
" Jadi, mbak Ira mau kan menjadi mama Kakak dan adik, kami selalu ingin memiliki mama, dan sampai sekarang papa tidak memberikannya, dan kami sudah tidak mau lagi mama yang melahirkan kami, asal mamaku adalah mbak Ira." Ucap Michael.
" Mau, mau banget, mbak Ira mau menjadi mama kalian, siapasih yang tidak mau punya anak, ganteng ganteng begini, pintar dan cerdas lagi hem."
" Ada mbak, tante jahat itu." Jawab Mike.
" Sayang, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi dan tidak menginginkan anaknya, mungkin saja mama Bella lagi khilaf, pasti suatu saat nanti mama Bella akan datang dan menyayangi kalian, meski papa dan mama tidak lagi hidup bersama, tapi kalian tetap anak anak mereka dan anak anak mbak Ira juga tentunya." Jawab Ira. Dia tidak mau kalau Twins akan membenci ibu kandung bahkan menaruh dendam padanya.
" Benarkah mbak?" tanya Mike.
" Tentu saja, oh iya, tadi malam mbak Ira melihat foto kalian, berarti sebentar lagi twins kesayangan mbak Ira mau ultah yang ke 5 dong, ngomong ngomong mau di rayakan dimana? nanti kita bilang ke papa?" Ira menanyakan perihal ulang tahun si kembar.
" Bosan ah, kalau pesta pesta begitu, aku mau yang lainnya." Jawab Mike.
" Memang maunya yang bagaimana?" tanya Ira.
" Bagaimana ya, maunya yang seru dan menantang." Imbuh Michael.
Ira dan Twins berfikir sebentar sambil duduk mengapit Ira di sofa. Tapi Dave sudah datang.
" pagi twins, mbak Ira" Sapa Dave.Tapi ketiganya masih sibuk dengan bayangan mereka.
" Sepertinya serius sekali, ada apa sayang?" Dave mengangkat tubuh Michael dan duduk di sebelah Ira sambil memangku Michael. bisa bisanya pak duda modus di depan anaknya itu.
"Pa sebentar lagi aku dan Adik kan ulang tahun, tapi kami bosan dengan pesta pesta seperti itu, maunya kami ada sesuatu yang seru bahkan menantang." ucap Michael.
" Seru dan menantang ya, bagaimana kalau kita ke villa,di sana nanti kita buat tenda, api unggun dan outbond, pas malamnya kita nyanyi, seru seruan di depan api unggun bagaimana?" Dave mengusulkan untuk berkemah dan mengenalkan anak anaknya ke alam.
__ADS_1
" Wah boleh itu pa, kita berkemah, kak kita belum pernah berkemah kan,mau pa Mike mau." Jawab Mike dengan semangat.
" Aku juga mau, ayo kita bilang oma, opa dan kak Sheren, mereka pasti masih sarapan." Ajak Michael pada Mike.
Kedua Bocah itu langsung berlarian keluar menuju ke ruang makan, ingi. menyampaikan usul Dave tadi.
Ira dan Dave saling bertemu muka dan tersenyum canggung. Seperti anak ABG saja.
" ayo kita susul mereka! "ajak Ira. Tapi Dave malah merangkulnya.
" Pak Dave."
"Hem"
"Rasanya aku masih seperti bermimpi saja, berada di keluarga ini, di terima dengan baik di sini bahkan pak duren di sampingku ini menyukaiku." kata Ira.
" Tidak, semua ini adalah nyata, dan kita akan menata masa depan kita, kamu memang bukan yang pertama dalam hidupku, tapi akan aku jadikan yang terakhir. i love u." Bisik Dave dan Dave memberikan kecupan singkat di pipi Ira, dan berdiri dari tempatnya, melangkah keluar dari kamar twins, seperti tak terjadi sesuatu.
Ira masih duduk terdiam di tempatnya, memegangi pipi yang baru saja di cium Dave.
Kata kata Dave barusan masih terngiang di alam bawah sadarnya.
" Too, pak duren." Akhirnya Ira tersadar dan berdiri menyusul Dave yang mungkin sudah sampai di bawah.
Twins sudah menceritakan rencananya berkemah kepada yang lain, dengan menggebu gebu. Sementara oma, opa, dan Sheren mendukung usul Dave, dari pada mereka berpesta dan gagal, mending berkemah saja seperti usul Dave.
Mereka menyerahkan semua persiapannya pada Dono dan Roy, baik persiapan maupun keamanan di Villa nanti.
__ADS_1
Andi utusan Ramon sudah berada di desa tempat kelahiran Ira. Dia mencari penginapan yang paling dekat dengan desa tempat Ira tinggal, karena disana tidak ada hotel maupun penginapan, yang ada di daerah kotanya, Andi. menyiapkan semua peralatan yang di butuhkan nya dan berangkat ke sana.
Andi sudah bermodalkan Alamat Laksmi, kalau foto belum, karena informasi yang didapatkannya dulu tidak menemukan foto yang terkait.
Andi bertanya pada seorang warga alamat yang di bawanya.
" permisi bu, mau nanya, alamat rumah pak Budi setiawan dan laksmi Nugraha dimana ya?"Tanya Andi pada seorang pria setengah baya yang membawa rumput.
"Omong opo to le le, aku ndak ngerti blas ( bicara apa ya nak saya tidak mengerti)." Jawab Bapak tadi.
"Waduh bicara apa ya bapak ini? kok ya ada banyak bahasanya juga di negara asal guan besar ini." heran Andi, mereka sama sama tidak mengerti bahasa masing masing.
Lalu dia mengeluarkan kertas berisi tulisan Alamat Laksmi dan menunjukkan pada bapak tadi, dan eh lagi lagi bapak itu buta huruf , dia tidak bisa membaca tulisan tersebut.
" owalah le, aku yo ora iso moco, wis mboh ndak paham ( owalah nak, saya tidak bisa membaca ) ." Kata bapak tadi dan kemudian pergi meninggalkan Andi di tepi jalan. Andi hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak dan tersenyum geli.
" Sama sama Gak faham mungkin ya, atau bapak tadi juga tidak bisa membaca, kok masih ada ya orang jaman sekarang tidak mengenal bahasa nasional negaranya, bahkan tidak bisa menulis." gumam Andi.
" Lebih baik tanya yang muda saja, mungkin tahu." Gumam Andi lagi dan dia kembali berjalan menelusuri desa kecil itu. Andi sengaja tidak membawa mobil dan cukup menyewa sebuah motor bebek, supaya mudah untuk mencari informasi. Dia terus menjalankan motornya ke sebuah warung nasi pecel di ujung jalan. Andi juga penasaran dengan nama makanan ini karena selama ikut Ramon di Singapura bahkan ke Jakarta, Andi belum pernah makan yang namanya pecel itu.
Andi memesan sepiring pecel dan teh hangat.
" Bu pesan itu nasi pecelnya satu ya, dan teh panas."Ucap Andi.
"Siap mas ganteng, asal dari mana kok memakai bahasa Indonesia, bisa bahasa jawa?" Tanya pemilik warung.
" Saya dari Jakarta maaf baru pertama kali kemari dan tidak mengerti bahasa Jawa."Jawab Andi dengan sopan.
__ADS_1
"Oke, mas ganteng, tunggu 5 menit pecelnya akan segera tiba, pakai lauk apa?" tahu, tempe ,rempeyek atau kerupuk?" tanya mbak penjual, yang ternyata mbak susi adiknya bu Suci.