
Satu minggu Aya di rawat di rumah sakit, Edward dengan setia menemani. Sedangkan kantor sementara di pegang oleh Melky. Dua hari yang lalu nyonya Karina datang ke Inggris sendirian karena tidak sabar untuk melihat cucunya.
Kebetulan hari ini Edward harus masuk kantor, sehingga dia meminta mamanya untuk menemanj Aya di rumah sakit. Tentu saja nyonya Karina senang, dia akan sering menggendong cucunya.
"Oh ya, sejak kemarin mama menggendong cucu mama kok tidak tahu namanya sih. Apa kamu sudah kasih nama anakmu sayang?" tanya nyonya Karina pada menantunya itu.
"Iya,ma. Edward yang kasih nama." jawab Aya, dia merapikan kerudung instannya.
"Siapa namanya sayang?"
"Ali Sulthan Alexander."
"Ali?"
"Iya ma, Edward ternyata mengagumi salah satu sahabat nabi dan sepupunya nabi, Ali bin Abi Tahlib. Jadi dia mengambil nama depannya saja,dia berharap anak kita akan jadi ilmuwan katanya." jawab Aya, dia tersenyum ketika Edward memberikan alasan kenapa dia memberikan nama Ali.
"Oh, ya. Bagus juga dan simpel. Ali. Dan setiap orang tua mempunyai harapan besar pada anaknya."
Nyonya Karina masih menggendong cucunya dan menimangnya, menciumnya dan kembali mencubit pelan pipinya yang tembem.
"Oh ya sayang, bulan depan Sania sama Emil akan menikah. Apa kamu tahu?" tanya nyonya Karina.
"Iya ma, Edward yang kasih tahu. Mama tahu tidak, waktu Emil pulang ke Indonesia dia sedih sekali. Setiap hari tidak bersemangat, tapi itu beberapa hari saja." kata Aya.
"Wajar saja sayang, Edward dan Emil itu sudah lama bersama. Jadi wajar kalau dia bersedih." kata nyonya Karina.
"Ya ma, dan kini dia sepertinya bersemangat lagi dengan adanya Ali." kata Aya lagi, dia memandang anaknya yang masih terlelap di pangkuan mertuanya.
Suster masuk ke ruangan Aya dan memeriksa keadaan Aya yang terlihat lebih kuat untuk beraktifitas sendiri.
"Nyonya sudah lebih baik,nanti sore sudah bisa pulang." kata suster itu setelah memeriksa tensi Aya.
"Oh ya, terima kasih suster."
Lalu suster kembali keluar dari dalam ruangan itu. Sedang Aya menghubungi suaminya kalau sore ini sudah bisa pulang.
"Pulangnya ke rumah lho sayang." kata nyonya Karina.
Aya mengerutkan dahinya, kerumah? pikir Aya.
"Ke rumah siapa ma?" tanya Aya penasaran.
" Ya ke rumah kalian dong sayang, Edward membeli rumah di dekat kantornya. Apa dia tidak bilang?" jawab nyonya Karina.
"Dulu sih bilang, tapi ku pikir nanti setelah pulang dari Indonesia menghadiri pernikahan Sania."
"Tidak sayang, kemarin dia sibuk sekali mengatur kepindahannya di rumah barunya."
"Ooh."
__ADS_1
"Mama bilang sama Edward, kalau nanti dia harus pulang juga ke Indonesia. Memang akan selamanya di sini. Kan keluarganya ada di Indonesia semua. Walaupun kakek buyutnya keturunan Inggris, tapi sekarang keluarganya ada di sana." kata nyonya Karina.
"Iya ma, aku sudah bilang begitu. Dia juga nanti akan berpikir ke sana. Membuka cabang di Indonesia." ujar Aya.
"Nah, bagus itu. Jadi nanti tidak harus ke Inggris lagi kalau mau nengok cucu."
Aya diam, dia sependapat dengan mertuanya itu. Namun memang tidak mudah untuk merubah sesuatu dalam waktu dekat. Biarlah dia menikmati semuanya di sini, selama ada Edward suaminya di sisinya. Di mana pun adanya, akan selalu bahagia.
_
Aya pulang ke rumah baru yang tiga hari lalu di beli oleh Edward. Memang sudah dari dulu Edward mencari rumah yang dekat dengan kantornya. Menunggu yang punya rumah menjualnya.
Sampai di halaman rumah, Aya terpaku. Rumahnya sangat asri dan terlihat sederhana dari luar, namun begitu masuk ke dalam. ternyata sangat elegan dan Aya langsung suka. Dia seperti menempati rumah orang Belanda jaman dulu, namun ini begitu laus ruang tamunya.
"Kamu suka sayang rumahnya?" tanya Edward pada istrinya.
Aya tersenyum, dia lalu memeluk pinggang suaminya dan menatapnya penuh cinta.
