Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
98.Anakku sayang


__ADS_3

Sampai di rumah sakit Edward langsung membawanya di UGD dan di sana di sambut oleh perawat dengan cepat. Tanpa membuang waktu lagi Aya langsung di masukkan ke ruang bersalin bersama dokter kandungan dan beberapa perawat. Tidak lupa juga Edward selalu mendampingi istrinya dengan panik.


Melky yang tadinya ingin minta tanda tangan kini harus berakhir menunggu kedua majikannya di dalam ruang bersalin. Dia memberitahu Emilia kalau saat ini jangan ada tamu yang ingin berkunjung ke kantor karena dirinya sedang ada di rumah sakit menunggu Edward selesai istrinya melahirkan.


"Ya tuan Melky, semoga nyonya Aya melahirkan dengan selamat.." kata Emilia.


Dia juga senang mendengar bos mereka akan mempunyai anak. Kabar itu Emilia sebarkan pada karyawan lainnya, sehingga semua berharap istri bosnya itu melahirkan dengan selamat.


Jika seperti itu,bos yang royal melahirkan anak karyawan akan mendapat bonus dari perusahaan karena ikut merasakan kebahagiaan pimpinan mereka.


Satu jam lebih Aya di ruang bersalin, Ternyata bayi dalam perutnya masih ingin bermain-main di dalam sana membuat Aya semakin tidak sabar dan rasa kesakitan yang berkepanjangan.


"Suster, apa sebaiknya di operasi saja?" tanya Edward yang melihat Aya kesakitan jadi kasihan.


"Istri anda bisa melahirkan normal tuan,jadi tunggu saja. Anda harus sabar, dampingi istri anda dan beri semangat ya tuan." kata suster itu.


"Tapi berapa lama? Dia sudah merasa kesalitan sekali." kesal Edward, seperti membiarkan orang kesakitan tanpa bertindak apapun suster maupun dokternya.


"Tuan, yang namanya mau melahirkan itu sakit. Menunggu beberapa pembukaan jalan lahir agar bayi bisa keluar dengan selamat. Kalau anda tidak tahan dengan kesakitan istri anda tuan, sebaiknya nada keluar." ucap Suster dengan tegas.


Dia kesal, kenapa setiap suami ternyata tidak sabar menunggu istrinya melahirkan. Sedangkan Edward diam, dia juga kesal dengan ucapan suster itu. Namun dia lebih baik mengalah dari pada berdebat lagi dengan suster jutek itu.


Aya sendiri walaupun sedang kesakitan, dia merasa geli. Suaminya ternyata ada yang memarahinya selain dirinya. Mau tidak mau senyuman Aya sedikit mengembang.


Tak lama, dokter datang lagi. Dia memeriksa kembali Aya yang memang masih merintih kesakitan. Dia memegang erat lengan suaminya, memejamkan mata menahan rasa sakit.


"Bie, rasanya seperti mau buang air besar. Dorongannya sangat kuat. Eeeuuuh..!" teriak Aya, dia masih mencengkram lengan Edward.


"Oke nyonya, ayo kita bekerjasama untuk mengeluarkan bayi anda karena pembukaan sudah lengkap. Tuan, anda sabar ya beri dukungan terus sama istri anda agar lebih semangat menyambut bayinya." kata dokter.


"Iya dokter."


Lalu Dokter berdiri tepat di depan Aya. Di samping kiri dan kanan suster memegangi kaki Aya dan satu lagi menyiapkan segala keperluan dokter.


"Iya sekarang ayo nyonya mengejan, dalam hitungan saya ikuti ya. Satu dua tiga, ayo.."


"Eeeeuuuuh, Bismillahirrohmanirrohiim." teriak Aya.


"Ayo sayang, jangan putus asa. Kita mau bertemu dengan bayi kita." ucap Edward di telinga Aya.


"Ayo sekali lagi nyonya, sedikit lagi sudah terlihat rambut kepalanya. Satu dua tiga, tarik nafas dan hempaskan.."


Eeeeeeuuuuuuhh!!" Aya mengejan kuat dan panjang hingga terdengar suara tangis bayi mungil.


Oek oek oek


Suara tangis itu makin kencang, nafas lega terpancar dari semua yang ada di sana. Suster langsung mengambil bayi itu untuk di bersihkan terlebih dahulu kemudian di tempelkan ke dada Aya beberapa menit. Aya melihat bayinya dan membelai kepalanya, dia tersenyum. Begitu juga Edward, dia hampir menitikkan air matanya. Ikut membelai kepala anaknya itu dengan pelan.


"Nah nyonya, saya bawa dulu bayinya untuk di bersihkan dan di pakaikan baju agar merasa hangat." kata suster.

__ADS_1


"Nyonya kita bersihkan rahim anda agar tidak terjadi infeksi nantinya. Tuan, anda boleh keluar dulu sebentar." kata dokter.


Edward mencium istrinya dan menatap Aya dengan penuh cinta, lalu ucapan terima kasih dia ucapkan dengan setulus hati.


