
Akhirnya mereka tiba di pelataran parkir apartemen. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk ke dalam gedung. Namun Fikar tidak merasakan adanya pergerakan apapun di belakang. Tidak ada satupun dari orang di belakang berinisiatif untuk turun. Fikar mendongak untuk mengintip sebentar ke jok belakang, lewat kaca kecil di atasnya.
Terlihat di belakang sana Biema masih memeluk gadis itu sambil menatap lurus ke arah jendela di samping Paris. Tangis gadis itu mungkin memang sudah usai karena tidak terdengar lagi suara lirih sebuah tangisan. Namun gadis itu sepertinya belum mau menunjukkan wajahnya.
Fikar melepaskan tangan dari kemudi, lalu membuka pintu dan memilih keluar dari mobil. Dia menunggu keadaan menjadi normal dengan duduk di pot bunga berukuran besar yang terbuat dari beton.
"Paris ...," sebut Biema lembut. "Kita sudah sampai di depan gedung apartemen." Biema membisikkan kalimat itu di dekat telinga Paris. Namun tidak ada respon dari gadis itu. "Kamu ingin masuk atau kita akan berkeliling lagi?" tawar Biema.
Meskipun tubuhnya sebenarnya terasa sangat lelah, tapi jika itu membuat Paris kembali tenang, dia rela. Biema sudah bertekad akan menyuruh Fikar pulang sementara dia akan menyetir mobil sendiri. Dia tidak ingin Fikar ikut dalam misinya mengajak Paris berkeliling karena tahu pria itu kelelahan juga.
Kepala Paris menggeleng tanpa bersuara. Menolak untuk menerima ide Biema. "Baiklah kalau begitu." Perlahan tubuh Paris renggang dari tubuh Biema.
"Lepaskan aku. Aku sudah tidak apa-apa," ujar Paris serak. Biema melonggarkan pelukannya.
"Sudah tidak ingin menangis?" tanya Biema cemas. Kepala Paris mengangguk.
"Aku sudah tidak apa-apa," jawab Paris yakin. Biema melepaskan pelukannya. Kemudian merapikan anak rambut Paris yang menutupi wajah. "Aku jadi menangis lagi," keluh Paris.
"Tidak masalah." Biema masih terus merapikan rambut Paris.
"Aku jadi rapuh. Jika di dekat kamu, aku seperti ingin bersandar saja."
"Aku ada memang untuk itu."
"Merasa menang karena berhasil membuatku nyaman, ya?" goda Paris. Karena sudah di rasa Paris sudah rapi, Biema melepaskan tangannya dari wajah gadis itu. Kemudian menatap wajah gadis yang memikat hatinya dengan lekat.
"Ya. Aku memanglah seorang pemenang. Satu-satunya orang yang berhasil memenangkan hati Paris yang memikat hatiku."
__ADS_1
"Ternyata kamu bisa gombal juga," dengkus Paris mengejek.
"Aku ini bukan sedang merayu atau menggoda seorang gadis. Aku sedang mengungkapkan isi hati," bantah Biema. Paris tergelak. Dia bahagia. Ejekan tadi hanya untuk menutupi hatinya yang berbunga.
"Aku sudah membuat Fikar menyingkir dari sini," ujar Paris yang menemukan Fikar di luar mobil.
"Dia memang seharusnya tidak ada saat kita sedang berduaan," kata Biema dengan tegas. Paris tersenyum geli.
"Begitu ya. Sebaiknya kita segera keluar." Paris beranjak keluar dari mobil. Biema mengikuti membuka pintu dan keluar dari pintu di sisi lannya.
"Kalian sudah mau masuk ke dalam?" tanya Fikar yang langsung berdiri begitu melihat Paris muncul dari dalam mobil.
"Ya," jawab Paris.
"Akan aku bawakan barang-barang Biema ke dalam." Fikar berjalan ke bagasi. Lalu mengambil tas Biema yang berada di dalam sana.
"Terima kasih untuk yang tadi," lanjut Paris.
"Kamu sudah membantu menyelesaikan persoalan di sekolah."
"Oh itu ..." Fikar tersenyum melihat Paris sepenuh hati berterima kasih padanya.
"Tidak perlu berterima kasih padanya. Semua yang dia lakukan tadi bukan murni inisiatifnya sendiri. Itu semua dia lakukan karena dia bawahanku." Biema langsung memudarkan senyum Fikar sambil mendekat ke arahnya. Bibir Fikar menipis mendengar Biema memotong suasana akrab barusan.