"Terima kasih ya bie, aku suka sekali rumahnya. Walaupun belum berkeliling di dalamnya." jawab Aya.
Mereka melangkah masuk di sambut oleh asisten rumah tangga baru yang akan membantu Aya mengerjakan pekerjaan rumah.
"Kamu mempekerjakan asisten rumah tangga bie?" tanya Aya yang tersenyun pada asisten itu.
"Iya sayang, aku tidak mau kamu terlalu lelah mengurus anak dan juga rumah besar ini sendirian." kata Edward.
"Mama kemana sayang?"
"Emm, mungkin karena cucu pertama jadinya senang sekali mama."
"Iya. Katanya lusa harus sudah pulang ya bie?"
"Iya, papa tidak mau di tinggal lama sama mama."
"Sama aja ya." cibir Aya,dia menatap suaminya.
"Iyalah sayang, laki-laki mana mau di tinggal lama oleh istrinya. Nanti tidak ada yang buat mainan di kasur."
"Ish, ke sana aja sih pikirannya."
"Hahaha, tahu tidak sayang. Kegiatan seperti itu vitamin buat laki-laki.l, juga ibadah paling menyenangkan sepanjang berumah tangga. Pahala paling besar karena bisa memberi semangat pada pasangan dan kebahagiaan lahir batin, tidak hanya kepuasan semata." kata Edward panjang lebar.
Aya semakin mengeratkan pelukannya. Dia tahu selama mengaji pada pamannya, suaminya itu mendengarkan dengan baik. Jadi dia tidak salah dan tidak menyesal menikah dengan Edward, karena dia juga mencintai suaminya itu.
"Terima kasih ya bie, aku makin cinta sama kamu." ucap Aya.
Edward membalikkan istrinya dan menatapnya lebih dalam. Sayang saja sekarang sedang masa nifas, kalau tidak sudah dia bawa ke kamarnya. Namun dia hanya bisa menciumnya saja.
Cup
__ADS_1
Satu ciuman mendarat di bibir Aya, Aya kaget. Dia melirik ke kanan dan ke kiri takut ada yang melihatnya.
"Cari siapa?"
"Aku takut ada yang melihatnya kamu cium aku di sini bie."
"Hahaha, kalaupun ada yang melihat mana berani mereka melarang kita. Di sini sudah lumrah pasangan suami istri ciuman di depan mereka."
"Tapi aku malu, bie."
"Ya sudah, ayo ke kamar."
"Ish, kamu lupa aku habis melahirkan?"
"Hei, sayang. Aku mau menunjukkan kamar kita."ucap Edward sambil tersenyum, dia gemas dengan tingkah istrinya itu
Dan tentu saja pipi Aya merona, dia malu pada suaminya. Hingga wajahnya dia sandarkan ke dada Edward menutup rasa malunya. Edward tertawa senang, lalu dia menuntun Aya untuk masuk ke sebuah kamar besar milik mereka berdua.
"Nah, ini kamar kita. Di sana ada boks bayi buat tidur Ali. Nanti di sebelahnya aku buat kamar khusus buat Ali, biar nanti setelah umur satu tahun tidur terpisah. Tapi pintunya ada dua."
Aya melangkah masuk lebih ke dalam. Dia meneliti semua sudut kamar itu. Lalu senyumnya mengembang, merasa puas. Edward mengerti akan kesukaannya.
Lalu dia mendekat lagi pada suaminya dan memeluk lagi dengan menghadap ke arahnya, dia kalungkan tangannya pada leher Edward. Satu kecupan dia berikan di bibir suaminya itu.
"Terima kasih bie, aku suka kamarnya."
"Hanya terima kasih saja?" tanya Edward menarik pinggang istrinya, alisnya dia naikkan satu.
"Emm, memang apa lagi yang kamu mau?"
"Banyak sayang. Aku ingin punya banyak anak, biar rumah kita ramai oleh celoteh anak-anak kita."
"Emm, itu sih masih lama. Ali aja masih berumur satu minggu."
"Ya, aku sabar menunggu sampai empat puluh hari ke depan."
Lalu keduanya memajukan wajahnya saling mendekat dan bercumbu mesra,memagut satu sama lain.
Sementara nyonya Karina yang sempat mau masuk ke kamar anaknya itu di urungkan karena melihat keduanya sedang bermesraan.
Nyonya Karina pergi dari balik pintu kamar Edward, kembali ke kamar tamu di mana itu tempat tidurnya selama di rumah Edward.
Rumah Edward ada empat kamar tidur, satu kamar utama dan tiga kamar tamu. Nanti setelah anaknya berumur satu tahun,satu kamar di sebelahnya akan di rombak untuk anaknya. Tinggal dua kamar untuk tamu, jika keluarganya datang dan menginap di rumahnya.
Dan kamar untuk asisten terpisah di belakang, menyambung dengan dapur. Karena rumah Edward dapur berada di ruang terbuka seperti teras rumah.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆☆