
Saat langit berubah gelap karena sore berganti petang, Biema muncul di dalam rumah di sambut oleh keluarga Hendarto. Ayah begitu senang melihat menantunya datang. Tepukan bangga di bahu menyertai penyambutan ini.
"Selamat, ya ... Bunda bilang, Paris sekarang hamil," kata beliau.
"Terima kasih Ayah ..." Biema mengangguk menanggapi ucapan selamat dari mertuanya. Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang tengah. Di sana, Paris, Sandra dan seluruh anggota keluarga Hendarto tengah duduk. Dua gadis ini belum pulang karena memang sengaja menunggu kemunculan Biema dulu.
Pria ini menyerahkan brownies yang berada di tangannya pada bunda.
"Aduh Biema tahu benar, kesukaan Bunda. Masih ingat ya, brownies ini ..."
"Dia itu memang sengaja mengingatnya agar selalu di sayang mertua," ujar Paris membuat semuanya tertawa. Arga dan Biema saling berpelukan sebagai kakak dan adik.
"Selamat, Biem ... Bakal menyusul jadi ayah juga nih," kata Arga.
"Ya. Ternyata aku mengikuti jejak kamu juga," ujar Biema.
"Bahkan selangkah lebih cepat. Atau bahkan beribu langkah lebih cepat dari aku," puji Arga yang membuat Biema tergelak pelan.
"Selamat juga ya ...," ujar Asha.
"Ya. Terima kasih."
Saat itu ponsel Sandra berdering. Itu mama.
"Mama telepon," ujar Sandra memberi tahu Paris yang duduk di sebelahnya. "Halo Ma. Ganti video call ya. Banyak orang nih di sini. Biar sekalian pamer ke mama," kata Sandra. Setelah mama setuju, panggilan telepon pun berubah jadi mode video call.
__ADS_1
"Halo Mama ...," sapa Sandra. "Ini kak Paris. Dari tadi nanyain kak Paris." Sandra menyerahkan ponselnya pada Paris.
"Iya, Ma. Paris di sini."
"Sehat kan? Enggak mual dan muntah?" tanya beliau perhatian.
"Enggak Ma. Paris sehat-sehat aja."
"Syukurlah."
"Di sini rame lho, Ma." Sandra mendekat dan berseru. Paris menyerahkan ponselnya pada Sandra. Gadis ini mengedarkan kamera ponselnya ke seluruh orang di ruang tengah ini.
"Waduh, semuanya ngumpul ya ...," ujar mama Biema terkejut.
"Bun, Mama." Sandra mengarahkan ponselnya pada nyonya Wardah. Lalu menyerahkannya pada beliau. Sandra ingin mendekat pada Arash yang mulai di letakkan di kasur empuknya.
Biema yang sudah tertunda tidak bisa mendekat ke istrinya karena harus beramah tamah dan santun kepada keluarga Paris, kini bisa lega saat akhirnya berhasil mendekat. Sejak tadi ia ingin mendekat ke istrinya.
"Kamu baik?" tanya Biema cemas. Tangannya mengusap pipi istrinya dengan lembut.
"Tanyakan juga keadaan bayinya dong," kata Paris protes. Pandangan Biema menunduk ke arah perut istri kecilnya.
"Aku harus menanyakan keadaan mamanya dulu baru si bayi. Karena jika mamanya enggak sehat, bayi pasti menderita juga. Jadi aku harus pastikan keadaan kamu harus baik dan bahagia dulu," kata Biema membuat Paris tersenyum.
"Kamu cemas?" tanya Paris pelan dengan wajah haru mendengar pria ini berkata seperti tadi.
__ADS_1
"Ya. Sangat. Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaan untuk bisa segera pulang," ungkap Biema. Paris mengerjap.
"Jadi kamu sebenarnya banyak pekerjaan hari ini? Kamu tinggalkan pekerjaan untuk kesini?" tanya Paris yang kini berubah jadi khawatir.
"Tidak banyak. Fikar bisa menyelesaikan sisanya," tepis Biema agar Paris tidak khawatir. "Yang penting adalah kamu," ujar Biema pelan.
"Jadi sekarang aku adalah prioritas nih?" ledek Paris.
"Bukan sekarang, tapi sebelum kamu membuka hatimu untukku. Saat kamu jadi istriku. Aku harus memprioritaskan kamu karena sudah berani menikahimu," kata Biema. Paris menepuk dada suaminya pelan.
"Kata-kata yang bagus. Kamu pantas dapat nilai sempurna," kata Paris gemas.
"Aku tidak butuh nilai. Aku butuh ciuman dan yang lainnya," bisik Biema sangatlah pelan. Namun mampu membuat mata Paris membelalak dan memukul pria ini lebih keras karena itu membuat daun telinganya merah.
"Kamu ... Banyak orang nih," kata Paris geregetan. Biema tersenyum miring.
"Kenapa? Takut keluargamu tahu, kalau gadis kecil mereka sudah bisa bermain di atas ranjang," goda Biema lirih. Paris makin berdecak geregetan. Itu mendapat sorotan dari Arga dan Asha yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Tidak di sangka, gadis kecil itu akan jadi ibu," kata Arga.
"Ya. Seperti keajaiban saja ya. Apalagi dengan status Paris yang masih sekolah. Belum lulus," imbuh Asha. Arga melirik ke samping.
"Keajaiban itu juga datang padaku saat di pertemukan olehmu," ujar Arga jadi terbawa suasana bahagia ini. Asha menoleh dan tersenyum.
"Makanya jaga keajaiban ini tetap menjadi keajaiban yang menyenangkan. Kamu harus jga aku sebaik-baiknya. Aku dan hatiku," kata Asha sambil menunjuk ke dada Arga.
__ADS_1
"Benar." Arga tersenyum juga.
......................