
Edward masuk ke dalam bar,dia di sambut oleh perempuan-perempuan yang berpakaian seksi dan menonjolkan bagian dadanya.Dia hanya melambaikan tangan saja ketika para perempuan itu mendekatinya.
Mata Edward berkeliling mencari seseorang,satu laki-laki menghampirinya dan berbisik padanya.Lalu Edward mengikuti kemana laki-laki itu melangkah.
Edward mengikuti dari belakang,dia masuk di sebuah ruangan tertutup dan sepertinya menuju lorong agak panjang.Sampai di sebuah ruangan yang terdengar riuh rendah oleh teriakan para pemain judi juga lantunan lagu disko.Dia masuk bersama laki-laki itu yang ternyata dia adalah pengawal yang di tugaskan untuk menjaga pak Imron agar tidak kabur dari tempat bar ini.
Edward melihat banyak sekali penggemar judi,dia melangkah pelan lalu duduk di sebuah kursi yang agak gelap tempatnya.
Matanya berkeliling di setiap sudut,mencari di mana pak Imron berada.Dan bola matanya terhenti di salah satu kerumunan orang yang sedang bermain kartu.
Dia memperhatikan laki-laki yang sudah paruh baya sedang memainkan kartu di tangan kanannya dan tangan satunya memeluk perempuan penghibur.Mungkin itu perempuan yang di bayar oleh pengawalnya.Tubuhnya agak bergoyang,rupanya pak Imron sudah mabuk.Namun kesadarannya masih ada.
Edward akan menunggu beberapa menit atau satu jam lebih,dia ingin memastikan pak Imron benar-benar tidak sadar.Dia akan membawanya secara sadar karena dia tidak mau membuat keributan di bar ini.
Satu perempuan mendekatinya,menawarkan minuman.Namun Edward menolaknya,dia masih setia menunggu pak Imron.
Tapi sampai satu jam,pak Imron belum juga tumbang.Tangguh juga dia,pikir Edward.
Mungkin dia sudah biasa mabuk jadi lama untuk benar-benar tidak sadar.
Edward makin tidak betah di dalam,dia mulai kesal.Kenapa pengawalnya memberitahunya sekarang.Edward mendengus kesal,dia hendak pergi dari tempat itu,namun matanya memandang pak Imron sudah terkulai di meja judi.
Semua yang melihat pak Imron sudah tak sadarkan diri malah tertawa mengejek.Satu orang ingin mengambil uang yang hampir terjatuh namun pak Imron menepisnya.
Kembali semua lawan main judi pak Imron tertawa,melihat tingkah pak Imron yang masih saja melindungi uangnya dari tangan teman-temannya yang hendak mengambilnya.
"Si tua itu masih saja bertahan kalau urusan duit,hahaha..."ucap salah satu teman di sebelahnya.
Yang lain ikut tertawa.Edward memperhatikan pak Imron yang masih tergeletak di meja.Dia memberi kode pada pengawalnya untuk memastikan bahwa pak Imron benar-benar tidak sadar.
Baru beberapa menit kemudian,pak Imron sudah tidak berkutik.Edward melangkah maju mendekati pak Imron hendak membawanya,namun satu temannya menarik tangan Edward dengan kasar.
"Siapa kamu?"tanyanya dengan tatapan tajam.
"Saya keponakannya,saya ingin membawa paman saya pulang!Anda mau apa?"ucap Edward tidak kalah tajam tatapannya.
Laki-laki itu diam,dia melepas cengkraman tangannya pada Edward sambil memperhatikan penampilan Edward yang tidak seperti keponakan pak Imron.
"Saya tidak yakin denganmu,kamu berbeda dengannya."ucap laki-laki itu masih tidak percaya dengan ucapan Edward yang kembali memegang tangannya.
"Benar,karena saya keponakan istrinya.Jadi wajar dia beda denganku.Sekarang,lepaskan tanganmu dari tanganku."ucap Edward tegas penuh intimidasi.
