Pengasuh Si Kembar

Pengasuh Si Kembar
Episode 140


__ADS_3

" Assalamualaikum, Dave dan Ira mengucapkan salam kepada Para tamu tak di undang bahkan nyerobot masuk rumah orang di saat pemilik rumahnya tidak ada. Mereka menghentikan obrolan seru mereka dan menoleh ke arah sumber suara dan menjawab salam mereka dengan serempak.


" Waalaikumsalam."


Twins berlarian bergabung dengan mereka, terutama pada Iwan dan Alfian yang Asyik makan puding.


" Nah ini dia yang ditunggu tunggu dari tadi sudah pulang, bagaimana lancar acaranya?" Mila mendekati Ira dan Dave yang masih berjalan ke arah semuanya.


" Alhamdulillah lancar." jawab Ira.


Setelah menyalami semuanya Dave membantu istrinya duduk.


" Ada apasih ini, kenapa bisa berkumpul di sini semuanya ya?" tanya Dave yang masih penasaran.


" Emang sengaja Dave, hari ini kami sengaja berkumpul di sini, hari ini kan usia calon cucu kami Sudah 4 bulan, dan kita adakan syukuran 4 bulanan kehamilan Ira." Jawab Laksmi.


" Oh ya sudah empat bulan ya sayang, pantesan sudah makin berisi dan lebih seksi." Ucap Dave yang tidak di filter dulu, Ira segera menutup Mulut Dave dengan kedua tangannya.


" Kenapa di tutup, cara nutupnya salah ma." narsis Dave.

__ADS_1


" Tidak usah modus tuan bapak." kesal Ira.


" Kamu ini gimana sih masa tidak tahu usia kandungan Istrimu, dasar." Ejek Ahmad.


" Tahu kak, cuma bercanda tadi, tak terasa saja waktu begitu cepat berlalu, rasanya seperti baru kemaren kami menikah dan bulan madu, kok sudah empat bulan saja ya." Kelakar Dave.


" Mulai deh mulai." Ira mengingatkan Suaminya.


" Tapi kami belum ada persiapan sama sekali ma, bu, om, tante." Jawab Ira yang merasa tidak hati serta memang tidak ada persiapan apa apa.


" Tidak perlu ada yang di siapkan lagi, kami sudah mempersiapkan dari rumah dan membawanya kemari." jawab Laksmi.


" Subhanallah, Terima kasih semua keluarga sudah menyayangi dan memperhatikan ira seperti ini, Ira sangat terharu." Ira terisak Di Dekapan Dave.


" Bu dulu kita ngalor ngidul di hina, dan di kucilkan oleh tetangga dan teman teman, alhamdulillah dengan kesabaran ayah dan ibu, dan tidak bosan bosannya mengingatkan kami anak anak untuk selalu bersabar, Allah telah membukakan pintu rahmatnya pada keluarga kita, ibu bertemu lagi dengan kakek, Ira di pertemukan dengan suami, mertua serta anak anak yang semua sayang Ira, hik hik." Air mata ira semakin tumpah di dan membasahi kemeja Dave.


" Sayang, justru mas, dan Anak anak yang bersyukur di pertemukan denganmu, kau merubah semuanya, Dave yang dingin, dan arogant bisa berubah 180 derajat itu karena kamu, Dave yang tidak mengenal ajaran agama, Kini semakin hari semakin tahu dan mengerti itu karena kamu sayang, anak anakku yang dulunya seenaknya sendiri bahkan mereka sangat introfet kini menjadi anak yang terbuka, ceria, baik mandiri, semua karena kamu sayang, kami semua menyayangi dirimu itu karena diri kamu yang bagaikan malaikat tak bersayap yang Allah kirim untuk kamu."


Dave Menghapus air mata istrinya, matanya juga ikut basah, anak sungai juga mengalir disana. Ira juga menghapus air mata itu dengan lembut.

__ADS_1


" Ih papa cengeng, lihat nangis tu." Mila mendekati menantu tersayangnya itu dan memeluknya erat.


