
Jam sepuluh pagi,Edward bersiap pergi ke hotel di mana Edrick menginap.Dia mengenakan kaos oblong dan celana jeans hitam dan di padu dengan jaket kulit.Merapikan kembali penampilannya dan bersiap pergi ke hotel.
Tak lama pintu di buka,terlihat wajah adiknya yang berharap Edward mengajaknya pergi.Edward melihat adiknya dari balik cermin,lalu dia tersenyum miring.
Sania melangkah mendekati kakaknya yang sedang merapikan jaketnya kemudian menyemprotkan parfum ke leher dan tangannya.Sania melihat apa yang di lakukan kakaknya itu dengan wajah masam.
Edward melirik sebentar,lalu dia melangkah menjauhi adiknya mengambil sepatu ketsnya.
Masih dengan muka masam,kembali Sania mengikuti Edward yang duduk di tepi ranjang.
"Kamu kenapa?"tanya Edward pura-pura tidak mengerti akan tingkah adiknya itu.
"Kak.."dengan nada manja.
Edward menatap adiknya dan menghela nafas panjang.
"Kakak mau membicarakan pekerjaan yang kakak tinggal.Kamu bilang pada mama kalau kakak terlalu lama meninggalkan perusahaan,jadi kakak ingin dengar laporan dari Edrick tanpa ada gangguan.Kamu memgerti?"
Sania menunduk,dia sebenarnya tahu tapi dia juga pengen bertemu Edrick.Karena sejak kepulangannya bersama Edrick,dia tidak pernah bertemu lagi dengannya.Dan Edrick tidak pernah menghubunginya,entahlah.
"Nanti kakak tanyakan sama dia,bila perlu kakak akan kirim salam buat dia dari kamu."ucap Edward menghibur adiknya itu.
Masih diam menunduk,belum mau menanggapi kakaknya.
"Ck,kamu kaya anak kecil saja.Aya ngga pernah seperti kamu yang tingkahnya merajuk seperti anak kecil."ucap Edward tanpa sadar
Sania mendongak,dia seperti mendengar kalimat yang janggal dari mulut kakaknya itu.
"Aya?Aya siapa?"kini Sania lebih penasaran ucapan kakaknya itu.
"Calon istrilah."ujar Edward santai.
Dia melenggang keluar dari kamarnya,meninggalkan adiknya yang penasaran dengan kalimatnya tadi.Sania mengejar kakaknya yang pergi meninggalkannya begitu saja.
Dia menarik lengan kakaknya setelah sampai mensejajari Edward.
"Kak,jelaskan.Siapa Aya?"tanya Sania.mendorong Edward agar berhenti berjalan.
"Kamu kenapa sih?"ucap Edward kesal dengan sikap adiknya yang mudah sekali berubah pikirannya.
"Ya aku pengen tahu,Aya itu siapa?Orang mana?"
"Penasaran banget sih,sudah nanti kakak terlambat lagi ketemu Edrick."
"Kalau ngga di jelaskan,aku ikut ke hotelnya."kini Sania mengancam Edward.
"Jangan seperti anak kecil,Sania."kini Edward kesal dengan adiknya itu.
Tiba-tiba dari arah dapur nyonya Karina menghampiri kedua anaknya yang sedang bertengkar.
"Ada apa sih kalian ribut,seperti anak kecil saja."ucap nyonya Karina.
"Tahu tuh,anak manja mama.Aku mau ketemu Edrick dia malah merajuk."ucap Edward melirik adiknya yang cemberut.
Nyonya Karina menatap Sania.
"Kamu jangan begitu,anak SMP saja ngga seperti itu."
"Aku penasaran ma,kak Edward sudah punya calon istri,namanya Aya.Aku tanya Aya itu siapa?"
"Oh,namanya Aya?"tanya nyonya Karina memandang anak keduanya itu.
"Ehm.."hanya seperti itu tanggapan Edward.
Dia melangkah pergi meinggalkan adik dan mamanya itu.
"Aku pergi dulu ma,assalamu alaikum."ucap Edward berpamitan.
"Wa alaikum salam"jawab keduanya.
__ADS_1
"Ma,mama tahu kak Edward sudah punya pacar?"tanya Sania.