Laki-laki itu kemudian melepasnya,dia masih menatap Edward dengan tajam.Kemudian beralih pada laki-laki di belakang Edward.
Sempat dia curiga dengan Edward,jangan-jangan dia adalah intel polisi yang sedang menyamar.
Kemudian tanpa di duga,laki-laki itu tiba-tiba memukul pundak Edward.Edward terhuyung ke depan,dia menoleh ke arah laki-laki yang sempat berdebat dengannya.
__ADS_1
Kali ini Edward tidak akan membuang waktu,dia serahkan pak Imron yang masih tidak sadarkan diri pada pengawalnya.Sebelum pak Imron sadar,dia harus membereskan laki-laki yang tadi memukulnya.
Edward masih diam,dia tidak ingin meladeni dengan kekerasan terlebih dahulu,namun laki-laki tersebut kembali menyerangnya namun Edward lebih siaga.
Dengan secepat kilat Edward menendang perutnya dengan keras lalu dua pukulan dia layangkan ke wajahnya,karena dia tidak mau lama-lama bermain.
Tatapan Edward mengarah langsung ke wajah laki-laki itu yang tersungkur.
"Cukup sampai di sini main-main denganmu,pamanku harus aku bangunkan agar istrinya tidak marah.Jika kamu masih penasaran denganku,cari aku di kompleks jendral di tengah kota ini.Kalau nyalimu berani menghampiriku."ucap Edward mengintimidasi.
Walau kalimat asalnya dia lontarkan dengan tajam dan menusuk,laki-laki yang menyerangnya menjadi takut.
Dia membuang ludah karena mulutnya berdarah,lalu berdiri dan masih menatap Edward tajam penuh amarah.Namun dia tidak memukul kembali.
Edward menyusul pengawalnya yang membawa pak Imron ke dalam mobilnya.Dia harus cepat menyekap laki-laki tua itu sebelum dia membuat onar di dalam mobil karena mabuknya.
_
Edward kembali ke mobilnya,dia meilhat pemgawalnya sudah menyumpal mulut pak Imron denga lakban hitam dan tanganny sudah di ikat dengan tali.
Walaupun belum sadarkan diri dari mabuknya,Edward tetap waspada agar pak Imron tidak kabur.
Setelah semua sudah selesai,Edward menyuruh pengawalnya untuk segera pergi dari tempat itu.Dia ingin cepat sampai di rumah yang sekarang jadi markasnya.
Satu jam perjalanan akhirnya sampai di rumah itu.Bergegas Edward turun dan membawa pak Imron dengan pengawalnya,dia di papah lalu masuk ke dalam rumah itu segera karena dia takut ada orang melihatnya dan mencurigainya.
Sampai kapanpun Edward akan terus menginterogasi pak Imron sebagai saksi kunci atas keterlibatan saudara sepupunya juga pamannya dalam penculikkan kakaknya dan papanya.
Maka dari itu dia harus segera mengungkap semua kekacauan yang di perbuat oleh paman dan sepupunya itu.Dia masih bernafas lega karena Emil ada di desa itu,sembari mengawasi proyek jufa menjaga Aya di sana.
Dia ingat,pak Imron ini bekerja berdasarkan uang,jadi bisa di manfaatkan untuk mendekat pada Reynald.
Tapi dia bilang sepupunya itu mengingkari janjinya ketika akan memberi uang pada pak Imron karena mau menyekap dan menyembunyikan kakaknya di hutan jati.
Ya,Edward akan memaksa pa Imron untuk mendekat pada Reynald kembali agar bisa memuluskan rencananya.
Pak Imron kini sudah ada di kamar yang memang khusus di buat untuk menyekap dan mengintrogasinya.Di ruangan itu di buat gelap dengan kesan seram,namun bukan itu yang di cari.Informasi yang penting tentang semuanya.
Pak Imron di dudukkan di kursi dengan tangan di ikat dan mulut masih di lakban menghadap satu tembok putih.
