Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
39.Mengatur Rencana


__ADS_3

Edward masih di kamarnya setelah dia mengintrogasi pak Imron yang cukup sulit.Tidak mudah mengorek informasi pada laki-laki tua itu.


Baiklah,dia akan menunggu,dan menyusun rencana baru.Menunggu Emil datang memang tepat.Petang ini mungkin Emil datang.


Tak ada yang di lakukan Edward selain menunggu Emil,dia memang butuh bantuan juga ingin mengetahui kabar Aya.


Satu bungkus nasi dan lauk ayam kecap pesanannya sudah ada di meja,belum dia sentuh.Edward masih memainkan ponselnya,dia melihat perkembangan perusahaannya yang di Inggris di kelola oleh Sania adiknya juga sahabatnya Edrick.Cukup baik ternyata,dia melihat di website perusahaannya.


Bagaimanakah kabar di sana?


Kemudian Edward menghubungi adiknya,Sania.


"Halo kak Edward"sambungan langsung terhubung.


"Assalamu alaikum,Sania?"ucap Edward meralat sapaan adiknya.


"Wa alaikum salam,kak.Kakak kenapa baru bisa menghubungiku?"suara rajukan adiknya yang manja itu.


"Maaf,kakak baru bisa menghubungi kamu.Kakak sibuk,bagaimana kabarmu di sana?"tanya Edward.


"Alhamdulillah aku baik kak,di sini sangat menyenangkan apalagi kerja selalu di temani Edrick."ucap Sania dengan nada riang.


"Bagus kalau begitu.Bagaimana perusahaan di sana?Kakak belum bertanya langsung pada Edrick."


"Aku sedang belajar kak,kalau mengenai perkembangan perusahaan kakak tanya langsung sama Edrick secara rinciannya."kata Sania.


"Oke,nanti kakak telepon dia.Kamu sedang apa?"tanya Edward.


"Mau makan malam."


"Makan malam?Bukankah ini sudah pagi?"tanya Edward yang membuat adiknya tertawa di balik telepon itu.


"Hei,kakakku sayang.Perbedaan waktu di Inggris dan di Indonesia itu sangat jauh.Jadi kakakku sayang,sadarlah anda ada di Indonesia dan adikmu ini ada di Inggris.Hahaha...."tawa Sania makin kencang.


Edward berdecak kesal,dia lupa kalau Sania ada di Inggris,bukan di rumah mamanya.


"Ya sudah,kakak tutup teleponnya.Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Kemudian Edward meletakkan ponselnya,dia kembali menerawang jauh di pondok pesantren.Masih dengan hatinya yang sudah terpatri di pondok pesantren itu,lebih tepatnya pada gadis pengajar santri di sana.


"Aku hanya tahu nama panggilannya itu Aya.Nama lengkapnya siapa ya?"gumam Edward pelan.


Kemudian dia mengambil nasi dan lauk ayam kecap yang dia pesan tadi pagi pada pengawalnya,lalu menyantapnya.Sedetik setelah dia menyantap makanan itu,dia meresapi rasanya.Agak asin,dan tidak seperti buatan Aya.Tapi dia tetap memakannya dengan lahap,karena perutnya sudah berbunyi sejak tadi.


_


Memang benar,semua orang yang jatuh cinta akan merasa tidak waras,dan akan berbuat di buat nalar.Kadang otak tidak bekerja jika cinta sudah menghantui.


Seperti halnya Edward,sebenarnya bisa saja dia sejak di temukannya dan penyanderaan pak Imron olehnya dia sudah bertindak cepat tanpa membuang waktu.Karena memang dia seperti itu,bekerja cepat dan tepat sejak dia tinggal di Inggris.


Namun rupanya sedikit melambat dan terlalu banyak bermain-main dengan keadaan sehingga orang yang seperti pak Imron memanfaatkan situasi Edward yang sedang terganggu otaknya oleh perasaan cinta.


Edward lebih banyak mengulur waktu,padahal dia menginginkan secepatnya masalahnya selesai.Tapi entah kenapa kerja otaknya jadi melambat?


Ini tidak bisa di biarkan.Emil harus bertindak cepat,dia akan kerepotan terus.Memang itu adalah pekerjaannya,membantu tuan mudanya tapi jika mengenai hati akan susah dan merepotkan.