" Dave benar nak, ku adalah malaikat tak bersayap bagi keluarga mama, kau membawa kebaikan dan kebahagiaan untuk kami, dulu dalam satu rumah, seakan semua hidup sendiri sendiri, fokus pada urusan masing masing, tapi sekarang kami bisa tertawa bersama, berkumpul bersama menikmati kebersamaan yang selama ini jauh dari hidup kami, kau benar keluarga adalah surga dunia, dengan sering kita berkumpul, semua masalah bad mood dan semuanya bisa teratasi, kau pelita hati kami sayang, dan mama ucapkan selamat atas kehamilan ini, kamu sudah melewati masa masa trisemester kedua, lebih hati hati dan semoga semuanya baik dan sehat." Kata Mila dengan panjang lebar.


" Terimakasih ma, mama adalah orang pertama yang menerima Ira di kota ini yang menerima Ira, yang norak dan ndeso, bahkan mama tidak pernah merasa malu jalan dengan Ira, yang sungguh tidak tahu apa apa, bahkan sangat narsis hehe" ucap Ira.


" Iya sayang kepolosan dan keluguanmu adalah nilai plus dalam diri kamu, pertahankan itu ya, ajarkan anak anak kalian tentang semua itu" Mila menambahkan sedikit nasehat pada ira.


" Iya ma, Ira akan terus berusaha." jawab Ira.


Laksmi juga tidak mau kalah, dia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua anak anaknya serta menantunya yang mempertahankan sikap mereka, meski keadaan mereka sudah berubah.


" Untu kedua anak anakku Ahmad dan Ira, ibu dan ayah minta maaf pada kalian, sebagai orang tua ibu dan ayah tidak bisa membahagiakan kalian, bahkan sejak kecil kalian harus rela dan sabar menghadapi kerasnya dunia, bahkan cibiran dan sindiran sindiran pedas dari orang orang, waktu muda kalian terbuang, saat teman teman kalian bermain kalian malah ikut bekerja di sawah dan lainnya, ke sekolah juga sibuk berdagang mencari uang hik hik." Ahmad dan Ira menghambur dan memeluk Laksmi, menghapus air mata perempuan paruh baya yang sudah melahirkan dan membesarkan mereka dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raganya itu.


" Ibu tidak boleh bicara seperti itu, justru kami yang berterima kasih pada ibu dan ayah, mungkin kalau bukan kalian orang tuaku, entah apa yang terjadi pada kami bu, ibu dan ayah selalu menanamkan moral dan kesabaran, kami ikhlas bu melakukan semua itu, kami tidak pernah menyesal walaupun kami di lahirkan di keluarga yang miskin akan harta, tapi kita kaya hati dan ilmu bu, itu semua kami dapatkan dari kalian,bahkan sampai sekarang kami tidak bisa membalas kebaikan kalian, apalagi ibu, setetes air susu yang telah kau berikan pada kami, kami tidak bisa membayarnya bu, huhuuu." Ahmad tergugu dan bersimpuh di depan Laksmi, sama halnya dengan Ira.


Yang penting mereka semua sangat bahagia menjadi bagian dari keluarga itu, semua tidak bisa di ungkapkan lagi dengan kata kata, tapi dengan hati dan tingkah laku.


Tak terasa suara adzan magrib sudah berkumandang, mereka bersiap siap untuk berjamaah bersama di mushola keluarga, Sebastian dan Rena yang belum terbiasa Sholat di minta ikut saja, dan mengikuti setiap gerakan imam saja.

__ADS_1


Sebastian dan Rena merasakan sesuatu yang berbeda berada di tengah tengah mereka, rasa adem dan nyaman mereka rasakan saat ini, kekeluargaannya juga sangat kental, mereka sangat bersyukur juga William anak mereka sebentar lagi akan masuk di dalamnya, dan berharap hidup mereka akan jauh lebih baik.


__ADS_2