
Di Indonesia
Sehari sebelum pesta,di rumah Edward sudah sangat sibuk dan ramai.Banyak sekali kerabat dan saudara datang berkunjung dan mengucapkan selamat pada Edward.
Nyonya Karina pergi ke kamar Edward untuk bertemu menantunya yang memang sejak pulanh dari Inggris tidak di perbolehkan untuk mengikuti kesibukan di rumahnya.
Nyonya Karin sangat senang sekali begitu dia mendapat kabar dari Edward bahwa Aya sedang hamil ketika masih di Inggris.
Dia ingin cepat-cepat ketemu menantunya dan menanyakan apa saja yang di alaminya,atau apa saja yang Aya inginkan.
Dan ini yang ketiga kalinya nyonya Karina pergi ke kamar Edward untuk menemui Aya.Dia membawa buah-buahan segar untuk di berikan pada memantunya.
Sampai di depan kamar Edward,dia mengetuk pintu beberapa kali.Dan pintu terbuka,muncul Aya yang masih.menggunakan baju santai dan kerudung instan.
"Eh mama,masuk ma."kata Aya mempersilakan mertuanya masuk ke dalam kamarnya.
Nyonya Karina masuk dan meletakkan buah yang tadi di bawa di meja.Memang kamar Edward ada sofa dan mejanya agar dia bisa menonton tv sambil duduk di sofa bersama istrinya dengan cemilan.
"Sayang,kamu makan dengan baik selama hamil?"tanya nyonya Karina.
"Iya ma,Alhamdulillah tidak rewel kalau soal makanan.Selalu masuk aja."jawab Aya.
"Syukurlah,mama khawatir kamu banyak keluhan di hamil ini."kata nyonya Karina lagi.
"Iya ma,tapi Edward yang mengalami gejala hamilnya ma.Dia sering kali sensitif,kadang suka sedih sendiri.Kadang juga suka kesal ngga jelas.Jadi aku suka bingung."
"Apa Edward suka marah sama kamu sayang?"
"Ya ngga sih ma,tapi kalau ketemu Sania bawaannya dia marah terus."
"Ooh,kalau itu sih memang dia seperti itu dengan Sania.Suka berdebat tidak jelas apa masalahnya,tapi ya begiti.Mereka sebenarnya saling menyayangi,hanya caranya tidak umum dengan yang lain.Mama juga kadang pusing melihat mereka berdebat terus."
"Iya ma,waktu di sana juga Sania sering kesal karena Edward mengomel terus."
"Jangan di ambil hati ya sayang,mereka memang begitu.Seperti tom and jerry."
"Iya ma,aku kadang lucu sendiri kok dengan tingkah mereka."
"Oh ya sayang,baju yang mama pilihkan kamu suka tidak?"tanya nyonya Karina.
"Suka ma,tapi apa itu tidak terlalu mewah?"tanya Aya ragu.
Dia hanya tidak biasa memakai pakaian yang terlalu glamor dan mewah.Dia juga sadar diri asalnya dari mana.
"Tidak sayang,semua sesuai dengan temanya kok.Dan untuk kyai Sobri dan istrinya juga sudah mama kirim,juga kakakmu mama sudah kirim baju-bajunya nanti buat pesta."
"Terima kasih ma,jadi merepotkan mama."
"Ya tidaklah sayang.Memang itu sudah ada bagiannya masing-masing,keluarga mendapatkan baju untuk pesta pernikahan kalian."
Obrolan demi obrolan mengalir begitu saja,hingga waktu sudah berlalu begitu cepat.
Nyonya Karina pun pamit undur diri,dia juga harus menyiapkan makan malam bersama mbok Darmi.
__ADS_1
"Mama keluar dulu ya sayang,mau menyiapkan makan malam untuk kita semua."kata nyonya Karina pada Aya.
"Iya ma,terima kasih."ucap Aya.
"Jangan sungkan meminta sesuatu ya.Nanti mbok Darmi siapkan."kata nyonya Karina setelah sudah keluar kamar Edward.
_
Pesta berlangsung sangat meriah.Banyak sekali yang datang dan menyalami satu persatu pengantin,baik rekan bisnis pak Robert ataupun teman-teman dekat Edward
Tampak sekali ada Bayu dan Salma,Mentari serta dari pondok pesantren kyai Sobri.Semua berbaur jadi satu.
Aya memandang ke segala penjuru,dia menatap satu persatu orang-orang yang dia kenal.
Mentari tampak kagum dengan riasan wajah Aya yang berbeda serta Salma dan Bayu yang masih tidak percaya dengan Aya di kelilingi oleh orang penting dan pebisnis handal.
Dia sendiri merasa bahagia dengan adiknya itu,mendapatkan laki-laki yang benar-benar mencintainya,tanpa memandang status sosialnya.
"Aya sangat cantik ya kak."ucap Mentari pada Salma,dia kagum dengan Aya sahabatnya.
"Ya,dia memang cantik.Sejak dulu dia itu cantik,tapi karena hidup di kampung jadinya tak terlihat cantiknya."ucap Salma.
"Tidak juga kak,ada juga ustad yang suka sama Aya.Tapi karena dia keponakan kyai Sobri jadinya tidak berani mendekatinya."kata Mentari lagi.
