Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
93. Jadilah Menantuku Emil


__ADS_3

Setelah pak Dori keluar,dia berhenti sejenak. Memandang keponakannya dari jauh yang sedang berbicara dengan Edward dan Nicko. Dia pantas bangga pada Emil yang sangat di percaya oleh kedua majikannya.


Tapi sekali lagi,dia masih ragu dengan keponakannya. Apakah nanti dia tidak menghianati tuan besar,pak Dori mendesah panjang.


Ini mungkin terlalu cepat baginya,tapi....


"Paman Dori sedang apa?"tegur Sania yang kebetulan melihat pak Dori hanya diam berdiri di tempatnya,belum melangkah maju.


Dia menengok dan menatap Sania,lalu menunduk pelan.


"Maaf nona,saya hanya berpikir saja."jawab pak Dori.


"Ooh."


Lalu Sania berlalu naik ke kamarnya tanpa bertanya lagi pada pak Dori.


Sedangkan pak Dori masih ragu untuk memberitahu Emil. Tapi kemudian dia ingat pak Robert pasti sudah menunggu lama,dengan berjalan cepat pak Dori menghampiri ketiga laki-laki tersebut yang sedang berdiskusi.


"Selamat malam tuan muda Nicko,tuan muda Edward."sapa pak Dori sambil membungkuk kepalanya.


"Iya paman,ada apa?"tanya Nicko.


Edward melirik Emil yang sejak tadi memeriksa laptop papanya.


"Saya di suruh memanggil Emil untuk menghadap tuan besar."jawab pak Dori.


Memang ini yang di tunggu Emil dan juga Edward. Tapi Emil masih santai dengan pekerjaannya. Nicko menatap Emil juga Edward.


"Iya paman,saya segera kesana."jawab Emil.


"Cepatlah,jangan sampai tuan besar menunggu lama."kata pak Dori lagi.


Emil menghentikan pekerjaannya,karena dia tahu pak Robert menunggu sejak tadi siang. Lalu dia beranjak dari duduknya dan pamit pada Edward dan juga Nicko.


Begitupun pak Dori dia pamit pergi ke dapur mencari kopi untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Ed,apa yang di bicarakan papa pada Emil?"tanya Nicko pada adiknya itu.


"Mungkin masalah pekerjaan."jawab Edward.


"Sepertinya ada yang penting lagi selain pekerjaan. Tapi aku dengar Emil akan di tarik ke kantor papa,kamu tidak apa-apa Emil keluar dari perusahaanmu?"tanya Nicko.


"Ya,aku berat sebenarnya. Tapi papa yang memintanya,mau bagaimana lagi."kata Edward.


"Kapan kamu berangkat lagi?"


"Tiga hari lagi,karena Aya harus istirahat dulu. Aku dengar dari mama,kak Nicko mau di jodohkan dengan anak rekan bisnis papa. Apa itu benar kak?"tanya Edward.


"Ya,bahkan kami sudah saling ketemu. Ternyata dia dulu teman kuliahku."jawab Nicko dengan senyum merekah di bibirnya.


Edward mendengar jawaban kakaknya dengan tersenyum jadi ikut senang. Itu artinya perjodohan akan berlanjut.


"Rupanya kak Nicko suka dengan acara perjodohan itu."ledek Edward pada kakaknya itu.


"Ya,aku suka sama dia. Dan ku kira juga dia sama denganku. Besok kita janjian makan siang bersama."


"Waah,selamat kalau begitu. Tapi tunggu Aya melahirkan ya menikahnya. Aku tidak mau tidak hadir seperti Sania waktu itu. Keterlaluan sekali dia."kata Edward.


"Oh ya,kamu tahu alasan Sania tidak pulang saat itu?"tanya Nicko yang waktu itu juga penasaran dengan Sania tidak pulang.

__ADS_1


"Cuaca buruk,kak. Ya sudahlah,sudah berlalu ini."kata Edward.


Pembicaraan mereka terhenti ketika Aya masuk ke dalam kamar. Dan Edward langsung ikut naik dan ke kamarnya.


_


Emil mengetuk pintu sebelum dia masuk ke ruang pak Robert.


"Ya masuk."


Lalu Emil menarik handle pintu dan mendorong daun pintunya hingga terbuka lebar. Dia masuk lalu menutup pintu kembali dan menuju meja kerja pak Robert.


Di sana dia berdiri dan membungkuk hormat sebelumnya. Pak Robert mengangguk dan dengan tangannya menyilakan Emil duduk.


Ada rasa deg degan Emil duduk berhadapan dengan pak Robert kali ini. Karena ini mungkin bukan hanya sekedar pekerjaan saja,tapi ada yang lebih penting lagi dari itu.


"Emil,Edward sudah mengatakan pada kamu tentang maksudku memanggilmu?"tanya pak Robert dengan santai,dia tahu Emil sangat tegang kali ini.


"Iya tuan besar,tapi saya belum berani menyimpulkan apapun."kata Emil segan.


Pak Robert tersenyum lebar,dia mengerti maksud Emil. Emil tidak langsung percaya diri sebelum semuanya pasti,walaupun banyak yang mengatakannya.


"Ya,yang di katakan Edward juga pamanmu itu benar. Kamu akan saya tarik ke perusahaanku,di sana kamu sementara akan membantuku dan selanjutnya nanti sepenuhnya kamu yang mengerjakannya."kata pak Robert.


Dia menatap Emil dengan seksama,tidak ada keraguan darinya mengenai keponakan pak Dori itu.


"Apa tuan besar tidak berlebihan jika nanti saya yang mengerjakannya?"


