
Bella yang mendapat perlakuan kasar dari teman selnya dirawat intensif di rumah sakit polri, serta mengobati luka operasinya yang infeksi karena benturan keras, rasanya lebih sakit dari yang kemaren setelah operasi, Bella merasa sangat ngilu pada kaki kirinya. dan tidak bisa tidur, ngilu dan panas terus dia rasakan.
Kedua orang tuanya bahkan belum pulang, dari tempat mutasi mereka di kalimantan.
" Ah papa dan mama kenapa belum juga balin ke Jakarta, atau minimal telpon, bukannya mereka sudah tahu kalau aku kecelakaan, dan lumpuh.
Sementara Bella juga tidak dapat menghubungi mereka, karena tidak ada fasilitas handphone di penjara.
" Ah, kenapa hidup gue jadi seperti ini, dulu gue kaya cantik bahkan selalu jadi idola dari SMP sampai di kampus, apapun yang gue mau selalu di kabulkan orang tua gue, tapi sekarang dimana mereka, apakah mereka tidak kangen dengan gue, dulu orang orang memuja gue, teman teman gue banyak. sekarang semua meninggalkan gue, hik hik hik." Bella menangis mengingat kebahagiaan yang dia alami dulu.
" Sekarang semua pergi, papa, mama, kakek, suami, anak, harta, semua pergi meninggalkan gue, bahkan kaki gue yang sebelah juga pergi tinggal kau yang masih di situ, dan sekarang sepertinya lo juga Sudah bosan bersama gue. Memang apa salah gue hingga semuanya pergi, apa hidup gue akan berakhir di penjara, apa gue akan selamanya lumpuh aaaa." bella mengacak rambutnya dengan kasar. Hari ini sepanjang hari dia cukup banyak melamun.
" Setiap hari aku belanja, pakaian mewah, sepatu mewah, tas mewah, sekarang semua itu sudah tidak bisa aku pakai lagi, bahkan memakai pakaian yang paling di benci masyarakat, aku juga sudah tidak punya anak lagi, bahkan aku membuang rahimku supaya tidak bisa punya anak, karena takut tubuhku melar seperti waktu hamil Twins dulu." Bella mendesah lirih.
" Twins putraku, dimana kalian, tidakkah kalian rindu ibumu ini, biar bagaimanapun gue lah yang sudah mengandung dan melahirkan kalian, walau belum waktunya kalian lahir, gue sudah minta di operasi. Dave cowok culun yang selalu gue manfaatkan saat kuliah dulu, gue mau berteman dengannya karena dia pandai, dan selalu mengerjakan tugas tugas gue, laki laki yang sangat gue benci, karena kejadian malam kita. mabuk dulu gue bahkan mengira kau adalah Brian pacar Gue. Sekarang berubah menjadi sangat tampan dan kaya raya, setelah gue tinggalkan, demi mengejar cowok yang selama ini gue incar, gue cintai." Bella kembali meremas Rambutnya dan menitikkan Air matanya.
" Brian, cowok yang sudah mencuri hati gue, dengan ketampanan dan kekayaannya, sudah menjerat gue sangat dalam, demi dia gue meninggalkan, pria culun dan baik itu, serta anak anak yang baru gue lahirkan, bahkan demi menjaga penampilan gue rela mengangkat rahim gue, supaya tetap cantik di mata dia, ternyata juga pergi meninggalkan gue, dia marah karena tiap hari gue memfoya foyakan uangnya, dia menuruti semua keinginan gue, ide ide gue selalu dia pakai bahkan menipu lawan bisnisnya, semua demi menghasilkan banyak duit untuk gue, orang yang sangat mencintai gue, tapi karena gue tidak punya anak dia pergi." Bella mengelus dadanya perlahan
" Dia ternyata bahkan punya anak hampir seumuran anak gue, dia sekarang lebih memilihnya dan meninggalkan semua yang dia capai bersama gue, demi anak itu dan wanita itu entah siapa dia, apakah memang gue sekejam itu, dan apakah semua ini adalah balasan untuk kejahatan gue, ah." Bella semakin bingung, apa yang harus dia lakukan setelah ini, apakah dia terima semua hukuman yang harus dia dapatkan ini, dan meminta maaf pada semuanya, atau menjalankan hidup seperti ini.
__ADS_1
" Kalau gue minta maaf ke mereka, berarti gue kalah dong, mau di taruh mana muka gue, seorang Isabella minta maaf, itu tidak ada di kamus hidup gue." Hati dan egonya terus berantem. Hingga dia capek dan tertidur.
💗💗💗
Setelah sampai di kediaman Aditama, Ira menyiapkan keperluannya dan Dave, pakaiannya yang ada di Mansion Ramon, sudah dikirim beberapa ke rumah ini, jadi tidak perlu lagi mengambil kesana.
" Tidak perlu bawa pakaian banyak banyak, nanti kita bisa beli di sana, papa tidak mau mama kecapean, nanti juga akan papa lepas bajunya." bisik Dave sambil memeluk Ira dari. belakang.
"Ih kenapa suamiku sekarang jadi mesum begini ya, mana Dave yang dingin dan tegas itu?" tanya Ira
" Tidak apa apa sayang, papa mesum dan manja hanya pada mama Ira." jawab Dave.
"Entahlah, coba aku tanyakan Pada mama." jawab Dave. Dave keluar dari kamarnya dan mencari Mila. Ira langsung bernafas lega karena paling tidak dia bisa santai sebentar, Ira mendudukkan dirinya di Sofa kamar besar Dave dan melihat Tv.
" Ma, anak anak dimana, dari tadi kok sepi sekali?" tanya Dave.
" Oh mereka ke Dufan bersama Sheren dan temannya, katanya dia magang di kantor kamu, namanya William." jawab Mila.
"Oh William, dia putra tunggal tuan Sebastian, apa mereka ada sesuatu ma?" tanya Dave.
__ADS_1
"Entahlah, tapi dari gelagat keduanya sepertinya iya, oh ya bagaimana menurut kamu Dave?" kepo Mila.
" william?" tanya Dave.
" Iya siapa lagi." jawab Mila
" kalau Dave setuju ma, dia baik dan pekerja keras, orang tuanya juga orang terpandang, dan kami sudah lama menjalin kerja sama bisnis, kalau untuk merekatkan hubungan bisnis dan keluarga itu sangat bagus ma, tapi kita harus mengembalikan semuanya pada mereka, jangan memaksa kehendak, biarlah semua mengalir apa adanya." jawab Dave.
" iya mama setuju, semoga kali ini, Sheren menemukan jodoh yang terbaik, tidak seperti kemaren itu nangis kejer, untung ada Ira." ucap Mila.
" Iya ma, semoga saja, Dave mau yang terbaik untuk adik Dave, dan saat ini cucu mama pasti sudah beraksi, mereka sangat peka ma." Kata Dave.
" iya benar nak, mama juga heran dari siapa mereka belajar hal hal aneh itu, tapi jangan sampai, mereka dewasa sebelum waktunya Dave, biarkan mereka seperti anak anak pada umumnya." Mila mengingatkan Dave akan hal itu.
" iya ma, kami akan berusaha yang terbaik untuk mereka." jawab Dave.
" oh ya Mana Ira?"Tanya Mila.
" masih di kamar ma, menyiapkan perlengkapan untuk perjalanan kami nanti sore." Jawab Dave.
__ADS_1