Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Perkataan adalah doa


__ADS_3


Jika yang lain menerima kalimat Paris dengan kaku, berbeda dengan Mela. Dia yang masih belum tahu kenyataan apa yang ada di balik hubungan Biema dan Paris justru bersikap biasa. Bahkan setuju dengan kata-kata Paris.


"Benar. Gadis kecil ini mungkin akan bahagia." Mela tergelak. Sandra menghiasi bibirnya dengan senyum terpaksa tatkala Mela menoleh padanya. Sesekali dia menatap takut pada Paris yang melihat semua itu.


Fikar mengerjapkan matanya berulang kali. Dirinya pun tidak bisa melakukan apa-apa. Kunci dari semua ini tentu saja adalah pria di sebelahnya. Namun dengan sikap yang menyebalkan, yaitu diam ... Biema hanya memerhatikan, mendengarkan, dan melihat. Dia tidak melakukan apapun. Fikar merasakan hal tidak tepat di sini.


"Itu hanya impian seorang anak kecil. Itu sudah lama berlalu," ujar Biema akhirnya membuka mulutnya untuk menanggapi cerita Mela soal keinginan Sandra yang dulu sempat menginginkan dia menjadi kakak ipar.


"Ya. Itu memang hanya sebuah cerita saat kita bertiga masih kecil." Mela setuju. Dia mengangguk.


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu," ujar Paris bermaksud pergi. Dia merasa hanya sebagai pemeran figuran yang sudah selesai melakukan perannya. Tugasnya sudah usai.


"Eh, enggak sekalian di antar pulang Biem? Makan siang kita kan sudah selesai. Jadi kamu bisa antar Sandra dan juga Paris pulang," usul Mela. Fikar dan Sandra lagi-lagi terkejut. Ekor mata mereka melirik ke arah Biema.


Dia akan menolak. Pasti.


"Tidak, Kak. Tidak perlu. Aku bisa naik ojek atau angkutan umum," tolak Paris. Itu pasti.


Sudah aku bilang, dia akan menolak.


"Benarkah? Hei! Kalian bertiga kenapa sejak tadi diam saja? Paris mau pulang, tuh! Tidak ada tawaran mengantar dia pulang atau bagaimana gitu?" tegur Mela. "Dia kan sahabat adik kamu, Biem. Seharusnya kamu lebih ramah, dong."


"Jika dia mau, aku mau mengantarnya." Biema melempar pandangan pada Paris. Kini gantian Paris yang memandanginya.


"Aku bisa pulang sendiri." Jawaban Paris sebenarnya di tujukan untuk Biema. Namun karena Mela yang tadi bertanya, wanita ini merespon penolakan Paris.

__ADS_1


"Aku tahu. Ini hanya sebagai sopan santun karena kamu adalah sahabat Sandra. Lagipula mereka bawa kendaraan yang memudahkan kamu untuk pulang."


Jadi kalau aku orang lain kamu tidak perlu menawarkan untuk mengantar pulang, gitu? dengkus Paris samar.


"Tidak perlu merepotkan orang lain. Aku juga masih perlu berjalan-jalan di sekitar, tidak langsung pulang. Karena sepertinya aku tidak ingin pulang lebih cepat," sahut Paris sembari tersenyum.


"Jangan pulang terlalu sore Paris. Orangtuamu pasti menunggu putrinya pulang sekolah tepat waktu," nasehat Mela. "Karena aku dulu juga sepertimu. Malas pulang. Ingin selalu bermain-main di luar. Akhirnya mama di rumah kebingungan karena takut aku kenapa-kenapa."


"Iya, aku tahu. Terima kasih atas tawarannya kak Mela. Daaa ..." Paris melambaikan tangan seraya tersenyum. Sandra dan Fikar masih diam dengan gelisah melihat Paris yang melangkah pergi. Biema tidak bergerak. Dia tidak juga mengatakan apa-apa soal siapa Paris. Ini membuat keduanya jadi di liputi kebingungan. Biema masih memandangi punggung gadis itu sampai hilang di belokan jalan.



"Sialan!" omel Paris. Entah kenapa makian ini muncul di pikirannya sekarang. "Jadi perempuan yang dia temui di mebel adalah dia. Mela. Cantik. Aku masih hapal wajah itu." Dengan langkah tegas Paris berjalan sambil menggeram pelan. Menendangi kerikil-kerikil yang tidak bersalah di depannya dengan berang.


