
Emil langsung membawa Sania pergi dari klub malam itu,dia tahu Sania memnutuhkan seseorang untuk menyalurkan hasratnya.
Tapi dia akan membawa Sania pulang ke apareteman Edward.Akan dia rendam Sania di guyuran air kran dari shower di kamar mandi.
Mobil dia lajukan dengan kencang karena Sania tidak boleh terlambat di tolong.Sania yang di belakang sudah sangat gelisah,rasa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya tidak bisa lagi dia tahan.
Dia melihat Emil yang terlihat menggairahkan,kemudian Sania maju ke depan.Dia memegang pundak Emil hingga Emil terperanjat.
Emil menoleh ke belakang,dia terkejut melihat wajah Sania begitu dekat dengannya.Hingga laju mobilnya sampai oleng dan entah kemana arah larinya karena dia tidak fokus menyetir.
"Kak,tolong aku.Aku kepanasan."kata Sania mendesah.
Lagi-lagi dia mengibaskan jaketnya karena rasa panas di sekujur tubuhnya semakin meningkat.Dia lalu melepas jaketnya,tapi tetap masih panas.
Sania kembali memegang pundak Emil dan mencengkeramnya kuat.Hingga Emil menjadi susah melajukan mobilnya dengan benar.
"Nona tenanglah.Saya akan bawa anda pulang,bersabarlah nona."ucap Emil.
Dia takut Sania akan kembali membuyarkan konsentrasinya menyetir.
Dan benar saja,kini Sania lompat dari jok belakang duduk di depan dengan Emil.Dia menatap Emil dengan sendu,memohon apa yang harus dia lakukan.Gairah di tubuhnya semakin bergejolak.
Tanpa di duga,Sania mendekat cepat ke arah Emil dan kembali memegang pundaknya.Menatap wajah Emil yang tegang.
"Sial! Siapa yang membuat nona seperti ini!"ucap Emil keras.
Sania tidak peduli,dia ingin memcium Emil.Dan benar saja dia kini lebih dekat lagi,menarik kepala Emil hingga Emil mendadak mengerem takut menabrak mobil lain karena mobilnya jalannya tidak beraturan.
"Nona,tahan nona.Anda harus bertahan,jangan melakukan itu."kata Emil yang menahan kepala Sania yang hendak menciumnya.
"Kak,aku tidak tahan lagi.Rasanya tubuhku panas sekali."
Berkata seperti itu,Sania melepas kaos yang dia kenakan.Namun di tahan oleh Emil.
"Nona,jangan di lepas.Tahan nona."
Emil kembali menjalankan mobilnya,dia harus cepat sampai di apartemen Edward.
Tapi sialnya lagi-lagi Sania kembali menarik kepalanya dan berhasil mencium bibirnya Emil sekuat tenaga menahannya untuk menghindar.
Bisa dia bayangkan jika majikannya tahu kalau dia berbuat yang tidak-tidak pada adiknya itu.
Sania terus saja menarik wajah Emil,dia benar-benar ingin melampiaskan gairahnya yang tiba-tiba datang dan tidak bisa dia hindari.Sangat menyiksa bagi Sania.
Mobil yang di bawa Emil berjalan tak tentu arah karena Sania terus menarik kepala Emil.
Emil berpikir apa yang akan di lakukan,mobilnya sudah tidak tahu kemana larinya.Dia tidak fokus.Bagaimana menyelamatkan Sania tanpa merugikannya.Tidak mungkin dia bawa ke hotel,Sania sudah tidak bisa di kendalikan.
Rupanya obat perangsang itu bekerja cepat sekali.Emil pusing sendiri dengan tingkah Sania yang semakin agresif.
Apakah dia akan melakukannya?Apa nanti resikonya jika melakukan itu dengan adik bosnya,banyak sekali yang dia pertaruhkan jika melakukan itu.
Di antara mereka tidak ada cinta juga,hanya sebatas takjub pada Sania beberapa hari ini.Namun Sania juga pasti akan merasa rendah diri.
Semakin pusing Emil memikirkannya,sedangkan Sania sudah mendekat padanya.Mulai mencium pipinya karena Emil masih bertahan.
