Pengasuh Si Kembar

Pengasuh Si Kembar
Episode 84


__ADS_3

Panji juga menjadi tour guide untuk mereka menunjukkan dan menerangkan setiap isi mansion tersebut beserta fungsinya.


" Pak boleh kami jalan berkeliling mansion ini, supaya hafal?" ijin Ira


"Tentu saja nona, mansion ini milik kalian, jadi anda bebas mau ngapain saja di sini, bahkan anak anak angkat tuan Ramon belum pernah ada yang diijinkan tinggal disini." jawab panji.


Setelah menjelaskan semuanya Panji pergi meninggalkan mereka, kini tinggal Ira, Ahmad dan Nila yang masih di sana, lalu mereka berpencar jalan jalan sendiri.


" Mas Cubit aku, apakah ini nyata mas, selama ini kita makan saja susah, tapi sekarang tiba tiba, ada seorang kakek datang mengaku sebagai orang tua ibu, membawa perubahan yang sangat drastis, aku jadi takut mas, jangan jangan nanti kita di jual lagi." Kata Nila dengan wajah ketakutan.


"Tidak sayang, semua ini nyata, dan kamu lihat tadi, ibu bahkan masih mengingat dengan jelas kalau rumah ini adalah rumahnya, berarti kakek Ramon bukan penipu, dan Ibu juga langsung bisa mengenali wajah Kakek, ketika pertama kali bertemu, mungkin ini adalah jawaban Allah atas doa doa kita selama ini, kesabaran kamu menjadi istri mas, walaupun penuh hinaan, dan ujian, kamu tetap setia menemani mas." Jawab Ahmad.


" Hik hik hik, aku akan selalu setia mas, apapun keadaan kamu, seperti ibu dan ayah, cinta dan kasih sayang mereka tidak pudar, apapun aral rintangannya."Jawab Nila.


Sementara Ira juga berjalan jalan di taman, dia juga tidak pernah menyangka, bahkan bermimpi bakal tinggal di mansion yang mewah ini.


" Ya Allah, kuasa apa yang ingin kau tunjukkan pada kami Ya Allah, jika ini memang sudah kehendak mu, maka apapun itu pasti akan terjadi, terima kasih atas semua karunia yang telah engkau berikan kepada keluargaku, semoga kami bisa menerima dan memanfaatkan semua titipan engkau ini ya Allah, dan akan tetap seperti yang sekarang, semoga iman kami, tetap ya Allah, serta hilangkan lah serta jauhkanlah kami dari segala penyakit hati, seperti iri dengki, sombong serta takabur." Ira mengusap wajahnya dan duduk di kursi taman samping.


Ira menikmati suasana sejuk taman tersebut, mengingat kembali perjuangan mereka di waktu susah.


Esok harinya, Kakek Ramon meminta Ahmad serta Budi ikut sekolah privat bersama Satria dan di pimpin langsung olehnya. Ramon ingin membimbing sendiri menantu dan cucunya supaya bisa meneruskan perusahaan dia.

__ADS_1


Sementara Ira, Laksmi serta dan anak anak pergi ke Mall, Ramon memberikan tiga buah kartu hitam satu untuk Ira dan satu untuk Laksmi dan satu lagi untuk Nila.


Pak tua itu ingin menguji para wanita tersebut dalam berbelanja, apakah mereka akan khilaf karena baru pertama kali ini bisa ke Mall bahkan tidak perlu membawa uang hanya menggesek sebuah kartu saja.


Andi mengantar mereka ke sebuah Mall terbesar di Jakarta, dan kembali ke kantor.


"Nyonya, nona, kalau sudah selesai belanja, nanti bisa menghubungi saya kembali."Ucap Andi.


"Iya pak, terima kasih." Jawab Ira.


" Bu, kita mau belanja apa, lihat tempat ini sangat besar, aku bingung."ucap Nila Lirih.


"Ira akan bantu ibu dan mbak Nila, dulu Ira juga begitu, merasa bingung bahkan cuma bengong saja melihat majikan Ira berbelanja, tapi lama lama akan terbiasa, bagaimana kalau mbak Nila, ibu dan anak anak beli pakaian saja."Usul Ira.


"Tidak perlu ke pasar bu, disini banyak toko baju kita tinggal pilih saja, ayo kita ke toko itu, sepertinya itu toko baju anak anak." Tunjuk Ira ke sebuah toko baju khusus anak.


Mereka kesana dan memilih beberapa pakaian untuk Alvian dan Iwan.


Awalnya pelayan toko tersebut memandang mereka sinis, tapi setelah mereka mampu membeli baju jau disana, pandangan mereka mulai berubah.


setelah ke toko baju anak, Ira mengajak Alvian dan Iwan ke pusat permainan supaya tidak bosan sementara dia akan mengantar ibu dan kakak iparnya belanja.

__ADS_1


"Alvian, Iwan, kalian main saja di sini sepuasnya, ini mbak Ira sudah belikan koin yang banyak, mbak antar ibu dan nenek belanja dulu ya." Pesan Ira pada keduanya.


"Siap mbak." Jawab Vian dan Iwan.


Setelah memastikan Kedua bocah itu bisa menggunakan permainan disana, Ira keluar dan menemani Nila dan Laksmi belanja. setelah belanja pakaian, mereka ke konter hp, dan membeli beberapa hp untuk mereka sendiri Budi dan Ahmad.


"Bu mbak kalian mau beli apa lagi?" tanya Ira.


"Ini saja dulu nduk, lihat ibu sudah menghabiskan banyak uang kakek kamu, besok saja lagi, kalau kita ada keperluan mendadak, kita harus bijaksana dalam membelanjakan uang, jangan mentang mentang banyak uang, trus belanja semaunya, lalu kita sendiri yang susah nantinya." Jawab Laksmi.


"Oke bu, ibu memang the best deh, mbak Nila juga." ucap Ira.


"bu, bagaimana kalau kita membelikan ayah dan mas Ahmad pakaian, tadi kita beli untuk kita sendiri mereka belum."Nila mengingatkan mertua dan Adik iparnya.


"Oh iya, ayo kita ke toko pria itu."Tunjuk Ira.


Seperti di toko toko sebelumnya ketiga wanita ini di pandang sebelah mata, tapi mereka kaget pada akhirnya, kalau ternyata orang yang berpenampilan sederhana dan terkesan kampungan, yang mampu membayar dengan mudah Belanjaan mereka bahkan dengan kartu hitam.


" Wah dari luar gembel ternyata sultan ya, untung tadi kita sabar melayani mereka."Ucap salah satu pelayan yang membantu mereka, kepada temannya.


"Iya orang kaya jaman sekarang memang suka yang aneh aneh, mungkin saja mereka mengetes bagaimana perfoma kerja kita."Jawab pelayan lain.

__ADS_1


Setelah puas belanja, mereka menjemput Vian dan Iwan, lalu menuju ke restoran cepat saji, yang sudah menjamur dimana mana, apalagi kalau bukan mc donald.


Kedua bocil itu sangat senang, karena baru pertama kali ini merasakan makan di mcdonald.


__ADS_2