Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
87.Kekhawatiran Sania


__ADS_3

Sejak Edward pulang,Sania selalu menghindari Edward.Ketika Edward sedang santai di rumah,maka Sania keluar bersama dengan teman-temannya atau memgurung diri di kamar.


Nyonya Karina tidak memyadari aka hal itu,maupun pak Robert.Jika semuanya berkumpul untuk makan malam atau hanya mengobrol di ruang keluarga,Sania lebih banyak diam bahkan lebih sering ke kamarnya setelah makan malam.


Edward tahu tingkah Sania itu untuk menghindari dirinya,hingga Aya menyadari akan hal itu.


"Bie,kenapa ya kok Sania kalau ada kamu selalu menghindar sih?"tanya Aya ketika mereka sudah ada di dalam kamar dan sedang berpelukan.


"Tidak tahu sayang,aku juga belum menyapa dia sejak pulang dari Inggris."jawab Edward,dia mencium pipi istrinya itu.


"Tapi menurutku ada yang aneh deh bie,coba sudah berapa hari kamu pulang.Kan sudah hampir satu minggu.Coba kamu tanyakan ke Sania ada apa sebenarnya.Masa kakak adik harus diam-diaman sih,kan tidak lucu.Apa lagi ini satu rumah,dekat lagi kamarnya."kata Aya lagi.


"Iya nanti aku tanyakan kenapa dia seperti itu."


Lagi,Edward mencium pipi istrinya,lalu tangannya mengelus perut yang sudah mulai membuncit.


"Sudah berapa bulan sayang nih anak kita dalam perutmu?"tanya Edward yang masih mengelus perut Aya.


"Mau menginjak empat bulan.Kata mama minggu depan mengadakan pengajian untuk empat bulanan."jawab Aya.


Dia mengelus rahang Edward yang kokoh dan berbalik menghadapnya.Dia menatap lekat mata suaminya lalu pelan dia mencium bibir suaminya sekilas.


Edward tersenyum dengan tingkah istrinya,dia malah balik mencium lebih lama dan lembut.Keduanya terbuai dengan ciuman masing-masing,lama mereka berciuman dan akhirnya berakhir dengan sama-sama tersenyum.


"Kapan periksa ke dokter lagi sayang?"tanya Edward menyelipkan rambut Aya di balik telinganya.


"Tiga hari lagi bie,kamu mau mengantar kan?"


"Lho kok nanya sih,ya jelas aku yang mengantar kamu periksa ke dokter.Aku suamimu.Biar aku juga leluasa bertanya pada dokter,apakah nanti boleh aku bawa naik pesawat dalam satu minggu lagi.Dan juga bisa aku makan istriku ini."kata Edward kembali mencium seklias bibir istrinya.


Dia selalu tidak puas jika hanya memandangi istrinya saja.Pasti selalu menciumnya.


"Emm,kamu tuh.Pikirannya ke arah sana terus sih bie."ucap Aya,dia kembali bersandar di dada suaminya itu.


"Kalau sudah bertemu istrinya,pasti itu yang selalu aku pikirkan sayang.Apa lagi sejak datang aku belum berani menyentuh kamu.Padahal sudah sangat ingin."kata Edward seperti merajuk pada istrinya itu.


"Sabar bie,kan demi anak kita."


"Iya sayang,aku selalu sabar.Makanya aku tidak berani menyentuhmu sebelum bertanya sama dokter."


Lalu obrolan itu berlanjut pada pertanyaan demi pertanyaan sekitar mereka yang di tinggal masing-masing,hingga larut malam keduanya mengantuk dan tertidur saling memeluk satu sama lain.


_

__ADS_1


Sania sendiri selalu khawatir Edward menceritakan apa yang telah dia alami di Inggris bersama Emil.Dia selalu ketakutan jika bertemu dengan kakaknya itu.


"Kak Edward ngomong tidak ya sama mama?Apa kak Edward bisa di percaya?Kok aku jadi paranoid begini sih."ucap Sania dalam kamarnya sendiri.


Baru dia ingin tidur,pintu kamar di ketuk dari luar,Sania berhenti.Dia menatap pintu itu,takut Edward yang datang dan akan memarahinya.


Sekali lagi pintu di ketuk karena Sania tidak juga menjawab.Dia lalu beranjak ke tempat tidurnya dan akan pura-pura tidur jika itu memang benar kakaknya Edward.


Tiga kali ketukan tidak ada jawaban,akhirnya suara ketukan itu tidak terdengar lagi.Sania lega,dia membuang nafas kasar.


Dan tak berapa lama dia menguap dan tertidur.


Pagi-pagi kembali pintu di ketuk dari luar,Sania mengomel tidak jelas.Dia bangun dari tidurnya dan menuju pintu kamar untuk memarahi siapa yang memgetuk pintu kamarnya dengan keras.


"Siapa sih pagi-pagi sudah ganggu tidur orang."ucapnya sambil.mengucek matanya.


Dia memang pada akhirnya membuka pintu kamarnya dan terlihat nyonya Karina masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.


"Kamu baru bangun tidur?"tanya nyonya Karina.