"Ya,kakakmu pernah bilang dulu sama mama."jawab nyonya Karina sambil berjalan menuju dapur kembali.
Sania mengikuti mamanya dari belakang,dia penasaran dengan cerita mamanya.
"Mama pernah ketemu orang yang bernama Aya itu,calon istrinya kak Edward?"
"Belum,tapi katanya sih dia dari pesantren.Waktu kakakmu pergi ke pondok,ternyata dia kecantol sama gadis pondok pesantren."ucap nyonya Karina.
"Ah yang benar ma?Kak Edward suka gadis pesantren?"ucap Sania tidak percaya.
"Iya,katanya dia gadis pesantren dan gadis biasa saja,gadis sederhana.Tapi ya,mama sih terserah kakakmu saja."
"Wah,kemajuan kak Edward.Sekali suka gadis yang dari pesantren.Aku pikir kak Edward itu pemilih,pengen gadis yang smart juga lincah ternyata dia cinta lokasi."ucap Sania sumringah.
Dia tidak sabar mau meledek kakaknya itu,tapi dia juga penasaran dengan kakak sulungnya.Siapa yang di sukainya,jangan sampai di salip oleh kakak keduanya.
"Kamu kenapa senyum-senyum seperti itu?"tanya nyonya Karina melihat anaknya yang tersenyum sambil melamun.
"Ngga ma,ngga apa-apa."
Lalu Sania pergi dari dapur,dia akan pergi jalan-jalan bersama temannya yang sudah janjian tadi malam,sebelum dia marajuk pada kakaknya untuk pergi ke hotel menemui Edrick.
_
Edward sampai di hotel di mana Edrick menginap selama di negara ini.Dia memasuki restoran di hotel itu karena mereka janjian di sana.
Tampak Edward mengambil ponselnya untuk menghubungi Edrick kalau dirinya sudah sampai di restoran hotel.
Setelah memberitahu Edrick melalui telepon,Edward mencari tempat duduk yang nyaman.
Beberapa detik kemudian,Edrick datang menghampiri Edward yang sedang asyik bermain ponsel.
"Hai,bro apa kabar?"tanya Edrick sembari mengulurkan tangannya bersalaman dan berpelukan.
"Iya,aku baik.Ayo duduk."ucap Edward.
"Ada salam dari Sania."ucap Edward membuka percakapan.
Edrick tersenyum,kemudian dia mengangguk.Dia lalu mengambil semua laporan yang di buat sejak tiba di hotel.Dia sengaja tidak pergi kemana-mana karena sibuk membuat laporan.
"Maafkan aku membuatmu sibuk sekali."ucap Edward pada Edrick.
"Tidak masalah,karena hal ini aku di bayar lebih besar.Hahaha.."ucap Edrick.
Mau tak mau Edward ikut tertawa lepas.Dia memang sangat percaya pada sahabatnya ini,karena kejujuran dan ketegasannya dalam bekerja.Edward dan Edrick mulai bersahabat sejak masuk kuliah dengan jurusan yang sama.
Dan hingga sekarang persahabatan itu tetap terjalin.
"Ngomong-ngomong,Emil tidak ikut denganmu?"tanya Edrick ketika dia menyerahkan berkas di tangannya.
"Emil sedang mengerjakan tugas lain,dia harus menyelesaikan proyek di kampung."jawab Edward sambil memeriksa lembaran berkas yang tadi di serahkan Edrick.
"Mm,dia sangat sibuk sekali di banding bigbosnya."ucap Edrick menyindir Edward.
Edward tersenyum dengan ucapan sahabatnya itu.Dia masih memeriksa semua lembaran berkas itu.
"Oya,kamu ingat Nathalie?"tanya Edrick.
Edward menghentikan kegiatannya,dia menatap Edrick dengan seksama.
"Kenapa dengan Nathalie?"tanya Edward pura-pura tidak mengerti.
"Hahaha,kamu jangan pura-pura tidak tahu.Dia itu suka sama kamu,Ed."ujar Edrick.
"Tapi aku sudah punya calon istri."ucap Edward dengan santai
Terang saja Edrick kaget,alisnya terangkat keatas tidak percaya.