__ADS_1


Apakah harus ada rencana khusus untuk Edward majikannya?Mungkin harus seperti itu,jika saatnya tiba dia akan bahagia.


Rencana Emil menemui Edward adalah ingin menyampaikan maksud dari semua rencananya.Kemudian dia akan meminta sumpah pada Edward.


Seperti pertukaran rencana,namun menurut Emil semua akan kembali seperti dulu.


Dua jam Emil di perjalanan,akhirnya dia sampai di temapt di mana Edward dan para pengawal menunggunya.Sebelum dia berangkat ke kota,Emil mencari informasi dulu tentang pak Imron dan sepak terjangnya untuk melemahkan pak Imron.Agar dia tidak bertingkah lebih jauh yang membuat tuan mudanya kewalahan dan akhirnya menyerah dengan keinginan laki-laki tua itu.


Dan informasi mengejutkan yang dia dapat,dia mempunyai seorang istri baru yang sangat dia cintai.Ya,Emil akan menggunakan istri pak Imron untuk membuka mulutnya.Rencana apa lagi yang dia tahu dengan saudara sepupu majikannya.


Ini memang menarik,pak Imron punya istri di kota itu juga.Sudah hampir dua tahun,dan itu tidak di ketahui oleh siapapun.Kecuali dirinya,Emil tersenyum miring dengan segala rencana di otaknya.


Istrinya tidak tahu kalau pak Imron itu suka judi dan mabuk,dia pandai sekali berbohong pada istrinya.Pulang ketika seminggu sekali,dalam keadaan biasa saja.


"Ah,tuan muda.Kamu terlalu memikirkan gadis itu sehingga otakmu bekerja dengan lambat."gumam Emil.


Dia masih melajukan mobilnya,petang baru dia sampai di tempat yang sudah di kirim alamatnya oleh Edward.


Banyak yang melihat aneh di rumah itu,ada dua mobil mewah terparkir di sana di tambah mobil Emil.Dan hanya laki-laki yang tinggal di situ,tujuh orang.


Emil keluar dari mobilnya,dia menutup pintu mobil setelah melihat situasi tempat itu terasa sepi.Sangat pandai anak buahnya mencari tempat untuk bersembunyi,sepi penduduk dan tak banyak rumah-rumah.Sehingga aktivitas di rumah itu tidak terlalu mencolok.


Emil melangkah menuju rumah itu,di sambut oleh bungkukkan badan dari dua pengawal yang berjaga di depan rumah sambil bermain ponsel.


Emil masuk,dia hanya melambaikan tangan saja ketika kedua pengawal itu membungkuk.Langsung mengetuk pintu kamar majikannya,tapi dia urungkan karena Edward rupanya sedang sholat magrib dan membaca al-qur'an.


Emil duduk di kursi panjang yang ada di ruangan itu,karena ruangan itu langsung tembus ke dapur sehingga tidak ada penyekat antara ruang tamu dan ruang dapur.Emil memanggil satu pengawal untuk membelikan makanan sesuai jumlah orang yang ada di rumah itu,tak terkecuali pak Imron pun di belikan.


Setelah selesai menyuruh pengawal itu,pintu kamar Edward terbuka.Dia melangkah mendekati Emil yang langsung berdiri dan sedikit membungkuk padanya.


Keduanya pun duduk bersebelahan,Edward duduk terlebih dahulu kemudian Emil menyusul.


"Berjalan lancar tuan muda,sedang di kebut untuk segera selesai."jawab Emil.


Dia mengeluarkan map yang ada di tasnya dan memberikannya pada Edward.Edward menerimanya kemudian dia membuka isi map tersebut.


Satu tanda tangan dia bubuhkan pada isi map itu kemudian dia berikan lagi pada Emil.


"Bagaimana dengan gadis itu?"tanya Edward,dia menatap Emil dengan penuh harap Emil memberi informasi sesuai yang dia harapkan.


"Dia baik tuan muda,setelah tuan muda tidak ada dia semakin banyak diam dan jarang ke pesantren."kata Emil.


"Kenapa begitu?"tanya Edward antusias.


"Anda tahu jawabannya tuan muda."ucap Emil memberi teka teki pada maijkannya itu.


Edward menghela nafas panjang,sesungguhnya dia memberi surat itu hanya sebagai tanda perhatianya saja,tak banyak kalimat isi surat itu.Tapi yakin dia akan menjelaskan padanya jika nanti dia bertemu kembali.


