
Bola mata itu berkaca-kaca melihat ayahnya. Rasa sedihnya kini berlipat ganda. Paris tidak bisa lagi menahan air matanya. Maksud dan tujuannya menghubungi bunda adalah ingin berkeluh kesah tentang dirinya yang di drop out dari sekolah. Namun tujuannya tidak bisa tersampaikan karena ternyata keluarganya juga sedang mendapat musibah. Setelah Biema yang tidak bisa bertemu karena perkara permasalahan di kantor cabang, kini tentang ayahnya yang ternyata terbaring di rumah sakit. Paris kembali harus memendam untuk tidak bercerita.
Bunda mendekat ke arah Paris. Tangan beliau mengusap lengan putrinya berulang-ulang. Berusaha menenangkan. Paris mengerjap-ngerjapkan mata guna melenyapkan air mata yang menggenang.
"Maaf. Bunda enggak beritahu kamu, Paris."
"Ya. Tidak apa-apa Bunda. Aku sudah tahu dari Bik Sumi. Dia yang kasih tahu Paris kalau ayah sakit. Apakah sakit ayah parah?” tanya Paris seraya tetap memandangi ayahnya.
"Mungkin tidak. Hanya saja, karena ayahmu jarang sakit, ini begitu mengejutkan." Bunda menyentuh pundak putrinya.
"Jadi ayah belum bisa pulang?" Kali ini dia menolehkan kepala kepada bundanya.
"Belum. Lebih baik begitu. Daripada kita memaksa pulang, tapi penanganan belum tuntas. Jika nantinya ayah mu ternyata meminta pulang, terpaksa perawatan di lakukan di rumah." Bunda menjelaskan. "Duduklah. Kamu terlihat lelah." Bunda membimbing tubuh putrinya menuju sofa di dekat jendela.
Ya. Aku sangat lelah. Bebanku bertambah banyak. Namun aku tidak bisa mengungkapkan. Aku harus memendamnya sementara waktu hingga semuanya kembali tenang.
Paris tersenyum tipis. Meski suara hati mengiyakan, tapi bibirnya bungkam. Gadis ini tidak mau menambahi beban untuk keluarganya.
"Kamu bisa beristirahat dulu. Biar aku dan putriku berjaga di sini." Nyonya Wardah memberi waktu pegawai suaminya untuk beristirahat. Karena sudah sejak awal sudah berada di sini tanpa jeda.
"Terima kasih, Nyonya ..." Pria paruh baya itu pamit untuk keluar. Kini hanya tinggal nyonya Wardah dan Paris. Gadis ini bersandar di badan sofa. Merasakan punggungnya terasa nyaman jika di tumpu dengan sesuatu.
"Bagaimana Biema? Apa sehat?" tanya bunda ikut bersandar.
"Ya. Dia sehat."
"Bunda senang kalian semakin rukun." Nyonya Wardah membelai lembut rambut Paris. "Bagaimana dengan sekolahmu?" Mendengar pertanyaan ini, Paris kembali teringat akan tujuannya menemui bunda. "Bukannya sekarang kamu sedang ujian akhir ..." Paris mengangguk. Rasa ingin mengungkapkan cerita itu kembali muncul.
__ADS_1
”Ya. Aku memang sedang ujian akhir."
"Baguslah. Jika begitu kamu bisa segera lulus. Lalu bunda akan menggelar resepsi pernikahan lagi buat kamu." Wajah beliau sedikit ceria saat mengatakan ide itu.
"Tidak perlu ada resepsi lagi enggak apa-apa, Bun," ujar Paris kurang setuju. "Cukup resepsi kecil waktu itu saja."
"Benarkah?"
"Ya. Paris enggak butuh resepsi lagi. Kita sudah jadi suami istri. Maka aku enggak peduli soal pesta lagi." Paris cukup menikmati menjadi pendamping pria itu. Pesta kecil dan sembunyi-sembunyi dulu, sudah menjadi sebuah pesta besar baginya saat ini. "Daripada itu, ada yang lebih di inginkan oleh Paris sekarang."
"Apa?" tanya bunda. Paris membasahi bibirnya. Berusaha menekan rasa tidak nyaman saat akan mengungkap perkara di drop out dari sekolah. Wajah bunda yang setia menunggu gadis ini mengungkapkan apa yang di inginkannya, menjadi senjata mematikan baginya yang berusaha memperjuangkan hak meminta bantuan atas tindakan beliau. Paris merasa tertekan sendiri dengan raut wajah bunda yang selalu siap memberi bantuan apapun.
"Paris ingin mobil," jawab Paris mendadak. Bola matanya mengerdip. Ia terkejut sendiri saat bibirnya mengucapkan kata itu.