"Terima kasih sayang, kamu hebat sekali. Cup." ucap Edward ketika dia akan meninggalkan Aya bersama dengan dokter.


Setelah selesai, dia kemudian keluar menunggu Aya selesai di bersihkan. Dia juga menunggu bayinya di bersihkan oleh suster.


"Tuan muda, selamat anda sudah menjadi seorang ayah." ucap Melky menunduk.


"Terima kasih Melky." jawab Edward.


"Di kantor juga semua mengucapkan selamat untuk anda tuan atas kelahiran anak tuan muda." kata Melky lagi.


"Terima kasih, kamu siapkan bonus untuk mereka semua. Jangan ada yang terlewat, itu ucapan terima kasih saya atas doa mereka pada istriku." kata Edward lagi.


"Siap tuan muda. Oh ya,tadi tuan Emil menelepon menanyakan nona Aya apakah sudah melahirkan."


" Ah ya, aku belum memberitahu mama dan papa kalau Aya sudah melahirkan." Dia lalu merogoh saku celananya,namun dia lupa ponselnya ketinggalan di apartemen karena keluar terburu-buru.


"Melky, aku pinjam ponsel kamu."


Lalu Melky mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Edward. Edward menghubungi mamanya dan tersambung.


"Halo, Melky apa cucuku sudah keluar?"


"Sudah ma,ini aku. Ponselku ketinggalan di apartemen."


" Alhamdulillah ma, semua baik-baik saja. Aya sedang di tangani dokter dan anakku sedang di bersihkan sama suster." jawab Edward.


"Ah, Alhamdulillah kalau begitu. Mama ingin cepat-cepat kesana melihat cucuku."


"Dia laki-laki ma, sangat tampan seperti daddynya."


"Oh ya, baguslah itu. Jangan lupa kamu adzani ya sayang. Nanti mama kasih kabar papa dan juga kakakmu."


"Iya ma. Ya sudah aku mau melihat anakku dulu ma."


"Iya, selamat ya sayang."


"Terima kasih ma. Assalamu alaikum."


Telepon terlutus. Edward menyerahkan ponselnya pada Melky.


"Terima kasih, bonus kamu dua kali lipat."


"Terima kasih tuan muda. Oh ya, emm tadinya saya menemui anda untuk minta tanda tangan tuan. Apa harus sekarang atau besok saja?"


"Masih ada waktu, boleh tanda tangan sekarang saja."

__ADS_1


Lalu Edward duduk di bangku di susul Melky mengeluarkan berkas yang sejak tadi dia bawa ke rumah sakit.


Edward menerima berkas itu lalu beberapa kali menanda tanganinya.


"Terima kasih tuan. Saya akan ke kantor dulu menyimpan berkas ini, lalu kesini lagi." kata Melky.


"Ya. Nanti kesini bawakan aku makanan ya, sama kamu juga. Tiga porsi untuk istriku juga, jangan lupa."


"Baik tuan muda."


Setelah membungkukkan kepalanya, Melky pergi dari hadapan Edward. Sedangkan dia langsung menuju ruang bayi. Di sana dia melihat banyak sekali bayi, dia bingung yang mana bayi laki-lakinya itu.


"Suster, mana bayi yang baru lahir itu?" tanya Edward pada suster penjaganya.


"Semua bayi baru lahir tuan." tanya suster bingung.


"Bayi punya nyonya Aya." jawab Edward.


"Ah, tuan tidak menjelaskan bayi punya siapa yang anda maksud." kata suster itu, seperti mengajak bercanda.


Edward berdecak kesal, kenapa semua perawat di sini menyebalkan sekali, pikirnya.


Edward masuk setelah di beri kode untuk masuk ke dalam ruangan, tapi sebelumnya dia memakai baju steril agar tidak membawa kuman penyakit.


"Ini bayi nyonya Aya tuan, anda hanya di beri lima menit untuk melihatnya." Kata suster itu.


"Ya suster."


"Oh ya,jangan di cium dulu ya tuan. Di lihat saja,boleh di pegang." kata suster lagi.


"Ya."


Lalu Edward memegang bayinya. Dia lalu mendekatkan kepalanya dan mengadzani serta mengiqomah di sisi kiri kanan telinga bayinya. Setelah selesai dia pandangi wajah anaknya dengan takjub, ingin rasanya dia mencium kedua pipi anaknya itu, namun suster bilang tidak boleh di cium dulu. Masih rentan kena penyakit.


"Anakku sayang." ucap Edward, dia lalu tersenyum menatap bayi mungil itu.


Setalah puas, dia lalu keluar dari kamar bayi tersebut. Inginnya dia gendong tapi, dia masih takut karena masih terlalu kecil.


"Terima kasih suster." kata Edward.


Suster hanyq mengangguk saja, lalu Edward kembali ke ruangan di mana Aya sedang di tangani oleh dokter kandungan.


Namun ternyata Aya sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Dia mengikuti arah kemana suster mengajaknya untuk bertemu istrinya.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆


__ADS_2