
"Kenapa kamu masih membahas lagi soal permintaanku waktu itu? Permintaan mengajakmu menikah," tanya Biema dengan marah yang berkilat di matanya.
"Duduklah dulu, Biem," pinta Mela sambil menepuk dudukan sofa di sebelahnya. Biema tidak mengindahkan permintaan Mela. Dia memilih duduk di seberang wanita ini. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya membuat kamu marah ke aku."
"Kalimatmu. Kalimatmu soal aku yang mengajakmu menikah."
"Apa yang salah dari itu, Biem? Bukankah kamu mengatakan sendiri kalau ingin menikahiku? Aku tidak sedang membuat kata-kata palsu. Aku hanya mengatakan apa yang pernah kamu katakan padaku. Tidak lebih." Mela tidak habis pikir jika Biema marah karena pernyataan pria ini sendiri padanya. "Lagipula kenapa perlu semarah itu?"
"Karena kamu mengatakannya di depan Paris." Perlahan Biema mulai membahas gadis itu.
"Paris? Kenapa? Aku tidak perlu menahan diri mengatakan apapun di depan teman adikmu. Baik. Mungkin kamu tidak ingin apa yang kita bicarakan berdua terdengar oleh adikmu lewat temannya. Selain itu apalagi? Tidak ada hal istimewa sampai aku harus menutup mulutku soal kamu yang ingin menikahiku."
"Ada. Ada hal istimewa lagi Mela. Mungkin kamu belum tahu. Perlu aku katakan sekarang, jangan bicarakan soal kita berdua di depan Paris, karena dia istriku." Mela menatap Biema sejenak. Bola matanya mengerjap berulang-ulang. Seperti mendengar sesuatu tapi tidak jelas.
"Istri? Istrimu?" tanya Mela meyakinkan lagi telinganya mendengar dengan baik. "Apa kamu mengatakan istri barusan?"
"Ya. Paris adalah istriku." Mela terdiam. Kata-kata 'istri' langsung tertanam di otaknya dan membuatnya menatap Biema tidak percaya.
"Istri ... kamu bilang?" tanya Mela lambat-lambat. Lagi. Kata itu sungguh sangat janggal baginya. Rasanya tidak bisa di percaya. Bagaimana mungkin gadis tadi adalah istri pria ini. "Kamu bercanda Biema?"
"Apa mungkin sekarang aku masih bisa bercanda denganmu?" tanya Biema balik.
"Ini semua sungguh aneh bagiku." Mela tersenyum. Senyuman yang tidak bisa di artikan itu adalah bahagia. Senyuman canggung yang keluar karena tidak bisa menerima kenyataan.
"Lebih baik, kamu segera pergi. Aku masih punya banyak urusan." Biema hendak menuju ke meja kerjanya. Mencari ponselnya.
"Dia ... seorang gadis yang masih sekolah Biema." Biema menoleh.
"Lalu?"
"Jika kamu bilang dia adalah kekasihmu mungkin aku masih bisa percaya, walaupun terasa aneh. Namun jika kamu bilang dia adalah istrimu, itu ..."
"Apapun yang kamu pikirkan hingga kamu tidak percaya, terserah. Apa yang aku katakan adalah benar. Tolong, bisa selesaikan urusanmu? Aku harus mengejarnya."
"Kamu menikahinya karena aku menolakmu menikahiku, Biem?" tanya Mela dengan gurat wajah sendu.
"Jangan banyak bertanya soal ini, Mel. Itu di luar hakmu."
"Oke. Aku mengerti. Terima kasih sudah menemukan ponselku." Mela melangkah menuju pintu dan tiba-tiba berhenti. "Aku harap kemarahanmu tidak mempengaruhi perjanjian kita soal kerja sama."
__ADS_1
"Aku tahu. Aku bisa membedakan mana pekerjaan dan mana masalah pribadi. Kita tetap bekerja sama."
"Oke. Terima kasih. Aku pergi."
...----------------...
...----------------...
Ponselnya terus saja berdering. Paris mengabaikan itu. Dia tahu itu Biema. Kali ini Paris ingin menghabiskan waktu bukan dengan berkeliling tidak jelas. Dia menuju mall keluarga. Walaupun bukan rumah, setidaknya disini bagaikan rumah baginya. Karena ada kakaknya yang bekerja di sana.
Paris duduk dengan meluruskan kaki. Ranselnya masih bergantung di punggungnya. Dia melihat lalu lalang orang yang melintas. Saat ini Paris bagai anak kehilangan induknya.
"Baik Rendra, kita memang harus ... Tunggu." Arga yang saat itu melintas bersama Rendra melihat adiknya.
