Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Buah tangan dari bunda


__ADS_3

"Kalau begitu cepat ke sini ya? Bunda punya sesuatu untuk Biema." Suara bunda terdengar riang di sana.


"Ya," sahut Paris ingin segera menyelesaikan percakapan ini. Paris melangkah menjauh dari Fikar


"Tunggu, Anda ... Eh, kamu ... jangan kabur. Kamu harus ..."


"Kabur? Kabur kamu bilang?" Paris langsung memotong kalimat Fikar sembari menghentikan langkahnya. "Siapa yang mau kabur?" tanya Paris berang. Fikar terkejut.


"Maaf. Biema berpesan untuk mengawasimu dengan ketat. Karena kamu terbiasa ahli dalam soal kabur dari penjemputan pulang sekolah seperti ini." Fikar sudah mendapat nasehat untuk selalu waspada. Dia harus mengingat itu.


"Jangan berlebihan. Jika aku teriak, semua orang akan mendekat dan berpikir bahwa om-om sedang menggodaku," ancam Paris membuat Fikar gentar. Terlihat bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. "Tenang saja. Aku bukan orang seperti itu," kata Paris sambil tertawa. Rupanya dia sedang bercanda.


Gadis ini ...


"Ayo, antar aku sekarang." Paris segera masuk ke dalam mobil. Setengah berlari Fikar masuk ke dalam mobil juga.


"Kita akan pulang."


"Bukan. Aku tidak mau pulang."


"Hah? Kamu bilang tadi ..." Fikar langsung menoleh ke kursi belakang dengan wajah kecewa.


"Aku bilang antarkan aku. Bukan antar aku pulang bukan?"


"Lalu? Kamu mau kemana?" Fikar sudah mulai gelisah. Biema pernah bilang, gadis ini si tukang rusuh. Dia punya banyak cara untuk memusingkan kepala orang lain yang tidak di sukainya.


"Antar aku ke rumah orangtuaku."


"Ke rumah orangtuamu?"


"Iya. Kenapa? Kamu tidak tahu letak rumah orangtuaku?"


"Bukan. Aku tahu dimana rumahmu."


"Lalu?" tanya Paris penasaran.


"Biema bilang jangan biarkan kamu pulang ke rumah orangtuamu. Dia ingin kamu pulang ke apartemennya. Rumahmu yang baru."


Rumah yang baru. Tempat itu memang baru dan asing bagiku.


"Aku ke rumah orangtuaku bukan mau pulang kesana. Bundaku memintaku kesana karena ada perlu." Paris menjelaskan. Fikar menggaruk tengkuknya. Bawahan Biema ini pasti ragu. Juga takut Paris akan membohonginya. "Minta ijin dulu pada Biema jika kamu takut. Aku bisa menunggu." Paris sedang berbaik hati.


"Baiklah. Aku akan menelepon Biema terlebih dulu." Paris menyandarkan punggungnya pada badan kursi mobil. Fikar tengah mencoba menghubungi atasannya. Karena tidak bisa di telepon, Fikar beralih ke pesan teks.


"Kenapa enggak telepon saja. Lebih cepat."


"Biema tidak menerima panggilanku. Sepertinya dia masih sibuk," jawab Fikar tanpa menoleh pada Paris yang mencondongkan tubuhnya.


"Sibuk?"


"Ya. Ada tamu di sana."


"Mela?"


"Bukan. Mela tidak datang hari ini. Dia rekan bisnis ..." Kalimat terakhir terdengar melambat karena Fikar segera menoleh ke belakang. Dia terkejut dengan pertanyaan Paris.

__ADS_1


"Oh ... biasanya dia sering ke kantor Biema ya ..." Paris manggut-manggut.


"Tidak sering. Hanya saja waktu itu kebetulan dia kesana karena ada perlu. Mela mau bekerja sama dengan perusahaan kita." Dia masih sibuk dengan ponselnya. Teleponnya tidak di angkat. Pesan yang di kirim juga belum terbaca.


"Kerja sama ya ... Biema menyetujuinya?"


"Biema tidak bilang?" tanya Fikar mengerutkan kening.


"Buat apa? Menurutnya mungkin kita tidak perlu bercerita soal kehidupan kita masing-masing." Paris mengatakannya dengan tidak peduli.


Dua orang ini. Kenapa harus menikah jika perasaannya pada beku semua. Ya ... untuk Biema sih karena hal itu. Pria itu juga kurang kerjaan saja.


Ponsel Fikar berdering. Biema meneleponnya balik.


"Halo, Biem."


"Dia bilang pulang ke rumah karena bundanya?"


"Ya ... yang dia bilang memang begitu sih," sahut Fikar sambil berbisik. Paris melirik ke depan sebentar. Lalu mendengkus mengejek Fikar yang sedang membicarakan dirinya. Dia memilih melihat keluar jendela.


