
Azan dzuhur sudah berkumandang,Edward bersiap-siap untuk pergi ke masjid pesantren sholat berjamaah di sana,karena sudah lama sekali dia tidak sholat berjamaah di sana.
Dia sudah memakai sarung dan peci ketika keluar dari dalam kamarnya.Dia melangkah dengan semangat,namun di ruang tamu Edrick menatapnya heran.
"Mau kemana?"tanya Edrick penasaran,karena Edward berpenampilan tidak biasanya.
"Mau sholat,menghadap Sang Pencipta."ucap Edward.
"Apa aku boleh ikut?"tanya Edrick ragu.
Edward diam,dia tidak percaya dengan ucapan Edrick itu.Tapi dia tersenyum lalu mengangguk.Edrick pun terlihat senang,dia kemudian berjalan beriringan dengan Edward pergi menuju masjid pesantren.
Sepanjang jalan orang-orang yang menuju ke arah pesantren dan sholat berjamaah,mereka selalu melirik Edward dan Edrick yang berbeda dari mereka.
Wajah bule dan indo bule dari keduanya mendapat perhatian dari warga sekitar.Ada yang menyapa Edrick dengan sedikit-sedikit berbahasa Inggris,Edrick menanggapi hanya dengan mengangguk dan tersenyum,kadang melambaikan tangan pada mereka.
Edward yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya geleng-geleng kepala,tapi dia membiarkan Edrick berinteraksi dengan warga sekitar.Toh memang tujuan dia ingin mengenal orang-orang di asli Indonesia.
"Orang-orang di sini pada ramah dan murah senyum ya."bisik Edrick pada Edward.
"Ya,itulah ciri khas orang Indonesia,selalu bersahabat dan menerima walau mereka tidak kenal.Apa lagi kalau terlihat berbeda dengan mereka sangat antusiaskan untuk mengajak bicara.Lihat saja cara mereka berusaha untuk berbicara dalam bahasa asing walau hanya ucapan how are you,what is your name.Tapi mereka sangat senang sekali."ucap Edward.
"Ya,kamu betul.Mereka sangat ramah walau tidak kenal siapa saya."ujar Edrick lagi.
Lalu keduanya telah sampai di depan masjid.Masih banyak orang-orang dan santri menyapa dan melihat Edrick dengan aneh.Karena sebelumnya Edward sudah sering melihat,jadi tidak terlalu aneh.Sedangkan Edrick yang berbeda sekali,tinggi putih juga rambut pirang serta mata biru.Sangat berbeda dengan warga sekitar.
Sehingga banyak menarik perhatian.Dan mau tak mau kyai Sobri yang melihat banyak kerumunan di depan masjid jadi ikut penasaran.
Kyai Sobri melangkah kedepan,dan para santri yang mengetahui kyai Sobri lewat ikut menyingkirkan untuk memberi jalan pada kyai Sobri.
Sampai di depan,dia terkejut.Ternyata ada Edward yang mendekatinya dan menyalaminya dengan takzim.
"Assalamu alaikum,kyai."sapa Edward sopan.
Kyai Sobri tersenyum dan merangkul Edrwad lalu mengajaknya masuk ke dalam masjid.
"Wa alaikum salam,ternyata yang membuat heboh di masjid kamu tho Ed.Dan dia temanmu?"tanya kyai Sobri.
"Iya kyai,dia datang dari Inggris dan ingin ikut denganku sholat berjamaah.Tapi dia tidak ikut sholat pak kyai."jawab Edward.
"Oh ya tidak apa-apa.Duduk saja di depan teras masjid.Nanti kalau selesai sholat boleh bisa masuk ke dalam."ucap kyai Sobri.
"Iya pak kyai,rencananya saya mau bicara dengan pak kyai sehabis sholat dzuhur."
"Ah ya,tidak apa-apa.Ayo silakan masuk shaf,kita siap sholat berjamaah."
Lalu Edward masuk lebih ke dalam merapatkan shafnya,namun sebelumnya dia memberitahu Edrick untuk menunggunya di teras masjid sementara dia sholat berjamaah.
_
__ADS_1
Selesai sholat berjamaah,Edward menyuruh Edrick untuk masuk ke dalam masjid sembari menunggu kyai Sobri selesai berzikir.
