
Setelah sekitar sepuluh menit berlalu, Paris menyelesaikan mandinya. Namun saat mengambil handuk, benda itu tidak ada di tempatnya. Kemungkinan dia lupa membawa handuk masuk ke dalam kamar mandi karen terburu-buru. Baju kotor tadi juga sudah basah terkena air. Paris terpaksa harus keluar mengambil handuk di dekat pintu kamar mandi.
Paris membuka pintu kamar mandi pelan. Membukanya sedikit agar bisa mengeluarkan tangannya. Kemudian berusaha meraih handuk yang terpasang di jemuran kecil yang di letakkan di luar dekat pintu kamar mandi. "Ih, kenapa sulit sih," sungut Paris dari dalam kamar mandi.
Meskipun tidak ada orang di dalam apartemen, sungguh tidak nyaman jika dia harus keluar dari kamar mandi dengan tubuh polos untuk mengambil handuk. Secepat kilat handuk itu dengan mudah bisa berada di dalam genggamannya.
"Akhirnya ...," ujar Paris lega. namun mendadak dia terkesiap. Itu bukan karena sulap atau dia telah berusaha. Seseorang di luar pintu telah meletakkan handuk di atas tangannya. Kemudian tiba-tiba pintu kamar mandi terdorong dengan pelan. Karena terkejut, Paris hanya mampu melihatnya tanpa berusaha menahan pintu itu atau menutupnya.
Biema muncul dan menatapnya. menatap lekat ke arah dirinya yang sedang polos bersih tanpa apapun yang melekat di tubuhnya.
Beberapa saat yang lalu, ketika mereka tiba di apartemen.
Biema sudah merasa gelisah sejak tadi. Sejak mereka berada di rumah sakit. Banyak hal yang membuat tubuhnya panas karena suatu hal yang tidak tertahan. Bahkan saat dalam perjalanan pulang pun pikirannya tertuju hanya pada satu hal. Tubuhnya meremang melihat Paris.
Berkali-kali Biema berusaha menghindar dari gadis ini. Dia sengaja tidak melakukan kontak mata dan bicara dengan lama dengannya bukan tanpa maksud. Biema sedang berusaha menahan diri dari hasratnya yang timbul. Dia tidak ingin di kalahkan oleh naluri kelaki-lakiannya yang menggeliat tadi.
Setelah usahanya mengguyur tubuhnya dengan air dingin gagal, Biema ingin menjauh sejenak. Membuang sisi primitif manusia saat melihat lawan jenisnya. Menampik hasrat yang ingin tidak sekedar memeluk tubuh. Mencoba lari dari rasa ingin mencicipi rasa feromon yang menguat dari tubuh Paris.
__ADS_1
Biema sudah pergi dari apartemen dengan tanpa tujuan. Entah mau kemana dan mau apa. Pikirannya hanya ingin menghindar dari Paris. Dia tidak ingin mengingkari janji yang sudah di buat oleh dirinya sendiri.
Setelah turun melalui lift dan sampai di depan pintu masuk gedung, dia teringat sesuatu. Dirinya lupa membawa ponsel. Mungkin karena ia takut terperangkap sendiri oleh keinginannya, ia terburu-buru ingin pergi hingga lupa membawa ponsel bahkan dompet.
Biema membalikkan tubuhnya sambil mendesah kesal untuk menuju ke arah pintu lift, untuk kembali lagi ke apartemen.
"Ya. Aku akan mengambil ponsel dan dompet lalu pergi secepatnya." Tujuan awal Biema sangatlah sederhana. Namun yang dia harapkan tidak sama. Mungkin karena sedang terbuai oleh hangatnya air di dalam bathup, Paris tidak mendengar saat suara kunci pintu terbuka dari luar.
Biema bergegas menuju ke kamar dan kakinya terhenti saat ia melihat tangan gadis itu sedang terjulur keluar dari pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Gadis itu kesusahan mengambil handuk. Biema mendekat untuk mengambilkan handuk dan meletakkan di atas telapak tangan yang menjulur keluar.