"Ada apa, Tuan?" Rendra heran melihat tuannya berhenti bicara dan melangkah. Bola mata Rendra mengikuti arah pandang pria itu.
"Bukannya itu adikku?" tanya Arga sedikit ragu. Rendra yang ikut melihat menyipitkan mata di balik kacamatanya.
"Benar, Tuan. Itu adik Anda."
"Baik." Rendra mengangguk. Kaki Arga melangkah mendekati Paris. Rendra tidak ikut. Dia hanya berdiri di tempatnya.
"Itu kamu Paris?" tegur Arga. Paris yang kebetulan sedang menunduk sambil memegangi kakinya mendongak.
"Kak Arga."
"Kenapa ada di sini?" Arga melihat ke sekeliling. Dia memastikan adiknya sedang bersama siapa. "Sendirian?" tanya Arga akhirnya setelah yakin bahwa Paris sedang sendirian.
"Ya. Aku sendirian."
"Jam berapa ini?" Arga melihat ke arah arloji di pergelangan tangannya. "Kenapa kamu sudah bisa ada di sini saat sekolahmu baru saja bubar?" tanya Arga curiga.
"Aku tidak bolos sekolah, Kak," bantah Paris dengan tatapan kecurigaan Arga.
"Lalu?"
"Aku pulang jam 11 tadi. Lalu ke rumah bunda, karena bunda buatin Biema bekal makan siang. Jadi aku juga ke kantor Biema, lalu ..." Kalimat Paris terhenti. Dia ingat ada bagian yang tidak pantas di publikasikan. Bagian rahasia yang baiknya di simpan sendiri untuk dirinya.
"Lalu apa? Kenapa berhenti?"
__ADS_1
"Tidak ... Tidak apa-apa. Lalu aku ke sini karena malas pulang ke apartemen."
"Jika dari kantor Biema, seharusnya dia ada di sini menemanimu jalan-jalan."
"Dia bekerja, Kak. Ini masih jam kerja bukan? Tidak mungkin menemaniku." Paris memberi alasan.
"Kalau aku mendengar Asha ingin jalan-jalan, dengan senang hati aku akan menemaninya. Tidak akan aku biarkan dia berkeliaran sendirian sepertimu." Arga membandingkan dirinya sendiri dengan Biema.
"Jangan bandingkan dia dengan kakak, dong," gerutu Paris. "Biema ya Biema. Kak Arga ya Kak Arga." Arga tersenyum.
"Adikku ternyata tidak suka suaminya di banding-bandingkan." Tangan Arga mengacak rambut adiknya pelan. Paris tidak berontak atau marah. Dia butuh penenangan. Dia suka usapan ini. "Eh, kenapa tidak marah?" Melihat adiknya diam, Arga justru heran. Tidak seperti biasanya gadis ini diam saja saat mendapat sentuhan yang mengacak rambutnya.
"Aku lagi malas." Paris merapikan rambutnya saat Arga melepaskan tangannya dari pucuk kepalanya.
"Kita makan dulu? Kamu seperti kekurangan makan."
"Aku tidak mau makan."
"Donat? Roti coklat?" tawar Arga yang tahu itu kegemaran adiknya.
"Boleh. Hanya sedikit," sahut Paris tertarik meski masih enggan.
"Itu kita lihat saja nanti. Apa kamu masih bisa bilang hanya sedikit saat ada makanan favoritmu itu di depan mata. Ayo berdiri," ajak Arga. "Tunggu. Aku akan mengajak Rendra." Arga memberi kode pada Rendra untuk mendekat.
Rendra yang meskipun berdiri agak jauh, dia selalu saja melihat ke arah mereka berdua. Jadi saat Arga memberi kode, dia paham. Kaki sekretaris ini berjalan menghampiri.
"Kita makan dulu," ujar Arga setelah Rendra berdiri di depannya.
"Baik."
Mereka menuju outlet donat dengan brand nasional yang besar layaknya brand intenasional. Arga langsung memesan satu pak donat untuk adiknya. Sementara Rendra duduk di meja lain. Dia berinisiatif untuk tidak makan satu meja karena ada Paris. Saat ini dia masih memilih makan dari buku menu.
Beberapa menit makanan yang di pesan datang.
"Ada apa?" tanya Arga.
"Apanya? Kenapa tiba-tiba?" tanya Paris seraya mengambil donat dengan macam-macam topping itu.
"Kenapa wajahmu suram. Ada apa dengan kalian?" tanya Arga sambil menyendok makanan di piringnya.
__ADS_1