
Kembali ke mansion Aditama, setelah Twins tidur, Ira membereskan barang barang Twins, dan menatanya di tempat semula. Ira memperhatikan foto Twins ketika masih bayi, di sana juga terpampang tanggal lahir Twins.
" Berarti ulang tahun Twins tinggal 5 hari dong, biasanya bagaimana cara orang kaya merayakan ulangtahun, apakah dengan pesta di gedung atau sekolah ya." Gumam Ira.
Dia kemudian mencari album yang tertata di sebuah Rak di kamar tersebut, di dalam album album itu terdapat semua foto Twins mulai dari bayi sampai sekarang, Oma menyimpannya di album album tersebut. Ira mengamati beberapa foto ulang tahun, Tapi ada sesuatu yang aneh, kenapa di setiap ulang tahun Twins ada kekacauan kekacauan.
Ira mengernyitkan dahinya, merasa heran.
" Besok akan aku tanyakan ke oma atau kak Sheren Saja." gumam Ira. Kemudian Ira mengembalikan Album yang di lihatnya tadi dan keluar dari kamar Twins. Tapi langkah Ira terhenti karena mendengar suara kaca pecah di Kamar Dave.
"Pak Dave."Gumam Ira. Dia bergegas menuju ke kamar Dave, mengetuk pintunya, tapi tidan ada sahutan.
" tok tok tok." Tapi tidak ada suara aneh. tapi samar samar Ira mendengar suara orang mengerang kesakitan.
Pintu kamar Dave tidak tertutup rapat, jadi Ira memutuskan untuk memeriksa keadaan di dalam sana. Ira membuka pintu Kamar Dave, dia melihat Dave memegangi dadanya sambil meringis.
" pak, Dave kenapa?" Tanya Ira dengan cemas.
" Am ambilkan air hangat!" pinta Dave
"Dan obat berwarna kuning di laci no 3." tambah Dave. Dave kemudian duduk di ranjangnya, sambil menunggu Ira mengambil Obat dan air hangat.
Dengan cekatan Ira mengambilkan pesanan Dave dan membantu Dave meminum obat.
"Pak Dave sakit apa? sepertinya dadanya sakit ya.? Tanya Ira, sambil mengelus dada Dave.
__ADS_1
Dave mengangguk lemah. Sementara Ira menata bantal Dave supaya lebih tinggi dan Dave bisa bersandar.
" Ada minyak kayu putih atau minyak urut?" tanya Ira.
" Ada olive oil di laci itu!" tunjuk Dave.
Ira beranjak dari tempatnya mengambil Minyak tersebut. sementara Dave membuka kancing piyamanya.
Tidak perlu di tanyakan lagi bagaimana keadaan jantung keduanya, apa lagi saat Ira mengoles dan memijat pelan Dada kotak kotak Dave. Jantung Dave seakan berhenti berdetak, saking kerasnya. Dave memejamkan matanya dan mengambil nafas panjang. Apa lagi ada sesuatu di bawah sana yang juga ikut terbangun.
" Bapak sakit apa?" tanya Ira yang masih terus memberi pijatan pada Dave.
" Alergi coklat." Jawab Dave.
" Berarti dari kue tadi dong, kenapa di makan?" ucap Ira sambil memperhatikan raut wajah Dave yang merah, seperti menahan sesuatu.
"Masyaallah pak Dave, bagaimana tidak meleleh hati ini bang kalau setiap hari kau memperlakukanku dengan seperti ini." Batin Ira.
Ira segera menghindari itu dan mengalihkan perhatian, dia tidak mau terlalu larut dalam angannya yang terlalu tinggi.
"Maaf ya pak, saya tidak tahu kalau pak Dave ada alergi." Ira mengalihkan perhatian Dave dan mencoba melepaskan genggaman tangan itu, akan tetapi Dave malah menariknya kedalam pelukannya.
" Ir, terima kasih, kamu telah hadir dalam hidup kami, memberi arti tersendiri dalam hidup si kembar dan juga diriku, kepolosan dan juga ketulusanmu membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin." Dave memeluknya dengan Erat dan mencium pucuk kepala ira.
__ADS_1
Sungguh membuat perasaan Ira menjadi nano nano, bahagia sekaligus cemas. Di bahagia karena ungkapan hati Dave yang sebenarnya masih samar itu tapi dia cemas bagaimana kalau Twins menolaknya.
" Ir, kau telah menutup luka yang menganga ini dengan semua tingkah dan kepolosanmu, kau bagaikan Air hujan yang menyirami tanah lapang yang tandus ini. Awaknya aku mengelak dan tidak percaya dengan perasaan ini, tapi makin ke sini rasa ini makin tumbuh dan mengakar kuat. Khumaira I love u, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, maukah kamu menerima pria pengecut dan rapuh ini. mewarnai hari hariku yang suram ini."Ucap Dave dengan Lembut.
Meski dadanya masih terasa sesak tapi Dave masih mampu mengutarakan perasaannya.
Ira bangkit dari pelukan Dave dan menatapnya dengan lembut, Ira mulai menganggukkan kepalanya.
" Saya mau pak, tapi..." Ira tidak meneruskan ucapannya.
" Tapi apa hem?" tanya Dave.
" Bagaimana dengan twins, apa mereka menerimanya, dan status kita jauh berbeda pak, bagaikan upik abu dan pangeran." Kata Ira.
Dave menutup mulut Ira dengan jari telunjuknya.
" Bukannya kamu selalu mengajarkan pada Twins, bahwa status manusia di mata Allah adalah sama, bukan karena harta dan jabatan, tapi dari semua amal dan perbuatan kita. Ir bimbing dan bantu aku ke jalan itu, selama ini aku buta, buta jalan menuju kepadanya, buta akan ilmu, selama ini yang ada di diriku adalah kehidupan dunia, tanpa tahu kalau masih ada kehidupan yang lebih panjang dan kekal setelah kita mati nanti." Ira mengangguk , mengiyakan perkataan Dave.
" Tapi bapak berkata itu sudah dari dalam hati bapak kan, bukan karena saya atau yang lainnya.?" tanya Ira.
" Iya, memang awalnya berkat dirimu, tapi untuk belajar dan bertaubat, ini sungguh dari diriku yang paling dalam. Bimbing aku supaya bisa menjadi imam dan pemimpin untuk kalian." Ucap Dave lagi.
" Saya mau pak, saya mau pak Dave menjadi imam dalam hidup saya dan anak anak, semua itu perlu proses dan belajar pak, saya akan membantu dan menemani proses itu pak." Jawab Ira.
Kembali Dave merengkuh tubuh mungil Ira kw dalam pelukannya. tapi Ira merasa ada sesuatu dalam Diri Dave, dada itu semakin panas, Ira meletakkan punggung tangannya di dahi Dave, ternyata sangat panas.
__ADS_1
" Pak Dave, suhu tubuh anda sangat panas, A aku ambilkan Kompres dan parasetamol dulu ya." Ira Bangkit dari tempatnya.
"Iya istriku."jawab Dave sambil tersenyum, rasa sakit maupun panas itu tidak dia rasakan, karena saat ini di pikirannya penuh dengan Ira.