Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Sarapan


__ADS_3


Paris mengeluarkan ponsel dari saku celemeknya dengan tergesa-gesa. Lalu segera menekan tombol terima di layar ponsel, saat tahu kakaknya menelepon. Ini pasti berhubungan dengan sekolah.


"Ya, kak."


"Paris, hari ini sebaiknya kamu berangkat ke sekolah," ujar Arga di seberang memberi perintah.


"Ke sekolah? Kakak sudah menyelesaikannya?" tanya Paris antusias. Dia sangat berharap bisa kembali menempuh ujian.


"Sedikit lagi."


"Jadi ini belum selesai?" tanya Paris langsung terdengar kecewa.


"Jangan sedih. Kakak bilang sedikit lagi. Jadi pasti akan selesai. Kakak hanya menunggu waktu yang tepat," ujar Arga berusaha memberi pengertian.


"Apakah aku bisa langsung mengikuti ujian?" selidik Paris.


"Mungkin tidak, tapi kamu bisa melanjutkan ujian."


"Tidak?" Paris menghela napas panjang mendengar jawaban Arga yang sangat tidak meyakinkan.


"Kamu pasti cemas. Kakak bilang tenang saja. Enggak perlu cemas." Ada kekehan kecil dari bibir Arga.


Paris menghela napas lagi. "Lalu, gimana aku bisa berangkat ke sekolah, jika kak Arga belum bisa menyelesaikannya? Bukannya lebih baik aku di rumah saja. Kalau semua sudah selesai dan aku bisa mengikuti ujian, baru aku kesana."


"Kamu akan tahu nantinya. Masalah ini akan di selesaikan di sana. Kamu bisa berangkat sendiri dulu ke sekolah seperti biasanya. Jika keberatan, aku akan menyuruh Angga mengantarmu."


"Tidak perlu. Aku bisa berangkat ke sekolah sendiri. Kebetulan di sini ada Sandra. Jadi besok aku bisa ikut dengannya ke sekolah dengan mobil rumah mama Biema."


"Oh, dia menginap? Baiklah jika begitu. Kita akan bertemu nanti. Bersiaplah."


"Ya."


"Aku akan segera menyusul. Karena aku harus ke rumah sakit dulu jadi mungkin sedikit telat. Bunda tidak harus tahu soal ini, kan?"


"Ya. Bunda akan makin sedih jika tahu tentang ini."


"Betul. Jadi akan mencurigakan jika aku berangkat pagi saat di kantor tidak ada masalah. Jadi kamu bisa tunggu aku di sekolah."


"Ya. Lalu gimana kabar ayah? Apa beliau sudah sehat?"


"Menurut kabar tadi malam, ayah memang lebih sehat daripada kemarin. Namun untuk pulang, masih belum di ijinkan."


"Semoga ayah cepat sembuh. Kasihan bunda juga."

__ADS_1


"Ya. Aku juga berharap begitu."


"Sayanggg ... Ayo sarapan!" Terdengar suara Asha di sana.


Arga menoleh pada istrinya dan menjawab, "Ya!" Arga memberi kode pada istrinya bahwa dia masih berbincang sebentar. "Aku mau sarapan dulu, Paris. Kamu juga jangan lupa sarapan. Makan yang banyak. Semua masalah di sekolah pasti teratasi. Jadi jangan khawatir soal itu."


"Iya Kak. Terima kasih sudah menolongku."


"Buat apa berterima kasih? Aku ini kakakmu. Jadi hal yang wajar jika aku berusaha membantumu."


"Aku hanya senang jika nantinya aku bisa ikut ujian lagi."


"Ya sudah. Kita ketemu lagi nanti."


Sandra yang sudah membersihkan tubuhnya, muncul setelah Paris menyelesaikan kalimat terakhirnya.


"Itu kak Biema?" tebak Sandra.


"Bukan. Ini kak Arga." Paris meletakkan ponsel di atas meja.


"Apa kalian sedang membicarakan soal sekolah?"


"Ya."


"Aku tidak tahu. Hanya saja Kak Arga bilang, aku harus ke sekolah nanti." Nada suara Paris terdengar kecewa.


Sandra mengangguk. "Ya sudah. Kita berangkat bareng-bareng saja. Aku akan menelepon ke rumah untuk menjemput sebentar lagi. Kamu bersiap-siap saja."


"Sebaiknya kita sarapan dulu."


"Sarapan?" Sandra segera melongok ke belakang tubuh Paris. Ada makanan di atas meja. "Kamu yang buat?"


