Pengasuh Si Kembar

Pengasuh Si Kembar
Episode 130


__ADS_3

"Ih, papa kok malah tertawa begitu, gak lucu tahu," kesal Ira.


"Hahaha, lihat pa, mama kalau cemberut lucu pipinya seperti bakpao," tunjuk Mike.


Namun, Twin tetap tidak mengijinkan Ira untuk ikut mengantar sampai ke dalam. Jadi, mereka hanya pamit sampai di mobil saja, dan Dave sendiri yang mengantar mereka dengan menggandeng keduanya di kiri dan kanan.


Ira keluar dari mobil dan bersiap pindah duduk di kursi penumpang di depan. Dia melihat ibu-ibu yang terpana melihat Dave yang begitu keren dengan penampilannya yang cool. Mungkin itu bawaan ibu hamil atau memang dia cemburu melihat reaksi ibu-ibu wali murid melihat papa Twins. Baru kali ini Dave mengantar mereka sendiri sampai ke dalam, biasanya juga Ira, Mila, atau pengasuh yang dulu. Bibir Ira sudah manyun lebih dari 5 cm dan menangis di dalam mobil. Entah kenapa dia tiba-tiba tangisnya tidak bisa di bendung dan tidak terima saat Dave di goda oleh ibu itu.


Sementara Dave juga merasa risih dengan reaksi ibu-ibu yang berlebihan menurutnya. "Wah, tuan Dave makin hari makin ganteng saja. Tumben nih mengantar Twins sendirian. Mana Ira nya nih?" tanya salah satu wali murid.


"Apaan sih, kepo banget," sinis Mike.


"Dengar ya, tante, mama Ira ada tuh di mobil. Memang kami sengaja tidak mengijinkan mama turun karena masih tidak enak badan," jawab Michael.


"Idih mama, oh ya, diakan pengasuh yang naik pangkat tuh, dinikahi tuan Dave, pakai pelet apasih dia, gadis desa, miskin saja sok jadi nyonya. Lihat setelah jadi nyonya, sok lagi," bisik salah satu ibu-ibu pada temannya.


"Maaf, nyonya istri saya tidak seperti yang Anda katakan tadi. Justru, saya yang sangat beruntung mendapatkannya. Dan siapa bilang dia gadis desa yang miskin? Kalian tahu Ramon Nugraha, pengusaha real estate terbesar di negara ini? Khumaira adalah cucu beliau. Dan sekarang, saya balik bertanya, siapa yang sok di sini?" jawab Dave dengan nada dinginnya.


Dia mengantarkan Twins sampai ke dalam kelas lalu segera pergi dari sana tanpa menghiraukan para wali murid yang masih heboh tersebut dan langsung menuju ke mobil mewahnya.


Ibu-ibu tadi tidak menyangka kalau pengasuh Twins yang lugu dan sederhana itu adalah keturunan keluarga Nugraha.

__ADS_1


Dave kaget melihat Ira yang menangis, bahkan mengeluarkan suara isaknya. "Sayang, kenapa menangis?" heran Dave.


"Hik, hik, papa jahat," Ira memukul-mukul lengan Dave sambil menangis.


Dave semakin heran dengan tingkah Ira yang tidak seperti biasanya. Dave menghadap ke arah istrinya, dia memegang kedua bahu Ira dengan lembut. "Sayang, papa jahat kenapa soal yang tadi ya? Maaf ya. Buka. Maksud papa untuk menertawakan kamu. Cuma, tadi lucu saja melihat Twins yang posesif banget pada ibu dan calon adiknya. Maafkan papa ya," Dave membujuk Ira supaya memaafkannya. Dia baru ingat kata-kata Ahmad kalau mood ibu hamil berubah-ubah.


"Hik, hik, hik. Bukan itu, tadi iya, tapi yang bikin aku nangis bukan itu. Tisu mana tisu?" Ira sibuk mencari tisu dan mengelap lengan jas Dave yang sempat dipegang ibu-ibu, walau Dave menolaknya.