Wajah Sania sudah tidak bisa di katakan anggun lagi,namun sudah di liputi gairah yang memuncak.Dia putus asa,Emil tidak mau melakukannya.
__ADS_1
Kemudian Sania duduk dengan mendekap tubuhnya sendiri dengan erat.Rasa panas karena gairah yang menyerangnya dia tahan sekuat tenaga.
"Kak Emil,tolong aku.Aku sudah tidak kuat,aku harus bagaimana.Eueh."suara serak Sania dan melemah.
Matanya terpejam,dia dengan sekuat tenaga menahan gejolak yang masih saja menyerangnya.
Emil menoleh ke arah Sania,dia kasihan sekali.Jika dia lakukan nanti jadi masalah besar ke depannya.Tapi jika tidak melakukannya,dia kasihan sama Sania saat ini.
Emil masih melajukan mobilnya dengan cepat,dia masih terus berpikir mencari jalan tengahnya.
"Nona,saya akan membantu nona melepaskan semuanya.Tapi tidak terjun langsung,saya hanya membantu nona.Percayalah saya tidak akan merusak nona."ucap Emil akhirnya.
"Apapun yang kak Emil lakukan,saya sangat membutuhkan pertolongan.Saya tidak tahu harus menghilangkannya kak."ucap Sania yang masih mendekap tubuhnya dan menggigit bibirnya.
"Baiklah.Tunggu sebentar,saya hentikan mobilnya."ucap Emil.
Dia tahu Sania butuh pelepasan,karena obat yang di minum Sania butuh pelepasan.
Akhirnya mobil Emil pinggirkan di tepi jalan yang sepi.Dia kunci mobil dan ac dia jalankan.Emil menarik nafas panjang,sesungguhnya dia sangat tersiksa dengan ini.Melihat Sania yang menggoda,tapi akalnya masih berfungsi.
Jadi dia akan melakukan dengan cara lain.Dia mendekap Sania masuk ke dalam pelukannya,dia juga mencoba bertahan dan di tahan.
"Maafkan aku nona,ini semua untuk menyelamatkan nona."ucap Emil.
Tanpa pikir panjang,Sania melepas kaosnya.Dia kembali menarik wajah Emil dan menciumnya dengan cepat dan bergariah.Awalnya Emil hanya diam,namun dia membalas ciuman Sania.Dengan rakus Sania mencium bibr Emil,kemudian tangannya keremas kepala Emil.
Sania melepas rok pendeknya dan melepas juga kain penutup bagian dalamnya,Emil memejamkan mata.Sekuat tenaga dia menahannya.
Dia laki-laki normal,namun demikan otaknya juga masih normal untuk memikirkan masa depannya dan Sania.
Emil kemudian memasukkan tangannya ke dalam pangkal paha Sania,dia membelai pelan bagian luar yang lembut dan kenyal itu,dia terus membelainya hingga Sania mendesisi keras.
Ya,Emil menggunakan cara seperti itu menyelamatkan Sania.Toh ada banyak cara untuk memuaskan perempuan yang sedang di serang gairah memuncak,walaupun memang lebih afdol melakukannya secara langsung dengan pasangan.
Emil terus menggosok dan memasukkannya,dalam hatinya berkali-kali meminta maaf dan merutuki perbuatannya itu.Namun dia tidak bisa berbuat banyak selain menolongnya walau dirinya sendiri tersiksa.
Mereka masih melakukan itu di mobil sampai satu jam lebih.Emil kemudian memeluk Sania setelah dia melepaskan gairahnya beberapa kali.Dan Sania terkulai lemas,dia masih dalam pelukan Emil.
"Maaf nona,saya terpaksa dan hanya menolong nona."ucap Emil setelah pelukan itu terurai.
Wajah Sania merah padam,dia juga sangat malu sekali.Namun dia juga sangat tersiksa tadi.Jika Emil tidak melakukan itu,entah bagaimana nanti dirinya.
Sania merapikan bajunya yang tadi dia buka sedikit.Kain pengaman bagian intinya sudah dia kenakan juga roknya.
Emil keluar dari mobil ketika Sania memakai pakaiannya.Dia menghembuskan nafasnya kasar berulang kali.
Dia berjalan kesana kemari menghilangkan rasa tersiksa itu.Beberapa kali membuang nafas dan memejamkan mata.
