
Dengan penuh rasa penasaran Brian terus mengikuti bocah tampan tersebut sampai di arena bermain. Brian juga mengabaikan panggilan dari Bella yang mungkin sudah mencapai seratus itu.
Brian mendekati bocah tersebut, dia asyk bermain sendirian. Brian mendekati bocah itu, dadanya terasa sasak melihat duplikatnya waktu kecil.
" Hai om, om bekerja atau menginap disini?" Sapa Dia, bahkan suaranya membuat dia bernostalgia pada masa kecilnya.
" Kamu sendirian nak? siapa nama kamu?"tanya Brian dengan gemetar.
" Aku sudah biasa om sendiri, mama bekerja di sini, itu lho yang mengganti sprei, mengantar makanan, kalau aku menunggu di sini, kadang jalan jalan sekitar hotel, kata mama, yang penting tidak boleh mengganggu dia bekerja, kalau mama di pecat, kita mau makan apa, itu kata mamaku om." Celoteh dia dengan jujur.
" Papa kamu di mana?" Tanya Brian.
" Mama selalu nangis kalau aku tanya dimana papaku, jadi aku diam saja, aku tidak punya teman om, tetanggaku selalu bilang aku ini anak haram, anak haram itu apa om?" Kembali bocah itu bercerita dengan polosnya.
Tak terasa Brian menitikkan air matanya mengingat kelakuannya yang suka mempermainkan wanita.
" Apa dia anakku, dan seperti apa kehidupan dia, bukannya mereka telah menggugurkannya, tpi ada satu yang sudah menyumpahi ku mandul. Anita apa dia anak Anita." batin Brian.
" Om kenapa diam saja?" Tanya Bocah itu.
" Siapa nama ibumu nak?" Tanya Brian.
" Anita, bian memanggilnya mama Nita, mamaku adalah mama yang paling cantik dan hebat." Jawab Febian nama anak itu.
Brian mematung bagaikan di sambar petir saja. Nama itu nama yang baru saja dia katakan, seorang gadis SMA yang imut, dia nodai karena dia kecewa dan tidak terima pada Bella yang menikah dengan Dave, lalu dia mabuk dan memperkosa Anita, mengira dia adalah Bella.
"Bi bian!" suara seorang wanita memanggil nama anak itu.
"Om, itu mamaku memanggil, aku kesana dulu, da om ganteng."Bian melambaikan tangannya pasa Brian dan menghampiri seorang perempuan muda yang masih menggunakan seragam hotel. Brian Sembunyi di balik papan dan menyaksikan interaksi ibu dan anak itu.
"Ayo kita pulang, mama sudah selesai."Kata Anita, perempuan itu mengangkat tubuh Bian dan menggendongnya.
__ADS_1
Brian tetap mengikuti kemana langkah Anita. Hingga Mereka menunggu angkutan.
Brian segera mengambil mobilnya dan mengikuti Angkot di depannya tersebut, membawa mereka.
Selama 15 menit, angkot berjalan menuju ke sebuah pemukiman Kelas bawah.
"Anita, dia adalah gadis yang sudah menyumpahiku waktu itu, dia mempertahankan kandungannya dan merawatnya, aku yakin kalau bocah itu anakku, darah dagingku, mereka hidup menderita selama ini." gumam Brian.
Setelah turun dari Angkot, Mereka berjalan menuju ke pedagang cilok, lalu kembali menuju ke sebuah gang sempit dan berhenti di sebuah rumah kontrakan yang jauh dari kata layak.
Sesampainya di rumah, ada seorang ibu ibu dengan wajah garang sudah menunggu mereka.
"Cepat bayar kontrakannya sekarang juga.!" Bentak pemilik kontrakan, kamu sudah menunggak 3 bulan."Maki wanita tersebut.
" Maaf bu,beri saya waktu seminggu 4 hari lagi saya gajian, please, ibu tahu sendirikan, saya harus membawa Bian ke rumah sakit, dan uangnya habis untuk bayar rumah sakit bu."Jawab Anita memelas.
"Makanya jangan punya anak, kalau tidak menikah, jadi perempuan jangan gampangan, minta ke bapaknya untuk membayar semuanya."Wanita itu masih dengan Nada marah.
Brian yang mendengar semuanya, merasa ikut sakit, bahkan untuk membayar kontrakan saja mereka tidak kuat. Sementara dia tidak ada saat anaknya sakit.
"Memang berapa gaji kamu sebagai pegawai hotel, atau layanan plus kali ya."Ejek wanita tadi.
"Cukup bu, saya menang punya anak tanpa suami, tapi saya tidak seburuk itu, uang yang saya dapatkan halal bu." Jawab Anita.
Brian sudah tidak kuat lagi mendengar ibu dari anaknya di hina dan di ejek seperti itu, hingga dia keluar dari persembunyiannya.
" Berapa yang harus dia bayar biar saya yang melunasinya."Suara Bariton Brian membuyarkan perdebatan Anita dan pemilik kontrkan.Anita langsung melotot tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, seorang laki laki yang mengambil kesuciannya dengan paksa dan menolak untuk bertanggung jawab atas kandungannya, berdiri dengan gagah tanpa cacat apapun, di hadapannya, bahkan dia semakin tampan dibanding 5 tahun yang lalu, ketika dia mengusir dan menolak untuk bertanggung jawab.
"2 juta, dia sudah menunggak 3 bulan."Sinis ibu pemilik kos tersebut.
Brian mengeluarkan sebuah cek senilai 5 juta, tapi ibu tadi menolak.
__ADS_1
"Saya tidak menerima pembayaran cek, hanya bisa cash dan transfer."
"Berikan nomer rekening anda?" pinta Brian.
Perempuan itu mengeluarkan scan barcode dan meminta Brian untuk scan di sana.
Brian segera melakukan pembayaran bahkan dia sudah mentransfer sebanyak 5 juta.
"Oke nyonya saya sudah mentransfer sebanyak 5 juta jadi jangan menagih lagi." Kata Brian dengan dingin.
" Oke tampan senang bertransaksi dengan anda."Perempuan tadi segera pergi dari sana, sementara Anita segera mengajak Bian masuk ke dalam rumah.
" Ma, om itu baik, tadi dia menemani Bian."Kata Bian, tapi Anita segera mengangkatnya ke dalam dan menutup pintunya.
"Nit, buka pintunya, kita perlu bicara." Brian mengetok pintu tersebut.
" Pergi dari sini, tidak ada yang perlu di bicarakan, saya tidak mengenal anda."
"Please Anita katakan sesuatu, siapa anak itu?" kata Brian.
"Anda tidak perlu tahu tuan, dan pergi dari sini, biarkan saya hidup tenang." Jawab Anita dari dalam, dia masih bersandar di balik pintu.
Tapi tetangga Anita merasa terganggu dengan Brian.
"Hei Anita, jangan buat keributan disini, muak aku mendengarnya, sebaiknya kau tidak tinggal disini, serta bawa pergi anak haram kamu itu."Teriak tetangga Anita.
Anita kemudian keluar dari rumah dan menemui Brian.
"Katakan semuanya!"Pinta Brian.
"Jangan di sini, kita bicara di taman sana, dan Bian bisa bermain tanpa tahu apa pembicaraan kita."jawab Anita.
__ADS_1
"Oke."Brian setuju dengan Usul Anita. Mereka berangkat ke taman bersama.
"Boleh aku menggendongnya!" Brian minta Ijin untuk