Edward masih menunggu di luar kamar,belum ada tanda pak Imron sadar dengan mabuknya.
"Apa kita siram saja tuan muda dengan air dingin?"usul pengawalnya.
Edward diam,memang benar.Jika menunggu pak Imron akan menunggu pagi datang,sehingga takutnya akan ada keributan dan memancing warga curiga tempatnya itu.
"Baiklah,siram dia."perintah Edward.
__ADS_1
Lalu pengawal satu mengambil air di ember untuk menyiram pak Imron yang madih belum sadar.Setelah air sudah di siapkan,Edward masuk kamar itu dan menunggu di depan pak Imron sambil duduk menyilangkan kaki di kursi.
Menatap tajam wajah pak Imron yang masih terpejam.Sedangkan pengawal satunya menyiapkan air yang tadi di ambil di ember.Siap untuk di guyurkan di muka pak Imron.
Namun tiba-tiba tubuh pak Imron bergerak perlahan.Semakin lama semakin kencang karena geraknya tertahan oleh ikatan yang kencang.Matanya perlahan terbuka,dia mengatupkan kedua kelopak matanya lalu menatap ke depan.Satu orang sedang duduk sinis sedang memandangnya dan satu lagi di samping laki-laki yang duduk sedang memegang ember di tangannya.
Kini mata pak Imron terbuka sempurna,dia melihat ke depan dan tangannya di gerakkan.Tatapannya tajam ke arah Edward yang tersenyum sinis.
"Halo pak Imron?Apa kabar?"ucap Edward yang masih senyum miring itu.
Mulut pak Imron seperti mengumpat keras,namun dia tidak bisa berucap karena mulutnya masih di tutup lakban.
"Apakah uang satu miliar dariku sudah habis?"tanya Edward mengejek.
Tatapan tajam pak Imron seolah ingin menghujam ke arah Edward.
"Kalau anda ingin uang lagi,saya akan berikan.Berapa yang pak Imron mau?"ucap Edward lagi.
Pak Imron terdiam,dia mencerna apa yang di ucapkan Edward itu.Sungguh,dia bukan laki-laki bodoh seperti anak buahnya.Kemudian di tarik ujung kedua matanya dan juga bibirnya,senyumnya mengembang.Ingin sekali dia meludah namun mulutnya masih di tutup rapat.
Edward tahu tatapan sinis dan senyum itu,dia merasa pak Imron mengejeknya.Tapi dia diam saja.
Tapi seolah tahu,pak Imron ingin mengumpatnya.Edward menyuruh pengawalnya untuk membuka penutup mulutnya agar pak Imron berbicara bebas.
Setelah terlepas,pak Imron meludah ke samping.Kembali dia menatap Edward dengan tatapan yang tidak bisa di rubah,tetap sinis.
"Apa yang anda inginkan tuan muda? Bukankah gadismu sudah kamu selamatkan?"tanya pak Imron mengejek lagi.
"Iya benar.Tapi aku ingin informasi darimu laki-laki tua tak beradab!"
"Hahaha....,banyak sekali laki-laki sepertiku yang lebih tidak beradab tuan muda."kali ini pak Imron secara tidak langsung masuk ke perangkap Edward.
"Oya ya?Mungkin seperti preman di pasar?atau tukang palak di jalanan sepi.Tapi mereka terlalu remeh untuk jadi orang tidak beradab,tidak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan."
"Ya tentu saja,tapi yang lebih besar dan tidak beradab itu adalah saudaramu!"teriak pak Imron.
"Aku tahu kamu lebih tidak beradab karena kamu telah membunuh orangtua Aya.Tetangga yang kejam juga suami yang tidak punya hati."
"Tutup mulutmu!"teriak pak Imron.
Dia sangat marah sekali mendengar kata suami yang artinya menyinggung istrinya.
_
_
_
__ADS_1
☆☆☆☆☆
\=> 😉😊✌🙏🙏