
Tentu sangat wajar bagi Biema marah dalam hal ini. Istrinya di cap buruk oleh mereka tanpa menunjukkan bukti. Hanya bermodal bicara mereka sudah yakin akan kebenarannya. Biema mengangkat dagunya memberi Fikar kode. Kepala Fikar mengangguk kecil.
"Saya memahami jika keputusan ini di buat karena murni berhubungan dengan masalah sekolah, tapi saya ragu. Apakah itu benar? Apakah Anda sekalian tidak melibatkan kepentingan pribadi dalam menangani masalah istri atasan saya?" tanya Fikar.
"Masalah pribadi? Apa yang Anda bicarakan ..." Senyum wakil kepala sekolah terlihat canggung. Lalu senyuman itu berubah meremehkan. Orang di belakangnya juga ikut tersenyum mengejek. "Anda sangat berlebihan. Untuk ukuran anak ini ... tidak ada kepentingan apapun yang bisa di kaitkan."
"Bahkan itu dengan putri Anda?" tanya Fikar semakin menekan. Paris langsung menoleh pada Fikar cepat seraya mengerutkan kening mendengar Fikar membahas tentang putri wakil kepala sekolah yaitu Priski. Terkejut bahwa mereka berdua berpikir ini ada hubungannya dengan gadis itu.
Paris melihat ke arah Biema dan Fikar satu persatu. Sementara Biema masih tenang di sofa sambil memperhatikan Fikar.
"Putri saya?" tanya wakil kepala sekolah terkejut. Guru BP ikut terkejut dengan pembicaraan yang melibatkan Priski. Mereka berdua tidak menduga kalau ada pembicaraan soal Priski putrinya. "Soal apa ini?!" Wakil kepala sekolah merasa terganggu. "Anda jangan sembarangan! Jangan mengalihkan pembicaraan. Kita sedang membahas siswi sekolah ini yang melanggar peraturan, tapi Anda justru melibatkan putri saya. Apa-apaan ini?!" Orang tua ini mulai naik darah.
"Mungkin kita memang bicara di luar konteks pembicaraan awal, tapi kami harus membahas itu juga demi mendapatkan kejelasan," imbuh Fikar.
"Keadilan apa yang Anda maksud? Masalah ini murni karena kesalahan seorang siswi. Ini salah istri Anda, Tuan! Kalian bersikap tidak sopan!" hardik wakil kepala sekolah geram. Guru BP juga bereaksi yang sama. Mereka mungkin tahu maksud dari perkataan Fikar, tapi mereka harus mengelak.
Suaranya yang lumayan keras membuat orang-orang di ruang guru yang letaknya di samping, menoleh serentak. Melongok ke sebelah ruangan mereka. Lalu perlahan mereka berjalan ke dekat pintu. Mereka ingin tahu ada apa sebenarnya.
__ADS_1
"Putri Anda bermasalah. Kami punya banyak bukti tentang putri Anda yang mengarah ke pelanggaran hak privasi orang," ujar Fikar.
"Anda berdua membual. Pelanggaran hak privasi apa?! Anak ini yang justru sudah melanggar peraturan sekolah. Itu masalahnya. Bukan malah membahas putri saya!" Bapak wakil kepala sekolah menunjuk Paris dengan marah. Pria ini tidak terima.
Kasak kusuk di luar ruangan semakin keras. Terdengar derap langkah kaki juga disana. Makin lama makin dekat dengan ruangan tempat mereka berkumpul.
"Jika Anda begitu yakin bahwa putri Anda bersih, Anda bisa memanggil putri Anda sekarang," ujar Fikar.
"Tidak. Saya tidak perlu memanggil putri saya. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah anak ini. Sekarang yang keliru itu Anda dan dia." Sekarang wakil kepala sekolah menunjuk Biema dan Paris. "Kalian menikah saat anak ini masih sekolah. Itu yang salah. Semuanya tidak ada hubungannya dengan putri saya. Sudah. Pembicaraan kita berhenti di sini. Keputusan sekolah sudah jelas. Siswi dan siswa tidak boleh menikah saat masih jadi pelajar. Jadi siswi bernama ... "
"Paris Hendarto, Pak," ujar guru BP memberitahu.