"Mobil? Boleh. Nanti bunda akan bilang pada asisten ayah untuk bertransaksi. Silakan kamu catat jenis dan merek mobil itu," ujar bunda langsung setuju.
"Kamu ingin mandiri tanpa harus menyusahkan suamimu untuk menjemput ya ...," goda bunda tanpa tahu bahwa Paris meringis dalam hati karena bukan itu yang sebenarnya ingin ia katakan. Gadis ini tidak tega memprotes soal pernikahan dia dan Biema yang terkuak di sekolah. "Sayang sekali bunda tidak setuju. Jika sudah bersuami, kamu tidak boleh kemana-mana tanpa suami. Kecuali suami sudah mengijinkan. Jadi permintaan beli mobil tidak bunda kabulkan." Bunda menyentil pucuk hidung anak gadisnya. Paris memaksa tersenyum.
Meski bunda berusaha bicara dengan menyelipkan nada bergurau disana, tapi Paris tahu beliau pasti masih terguncang dengan kesehatan ayah yang tiba-tiba memburuk.
"Begitu ya ...”
"Permintaanmu harus sesuatu yang penting. Jadi bisa Bunda pertimbangkan, sayang ... " Paris meremas tangannya.
"Ada hal lagi yang lebih penting yang perlu Paris katakan," ujar gadis ini masih berusaha menerobos rasa tidak nyaman membicarakan masalahnya sendiri.
"Hal penting? Apa itu?” tanya bunda terlihat heran.
__ADS_1
"Itu adalah ..." Suara pintu di buka dari luar terdengar. Sontak kepala nyonya Wardah menoleh ke arah pintu. Seorang dokter masuk bersama perawat.
"Selamat sore, Nyonya. Saya akan melakukan pemeriksaan pada tuan Hendarto," ujar beliau ramah. Nyonya Wardah berdiri dan tersenyum.
"Silakan." Kaki beliau sedikit mendekat untuk melihat. Rasa cemas tiba-tiba menyelubungi hatinya. Pembicaraan penting yang akan Paris katakan terabaikan. Gadis ini menghela napas. Rasa tegang yang di rasakan saat akan mengatakan semuanya, luruh seketika. Paris gagal. Namun dia akhirnya lega saat melihat raut wajah cemas perempuan yang melahirkannya. Lega karena bibirnya masih bisa bungkam. Karena bunda akan makin cemas jika dia mengatakan semuanya.
Paris berdiri dan ikut melihat ayah yang tengah di periksa oleh dokter. Perlahan Paris menjauh dari sisi bunda yang memfokuskan pandangan pada suaminya. Gadis ini berjalan keluar kamar tanpa menimbulkan suara. Saat membuka pintu pun dia mencoba tidak memperdengarkan bunyi.
Asha menoleh saat melihat adik iparnya keluar kamar. Wanita ini mendekat. Sepertinya baby Arash sudah tidur. Bayi ini seringkali rewel jika mengantuk. Namun saat sudah tertidur, bayi itu akan sangat pulas dan tidak menghiraukan suara apapun.
"Maaf tidak memberitahumu. Bunda bilang, tidak perlu memberitahumu karena ayah akan segera sembuh. Lagipula kamu sedang ujian," Asha langsung memberikan alasan kenapa dia juga tutup mulut soal ayah mertua yang sakit.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti." Paris duduk di bangku di dekat taman kecil yang ada di luar pintu kamar perawatan. Asha mengikuti dan duduk di kursi yang kosong.
"Tidak perlu cemas. Ayah pasti akan cepat sembuh. Beliau orang yang kuat." Asha menyemangati. Saat menatapnya, wajah Paris tampak begitu gundah.
"Aku tahu." Paris menimpali semangat yang di berikan oleh kakak ipar. "Kak Arga kemana? Sejak tadi aku tidak melihat berada di sekitar ruang ayah di rawat." Kepala Paris menengok ke kanan dan ke kiri.
"Arga sudah tadi kesini. Lalu dia kembali lagi ke kantor."
"Oh ... " Paris langsung menghentikan kalimatnya. Seakan gadis ini kecewa tidak bisa bertemu dengan saudaranya.
"Ada apa?” selidik Asha. Paris yang melihat ke sekeliling langsung menoleh ke arah Asha dengan cepat.
"Hanya ingin bertemu," jawab Paris santai. Asha memperhatikan gadis ini. Dia tidak serta merta percaya pada apa yang di katakan Paris. Asha berdiri sejenak karena Arash menggeliat. Menimang-nimang dengan lembut, agar bayi itu kembali terlelap.
__ADS_1