Edward banyak menjelaskan tentang pensantren juga cara beribadah umat Islam.Bukan apa-apa,Edward tahu Edrick itu sangat penasaran sekali mengenai tata cara beribadah orang Islam walau dia juga sering melihat Edward sholat ketika di kampus dulu.Tapi tidak seperti di negaranya,banyak sekali yang sholat tanpa harus bersembunyi.
Dulu Edward juga sholat di kampus itu kadang sembunyi-sembunyi,namun di Indonesia malah bebas dan merasa tenang.
Tapi setelah beberapa tahun terakhir di negaranya sholat itu sudah bisa di laksanakan dengan tenang karena ada beberapa masjid di dirikan di sana,walaupun kadang banyak yang mencibir atau mengucilkan.
Edward duduk tenang,namun hatinya sangat gelisah.Gelisah ketika hari ini tidak ketemu dengan Aya juga gelisah ingin menyampaikan maksudnya pada kyai Sobri.Dia juga khawatir kyai Sobri menolak pinangannya pada keponakannya.
Setelah lama menunggu,kyai Sobri akhirnya selesai juga berzikir.Kyai Sobri menghampiri Edward yang sedang duduk bersila dan menunduk.
Kyai Sobri duduk berhadapan dengan Edward dan menyalami Edrick yang juga tampak bingung.
"Terima kasih atas sumbangannya nak Edward,kami sangat terbantu dengan adanya sambungan telekomunikasi.Semua menjadi mudah untuk menghubungi saudara yang jauh."ucap kyai Sobri.
"Iya pak kyai,sama-sama.Saya juga merasa senang jika di sini sudah ada internet dan sambungan telepon."
"Dan juga terima kasih banyak sumbangan untuk pesantrennya,walau bukan papa nak Edward yang datang tapi kami di sini sangat berterima kasih."
"Saya juga mau sedikit menyumbang pak kyai,terserah mau di gunakan untuk apa."ucap Edward sambil menyerahkan sebuah amplop berisi cek.
Kyai Sobri menerima amplop itu.
"Terima kasih nak Edward.Ya Allah sungguh saya tidak menyangka kalau nak Edward itu orang yang sukses dan bukan orang sembarangan.Namun demikian saya memberikan ilmu bukan untuk mendapatkan imbalan.Sekali lagi terima kasih,semoga sumbangannya bermanfaat buat pesantren."
Lalu Edward dan kyai Sobri berbincang mengenai dirinya yang menyamar menjadi santri dan ingin belajar agama.Dia sebenarnya mencari kakaknya yang akhirnya dulu keponakan kyai Sobri di culik karena dirinya.
"Saya tidak menyangka pak Imron itu seperti itu.Dia di sini sangat ramah dan sopan,baik pada semua orang dan jamaah di sini.Ternyata kehidupan di luar sana lebih buruk.Tapi ya begitu,jika mendapatkan harta dengan jalan yang salah jadinya akan jadi buruk akhlaknya.Jangan tidak percaya itu,karena mendapatkan harta dengan tidak baik,maka masuk ke dalam tubuh akan jadi darah dan menempel jadi daging.Naudzubillah min dzalik ya,jangan sampai anak cucu kita makan dari hasil yang tidak baik."ucap kyai Sobri panjang lebar.
Sedangkan Edward hanya mengangguk,Edrick hanya memperhatikan saja karena dia tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh kyai Sobri.
Lama keduanya diam,agak ragu Edward ingin manyampaikan niatnya melamar Aya secara langusng.
"Mm..,pak kyai apa boleh saya bertanya dan meminta?"tanya Edward ragu.
Kyai Sobri mengernyitkan dahi,heran dengan pertanyaan Edward.
"Silakan nak Edward,apa yang ingin kamu tanyakan dan kamu minta dariku?"
"Mm..,begini pak kyai.Sejak saya di sini,saya kenal keponakan pak kyai dan saya merasa dia adalah gadis yang baik.Apa boleh saya meminta keponakan pak kyai untuk saya jadikan istri?"tanya Edward pelan dan deg degan.
Kyai Sobri diam,dia menatap Edward dalam.Sejujurnya dia juga ingin Aya segera menikah dengan pilihannya sendiri,karena dia tidak pernah memaksakan jodoh untuk keponakannya dengan siapapun.
