
Mobil mewah yang mengantarkan Ramon sudah sampai di parkiran RSUD tempat Laksmi di rawat, berkat bantuan Susi, mereka bisa segera menuju ke ruang inap tersebut.
Ruang Dahlia 3, ruang inap Kelas 3 , dalam 1 kamar terdapat 4 tempat tidur pasian, dan hari itu 3 terisi dan cuma satu saja yang kosong.
Ramon berjalan dengan tongkatnya memasuki ruang itu, dadanya bergemuruh, berdesir, menyaksikan putrinya di rawat di tempat yang menurutnya di bawah standar tersebut.
Andi menemani Ramon mendekati ranjang Ira.
" Halo selamat sore." sapa Andi.
" iya selamat Sore." Jawab Ira dan p Budi, Ira menoleh ke belakang dan mendapati Kakek Ramon yang sudah tidak asing lagi baginya, bersama sang asisten dan dua bodyguard lainnya.
" Kakek Ramon?" Heran Ira.
Tiba Tiba Ramon memeluk Ira dengan Erat.
" Iya ini kakek, maafkan kakekmu yang bodoh ini, tidak bisa mengenali cucunya sendiri." Ucap Ramon menitikkan air matanya, pak tua itu juga berjalan menuju ranjang Laksmi dan merengkuh tubuh Laksmi yang berbaring lemah di ranjang pasien itu.
" L la Laksmi, huhu." Ramon menangis dan memeluk tubuh itu, dengan derai air mata.
" Maafkan papa, bertahun tahun papa mencari mu dan ibumu, tapi baru ketemu sekarang, hik hik, papa orang tua yang terburuk di dunia." kata Ramon.
Ira membantu Ramon untuk berdiri dan Andi mendekatkan sebuah kursi tunggu untuk Ramon.
__ADS_1
Laksmi memperhatikan wajah lelaki tua yang tidak banyak berubah, wajah itu masih seperti dulu cuma menjadi keriput.
" Pa papa, kau papaku, Ramon."Laksmi masih mengingat wajah tersebut, tubuhnya bergetar hebat, lelaki yang selama ini dia rindukan bersama ibunya kini ada di hadapannya.
" Iya nak, aku Ramon papamu yang bodoh itu, yang tidak bisa melindungi anak dan istinya sendiri."Jawab Ramon.
Laksmi mencoba bangun, di bantu oleh Ira, yang sebenarnya heran sekaligus penasaran dengan apa yang dia lihat. Setelah berhasil duduk, Laksmi meraih tangan keriput itu, dan Ramon berpindah duduk di tepi Ranjang sempit itu.
" Papa, aku dan mama selalu menanti kau datang menjemput kami, tapi semua hanya harapan semu, dia selalu menunggumu di ujung jalan desa sampai akhir hayatnya, hik hik." Laksmi mulai menitikkan air matanya mengingat ibunya yang selalu menunggu Suaminya datang menjemput.
" Maafkan papa,maafkan papa huhu." Tangis Ramon kembali pecah lelaki dingin dan arogan itu ternyata bisa menangis dengan sesenggukan di depan putri kandungnya.
Laksmi menghapus air mata itu dari pipi keriput Ramon.
"Alhamdulillah, akhirnya Allah mendengarkan doa doaku, aku masih di beri kesempatan bertemu dengan Keluargaku di walau di penghujung hidupku, aku kelak akan pergi dengan tenang menyusul Yuliaku di surga nanti."ucapnya lagi.
" Ira, papa bertemu dengan Ira beberapa waktu yang lalu di sebuah taman, wajahnya mengingatkanku dengan Yulia, istriku lalu aku meminta orang untuk mencari tahu tentang dia, darimana asal dia, serta keluarganya, dan kecurigaanku ternyata benar, dia adalah cucuku, cucu kandungku sendiri, sini nak, ini kakek." Ramon meminta Ira untuk mendekat.
"Bu?" Ira bertanya pada ibunya, dia masih bingung dengan semuanya.
" Ini Kakek Ramon, dia ayah dari ibu, orang yang selama ini ibu ceritakan, dan ini mas Budi, suami Laksmi Pa." Laksmi juga memperkenalkan Budi pada Ramon.
Budi mengelap tangannya dengan bajunya dan mengulurkan Tangannya pada Ramon.
__ADS_1
Pak Tua itu bukannya menerima uluran tangan itu tapi memeluk menantunya itu.
" Terima kasih nak, kamu telah menyayangi dan menjaga putriku dengan baik."Ucap Ramon.
" Tidak pak, justru saya sudah membuat putri bapak, banyak mengalami penderitaan, saya belum bisa membahagiakan dia." Jawab Budi yang minder melihat penampilan Dari Ramon.
"Sebuah kebahagiaan tidak bisa di ukur dengan materi atau kekayaan, apa gunanya banyak harta kalau sendirian, kesepian, dunia ini terasa hampa tanpa adanya orang orang yang kita sayangi." Ramon menepuk punggung Budi.
"Benarkah kakek Ramon kakekku, lalu apa hubungan kami dengan bu Bella, bukannya dia juga cucu kakek?" Tanya Ira.
" Bella anak Donald maksud kamu nak?" Ramon memastikan. Ira mengangguk membenarkan pertanyaan Ramon.
" Perempuan gila itu bukan cucu kandung kakek, ayahnya anak dari adik tiri kakek, ibu dari Donald yang selama ini membantu kakek, dan ketika dia meninggal, anaknya kakek asuh, tapi ternyata mereka hanya mementingkan uang uang dan uang, bahkan tidak menganggap kakek ada, selama ini kakek tinggal di singapura, kakek merasa sangat buruk dan tidak pernah tenang tinggal disini, dan merasa menjadi orang yang gagal melindungi keluarga kakek dari kekejaman ibu kakek." Jawab Ramon dengan sendu.
" Ya sudah sekarang kakek tidak perlu sedih lagi, kakek sudah bertemu dengan putri kakek, semoga kita kelak akan hidup bahagia." jawab Ira.
" Kalian tidak marah, benci atau dendam dengan saya, karena sudah sangat lama menelantarkan keluarga sendiri dan memelihara ular berbisa di rumah?" tanya Ramon.
" Kakek siap menerima konsekuensinya."
" Pa, semua sudah berlalu, itu juga bukan murni kesalahan papa, aku dan ibu juga salah, karena percaya begitu saja dengan nenek, kalau papa ingin bertemu kami di taman dan akan memberi sebuah kejutan, Tapi ternyata mereka memang ingin memisahkan papa dan ibu." Jawab Laksmi.
" Terima kasih nak, hatimu begitu lembut, tak salah Yulia mendidik mu, Andi pinta pihak rumah sakit memindahkan putriku di tempat vvip, dan mendapat pengobatan terbaik!" Perintah Ramon pada Andi.
__ADS_1
" Baik tuan, saya laksanakan."Andi bergegas keluar dari ruangan tersebut dan mengurus pemindahan kamar dan fasilitas untuk Laksmi, sementara Ramon, beserta anak dan cucunya mengobrol kesana kemari.
Hingga akhirnya Ahmad datang bersama istri dan kedua anaknya, mereka membawa makan untuk Ira dan Budi, tapi begitu sampai mereka di kejutkan adanya seorang kakek kakek di tengah mereka, sementara dua bodyguard Ramon berjaga di luar pintu kamar.