"Siapa lagi yang ada di sini sekarang? Bukannya kamu sejak tadi di dalam kamar mandi. Jadi tentu saja aku yang masak ini dong," ujar Paris sedikit gugup. Itu karena dia malu. Sandra langsung duduk di kursi makan tanpa di minta. Menghadap ke arah piring yang sudah di sediakan untuknya. Paris melepas celemek di tubuhnya. Lalu menyambar ponsel dan ikut mendekat.


"Ini apa? Nasi goreng ya?"


"Udah tahu nanya," ujar Paris gemes lihat iparnya seperti sengaja akan meledeknya. Mungkin ini pertama kali dalam sejarah, Paris memasak untuk orang lain. Makanya dia was-was untuk segala tindakan yang mengarah ke sebuah pengejekan.


Sandra tersenyum.


"Aku enggak bakal ngeledek kamu kok. Aku cuma nanya."


"Ishh. Jelas banget di muka kamu mau meledek aku." Paris ikut duduk setelah meletakkan celemek di tempatnya. "Sudah makan saja. Jangan banyak tanya."


"Iyaaa. Eh, ini buat siapa? Aku kan enggak terlalu suka buah alpukat?" Sandra melihat ke arah gelas di samping, yang barusan saja dapat perhatiannya.

__ADS_1


"Oh, ya?" Paris mengerjapkan mata.


"Iya. Yang suka ini kan kak Biema." Sandra yakin sekali.


Yap. Itu benar. Ini kan kesukaan pria itu. Paris menggigit bibir bawahnya sekilas.


"Aku ganti. Aku buatkan jus mangga kesukaanmu." Tangan Paris menjulur ke depan hendak meraih gelas itu, tapi Sandra langsung menyambarnya pelan.


"Enggak apa-apa. Enggak perlu di ganti."


"Bukannya kamu enggak suka." Paris ingat kalau gadis ini memang tidak menyukai jus alpukat.


"Bukan enggak suka. Enggak favorit aja. Aku masih bisa meminumnya kok. Jadi kamu enggak perlu ganti. Sudahlah. Ayo kita makan pagi, terus berangkat sekolah." Sandra tersenyum. Paris menarik tangannya. Menjauh dari gelas jus. Kemudian ikut makan.


Saat itu, sebelum Sandra menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, ponsel di atas meja bergetar. Sandra terkejut saat melihat layar ponsel ada nama Biema di sana.


"Ya, halo."


"Kamu sedang berada di apartemen ku?"


"Iya." Paris melirik ke arah Sandra yang gembira sekali mendapat telepon.


"Paris baik-baik saja?" Sandra mendongak menatap Paris. Bola mata Paris mengerjap melihat Sandra menatapnya.


"Tentu. Mau bicara?"


"Tidak. Cukup bertanya padamu saja. Jangan beritahu dia." Alis Sandra mengerut. Heran. Jika Biema khawatir, bukankah dia seharusnya menelepon Paris, bukan dirinya. "Terima kasih sudah menginap di sana untuk menemaninya."


"Siapa?" bisik Paris. Sandra menggerakkan jari-jarinya di depan dada. Paris menipiskan bibir, karena Sandra tidak mau memberitahu.


"Itu bukan hal besar, kok." Sandra menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Mungkin, tapi bagiku itu suatu hal penting. Terima kasih, adikku ..." Sandra mengangguk-anggukkan kepala seakan Biema ada di depannya.


"Ada apa?" tanya Paris merasa heran karena Sandra terus saja menatapnya.


"Nasi ini, lumayan." Sandra tiba-tiba mengomentari nasi goreng yang di buat Paris. Ponsel sudah di matikan.


"Kamu berusaha menghiburku, ya ..." Paris tahu nasi goreng yang di buatnya biasa saja.


"Enggak. Aku enggak bohong supaya kamu terhibur. Aku bilang lumayan, bukan enak," ralat Sandra yang kemudian tergelak. Paris sudah firasat kalau gadis ini akan begitu. Namun dia senang. Meskipun tadi sudah susah payah membuat masakan ala kadarnya ini.


Sandra melirik Paris yang tengah menunduk sambil mengunyah makanannya. Ia melihat sekilas tadi. Bola mata gadis ini yang nanar saat mulutnya menyebut nama Biema. Kemungkinan dia memang sangat ingin bertemu kakaknya. Keberadaan orang tersayang memang sangatlah penting saat kita sedang dalam masalah. Begitu juga Paris.


__ADS_1


__ADS_2