Dia sudah ingin masuk ke dalam kamarnya dan mengabaikan Paris setelah selesai membantu. Namun kakinya memilih mendekat ke pintu kamar mandi yang tetap terbuka sedikit dan membukanya perlahan. Kemudian ia masuk selangkah dan melihat gadis itu yang terdiam menatapnya juga. Sesaat tatapan mereka beradu.
Bola mata Biema melihat bibir Paris bergerak ingin mengatakan sesuatu. Namun itu urung karena dirinya mendekat dan melahap bibir ranum milik gadis itu. Sementara gadis ini hanya menerima tanpa menolak ataupun mendorong tubuh Biema.
Bahkan beberapa menit pergulatan lidah terjadi hingga Paris menjatuhkan handuk di tangannya. Usahanya tadi sia-sia karena kini ia terlena dengan ciuman pria ini. Hingga keduanya tersengal-sengal saat pergulatan itu terhenti.
"Aku menginginkanmu," bisik Biema dengan wajah memerah. Paris mengerjap karena baru pertama kali melihat pria ini seperti ini. Atau ini pertama kalinya Biema sengaja menunjukkan wajah merah dengan bola mata berkabut karena menginginkan dirinya.
Paris tidak bisa menjawab. Gadis ini hanya mengangguk pelan yang dia sendiri tidak menduganya. Tanpa banyak bicara lagi Biema merunduk dan menyelipkan lengannya pada belakang tumit gadis ini. Lantas meraup tubuh Paris, sampai membuat Paris memekik kecil karena terkejut. Kemudian membawanya ke kamar tidur miliknya.
__ADS_1
Paris hanya terdiam dengan tubuh meringkuk dalam gendongan lengan kekar milik Biema.
Dengan lembut Biema meletakkan tubuh itu di atas ranjang. Sejurus kemudian mengurungnya dalam tubuh tegap miliknya. Biema sudah tidak tertahankan lagi. Keinginan menghindar dan menjauh dari gadis ini gagal total. Ia menginginkan gadis ini. Gadis yang di cintai dan di sayangi.
Bola mata Paris menatap Biema yang mulai melempar pakaian ke lantai dengan nanar. Debaran di dadanya tak kunjung reda. Detak jantungnya juga bertalu sejak tadi. Sejak awal Biema menemukannya di dalam kamar mandi. Bagai genderang perang yang bersiap untuk bertempur di medan perang.
Ada perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan. Apalagi saat pria ini berada di atas tubuhnya. Mengungkung tubuhnya lembut dengan kedua lengannya. Dia yang tidak tahu apa yang harus di lakukan terbujur kaku. Paris kebingungan ingin melakukan apa. Dia hanya diam dan sedikit menggeliat saat Biema menjajaki tubuhnya.
Ada kalanya ia mendesis pelan yang ia sendiri kebingungan kenapa desisan itu keluar dari bibirnya begitu saja. Padahal ia sudah melipat bibir menahan mengeluarkan suara apapun karena itu aneh. Bahkan air matanya juga keluar tidak tertahankan tanpa ia tahu penyebabnya. Bukan sedih atau sakit hati yang ia rasakan, tapi air mata itu tetap menetes perlahan.
Beberapa saat tiba-tiba tubuhnya menggeliat lebih kuat. Bahkan bibirnya bukan lagi mendesis, tapi mengerang saat merasakan ada sesuatu yang menghujam tubuhnya dan menciptakan rasa sakit. Saat ia ingin memekik meneriakkan rasa sakit itu, sejurus kemudian ada rasa nikmat yang ia rasakan. Temuan baru ini membuat Paris merasa aneh.
Tidak lama setelah itu dia mendengar Biema mengerang.
"Arrggh, Paris ..." erang Biema menyebut namanya. Tanpa tahu harus apa, Paris memilih memeluk tubuh polos Biema yang berada di atasnya dengan erat. Itu bukan menghentikan erangan Biema. Justru membuat pria ini mengerang lebih dahsyat. Seakan menerima sesuatu yang belum pernah dia rasakan. Entah kenapa erangan Biema menular padanya dan membuat dirinya ikut mengerang juga.
"Ahhh ..." Setelah itu tubuh Biema melemah begitu juga dirinya. Ia merasa ada yang mengalir di bawah sana. Namun dia tetap diam. Karena tubuh Biema masih menindihnya pelan.
__ADS_1