Pengasuh Si Kembar

Pengasuh Si Kembar
Episode 124


__ADS_3

" Eh kita sampai mana tadi ya ngobrolnya ya?" tanya Ahmad lupa.


" hahaha, tadi membicarakan mbak Nila waktu hamil Alfian." jawab Dave.


" Ah iya, Nila sampai ingin pindah karena malu, tapi ibu dan ayah mengerti dan memakluminya, dia malah menasehati Kami, karena itu semua bawaan bayi, tapi waktu hamil Iwan, dia kebalikannya Nila tidak ngidam apa apa, cuma pengen ke kebun binatang, itupun tidak langsung terpenuhi, aku harus nabung dulu, tapi untungnya ada tetanggaku yang mau ke bandara menjemput anaknya yang pulang dari Hongkong menjadi tkw, jadi kami nebeng ke sana, Alhamdulillah hemat ongkir, mereka malah menganak kami ke bandara, dan membawa kami ke kebun binatang bersama, sekalian mereka mau rekreasi." Ahmad menceritakan pengalamannya sambil berkaca kaca.


"Masyaallah mas, kalian kelurga yang kuat dan saling pengertian." kata Dave ikut terharu.


" Kami sudah terbiasa susah dari kecil, jadi akan tahan banting, Aku yakin Ira akan selalu mendampingi kamu bagaimanapun keadaan kamuy terutama keadaan ekonomi." Kata Ahmad.


" Iya kak, aku percaya dan aku juga salut dengan Kalian, walaupun sekarang posisi keluarga kalian sedang berada di atas bahkan sangat jauh perbandingannya dari kehidupan yamg dulu, klian tetap sederhana dan tidak sombong." Kata Dave.


" Iya Dave, sebagai manusia kita tidak.boleh melupakan dari mana asal kita, kita lahir sama Dave, tidak punya apa apa, dan orang tua kita yang mulai mengenalkan pakaian, makanan. Cuma bedanya ada yang langsung banyak ada yang kecil, kamo tidak mau di sebut manusia lupa akan kulitnya, harta adalah titipan Allah, sifatnya hanya semetara, sombong sebagian kecil dari sifat yang akan merugikan diri sendiri. Kita juga sudah bisa melihat contoh nyatanya Bella misalnya, Kesombongan yang dia buat akan menghancurkan dirinya sendiri." Jawab Ahmad yang begitu bijaksana .


" Subhanallah, aku sangat beruntung memiliki kalian semua sebagai keluargaku, banyak sekali ilmu dan pelajaran yang aku peroleh, dulu aku tidak mengenal agama, cuma di ktp doang tertulis islam, sholat tidak apalagi yang lain, kak aku mohon bantu bimbing aku supaya bisa menjadi suami yang baik dan imam yang baik untuk adikmu Ira." Kata Dave.


" Aku juga masih belajar Dave, tapi akau akan berusaha menemanimu dalam proses belajar itu." Jawab Ahmad.


Mereka menghentikan percakapan mereka saat adzan magrib berkumandang.


" Sudah Adzan ayo kita sholat, kmi tunggu di mushola keluarga, dan bangunkan Ira, kalau dia kuat, ajak dia berjamaah di mushola, kalau masih sakit biarkan dia sholat di kamarnya dan kamu nyusul ya." Ahmad mengajak Dave ke mushola di mansion itu, dulu tidak ada yang namanya mushola, tapi sekarang, Ramon menjadikan salah satu ruangan di mansion itu khusus untuk tempat ibadah, jadi semua penghuni mansion bisa ikut beribadah bersama, Ahmad berdiri dan beranjak dari tempatnya untuk siapa siap.


Dave juga, dia kembali ke kamar Ira untuk melihat kondisi istrinya serta mengajak untuk berjamaah.

__ADS_1


Sesampainya di dalam, Dave melihat Ira keluar dari kamar mandi, sepertinya dia baru saja mengambil wudhu.


" Sayang sudah baikan perut dan pinggangnya?" tanya Dave, dia melangkah mendekati Ira.


" Sudah lumayan mas, pijatan kamu sangat nyaman, perutku jauh lebih enakan." jawab Ira.