__ADS_1
"Wah,sayang sekali.Nathalie pasti sangat kecewa."
"Aku sudah katakan sebelum pulang ke Indonesia kalau aku tidak pernah suka dengan Nathalie."
"Ya,aku menghargai keputusanmu.Lagi pula aku juga kurang suka dengan sikap Nathalie,tapi dia juga adalah temanku."
"Kamu katakan saja kalau dia bertanya lagi,aku sudah punya istri.Beres perkara."
"Aku tidak yakin dengan tanggapan Nathalie,tapi dia juga sangat takut dengan asistenmu itu.Hahaha.."
"Baiklah,biar nanti urusan Emil jika Nathalie masih sering menggodaku.Terus terang aku tidak suka dengan gadis yang terlalu agresif juga pemaksa.Walau dia temanmu,bukan berarti dia akan jadi kekasihku."
"Sangat beruntumg gadis yang kamu cintai itu,karena aku tahu kamu baru jatuh cinta pada seorang perempuan.Mungkin gadis itu sangat cantik dan seksi."
"Kamu akan terkejut dengan gadis pilihanku.Tapi ya,menurutku dia sangat cantik dan manis.Dan aku belum tahu apakah dia seksi atau tidak."
"Oya,kamu belum tahu dia seksi?Ya ya,gadis Indonesia itu memang sangat manis dan eksotis."
"Dia gadis sederhana,dan keluarganya juga bukan dari kalangan orang terpandang.Tapi aku kagum dengan kekuatan spiritualnya."
"Apakah dia sangat religius?"
"Tentu,sangat religius.Dan aku suka dengan gadis yang sangat religius."
"Mm..menarik,aku juga pengen mengenalnya.Siapa tahu dia juga tertarik padaku."ucap Edrick mencoba memancing Edward.
Dan tentu saja,dia mendapatkan pelototan tajam dari sahabatnya.Kemudian Edrick tertawa senang,ternyata benar Edward adalah tipe laki-laki yang sangat posesif.
"Ya ya baiklah,aku tidak akan merebutnya darimu.Tapi,bagaimana dengan Sania?"
Edward kembali menatap Edrick,tapi kali ini tatapan itu penuh curiga.
"Apa kamu suka adikku?"tanya Edward langsung menebaknya.
"Mm,aku mau pendekatan dulu,tapi dia juga sangat lucu dan cantik."
"Edrick,apa kamu menjaga adikku selama dia di sana?"
"Hei,apa kamu curiga aku telah merusak adikmu?"
"Aku takut kamu laki-laki brengsek.Dan jika itu terjadi maka,aku akan membuangmu di hutan Amazon."ancam Edward.
Edrick tertawa lepas,dia sangat lucu dengan ucapan Edward.Namun demikian dia punya komitmen kuat untuk mendapatkan seorang gadis yang dia suka.
"Aku selalu menjaga dia selama di sana.Kamu harus berterima kasih padaku."
"Ya baiklah,nanti malam aku undang kamu makan malam dengan keluargaku sebagai ucapan terima kasih."
"Benarkah?Aku sangat tersanjung dan tidak akan menyia-nyiakan tawaran ini.Lagi pula,aku ingin mengenal keluargamu.Terutama ibumu."ucap Edrick senang.
"Ya,datanglah sebelum pukul tujuh malam.Aku akan menghubungi semua keluargaku."
Setelah berucap seperti itu,Edward mengambil ponselnya dan menghubungi mamanya ,setelah itu mengjhubungi kakaknya dan juga papanya.
"Oke,karena ini sudah siang kita pesan makanan saja.Aku sangat lapar,tadi pagi aku tidak sarapan.
"Oke."
Lalu Edrick kembali menanyakan perkembangan perusahaannya di Inggris.Edward mengangguk-angguk kepalanya kalau laporannya sangat bagus dan tepat.
"Oke,thanks ya bro."
Setelah selesai,mereka mengobrol banyak tentang apa saja,hingga waktu istirahat dan makan siang sudah memasuki.Dan mereka memesan makanan .
_
_
_
__ADS_1
☆☆☆☆☆
\=>.jangan lupa like and komen...😉😊👍