"Kakak ipar? Huh! Aku tidak merasa bangga dengan predikat itu. Jika Sandra ingin Mela yang jadi kakak ipar, silakan ... silakan ..." cibir Paris. "Memangnya apa hebatnya menjadi kakak ipar? Itu bahkan tidak bisa memberikanku kebebasan. Bahkan kebahagiaan pun tidak bisa aku rasakan." Bibir Paris terus saja meracau sendiri sambil berjalan.


Meskipun terus saja berjalan, kakinya tidak terasa lelah. Padahal dia sudah lumayan jauh dari tempat tadi. Dia juga kebingungan saat melihat ke sekitar. Dia berada di tempat yang tidak biasa ia lewati.


Tiba-tiba petir menyambar. Perkataan Paris terkabul. Sebagian perkataan kita adalah doa. Itu benar. Mendung tebal dan hitam segera mengumpul di atas langit. Satu persatu rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Segera saja kaki Paris berlarian mencari tempat teduh. Sialnya, tidak ada tempat teduh yang layak.


"Busyet! Dasar mulut enggak tahu diri. Kenapa juga meminta hal yang tidak menyenangkan. Seharusnya enggak perlu meminta hal seperti itu," rengek Paris sambil masih berlari mencari tempat aman. Akhirnya dia pasrah juga mencari tempat berteduh.


"Diam di tempatmu." Sebuah suara memberinya perintah untuk diam. Karena terkejut, Paris yang memang putus asa mencari tempat teduh, berhenti. Tiba-tiba saja tetesan air hujan kini tidak lagi membasahi tubuhnya. Padahal hujan turun semakin deras, bukan semakin pelan.


Kepala Paris mendongak. Bola matanya menemukan sebuah payung berwarna biru muda menaunginya dari hujan. Seseorang berdiri di belakangnya tengah memayunginya. Siapa? Paris memutar kepalanya. Sebuah jas berwarna abu-abu.


Biema?

__ADS_1


"Kenapa hujan-hujanan?" tanya suara itu. Saat Paris menoleh ke belakang seraya mendongak, dia mendapati Biema memegang payung untuk melindunginya dari air hujan.


"Biar otakku lebih dingin," jawab Paris asal. Dia kembali melihat ke depan.


"Otak kamu sedang kepanasan?" tanya Biema balik. Tubuhnya mulai berdiri sejajar dengan gadis ini.


"Ya, enggaklah. Kenapa kasih pertanyaan enggak bermutu, sih?!" sembur Paris. "Lagipula kenapa muncul di sini? Urusanmu kan masih belum selesai? Cepat sana pergi," usir Paris.


"Aku tidak punya urusan."


"Jangan bercanda. Jelas tadi kamu lagi bareng Mela. Apa itu tadi? Makan siang?" Paris lupa-lupa ingat mereka sedang apa tadi saat dirinya melawan cowok penjambret itu.


"Itu pekerjaan."


"Haha ... ya, ya, itu memang pekerjaan. Terserah." Setelah tertawa, Paris justru langsung mendengkus. Itu pertanda dia tidak benar-benar ingin tertawa. Dia sedang mencemooh.


"Seharusnya tadi kamu mengiyakan untuk aku antar. Jika begitu, kamu tidak perlu kehujanan seperti ini."


"Jangan sok peduli. Masih ingat alasan apa kita menikah bukan? Terpaksa. Lagipula kenapa sekarang kamu banyak ngomong?" Paris menolehkan kepala ke samping dengan wajah tidak bersahabat. "Padahal sejak tadi saja mulutmu selalu bungkam. Aneh."


"Oh, itu ..."


"Jika tadi enggak bisa ngomong, sekalian saja enggak usah muncul sekarang. Jadi aku bisa memaki-maki kamu sepuasnya nanti. Bukannya kamu juga sedang marah karena aku enggak mau pulang sama sopir rumah mamamu, dan malah ngajak Sandra jalan-jalan berdua. Jangan setengah-setengah. Kalau marah, marah aja sekalian."


"Aku marah. Memang. Namun aku marah bukan hanya karena kamu enggak pulang langsung ke rumah."


"Terus apa? Bukannya kamu kasih peringatan aku untuk pulang, tapi aku mengabaikannya bukan?"

__ADS_1


"Aku marah ke kamu karena khawatir." Sedetik setelah Biema menuntaskan kalimatnya, dada Paris tiba-tiba berdebar. Ada sesuatu yang melintas di hatinya.



__ADS_2