
Sore itu setelah Bertemu dengan ibu serta ayah Ira, Dave kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan keberangkatannya ke korea, tapi Twins masih ingin tinggal, dua bocah kembar itu suka sekali di sana, mereka bersama Iwan dan Alvian kakak dari Iwan, bermain ke sungai, dan kesawah.
Suasana Rumah Laksmi semakin ramai dengan adanya Twins dan Ramon. Sekarang Ahmad dan Budi sudah tidak bekwrja lagi, mereka fokus menunggu Laksmi di rumah sakit, sementara Ira dan Nila di rumah, menyiapkan semua keperluan keluarga, baik yang di rumah maupun rumah sakit.
" Mbak Ira, aku mau membuat layangan." Lapor Twins pada Ira.
" memang bisa?"goda Ira
" mas Alvian dan mas Iwan yang mengajari, dan nanti setelah sholat ashar kami akan ke lapangan melihat Lomba layangan."Kata Mike.
"Oke, mas Alvian, mas Iwan dibantu jaga adiknya ya." Pesan Ira pada kedua ponakannya itu
"Siap mbak, ini kita bikin layangannya di rumah kok, di belakang sana di bawah pohon mangga." Jawab Alvian yang paling besar dari yang lainnya.
Tak lupa ira mengirim Vidio kegiatan Twins pada Mila dan juga Dave.
Sore itu Ira mengikuti Twins dan kedua pinakannya ke lapangan untuk melihat lomba menerbangkan layangan, karena bisanya di musim kemarau ini, kalau sore hari banyak pemuda yang melaksanakan hoby tersebut.
Banyak sekali model layang layang yang mereka bawa, mulai dari yang kecil hingga yang raksasa, juara lomba kali ini akan mendapatkan Uang 2 juta rupiah dan juga voucher makan.
"Wah mbak, layangannya banyak banget dan besar besar ya, tidak seperti milik kita, kecil." Tunjuk Michael pada layang layang disana.
" kaliankan masih kecil, jadi kecil saja, belum kuat tangannya, bisa bisa ikut terbang bersama layangan itu." terang Ira.
__ADS_1
" Belum terbang sudah jatuh duluan kita, lihat itu dik, yang memegamg saja ada Banyak orang." Vian menunjuk ke arah tengah lapangan yang sedang menyiapkan penerbangan layangan.
" Waau keren, ayo mbak Ir, ambil vidio dan gambarnya, kita live kak, dan kirimkan ke papa ya." Pinta Mike. Keempat bocah itu mengadakan Siaran langsung yang langsung terhubung ke Dave dan oma Mila.
Setelah selesai Live, mereka berlarian kesana kemari bersama anak anak lainnya. Ira menunggu mereka di pinggir lapangan, bersama beberapa gadis gadis desa.
" Hai Ir apa kabar? makin cantik saja kamu?" sapa Winarti teman SMA Ira.
" besok ada Reoni sekilah lho, di kafe baru ujung Desa, sudah dapat undangannya belum?" tanya Winarti.
"Sudah tadi malam, Nita yang mengantarkannya, Tapi besok ibuku pulang dari rumah sakit." jawab Ira.
" Acaranya pagi kok, bude Laksmi pulang jam berapa?" tanya Winarti.
" Dateng ya, sudah setahun lho kita ndak ngumpul, semua pada dateng, yang kuliah di Malang, Surabaya, semua menyempatkan untuk datang lho, masak kita yang sudah ada di sini tidak datang." Mohon Winarti.
"Insyaallah besok kalau mbak Nila mau aku nitip anak anak padanya, insyaallah hadir." Jawab Ira.
" Oh iya, kabarnya Indri mau menikah dengan bosnya, pemilik kafe di kota Malang, keren za, aku aja yang kuliah di sana masih belum dapat pacar cowok kota, hehe."Canda Winarti.
" Belum, masih bersembunyi dia Win, kamunya saja kalau nyari belum sungguh sungguh." canda Ira
" Haha, bisa saja kamu, oh ya bagaimana kabar kamu, katanya kerja di jakarta?" Tanya Wina.
__ADS_1
" Alhamdulillah baik, majikanku baik semua, itu yang kembar bersama vian dan Iwan adalah anak anak asuhku, mereka nyusul aku pulang." Jawab Ira jujur.
Winarti mengangguk faham, dan tak lama berikutnya Deni mantan pacar Ira duduk bergabung.
" Hai, apa kabar?" Sapa Deni.
" Baik, oh ya selamat ya, kabarnya kamu mau menikah dengan mbak Vania." Ira memgucapkan selamat pada Deni.
" Terima kasih, tapi aku nyesel Ir sudah kemakan rayuan Vania, bahkan dia mau menawarkan dirinya, tapi dia tidak sebaik dirimu." ucap Deni.
" Jangan pernah menyesali keputusan yang sudah kau ambil, itu sudah resiko yang harus kau hadapi." jawab Ira.
" Ir, aku akan memperbaiki diriku dan mencari pekerjaan yang gajinya besar semua untukmu." Deni dengan tidak tahu malu meminta Ira untuk kembali padanya.
"Maaf kak Deni, semuanya sudah berakhir, lebih baik kamu fokus pada Mbak Vania dan calon anak kalian, dan jangan pernah melibatkan saya dalam kehidupan rumah tangga kalian." Jawab Ira dengan Tegas.
"Tapi Ir." Elak Deni.
" Sudah jangan bahas itu lagi, serta tolong hargai keputusan yang sudah diambil." Ira tak menghiraukan perkataan Deni lagi, dia melambaikan tangannya pada 4 anak kecil yang berlari ke arahnya.
" Mbak Ira, belikan es jeruk peras di sana itu dong!" Iwan menunjuk ke arah perjual es jeruk peras.
" Oke, yuk kita kesana." Ira meninggalkan Deni yang masih di sana bersama Winarti, mengikuti anak anak yang mau membeli es jeruk.
__ADS_1