"Tidak. Saya percaya kamu akan menjalankannya dengan baik dan tidak akan menghianatiku. Aku tidak bisa menyerahkan perusahaanku kepada sembarang orang. Kamu tahu itu."


"Iya tuan besar. Tapi apa yang mendasari tuan besar percaya begitu besar pada saya?"


"Bukan begitu tuan besar,saya pikir hanya sebagai staf biasa di kantor. Makanya saya kaget dan tuan begitu besar harapannya pada saya. Saya merasa kecil dan tidak bisa apa-apa,siapa diri saya tuan sehingga harus memegang perusahaan besar milik keluarga Alexander."


"Hahaha...,makanya Emil aku memintamu untuk jadi menantuku.."kata pak Robert.


Emil diam,dia masih mencerna ucapan terakhir majikannya itu.


"Tuan besar apa...."


"Jadilah menantuku Emil,aku memintamu jadi menantuku. Menjaga Sania dan menyayanginya,aku serius Emil. Hanya kamu yang bisa menjaga Sania,aku percaya sama kamu."


Dan ini kalimat yang paling mengejutkan Emil,dia tidak menyangka dengan permintaan pak Robert.


"Tuan besar,saya...."


"Aku tahu Sania sering meneleponmu,dia sepertinya suka sama kamu. Apa kamu tahu?"


Emil diam,dia menunduk tidak tahu apa yang akan di katakannya lagi.


"Mungkin juga nona Sania sudah punya pilihan lain."


"Ya,pilihannya adalah kamu. Dia selalu cerita tentang kamu. Jadi jangan ragukan itu."


Emil kembali diam,dia masih tidak percaya dengan yang di katakan oleh pak Robert. Sesuatu yang jauh dari angan-angannya,di serahkan sebuah perusahaan besar dan juga anak kesayangannya. Apakah itu terlalu berlebihan baginya?


"Apa lagi yang membuatmu ragu? Apakah Edward menyuruhmu untuk menolak permintaanku?"tanya pak Robert.


"Tidak tuan besar,tuan muda hanya memberitahu kalau saya akan di pindahkan di perusahaan anda. Dan tuan muda meminta di carikan pengganti saya untuknya."jawab Emil,dia takut karena memang Edward tidak meminta apapun dan mengatakan apapun.

__ADS_1


"Kalau begitu kenapa kamu ragu?"


"Saya tidak ragu,tapi apakah paman Dori mengetahuinya?"


"Dia sudah aku beritahu,jangan khawatir. Reaksinya juga sama denganmu. Tapi dia sudah menyerahkan sepenuhnya padaku."


"Apa saya perlu berpikir lagi tuan besar?"


"Tidak. Keputusanku mutlak,kamu harus menerimanya. Menerima Sania nanti sebagai istrimu dan menerima nanti ku serahkan perusahaanku jika waktunya telah tiba."


Jadi Emil tidak bisa menawar lagi,keputusannya sudah bulat oleh pak Robert. Menolak sama saja membangkang,lagi pula dia akan menikahi putrinya. Seseorang yang sering mengganggunya di waktu istirahatnya.


Tapi anehnya dia tidak bisa menolak walaupun rasa lelah menghampirinya. Dia akan selalu meladeni Sania walau rasa kantuk menyerangnya. Ah,apakah memang dia juga menyukai anak majikannya?


Beranikah dia mencnitai anak majikannya itu? Tapi sekarang,dia malah di tawari untuk menikahi anak gadisnya yang selalu mengganggu waktu istirahatnya.


"Baiklah,aku rasa pembicaraan ini selesai. Kamu tinggal siapkan surat resign pada Edward dan segera selesiakan masalah yang di sana. Saya kasih waktu satu bulan untuk menyelesaikan pekerjaan di perusahaan Edward. Setelah itu,kamu kembali dan langsung masuk jadi asistenku."kata pak Robert.


Emil hanya mengangguk. Lalu dia pamit pada pak Robert setelah pembicaraannya selesai.


Malam semakin larut,semua sudah masuk ke dalam kamarnya masing-masing. Tak lupa juga pak Dori juga sudah masuk di kamar yang di sediakan untuknya.


Emil hendak masuk,dia menarik handle pintunya dan membuka pintunya. Tapi lagi-lagi Sania menarik tangan Emil,hingga Emil pun berhenti dan kaget Sania menarik tangannya.


"Ada apa nona?"tanya Emil.


"Kak Emil jangan pura-pura tidak tahu,aku tanya kenapa kak Emil pulang?"


"Saya di suruh menghadap papa anda nona."jawab Emil.


"Papa bicara apa kak?"


Emil diam,tidak bisa dia katakan apa yang di bicarakan pak Robert.


"Kak Emil,apa yang di katakan papa?"


"Apa anda tidak tahu nona?"


"Apa?"


"Sania,masuk ke kamarmu! Anak perempuan tidak baik menghampiri laki-laki ke kamarnya!"suara tegas dan keras dari pak Robert mengagetkan Sania dan Emil.


Emil membungkuk pada pak Robert,dia merasa bersalah.


"Maafkan saya tuan besar."kata Emil menyesal.


"Masuklah kamu."


Emil diam,dia tidak langsung masuk ke dalam kamarnya karena Sania belum di suruh masuk ke dalam kamarnya.


"Sania,apa kamu mau mengganggu Emil? Dia butuh istirahat,sejak kedatangannya tadi siang belum iatirahat. Kamu mengganggu saja,masuk sana."perintah pak Robert.


Mau tidak mau Sania naik tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Emil masuk setelah pak Robert pergi dari tempat berdirinya tadi.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆


__ADS_2