"Kamu boleh mengantarkan dia kerumah orangtuanya. Namun jika ada hal yang mencurigakan, segera telepon aku." Biema memberi ijin.


"Baik. Aku akan antar dia." Fikar menutup ponselnya. Itu berarti keputusan sudah di buat.


"Gimana?" tanya Paris.


"Biema memberi ijin aku untuk mengantarkanmu."


"Bagus. Segera ya. Bundaku mungkin sudah menungguku."



Paris tiba di rumah orangtuanya. Asha yang saat itu tengah berjalan di taman depan dengan Arash, tersenyum melihat adik iparnya datang.


"Hei! Aunty-mu datang!" seru Asha seraya mengangkat tangan baby Arash. Wajah bayi ini terlihat bahagia. Mungkin dia tahu, sudah lama tidak melihat tantenya.


"Haaaiii ... gembul ...." Paris segera menghampiri keponakannya. "Gimana kabarnya gembul?" Paris mencubit pipi Arash dengan gemas. Kalau biasanya Arash cemberut saat pipinya di buat mainan, kini bayi itu justru tertawa. Meskipun Paris berulang kali menekan-nekan pipinya.


Fikar turun dari mobil. Lalu mengangguk sopan pada Asha yang sedang melihatnya.


"Dia siapa?" tanya Asha.


"Pegawainya Biema."


"Oohhh ... Gimana respon Biema saat kamu enggak pulang malah pulang kesini? Dia kan sibuk nyariin kamu itu."


"Biasa aja."


"Oh, ya? Enggak marah?"


"Marah sih enggak. Hanya ngomel." Paris memiringkan bibirnya guna mengejek Biema.


"Dia khawatir mungkin."


"Iya. Dia takut kena semprot sama bunda kalau enggak bisa jaga aku. Bunda kan bilang suruh jemput aku setiap hari."

__ADS_1


"Waktu itu kan kamu pulang kesini. Bunda enggak nanya segala macam karena kamu enggak sama Biema?"


"Enggak. Aku kan pakai alasan masuk akal supaya bunda enggak curiga."


"Kalian ini masih kaku-kakuan gitu?"


"Aku sama Biema?" tanya Paris. Asha mengangguk. "Ya iyalah. Secara kita menikah karena enggak cinta. Dia juga ngerti kalau kita berdua menikah karena terpaksa." Paris menunjuk ke arah Fikar dengan dagunya. Merasa di bicarakan, Fikar gelisah.


Ngomongin apa mereka berdua?


"Ayo masuk. Sudah di tunggu bunda di dalam."


"Memangnya mau kasih apaan sih ke Biema?"


"Sepertinya makan siang."


"Hah? Makan siang? Ih, belibet banget sih bunda. Tuh orang kan bisa cari makan siang sendiri." Paris mengomel sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Masuk saja. Paris hanya sebentar," kata Asha saat mereka sampai di depan Fikar.


"Tidak perlu. Saya tunggu di sini saja."


"Saya suruh Bi Sumi bawain minuman dingin ya?"


"Terima kasih," ucap Fikar. Lalu mereka berdua masuk dan langsung menuju ke dapur. Asha memberitahu bik Sumi untuk membuatkan minuman buat Fikar.


"Aduh, anak bunda datang ...." Bunda segera mendekati putrinya dan mencium keningnya. Paris hanya tersenyum terpaksa dengan sikap beliau yang berlebihan. "Bunda baru tahu kalau mamanya Biema kasih kamu bekal makan siang. Duh, mertua yang baik itu," ujar bunda kembali ke meja dapurnya.


"Darimana Bunda tahu?"


"Ya dari mamanya Biema. Waktu itu dia telepon dan tanya-tanya kesukaan kamu apa? Ya ... bunda bilang kamu suka apa saja. Enggak milih-milih makanan. Bunda enggak nyangka kalau mau bikin bekal buat kamu." Tangan beliau meletakkan makanan dalam tempat bekal dan di bikin cantik. "Pas bunda telepon lagi, ternyata dia buat bekal untuk kamu. Bunda terharu mertua kamu baik."


Paris mengangguk saja. Dia tidak terlalu antusias.


"Jika itu bekal, lebih baik aku antarkan sekarang." Paris berusaha menyenangkan hati bundanya.


"Terima kasih, Paris." Senyum bunda mengembang.



"Sekarang antar aku ke kantor Biema."


"Kamu mau kesana?" tanya Fikar heran.


"Ya. Aku ada perlu dengannya."


"Sepertinya dia enggak bisa di ganggu. Karena ada rekan bisnis penting."


"Kamu melarangku kesana, Fikar?"


"Bukannn ... Hanya saja kamu mungkin enggak bisa ketemu sama Biema karena dia sibuk."


"Itu urusanku. Antar saja aku ke sana."


"Baiklah." Fikar menurut. Dia mengirim pesan pada Biema bahwa istrinya akan datang, tapi sayang tidak di baca oleh Biema.

__ADS_1



__ADS_2