"Iya ma,mama ganggu tidurku saja sih,huooaaam"jawab Sania di akhiri dengan menguap panjang.


Dia kembali ke ranjangnya dan berbaring lagi,tapi nyonya Karina menarik tangan Sania hingga dia bangun kembali.


"Ini sudah jam berapa?Apa kamu tidak sholat subuh?"tanya nyonya Karina lagi.


"Aku lagi dapat ma,jadi aku bebas ngga sholat.Makanya aku siang terus bangunnya."


"Lagi dapat bukan berarti kamu bangun siang,sayang.Cepat bangun,atau mama akan panggil kakakmu Edward!"ancam nyonya Karina.


Langsung saja Sania bangkit dari tidurnya mendengar nama kakaknya di sebut.Dia duduk dengan tegak dan menatap mamanya yang tersenyum tipis.


Sania pun cemberut,kenapa ancamannya itu Edward sih,apa mamanya tidak tahu kalau Sania itu sedang ketakutan sama kakaknya yang satu itu.Dia takut akan memarahinya dan mengancam tidak boleh pergi ke Inggris lagi atau akan memarabinya karena kejadian waktu itu sehingga dia tidak mau pulang ketika kakaknya mengadakan pesta pernikahan.


Dia juga sebenarnya tidak enak sama kakak iparnya,namun rasa malu dan takutnya waktu itu lebih besar,walaupun Emil mengingatkannya dan memberinya saran agar segera pulang di acara pesta itu.


Mau tidak mau Emil juga tidak bisa pulang karena harus menjaga Sania di Inggris.


"Kenapa mama selalu ngancamnya pakai kak Edward sih."sungut Sania,dia kesal selalu saja begitu.


"Kamu kalau tidak di ancam seperti itu akan susah.Kamu itu punya salah sama kakakmu,kenapa tidak pulang ketika pesta itu berlangsung."kata nyonya Karina.


"Sudah dong ma,dari kemarin itu terus yang di tanya.Kan aku sudah memberi jawabannya karena cuaca buruk jadi pesawat tidak bisa berangkat waktu itu."kata Sania beralasan.

__ADS_1


"Mama tidak yakin dengan alasanmu,kata Emil kamu sudah pesan tiket di hari satu hari sebelum ada badai angin di sana,jadi alasannya tidak masuk ke otak mama."


"Terus aku harus ngomong lagi sampai mulutku berbusa ma?"tanya Sania lagi.


"Ya,mama masih penasaran sama alasanmu itu.Tapi mama tidak mau ungkit lagi,yang penting sekarang kamu bangun dan mandi.Lalu sarapan di bawah sama-sama.Awas kamu masih tidak mau sarapan bersama lagi,mama akan benar-benar menyuruh Edward untuk menarikmu turun ke bawah."ancam nyonya Karina lagi.


"Iya ma,Sania akan turun nanti.Sarapan juga masih terlalu pagi,semua juga masih sibuk dengan urusan mandi dan bersoleknya.Apa lagi kak Edwars,pasti dia sedang peluk-peluk istrinya di kamar."gumam kecil Sania yang masih terdengar oleh mamanya.


"Eh,wajar saja mereka saling berpelukan.Mereka kan suami istri.Sudah cepat mandi sana,jangan tidur lagi.Pamali."


Setelah berkata seperti itu,nyonya Karina keluar dari kamar Sania.


Sedangkan Sania masih mengedumel sendiri dan bergumam kecil.Akhirnya mau tidak mau Sania pergi ke kamar mandi,memang dia juga sudah tidak nyaman di bagian bawahnya karena pembalut yang dia pakai terasa berat dan lengket karena darah menstruasi mengalir banyak.


_


Sania hendak pergi ke butik,dia juga sudah siap akan pergi bersama temannya setelah dari butik. Dia keluar dari kamarnya dan hendak turun,tapi Edward memanggilnya dari pintu kamar,Sania menoleh. Rasa deg degan di dadanya ketika Edward menghampirinya,dia menunduk takut pada kakaknya itu.


"Kamu mau kemana?"tanya Edward menyelidik seluruh anggota badan Sania yang sudah rapi.


Edward tahu Sania mau pergi ke butik,tapi dia hanya ingin tahu sampai kapan adiknya itu menghindarinya.


"Mau ke butik kak."jawab Sania pelan.


"Nanti siang kakak sama kak Aya mau datang ke butikmu,jangan kemana-mana."kata Edward seperti mengancam.


"Iya. Jam berapa kakak mau ke sana?"tanya Sania.


Berharap nanti kakaknya di butik hanya memilih baju saja,bukan menanyakan tentang hal yang di Inggris waktu itu. Tapi itu sepertinya mustahil.


"Jam makan siang kami kesana,nanti kita makan siang bareng."kata Edward lagi.


"Oh,ya sudah nanti aku tunggu. Aku pergi dulu ya kak."kata Sania.


"Iya."


Lalu Sania buru-buru turun dari tangga,Edward hanya memandang kepergian adiknya itu dengan senyum yang mengembang lalu geleng-geleng kepala.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆


__ADS_2