"Ya. Paris Hendarto sudah di keluarkan dari sekolah dengan alasan telah melanggar peraturan. Dengan begitu otomatis tidak bisa mengikuti ujian sekolah. Tidak ada pembahasan lagi soal keputusan ini. Ini sudah selesai. Karena kepala sekolah sedang sakit, jadi wewenang jatuh pada saya. Jadi saya katakan lagi bahwa keputusan ini sudah di tetapkan," tegas wakil kepala sekolah.
Raut wajah papa Priski ini berubah masam. Pria ini sangat terkejut dengan kemunculan kepala sekolah.
"Bapak kepala sekolah," seru guru BP terkejut. Dia kebingungan antara hendak mendekat ke arah beliau, tapi juga harus tetap di samping posisi wakil kepala sekolah. Fikar berdiri dan membungkuk untuk memberi hormat saat kepala sekolah menoleh ke arahnya. Biema berdiri bersama Paris. Mengangguk sebentar ikut memberi hormat. Karena dia masih merasa menjadi murid sekolah ini.
Langkah kepala sekolah mendekat menuju sofa tempat mereka berlima berkumpul tadi. Di dampingi dua orang pria dengan pakaian seorang guru. Juga dua orang lain berpakaian bebas. Papa Priski segera berdiri sebelum langkah terakhir kepala sekolah sampai tepat di dekatnya.
__ADS_1
"Maaf saya tidak menjemput Anda. Saya tidak tahu bahwa Anda sudah sembuh," kata wakil kepala sekolah hormat dan mencari alasan. Bibir kepala sekolah tersenyum mendengar itu.
"Saya tidak perlu di jemput. Jika sembuh, saya bisa datang sendiri ke sini," sahut kepala sekolah. Saat hendak duduk, guru BP dan wakil kepala sekolah mencari cara mendekati, dengan berusaha membantu tubuh kepala sekolah yang terlihat masih lemah. "Saya sudah ada yang bantuin. Jadi tidak perlu membantu. Duduk saja seperti tadi," tolak kepala sekolah. Beliau memilih di bantu dengan orang-orang yang sudah menemaninya sejak pertama kali datang. Tangan mereka berdua mengambang di udara. Pencarian simpati mereka di tolak.
Fikar kembali duduk. Suasana di sofa ini makin ramai. Jika tadi hanya berlima, tapi sekarang menjadi sekitar sepuluh orang.
"Maaf, saya muncul sekarang," ujar kepala sekolah kepada Biema.
"Tidak apa-apa. Saya tahu kondisi Anda. Seharusnya saya yang meminta maaf karena sudah membuat Anda harus hadir saat ini. Maafkan saya," ujar Biema menyambut permintaan maaf kepala sekolah dengan ucapan permintaan maaf juga.
Bola mata Paris bergeser ke kanan dan kiri. Berulangkali dia mengerjapkan mata. Interaksi Biema dan kepala sekolah terlihat hangat dan akrab. Fikar juga terlihat tersenyum sembari menganggukkan kepala pelan saat mendengar Biema meminta maaf.
Apa-apaan mereka? Interaksi asing yang baru aku lihat. Sejak kapan mereka berdua mengenal kepala sekolah?
Paris masih memperhatikan mereka dengan penuh keheranan. Ini pertama kalinya mereka berdua bertemu dengan kepala sekolah. Namun yang terlihat, mereka tampak saling mengenal.
Sementara itu wakil kepala sekolah dan guru BP tampak gelisah. Ada yang membuat mereka khawatir. Padahal kemunculan kepala sekolah adalah berita baik. Karena itu berarti beliau sudah mulai sehat dari sakit. Namun wajah mereka berdua muram tidak bahagia. Mereka justru lebih tampak tertekan.
"Untuk hal yang sedang Anda sekalian bicarakan, saya sudah mendengar semuanya." Meskipun heran kepala sekolah sudah mengerti soal perkara yang di bicarakan mereka, padahal hanya mendengar beberapa kalimatnya saja, papa Priski ini hanya mengangguk. "Jika begitu ... saya bisa ikut bicara soal murid ini bapak wakil kepala sekolah?" tanya beliau meminta ijin.
__ADS_1
"Tentu saja. Bapak punya wewenang atas itu," ujar wakil kepala sekolah setuju, tapi sejurus kemudian menggeram dalam hati. Menyayangkan kemunculan pria itu sekarang. Padahal tinggal selangkah lagi pembicaraan usai. Dia bisa lepas dari murid yang membuat putrinya kesal.