Biema meminta tas yang ada pada tangan Fikar. Melihat ini tanpa ragu Fikar menyerahkan tas yang sedikit besar itu pada Biema. "Segera pulang dan istirahat," perintah Biema pada bawahannya itu. Kemudian menoleh pada gadis di depan. "Ayo Paris. Kita masuk ke dalam." Pria itu menarik lembut tangan istrinya untuk segera masuk ke dalam gedung.
"Ya. Terima kasih sudah mengijinkan aku istirahat," ujar Fikar iseng.
Mereka sudah tiba di depan pintu apartemen. Paris berinisiatif membukakan pintu untuk Biema, tapi Biema mencegah. Dia maju lebih dulu. Mereka masuk bergantian. Karena begitu lelah, Biema langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Paris langsung mengikuti. Pria ini menyandarkan punggungnya di badan sofa. "Akan aku buatkan jus. Kamu beristirahat dulu di sana." Meskipun baru saja menangis, Paris harus siap melayani Biema yang sudah lelah. Gadis itu dengan cekatan menuju pantry dan membuatkan Biema jus.
__ADS_1
Dari tempat duduk Biema, dia bisa melihat punggung itu. Teringat lagi akan kekerasan hati gadis itu untuk menyembunyikan masalah yang terjadi tadi.
"Bisa-bisanya dia menahan semua itu sendirian," lirih Biema sambil menggelengkan kepala pelan. Biema beranjak dari sofa sambil menyeret tas besarnya. Kakinya di paksa untuk mengikuti tubuhnya walau tidak mau. Sampai di dalam kamar, Biema meletakkan tas sekenanya saja dan langsung menghambur ke atas ranjang.
Tak lama Paris mendekat ke sofa sambil membawa jus alpukat di tangannya. Namun dia sudah tidak menemukan pria itu di sana. Kepala Paris celingukan dan menemukan pintu kamar Biema terbuka. Kakinya mendekat dengan gelas jus tetap di tangannya.
Kepalanya menjulur ke depan. Ternyata pria itu sudah berbaring di atas ranjang kamarnya. Paris masuk ke dalam perlahan. Biema yang duduk sambil terpejam langsung membuka mata saat merasakan keberadaan gadis ini di dekatnya.
"Paris ...," kata Biema lemah.
"Kamu pasti mengantuk karena kelelahan. Setelah minum ini beristirahatlah lagi," kata Paris sambil menyerahkan segelas jus. Biema menegakkan punggungnya yang sempat lemas karena hampir terlelap.
"Terima kasih." Biema menerima uluran jus itu. Gadis ini memilih duduk di pinggir ranjang menemani Biema minum.
"Kamu butuh sesuatu?" Tidak ada jawaban karena pria itu masih meneguk jus alpukatnya.
"Tidak." Setelah pinggir gelas menjauh dari bibirnya, Biema baru bisa menjawab.
"Kamu lapar? Aku akan pesankan makanan."
"Tidak. Aku tidak lapar." Biema meletakkan gelas itu di atas meja.
"Atau kamu mau camilan?" Paris masih berusaha menawarkan sesuatu.
"Tidak Paris. Aku tidak butuh makan. Aku hanya butuh kamu disini." Biema meraih tangan Paris hingga gadis itu terpelanting di dadanya. Sejurus kemudian, Biema membawa tubuh itu ikut berbaring di atas ranjang. Sebuah napas tercekat keluar dari bibir Paris karena terkejut.
"Biema ...." desis Paris.
"Aku hanya butuh kamu di sampingku." Biema memeluk tubuh gadis ini sembari menggesekkan dagunya dengan hangat ke pundak. Paris menurunkan bahunya dan memilih diam. "Ternyata jauh darimu membuatku kebingungan. Aku tidak bisa memejamkan mata karena teringat padamu kemarin," Bisik Biema tepat di dekat telinga.
__ADS_1
"Aku juga. Aku hanya bisa menangis sedih saat pertama kali di tinggal kamu tidur di luar. Sungguh mengejutkan memang. Karena kita tidak pernah satu kamar kecuali malam itu. Aku ..." Paris tidak bisa meneruskan kalimatnya karena pria itu tertidur. Napasnya mulai teratur. Itu mengadakannya mulai terlelap. "Kamu tertidur ya ..." Paris mengusap rambut Biema. Mulutnya menguap. Akhirnya Paris ikut memejamkan mata juga.