Seperti Salma,mendapat jodoh Bayu.Tapi karena meraka saling suka,walau pernah putus hubungan tapi akhirnya menikah juga,maka sama halnya Aya.
Tapi kyai Sobri akhirnya berpikir,lebih baik Edward agar secepatnya menikahi Aya.Karena dia tahu dari Bayu akhir-akhir ini Aya juga jadi sangat pendiam,sejak Edward pulang ke kota.Dia lebih banyak bekerja di sawah di banding berangkat mengajar di pesantren.
Mungkin kegelisahan Aya akan Edward yang tidak juga datang ke kampung,hanya ada asistennya saja yang sedang mengurusi proyek.
__ADS_1
"Baiklah,saya tidak perlu lagi menunggu jawaban dari keponakanku.Saya terima lamaran kamu,secepatnya kamu bawa keluargamu melamar secara resmi.Tapi maaf nak Edward,Aya itu orang sederhana,dan orang biasa.Bukan perempuan kaya dan modis seperti orang kota.Jika seandainya kamu menikahinya,apa kamu menjamin akan menjaganya?"tanya kyai Sobri.
Edward terkejut,tentu saja perkataan kyai Sobri membuatnya behagia.
"Saya janji akan menjaganya pak kyai dengan segenap hatiku.Keluargaku juga sudah kuceritakan kalau saya menyukai gadis sederhana,tapi mereka setuju dengan pilihan saya.
Rencananya bulan depan keluagaku melamar resmi.Dan bulan depan saya langsung menikahi Aya."
Kenapa menunggu bulan depan?"
"Karena minggu depan saya harus berangkat ke Inggris mengurus pekerjaan saya di sana pak kyai."
"Begitu ya.Bagaimana kalau besok saja menikahnya?"
Deg
Edward tambah bingung,kenapa jadi di percepat?
"Apa tidak terlalu cepat pak kyai?"
"Tidak,karena saya takut sebelum bulan depan ada hal yang kita tidak tahu.Saya ingin keponakan saya sudah di ikat terlebih dahulu walau menikah secara agama.Bisa nanti di daftarkan ke kantor urusan agama setelah menikah.Bagaimana?"
"Bisa pak kyai,tapi tadi pagi saya ke rumah Aya tidak ada orang di sana.Rumahnya sepi."
"Oh,dia ikut dengan Bayu dan Salma mengunjungi ibunya yang pergi bekerja di kota.Memang semenjak Salma gagal menikah waktu itu,ibunya pergi bekerja di kota.Ya mungkin menjemputnya untuk pulang ke kampung."
"Lalu,jika besok belum bisa pulang apa bisa di laksanan pernikahannya?"
"Bisa,kan yang penting ada walinya.Dan walinya itu saya,jadi tidak masalah.Jika besok sore belum pulang,malam hari bisa di laksanakan pernikahan.Kalau bisa,keluargamu juga datang."
"Jika kakakku saja yang datang bagaimana?"
"Tidak masalah,asal kedua orang tuamu tahu dan merestuinya.Mempelai laki-laki sebenarnya tidak membutuhkan wali,tapi perempuan itu harus ada wali.Sebenarnya sah,jika di laksanakan malam ini juga.Namun harus punya etika,kedua orangtua ada maka hadirkan saja,atau saudaranya.Biar nanti tidak timbul fitnah nantinya."ucap kyai Sobri.
"Kalau begitu,saya pilih menunggu Aya ada di sini dan juga kedua orangtua saya hadir pak kyai."ucap Edward,setidaknya dia bisa tahu jawaban Aya jika dia melamarnya.
Pasti akan terkejut,senyum Edward sedikit mengembang.
Dan akhirnya pembicaraan itu selesai pas waktu azan magrib tiba.Edward dan kyai Sobri bersiap untuk sholat magrib berjamaah.Sedangkan Edrick masih takjub dengan suasana masjid dan pesantren.Dia banyak belajar jika dari beberapa interaksi dengan santri di pondok.
_
_
_
☆☆☆☆☆
\=> jangan bosan dengan dukungannya..😉😊✌🙏🙏
__ADS_1