tidur satu ranjang, Biema. Kamu dan aku! Kita!" Paris mengatakan itu dengan emosional. Diluar dugaan kata 'kita' yang di dengar Biema terasa menyenangkan. Bibir Biema tanpa sadar tersenyum mendengarnya. Padahal saat ini Paris sedang marah. "Kamu tersenyum. Kamu sedang meledekku?" tanya Paris kecewa.


"Tidak mungkin."


"Tidak. Kamu sudah melakukan itu. Berhenti bercanda denganku, Biema," ujar Paris dengan mata tajam dan tidak bersahabat.

__ADS_1



__ADS_2