
Kedua bocil itu langsung mendekat dan duduk di pangkuan mereka.
" Dapat kata kata itu darimana?"
" Jangan bilang dari Kak Sheren ya." Jawab Dave.
"Iya, tapi papa pacaran kan." Ucap Michael lagi
" Enggak itu tadi mbak Ira kelilipan, papa membantu meniupnya." Jawab Dave asal.
Ira menahan tawanya dan tersenyum geli.
Michael memeriksa mata Ira.
"Sudah berhasil di tiup debunya mbak?" tanya Michael dengan polos.
" Sudah, lanhsung kabur tadi setelah di tiup papa."Jawab Ira. Kini Dave yang tersenyum geli.
"Padahal sedikit lagi kena, eh ada duo bocil yang mengganggu." Batin Dave. Dave mengalihkan pembicaraan mereka dengan tujuan mereka ke kantornya tadi.
"Oh iya sayang, tadi kalian datang kemari ada perlu apa ya?"Tanya Dave.
"Itu Tadi kita masak spesial untuk papa yang tidak menimbulkan Alergi lagi. mbak Ira ayo kita buka makanannya!"pinta Mike.
Ira menaruh tubuh Michael di sofa, lalu dia berdiri dan membuka rantang yang Berisi masakan rumah yang sederhana tapi menggugah selera makan Dave.
"Wah sepertinya enak nih, ayo kita makan bersama sama, papa jadi lapar banget nih." Kata Dave.
"Dave menghubungi pantry untuk membawakan perlengkapan makan untuk mereka dan segera menikmati makan siang penuh makna itu.
" Pa, besok jadikan ulang tahunnya di Villa?"Tanya Mike.
"Jadi dong, Dono dan mang Roy sudah menyiapkan semuanya, tinggal besok kita berangkat dan mendirikan tendanya bersama sama, twins jug ikut bantu dong tentunya."kata Dave.
"Sip pa." jawab Mike.
__ADS_1
"kak, dik bagaimana, katanya ada yang mai di omongin pada papa?"Ira mengingatkan mereka tentang tujuan mereka datang kesana.
Tapi Si kembar menggelengkan kepalanya, kalau mereka berubah fikiran dan tidak akan mengundang Bella dan Brian.
"Ada apasih?" Tanya Dave Dengan penasaran.
" Tidak ada apa apa, kami cuma mau mengingatkan papa saja kok nanti lupa" Jawab Michael.
" Oh, papa tidak mungkin lupa dengan ylang tahun anak anak kesayangan papa ini." Jawab Dave sambil mencubit hidung mereka.
" Oh ya bagaimana kalau nanti malam kita belanja cemilan yang banyak untuk bekal besok, tidak seru dong kalau tidak ada camilannya.
" Siap pa, tapi sekarang kita boleh ya berenang ?" Mike minta ijon ke Dave, karena tadi mereka sudah berencana mau ke Waterboom setelah dari kantor Dave.
" Wah pasti seru tu, papa ikut boleh tidak, kebetulan pekerjaan papa tidak banyak, bisa di urus om Rully dan om Darius nanti." Kata Dave, membuat keduanya sangat bersemangat, jadi nanti mereka bisa bermain wahana air dengan Dave, tidak perlu takut apa apa."
" Ye, yeye yeye papa ikut."Keduanya bersorak dan bertos ria.
Dave memutuskan menemani anaknya, dia berharap kalau twins bisa segera melupakan apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
Siang tersebut Dave menghabiskan waktunya menemani anak anaknya.Sementara Bella lebih memilih ke mall daripada kembali ke kantor.Dia sangat malas bekerja, apalagi cuma sebagai kepal tim pemasaran.
Dan Andi asisten Ramon yang mendapatkan tugas menyelidiki Ira dan keluarganya sudah sampai di jakarta, dia segera menuju ke rumah kediaman Ramon.
Lelaki tua itu menghabiskan waktunya untuk melukis di taman belakang. Ramon melukis wajah Ira, yang masih diingatnya walau baru sekali bertemu.