"Ibu-ibu genit tadi menyentuh ini kan, harus dibersihkan, pakai tebar pesona lagi, sok kegantengan banget sih. Memangnya dia menganggap masih duda apa? Tidak tahukah dia bahwa pria beristri, tidak tahu apa bagaimana kalau istrinya kalau marah," Ira terus nyerocos tanpa henti sambil mengelap jas Dave.


Dave baru paham kalau bumil ini sedang cemburu. Dia langsung menyambar bibir manyun itu dengan bibirnya. Awalnya, sih cuma sekedar menutup mulut Ira, tapi lama kelamaan makin dalam, apalagi istri kecilnya ini sudah berani membalasnya. Bahkan Ira lebih agresif daripada Dave. Wau, ini adalah jackpot untuk Dave pagi-pagi begini, sudah bertukar saliva dengan Ira. Setelah kehabisan nafas, Ira melepaskan pagutannya dan mendorong dada Dave dengan malu.


"Ih, apaan sih. Malu tuh dilihat orang," Ira menutup mulutnya dan merasa sangat malu.


"Bagaimana kalau tidak ada orang, apa masih malu?" tiba-tiba pinggang Dave terasa panas dan sakit, ternyata ada bayi ketiga yang nyasar ke situ.


"Auh, cubitan sayang di pagi yang indah oleh istriku tersayang," ucap Dave sambil mengusap pinggangnya.


"Sukurin mesum, sih," sewot Ira.


Dave hanya mengiyakan saja kata-kata Ira. Dia tahu biasanya kalau wanita marah, lawan akan lebih panas hatinya. Apalagi sekarang pasti ini ulah calon buah hati mereka.

__ADS_1


"Ayo, kita berangkat ke rumah sakit. Nanti, antriannya panjang lagi!" ajak Ira yang sudah tidak menangis lagi, bahkan mungkin lupa kalau baru menangis kejer dia.


Dave mulai menyalakan mesin mobilnya dan berangkat ke rumah sakit ibu dan anak. "Sudah tidak marah lagi kan?" tanya Dave.


"Marah, kalau kamu terus tebar pesona seperti tadi, tidak boleh ada yang melihat suamiku dengan tatapan seperti itu. Awas saja kalau mau ada singa mengamuk," sewot Ira. Dave kembali tertawa kecil, merasa lucu dengan makhluk wanita di sampingnya itu.


"Berarti nyonya Dave cemburu nih. Ah, senangnya dicemburui istri cantikku. Berarti, dia sangat mencintai suami gantengnya ini," narsis Dave.


"Ih, narsis, ganteng dari mana?" jawab Ira.


"Kalau tidak ganteng, mana mungkin nona muda cantik ini mau dengan duda tua ini," jawab Dave.


Segera Ira menutup mulut Dave dengan jari telunjuknya. "Syuttt, jangan bilang seperti itu. Siapa bilang suamiku tua? Dia adalah yang paling dan paling keren begini. Tapi, ingat tidak boleh melirik cewek lain. Ingat, sudah ada dua ekor, malah mau tiga yang menunggu di rumah," kata Ira berikutnya.


"Iya, sayang. Cuma kalian yang ada di dalam hatiku dan dunia saat ini. Semoga keluarga kita dijauhkan dari hal-hal yang membuat perpecahan," itu adalah harapan Dave saat ini. Dia tidak ingin apa-apa lagi saat ini. Keluarga kecilnya adalah hal paling sempurna dalam hidupnya.


Sebagai penulis profesional yang mahir dalam bahasa Indonesia, saya akan memperbaiki teks berikut ini:


"Tidak sempurna bagaimana sih, Dave? Istri cantik, anak-anak ganteng dan cerdas, harta melimpah, bahkan ada Dira junior yang akan menambah warna hidupnya."


Perbaikan tersebut mencakup kesalahan tata bahasa seperti penggunaan tanda baca yang tidak sesuai atau tidak ada, penggunaan huruf kapital pada kata yang tidak perlu, dan penggunaan kata secara tidak tepat. Selain itu, saya juga memperbaiki kalimat agar lebih mudah dipahami oleh pembaca. Meski begitu, saya dapat mempertahankan gaya bahasa dan kebiasaan penggunaan kata asli dari teks tersebut untuk memperkuat letak pesan yang hendak disampaikan.

__ADS_1


__ADS_2