
Ira hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
" Sakit sakit masih saja bisa menggombal." canda Ira.
" Tidak apa apa, untuk menghibur diri sendiri, baru kali ini ada yang memperhatikan keadaanku selain mama." Jawab Dave.
Ira membawa segelas air dan parasetamol.
" ini diminum obatnya, saya akan ke bawah dulu menyiapkan kompres, disini tidak ada pak." Dave segera meminum obat yang di berikan Ira, lalu berbaring kembali.
Ira segera ke dapur merebus air dan mencari alat kompres.
Dave masih menunggunya sambil tersenyum bahagia.
"Baru kali ini aku di perhatikan oleh seorang gadis, rasanya begitu berbeda dengan semuanya sendiri, semoga pilihanku kali ini benar, dan dia adalah yang terakhir dalam hidupku." Gumam Dave.
Tak lama kemudian Ira datang dengan handuk dan baskom, karena tidak menemukan hot cold pack di bawah.
" Pak Dave belum tidur?" Tanya Ira sambil meletakkan besok berisi air hangat di nakas.
" Tidak bisa tidur, ayo Sini." Dave meminta Ira untuk naik di ranjangnya. Ira duduk di tepi ranjang Mewah Dave dan mulai mengompres dahi Dave.
" Pak Dave tidur ya, saya akan tunggu di sofa itu ,dan sesekali memeriksa kompres bapak" Jawab Ira.
" Bagaimana, kalau panggilannya di ubah saja, sepertinya aku ini sudah tua banget di panggil bapak." Dave meminta panggilan Ira terhadapnya di ubah saja, Tapi Ira masih menolaknya dia merasa malu dan ambigu dengan panggilan baru untuk Dave.
__ADS_1
" Maaf pak, bukannya tidak mau, tapi bagaimana ya, rasanya canggung dan malu pak, sementara saya akan tetap memanggil pak Dave dengan bapak." Elak Ira.
"Oke senyamannya kamu saja, tapi di sink saja jangan di sofa." cegah Dave.
" Kita bukan muhrim pak, itu di larang agama dan akan menimbulkan Fitnah nantinya." Jawab Ira.
" Temani aku dulu, aku tidak bisa tidur." Dave mencari alasan. Dave menggeser tubuhnya dan merebahkan kepalanya di paha Ira.
"Biarkan seperti ini dulu." ucap Dave.
Ira membenarkan posisi duduknya, dia bersandar di sandaran ranjang Dave dan kakinya selonjoran di pinggir ranjang Dave. Sesekali Ira memijat lembut kepala Dave untuk meredakan pusing dan nyeri di kepala Dave.
Cara ini yang selalu Ibu Ira lakukan saat dia sakit kepala atau demam.
" Pak Dave ternyata manja, seperti twins, padahal sebulan yang lalu dia itu tipe laki laki yang garang dan judes." celoteh Ira. Tapi Dave tidak merespon Ira, dia nyaman di pangkuan Kekasihnya itu, dan tangannya memeluk perut Ira , Dave juga menenggelamkan wajahnya di sana, rasanya lebih hangat dan nyaman dari kompres Ira.
" Yah ternyata sudah tidur dia, katanya tadi tidak bisa tidur." Gumam Ira. Tangannya meraih selimut yang menutupi sebagian tubuh Dave dan membenarkannya.
Ira mencoba memindahkan kepala Dave ke bantal di sampingnya tapi gagal. Pelukan Dave makin erat dan posesif.
" Berat sekai dia." gumam Ira.
" ah, lebih baik tunggu sampai dia benar benar tertidur.' Gumamnya lagi.
Ira bersandar sambil menerawang langit langit kamar Dave. Aroma maskulin seorang pria dan warnanya dominan ke abu abu.
__ADS_1
"Apa yang sudah aku lakukan ya Allah, aku. berada di kamar seorang laki laki, hanya berdua saja, dia bukan muhrim ku. Dan bagaimana kalau aku di cap sebagai perempuan murahan yang memanfaatkan keadaan. Tidak, aku tidak memanfaatkan keadaan, perasaan ini muncul begitu saja, seiring berjalannya waktu." Ira berbicara pada dirinya sendiri.
Di perhatikan nya wajah pak duda yang nyaris sempurna itu. Di tekan tekannya pipi serta hidung Dave yang mancung itu.
" Kok ada ya wajah laki laki yang begitu putih dan mulus, hidung mancung, sungguh ciptaan Allah yang sempurna, kok bisa ya Bella tidak menyukai dia bahkan membencinya. Kalau aku jadi Bella maka akan ku jaga dengan segenap jiwa ragaku, tak akan ku biarkan dia berpaling. Padahal kau menerima cintanya yang besar." Ira me noel noel pipi dan Hidung Dave. Lama lama dia tertidur dan masih bersandar di tempatnya.
Jam 3 pagi Dave terbangun dari tidurnya, dia melihat Ira tertidur dan masih bersandar seperti waktu tadi Dave tertidur.
" Maafkan aku, pasti kamu tidak nyaman dengan posisi seperti ini." gumam Dave, Dia bangkit dari tempatnya, meski masih pusing, Dave membenahi tidur Ira supaya lebih nyaman, menyelimutinya sampai batas dada.
Dave kembali naik ke atas ranjang dan tidur kembali di samping Ira.
" Kamu selain baik, tapi sangat cantik, tidak akan ada yang tahu kalau dirimu hanyalah gadis dari desa, di sana kau pasti jadi primadona, beruntung sekali diriku yang cuma seorang duda dua anak bisa mendapatkan bidadari seperti mu."
Dave mengecup dahi Ira dan meneruskan tidurnya, dia tahu diri dan tidak berani macam macam, karena Dave takut kalau Ira bangun nanti akan ada masalah baru.
Adzan subuh Barulah Ira terbangun, dia menguap dan membentangkan tangannya lebar, merenggangkan otot ototnya, barulah Ira sadar di mana dia sekarang.
" What, i inikan kamar pak Dave." Gumam Ira. Dia Mengingat kalau tadi malam Ira ketiduran , tapi kenapa posisi tidurnya jadi berubah. Segera Ira memeriksa tubuhnya, semua masih aman pada tempatnya.
" Ah aman, apa aku tadi malam ngelindur ya, atau pak Dave yang memindahkannya." Ira menoleh ke arah samping, di lihatnya lelaki yang kini berubah status menjadi kekasihnya itu masih tertidur dengan pulas.
Ira memeriksa suhu tubuh Dave yang lumayan, panasnya tidak seperti yang tadi malam. Ira bangun dan merapikan tempat serta dirinya dan keluar kamar Dave dengan membawa baskom dan handuk yang dia bawa semalam, serta pecahan kaca dari gelas Dave yang jatuh.
Di luar kamar Mila melihat nya keluar dari kamar Dave.
__ADS_1
" Ir?" Mila mengernyitkan dahinya melihat Ira yang pagi pagi keluar dari dalam situ.
" Oma, i ini tadi malam saya mendengar ada yang pecah dari kamar pak Dave, lalu saya periksa, ternyata pak Dave sakit, dia alergi coklat." Jawab Ira dengan gugup.