" Jaga kesehatan ya jangan terlalu capek, aku tidak mau mama kecapean dan sakit." Jawab Ira.


" iya pa, hari ini aku terlalu bersemangat jadi lupa waktu, banyak hal seru yang bisa aku lalukan hari ini, sana ambil air wudhu aku akan siapkan pakaian mas." Kata Ira.


" Siap nyonya." Jawab Dave.


" Oh ya mas, aku tengok anak anak dulu ya, mereka sudah siap apa belum, nanti kita berangkat bersama sama, itu fian sudah adzan." kata Ira. Dan mengangguk setuju lalu ke kamar mandi.


Hari ini adalah hari pertama Dave ikut bergabung melaksanakan ibadah bersama dengan keluarga istrinya, rasanya begitu sejuk dan damai, mereka begitu akur dan saling menghormati, bahkan asisten rumah tangga disana di perbolehkan untuk bergabung, dengan Budi sebagai imam sholatnya.


Setelah selai Art boleh kembali melanjutkan pekerjaan mereka tapi anggota keluarga tidak, mereka akan mengadakan pengajian ataupun tadarus menunggu waktu isyak.


Budi ayah Ira malam ini yang melakukan ceramah, semua mendengarkan dengan seksama terutama Dave dan Twins mereka bertiga banyak sekali melontarkan pertanyaan yang mereka belum mengerti.


Budi menjawabnya dengan detail dan mengabarkan semuanya sehingga mereka semakin paham dan mengerti. setelah sholat isyak barulah keluarga besar Ramon menuju ke ruang makan.


Malam itu sesuai dengan yang Ahmad katakan tadi sore kalau hari ini menunya adalah sayur rebung pakai lontong, tapi ya tidak cuma itu menu modern juga ada, serta masakan yang tidak pedas.

__ADS_1


Ahmad langsung meminta menu yang tadi dia ceritakan ke Dave, membuat Dave serta Ramon ikut penasaran. sementara anak anak lebih memilih rendang sebagai makanan malam mereka.


" Itu apasih, kok kalian semua malah pilih ketupat dan sayur itu?" tanya Ramon dengan penasaran.


' Ini sayur rebung, request mas Ahmad kek, kakek mau?" tanya Nila.


" Coba sedikit dulu." penasaran


" Sayang aku juga penasaran dengan sayur rebung itu, tadi mas Ahmad sudah menceritakannya padaku, yang katanya terbuat dari bambu muda itu." Dave juga meminta sayur yang terdengar dan terlihat asing itu.


" Apa, dari bambu muda, wah sudah mirip panda dong kita, siapasih yang menciptakan menu ini kok ada ada saja bambu dimakan, tapi kok tambah penasaran aku, dan siapa yang masak?" Tanya Ramon.


" Ibu kek." Jawab Nila dan Ira bersamaan.


Ira mengambilkan lontong serta sayur rebung, lengkap dengan bawang goreng, serta ayam suwir.


Setelah berdoa bersama mereka mulai makan malam, Ramon dan Dave mulai mencicip kuahnya dulu, merasakan sensasi yang berbeda di lidahnya, kemudian mencoba sayurnya, sementara yang lain langsung lahap, Ahmad dan Budi sudah nambah lagi.


" Bagaimana mas, kek, aneh ya?" tanya Ira.


"Ini sesuatu yang baru di lidah mas, pertama rasanya aneh, tidak bisa di bayangkan bambu di jadikan makanan, tapi seger, lalu rebungnya itu terasa kriuk dan sedikit kenyal, di padu dengan serbuk ini dan Ayam suwir, jempol dua untuk masakan ibu." Dave mengacungkan dua jempolnya pada Laksmi lalu ikut nambah. Ramon juga ikut ikutan Dave untuk nambah karena mereka tadi masih minta sedikit dulu, mau merasakan bagaimana rasa dari sayur bambu.


" Ternyata di sekitar kita sudah tersedia apapun yang kita butuhkan, tinggal kita saja yang mengerti atau tidak serta berkemampuan untuk mengembangkannya atau tidak, ini bisa di jadikan menu baru di kantin kantor." Kata Dave

__ADS_1


__ADS_2