"Tuan, pan Andi sudah kembali." Pengawal Ramon melaporkan kedatangan Andi.
" Suruh kemari!" Perintah Ramon pada pengawal tadi.
Dengan segera pengawal itu menemui Andi yang baru saja makan di dapur.
" Pak tuan adz di taman belakang, diminta ke sana." kata pengawal itu pada Andi.
" Iya, terima kasih." Andi mengambil tasnya dan segera menemui Ramon di taman belakang.
__ADS_1
" Siang tuan." Sapa Andi.
"Siang, bagaimana sudah mendapatkan informasi yang valid dan detail?" kata Ramon.
"Sudah tuan, saya sudah memastikan sendiri keakuratan semua informasi Yang saya dapatkan."Jawab Andi.
"Ayo kita duduk di bawah pohon itu supaya lebih santai."Mereka berjalan ke sebuah pohon yang rindang dan Duduk di bangku tepat di bawah pohon itu.
"Ceritakan semuanya!" perintah Ramon.
"Semua prediksi tuan 100 persen benar. Ini foto Bu Laksmi, ibu dari nona Ira. Dan ini adalah foto bu Yulia sewaktu masih hidup." Andi mengambil beberapa foto dari dalam amplop coklat, pertama foto Laksmi sewaktu baru datang ke desa tersebut, sampai foto terbaru.
" Apa kau bilang, Yulia meninggal?"Tanya Ramon dengan kaget.
"Nyonya Yulia depresi dan setiap hari menunggu kedatangan tuan di pinggir jalan, hingga beliau sakit dan meninggal." Andi menjelaskan semua informasi yang dia dapatkan dari Susi bahkan tetangga mereka.
Ramon menitikkan Air matanya dan mengambil foto usang Yulia.
" Yuli, maafkan aku tidak berhasil menemukan kalian, hingga kau menderita seperti ini."Gumam Ramon sambil mendekap erat foto tersebut.
" Kapan dia meninggal?"Tanya Ramon.
" dua tahun setelah mereka di bawa ke desa itu, seseorang menemukan nyonya Yulia dan nyonya Laksmi di pinggir hutan caruban, di kabupaten madiun, lalu membawa mereka pulang. laki laki itu menolong mereka dan merawat mereka, hingga suatu hari ingin menikahi nyonya Yulia, tapi Nyonya Yulia menolak dan yakin tuan akan menjemput mereka suatu saat nanti." Jawab Andi
" Hu huhuhu, aku bodoh Ndi, aku ini suami dan ayah tang payah, tidak bisa melindungi anak dan istriku sendiri, hingga mereka me derita seperti itu."Ramon tergugu, dan dia sangat menyesal karena terlalu lelet menemukan keberadaan mereka bahkan pernah menganggap kalau keduanya sudah meninggal, kalau bukan karena bertemu dengan Ira, sampai sekarang dia tidak akan tahu kalau keluarga aslinya masih hidup, bahkan mungkin mereka hidup me derita, nyatanya, Ira saja cuma menjadi seorang pengasuh.
Ramon kemudian mengambil foto foto Laksmi dari beberapa waktu. Penampilannya sederhana dan lusuh, apalagi sebuah foto yang menampilkan Laksmi sedang menanam padi, badannya kotor, basah, pakaiannya bahkan robek robek.
"I ini Laksmi putriku Ndi?" tanya Ramon dengan gemetaran.
"Ndi, separah itukah keadaan putri jantungku, dia kotor seperti itu kenapa?" Tanya Ramon kembali.
"Mereka bekerja menanam padi di sawah orang, dan nanti upahnya berupa padi saat panen tuan." Jawab Andi.
"Apa buruh menanam padi, di sawah orang, gajinya setelah panen?" Ramon mengulang kembali pernyataan Andi, yang membuat dia syok. Ramon memegangi dadanya yang mulai sesak.
__ADS_1
Selama ini anaknya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan sementara hidupnya bergelimang harta, bahkan memelihara ulat bulu di rumahnya, memberi mereka kemewahan di atas penderitaan Laksmi