"Oya,tapi rasanya dia pantas bersanding dengan Edward.Lihatlah,Aya begitu di perhatikan dan di jaga sekali oleh Edward."kata Salma.
Mentari melihat sosok Nicko yang dulu pernah di culik bersama dengannya waktu di rumah tengah hutan.Apakah Nicko ingat padanya?keluh Mentari dalam hati.
"Kak,aku mau ambil minum dulu ya di sana."kaat Mentari pada Salma menunjuk sebuah meja panjang berisi berbagai minuman dan makanan.
"Iya mas Bayu,aku tahu jalan pulang kesini kok."
Setelah mengatakan itu,lalu Mentari pergi menuju meja besar.Dia melangkah sambil tersenyum pada orang-orang yang di laluinya.
Sampai pada sekumpulan orang-orang penting dan pebisnis kelas atas.Ada juga sebagian teman Edward dari berbagai negara yang memang sengaja ingin menghadiri pernikahan Edward.
Akhirmya Mentari sampai di meja panjang berisi berbagai macam makanan dan minuman.Dia mengambil beberapa cemilan tradisional dan minuman jus.
Dia makan dengan lahap,rupanya dia lapar.Satu kali dia ambil namun masih kurang karena mungkin rasanya enak.Dia ambil lagi dan memakannya lagi.
Setelah di rasa cukup,dia pun hendak melangkah pergi dengan memegang jus di tangannya.
Tapi rupanya,dia menabrak seseorang di belakangnya hingga jus itu tumpah mengenai baju seseorang yang di tabraknya di belakang.
Mentari menoleh,dia melihat laki-laki bule berdiri dengan mengibaskan lengan yang terkena tumpahan jusnya tadi.
Sejenak Mentari terpaku,karena laki-laki itu begitu tinggi dan putih.Laki-laki itu kesal,dia meracau dengan bahasanya sendiri.
"Maaf mister,saya tidak tahu."kata Mentari dengan bahasa tubuh dan ucapan yang di samakan artinya.
Laki-laki itu menatap Mentari kesal,lalu dia pun diam.Ada desiran di dadanya melihat gadis berkerudung dengan hiasan bros kupu-kupu di samping dada kirinya.
Pandangan laki-laki itu beralih pada wajah Mentari yang terlihat kaget dan merasa bersalah.
__ADS_1
Mentari menangkupkan kedua tangannya dan membungkuk meminta maaf.Dia melihat tangan laki-laki itu yang tadi terkena tumpahan jus.
Lalu Mentari mengambil tisu dalam tasnya dan mengusapkan tisu itu pada baju laki-laki tersebut.
"Its oke,tidak apa-apa."kata laki-laki itu dengan bahasanya sendiri.
Mentari sendiri tidak mengerti,tapi dia tetap mengelap bajunya dengan cepat.
"Maaf sekali lagi mister,saya tidak tahu."ucap Mentari lagi.
"Edrick."
Suara panggilan seseorang dari jauh dan mendekat pada laki-laki yang terkena jus Mentari.
Ya,dia adalah Edrick yang di tabrak Mentari,lalu Edrick berlalu dari hadapan Mentari yang masih diam dan memandang Edrick yang melangkah pergi dari hadapannya.
Tanpa sengaja,keduanya bertubrukan pandangan ketika Edrick kepalanya berbalik,Mentari hanya menangkupkan tangannya pada Edrick yang semakin jauh namun pandangannya belum lepas darinya.
_
Kini acara semakin ramai,waktu beranjak makin sore.Rupanya acara terus berjalan sampai magrib menjelang.
Dan semua tamu undangan mulai membubarkan diri.Kini saatnya bersua poto.Membuat kenangan bagi kedua pengantin bersama keluarga masing-masing.
Mentari berdiri di samping Aya dan yang lain berjejer rapi di sebelahnya.
Dari jauh seorang laki-laki sedang melihat orang-orang yang sedang berfoto bersama.Edrick laki-laki itu yang menatap perempuan yang sedang merangkul Aya itu dengan bahagia.
Setelah foto bersama itu,Mentari memeluk Aya lalu berbincang-bincang karena sudah lama kedua sahabat itu tidak bertemu.
Nicko mendekati Mentari,mereka seperti canggung saling menyapa.Namun begitu Nicko biasa saja bertemu dengan Mentari dan mengobrol sebentar.
Edrick mendekat,ikut berfoto juga dengan Edward dan Aya.
"Hai Ed,selamat ya.Aku turut bahagia denganmu."kata Edward memeluk Edward.
"Terima kasih,semoga kamu juga mendapatkan seseorang yang memikat hatimu."
"Semoga,dan sepertinya akan cepat dapat."
"Ya ya,playboy sepertimu cepat sekali dapat perempuan manapun."
"Tidak,aku mau seperti dirimu yang bisa menetap dalam satu hati.Dan kukira aku akan mendapatkannya."
Edward tersenyum dengan ucapan Edrick,dalam hati juga dia berharap sahabatnya ini mendapat seseorang yang pantas untuknya.
Acara ramah tamah dengan keluarga berlangsung,entah itu hanya perasaan Aya saja kalau Edrick sering sekali menatap Mentari sahabatnya.
Namun demikian,dia tidak melanjutkan pikiran-pikiran itu.Mungkin dia hanya kagum saja pada sosok perempuan yang berkerudung.Aya tersenyum sendiri.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