Pengasuh Si Kembar

Pengasuh Si Kembar
Episode129


__ADS_3

Ramon juga melihat Laksmi dan Mike berlari ke kamar Ira, lalu segera menyusul ke sana. Dia melihat Dave dan Mike sedang sibuk memijat Ira, sedangkan Laksmi membubuhi minyak di hidung Ira sampai dia bersin.


"Ha-Chi!" seru Ira.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nduk? Kenapa kamu mengeluh?" tanya Laksmi.


"Pusing dan lemas, Bu. Sedikit mual tadi," jawab Ira.


Bukannya panik, Laksmi malah tersenyum lebar.


"Kamu ini bagaimana sih, anaknya pingsan malah senang," kesal Ramon, lalu memukul lengan Laksmi.


"Kita dengar apa kata dokter saja, Pa. Nanti Papa juga akan senang," bisik Laksmi.


"Dave, Ibu ambilkan teh hangat dulu ya, supaya tenggorokannya hangat. Kamu di sini dulu. Dia tidak apa-apa kok. Ini akan menjadi tugas kamu beberapa bulan ke depan," kata Laksmi.


Dave, yang peka terhadap apa yang diucapkan mertuanya, langsung berbinar kedua matanya. Dia ingat apa yang dikatakan Ahmad beberapa waktu yang lalu tentang awal kehamilan.


Dave berdiri, lalu mengangkat kepala Ira dan meletakkannya di pangkuannya. Namun, dokter keluarga Aditama, dokter Sofyan, datang.


"Maaf, Tuan. Siapa yang sakit?" tanya Sofyan.


"Istri saya, Dok. Tiba-tiba pingsan setelah mengeluh pusing," jawab Dave.


Dokter Sofyan segera mengambil peralatan dan tiba-tiba Michael, yang ketinggalan informasi, masuk menerobos dan langsung naik ke ranjang Ira. Namun, mulutnya segera dibungkam Mike sebelum mengucapkan sepatah kata pun.


"Emm."


"Stt," Mike memintanya diam.


Dokter Sofyan segera melakukan tugasnya dengan memeriksa Ira.

__ADS_1


"Denyut nadinya lebih lambat," lalu dia memeriksa perut Ira. "Tuan, untuk lebih jelasnya, kalian besok ke rumah sakit dan menemui Dr. Obgyn. Menurut perkiraan saya, nyonya muda saat ini sedang hamil," kata Dr. Sofyan.


"Hamil, keempat!" laki-laki yang berada di dalam kamar bersorak-sorai. Mereka sangat gembira dengan apa yang dikatakan Dr. Sofyan.


"Mike, kita punya adik Mike!" kata Michael dengan riang.


"Dokter, jadi aku punya buyut lagi nih, hahaha! Yulia, lihat, kita punya banyak cicit," tawa Ramon dengan keras.


"Sayang, kamu hamil sayang," Dave menciumi seluruh wajah Ira, lupa kalau ada twins di sana.


"Dave, stop. Jangan kebablasan, tak mau kuping kamu nanti," teriak Ramon.


"Hehe, maaf. Dave terlalu bahagia kek," kekeh Dave. Sementara itu, Ira menitikkan air matanya. Dia terharu karena sebentar lagi dia akan diberi amanah membesarkan anak lagi, yang langsung dari rahimnya.


Dr. Sofyan cuma menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan keluarga mereka ini yang terkenal keras dan tegas di dunia bisnis. Ternyata mereka juga punya sisi kocak dan menyenangkan.


"Ahmad, Budi, Laksmi, dengar buyutku akan bertambah, hahaha. Andi, Andi mana? Suruh dia mengumpulkan seribu anak yatim dan berikan hadiah yang pantas. Semoga cicitku lahir dengan sehat dan selamat, uhuk-uhuk," kata Ramon dengan semangat.


"Makanya, jangan teriak-teriak. Ingat usiamu," ujar Laksmi sambil memapah Ramon ke sofa supaya tenang.


Dr. Sofyan pamit, dan dia bahkan mendapatkan double bonus, satu dari Dave dan satu lagi dari Ramon.


"Ma, berarti di dalam perut Mama ada dedek bayinya dong. Wah, berarti Mama akan seperti yang Mama ceritakan kemarin, menggendong dedek bayi selama sembilan bulan?" kepo Michael.


"Iya, sayang. Di dalam perut Mama ada hadiah untuk kalian. Dan Papa tidak bohong kan, kalau hadiah kalian akan ada setelah sembilan bulan," jawab Dave.


"Mulai sekarang, papa juga tidak boleh nakal sama Mama," ejek Mike.


"Apa papa nakal? Kapan papa nakal sama Mama?" elak Dave.


"Halah, siapa coba yang pagi-pagi selalu teriak-teriak, 'Ira, sepatuku mana, kaos kakiku mana?' Padahal sudah tersaji di sofa," kesal Mike.

__ADS_1


"Iya tuh. Papa sudah mengalahkan Twins, iyakan sayang!" imbuh Ira.


"Iya deh, iyah, Papa minta maaf. Papa janji tidak akan nakal. Maafkan papa yang manja seperti Twins ya, Ma," kata Dave sambil mengangkat kedua jarinya dan meminta maaf pada Mama Ira.


Ira terkikik melihat Dave yang dipergoki Mike.


"Hahaha, Papa kena prank!" Dave segera menggelitik Mike yang jahil.


"Bang, tolong Mike, bang!" minta dukungan dan pertolongan Mike pada Michael.


"Tapi bener kok yang dikatakan Mike. Kasihan Mama Pa, dia pasti berat tuh gendong dedek bayi, apalagi nanti perutnya seperti balon, bulat, dan besar," kata Michael.


"Iya sayang sayangnya Papa, sebagai kakak yang baik, bantu Papa menjaga Mama dan dedek bayi ya? Kita harus kompak," kata Dave.


"Siap, tuan Papa," jawab Michael.


Malam itu adalah malam paling membahagiakan bagi keluarga Aditama dan keluarga Nugraha. Mereka akan menambah calon penghuni keluarga hebat itu.


Pagi yang cerah menyambut calon Mama muda ini. Ira sudah tampil cantik dan siap untuk berangkat ke dokter, meski wajahnya masih pucat karena sarapannya. Semuanya berangkat ke rumah sakit, sekaligus mengantar twins ke sekolah.


Sampai di gerbang sekolah, twins melarang Ira untuk turun dari mobil.


"Mama tidak boleh turun, biar Papa saja yang mengantar kami," cegah Mike.


"Kenapa sayang?" heran Ira.


"Pokoknya di sini saja, kami tidak mau Mama capek. Nanti adikku juga ikut capek," imbuh Michael.


"Ya Allah sayang, berjalan kesana itu tidak akan membuat Mama capek," elak Ira.


"Enggak boleh," jawab keduanya kompak.

__ADS_1


Ira menoleh ke arah Dave, yang sedari tadi tidak berhenti tertawa dan cemberut ke arah mantan duren itu.


__ADS_2