"Saya yakin dia bisa menunggu anda tuan muda."kata Emil lagi.


Edward menatap Emil,lalu beralih kembali menerawang ke depan.


"Anda jangan khawatir,dan..."Emil tidak meneruskan ucapannya.


"Apa?"


"Mungkin ini yang anda inginkan,tapi.."masih tidak meneruskan kalimatnya.

__ADS_1


"Ada apa?Kenapa kamu tidak jelas begini?"kata Edward kesal dengan ucapan Emil yang selalu berhenti.


Emil menarik nafas panjang,dia berpikir apa sebaiknya dia selesaikan dulu masalah pak Imron?


"Saya punya rencana bagus untuk pak Imron juga untuk anda tuan muda."


Kini Edward makin di buat bingung dengan ucapan Emil itu.Dia berpikir mungkin Emil tahu banyak tentang pak Imron.


"Lanjutkan dengan rencana pak Imron."ucap Edward tegas.


Dia tidak mau urusan dengan pak Imron begitu lama sehingga rencana untuknya yang katanya bagus jadi tertunda.Ada firasat yang membuatnya semakin ingin dia laksanakan,namun tentu saja dia ingin menjalankannya dengan tenang.


Emil tersenyum tipis,rupanya terbaca sudah rencananya untuk tuan mudanya.Kadang dia merasa aneh,hanya dengan satu kalimat yang terkadang orang bingung mengartikannya.Dia dan Edward tahu dan mengerti satu sama lain dari kalimat itu tanpa ada penjelasan lanjutannya.


"Baiklah,saya punya informasi lebih akurat mengenai pak Imron.Apa dia masih tetap angkuh seperti dulu?"tanya Emil.


Edward hanya menjawab dengan ******* panjang,dia menatap pintu kamar terdapat pak Imron yang di sekap olehnya.


"Iya,dia tetap angkuh.Bahkan meminta uang sepuluh miliar untuk sebuah informasi lengkap.Apa dia secerdik itu?"


"Dia memang tahu banyak tuan muda,hanya saja sekarang dia sudah di campakkan oleh saudaramu karena kelalaiannya tuan Nicko kembali ke perusahaan."


"Aku pikir juga begitu,dia hanya menggertak saja."


"Lalu kenapa anda meminta saya menyediakan cek sepuluh miliar?"


"Hanya untuk berjaga-jaga.Memang akhir-akhir ini pikiranku terbagi dua."


"Bilang saja anda rindu dengan duet maut tuan muda."cibir Emil.


"Bisa di bilang begitu,kamu adalah otak kiriku."ucap Edward santai.


"Hahaha,anda terlalu memuji saya tuan muda.Baiklah,saya punya informasi penting mengenai pak Imron.Biarkan saja dia seperti itu,sampai hilang kesabarannya.Dia sekarang sedang senang,akan mendapatkan uang.Anda tahu,info penting tentang pak Imron?"


"Apa?"


"Ternyata di kota ini dia mempunyai seorang istri yang sudah dua tahun di nikahi,sebelum istri pertamanya meninggal di kampung itu."


"Apa?Kenapa informasi sepenting ini aku tidak tahu?"


"Karena saya sengaja menyembunyikannya tuan muda.Aku hanya ingin tahu gertakan macam apa yang anda berikan padanya sehingga dia takut.Tapi nyatanya anda yang kalah gertak."cibir Emil.


Urusan taktik rencana memang Emil jago dan selalu bersikap santai pada tuan mudanya.Tapi jika masalah percintaan dan pekerjaan dia akan tunduk dan patuh pada Edward.


"Sialan kamu!"


Emil hanya tersenyum tipis,dia memang cerdik.


Emil bangkit dari duduknya kemudian menuju kamar di mana pak Imron berada.Dia membuka pintu kamar tersebut dan melihat pak Imron sedang menatap ke arah jendela kamar.


Dia menoleh ke arah Emil,wajah sumringahnya terbit,sebentar lagi dia akan mendapatkan uang sepuluh miliar,pikirnya.Senyumnya mengembang,sedangkan Emil menatapnya datar lalu menghampirinya.Berdiri di depannya tanpa ekspresi,dan kini berubah dingin.


"Apa kabar tuan Emil?"sapa pak Imron ketika Emil membuka penutup mulutnya.


_


_

__ADS_1


_


☆☆☆☆☆


__ADS_2