Setelah di rasa cukup,Emil masuk lagi ke dalam mobil.Mereka harus segera pulang.
Dalam perjalanan keduanya diam membisu,ada rasa canggung dalam kediamannya.
Emil menoleh ke arah Sania yang menatap jalanan sepi dan gelap melalui jendela mobil.
"Nona,saya ingin bertanya kenapa anda ada di klub itu?"tanya Emil mencairkan suasana.
Dan dia sejak tadi penasaran kenapa Sania ada di sana klub malam itu,dengan siapa dia kesana.
__ADS_1
"Aku ingin bersenang-senang kak.Hanya mencari hiburan saja,tidak dengan yang lain kok."jawab Sania agak takut.
Dia takut Emil memberitahu kakaknya.
"Dengan siapa anda ke klub itu nona,klub itu jauh dan anda sendiri kesana tidak mungkin tahu tempatnya."ucap Emil lagi.
"Nathalie yang mengajaknya.Dia bilang hanya bersenang-senang dan Edrick akan ke sana juga,jadi aku mau di ajak ke klub itu."ucap Sania masih takut pada Emil.
Emil membuang nafas kasar,dia sudah menduganya.Pasti itu kerjaan Nathalie,tidak mungkin Sania pergi sendiri.Walaupun Sania terlihat mandiri,jika pergi ke klub tidak mungkin pergi sendirian.
"Bagaimana jika tadi saya tidak menemukan nona,apa jadinya nanti jika nona di bawa laki-laki yang ada di klub itu.Mungkin laki-laki itu sudah di siapkan Nathalie untuk menjebak nona.Dan sudah di pastikan poto-poto anda akan menyebar di media sosial.Tujuannya dia akan memalukan kakak anda nona."
"Kenapa dia melakukan itu?"
"Natahlie itu obsesi sekali ingin memiliki tuan muda.Dia sangat ingin mencelakai nona Aya,dia dulu juga ingin mencelakai nona Aya,untung saja nona Aya pandai berkelahi dan bisa menahan mereka sampai kami datang."
"Kenapa Nathalie berbuat seperti itu?Dia psikopat kah?"
"Mungkin,dia sakit hati karena tuan muda menolaknya terus."
"Jadi dia sengaja juga menjebakku?"
"Iya,dan sialnya nona ketemu dia.Sehingga rencana jahatnya selalu dia jalankan.Bersyukurlah nona selamat kali ini."
Sania diam,dia menatap Emil.Dan tanpa sengaja Emil pun menengok ke arahnya.Dengan tiba-tiba keduanya membuang muka ke samping,wajah mereka juga memerah.
Dan tak lama Emil kembali seperti semula,dia melajukan mobilnya yang sebentar lagi sampai di apartemen Edward.
"Mm,kak Emil tolong jangan bilang sama kak Enward tentang semua ini.Aku takut."ucap Sania.
"Apa yang harus saya katakan pada kakak anda?"
"Jangan katakan!"sergah Sania,dia menatap Emil memelas.
"Tapi saya akan memberi pelajaran sama Nathalie,dia harus menerima hukumannya karena sudah mengusik anda dan nona Aya."
"Apa kak Edward nanti tahu?"
"Entahlah,namun saya akan meminta bantuan tuan Edrick untuk menyimgkirkan Nathalie,dia juga harus setuju dengan rencanaku."
"Tapi kak Edward tidak tahu kan kak?"masih takut Emil akan memberitahu kakaknya.
"Apa anda tidak tahu apa yang di lakukan kakak anda jika dia tahu saya melakukan itu dengan nona?"tanya Emil.
Sania mencerna perkataan Emil,benar juga.Pasti kak Edward akan marah dengan Emil pikir Sania.
"Sudah sampai nona,cepatlah turun.Dan besok jangan pergi kemana-mana sampai nanti kita kembali ke Indonesia.Saya akan mengirimkan makanan ke apartemen,saya mohon anda mengerti peringatan saya ini."ucap Emil.
Sania kemudian keluar dari mobil Emil,dia langsung masuk ke apartemen tanpa melihat ke belakang Emil yang sedang melihatnya sampai masuk ke dalam.
_
_
_
☆☆☆☆☆
__ADS_1