
Lima puluh hari sudah Aya dan Edward menikmati jadi orang tua. Mereka sangat bahagia,bergantian dalam menjaga si kecil Ali yang kini sudah berisi tubuhnya. Ada perpaduan wajah Aya dan Edward, namun juga ada wajah pak Robert di wajah Ali.
Dan dua hari lagi Aya dan Edward akan pulang ke Indonesia. Namun sebelumnya Edward seperti biasa menyerahkan urusan kantor pada asistennya Melky. Dia sudah menunda kemungkinan bertemu klien penting di bulan kedua setelah dia kembali lagi ke Inggris, dan itu bisa di atur.
Melky hanya menjalankan yang sudah ada kontrak kerja saja. Dia lebih sigap dengan tugasnya, jadi Edward lebih leluasa untuk bersama dengan keluarga kecilnya.
"Bie, apa Melky sudah bisa di tinggal lama di sini?"tanya Aya yang sedang merapikan baju-baju Ali di masukkan ke dalam koper.
Sedang Edward sedang menggendong anaknya dan menimangnya sembari mencium pipi bayi itu tiada henti.
"Sudah sayang, Melky dapat di andalkan sama seperti Emil dulu. Emil memang pintar cari orang, dia selalu tahu apa yang aku butuhkan." jawab Edward kembali mencium anaknya.
"Kalau sudah tidur, di tidurkan aja bie di kasur. Kasihan kamu capek gendong terus Ali."
"Aku tidak capek, gendong kamu aja aku tidak capek." ucap Edward.
Aya hanya melirik suaminya saja, dia malas menanggapi ucapan suaminya yang nyeleneh itu.
"Emm bie, uwa nanti di undangkan di acara pernikahan Sania?"
"Iya sayang, semuanya juga. Bayu dan kak Salma serta Mentari ikut aja. Kamu tahu sayang, Edrick itu kelihatannya suka sama adiknya Bayu itu."
"Oh ya, kamu tahu dari mana?"
"Lho, kamu lupa. Waktu pesta pernikahan kita itu Edrick sering banget curi-curi pandang sama adiknya Bayu. Kukira lebih baik sahabatmu itu di undang saja. Edrick pasti senang sekali."
"Tapi tidak enak bie, kan Emil dan Sania tidak kenal Mentari."
"Ya tidak apa-apa. Hitung-hitung ketemu kamu dan menjenguk bayi kita."
"Tapi Edrick berbeda bie, apa perbedaan itu bisa di terima. Aku yakin sih Mentari juga tidak akan menerima perbedaan itu."
Ya, hanya cinta yang bisa merubah seseorang sayang. Siapa tahu Edrick dapat hidayah karena mengenar cinta."
"Kalau mau seperti itu jangan karena seorang perempuan bie, itu nanti kalau berpisah akan kembali lagi ke kayakinannya bagaimana? Itu namanya mempermainkan sebuah keyakinan."
"Aku tahu Edrick tidak seperti itu, tapi dia banyak sekali kekurangannya. Dan bukan laki-laki suci."
"Maksudnya apa bukan laki-laki suci?"
"Emm,kamu jangan memandang Edrick sebagai laki-laki yang negatif sayang. Dia memang playboy dulu. Tapi aku lihat akhir-akhir ini dia begitu kalem, jarang ke klub malam. Dulunya dia sering gonta ganti pasangan masuk ke klub dan kamu tahulah bagaimana jika sudah di sana."
"Tunggu dulu bie, aku tidak mengerti maksud laki-laki suci itu. Kok kamu sudah menerangkan yang lainnya."
Edward menghela nafas panjang, dia letakkan bayinya di kasur lalu menghampiri istrinya yang duduk di sofa.
"Edrick itu laki-laki playboy yang sering ganti pasangan. Seperti kamu tahu sayang, kalau laki-laki di goda perempuan seksi ya kejantanannya itu akan bereaksi. Dan ya kamu tahu sendiri kemana arahnya, pasti pergi ke hotel. Nah Edrick seperti itu dulu. Jadi dia bukan laki-laki suci sepertiku sayang."
"Kamu laki-laki suci, yakin bie?" goda Aya, dia mencibir suaminya.
"Aku yakin sayang, tapi sejak aku menggaulimu aku jadi tidak suci lagi. Rasanya aku nagih terus sama kamu, seperti sekarang sayang." kata Edward, dia tahu Aya sudah selesai nifasnya waktu empat puluh hari lalu.
Edward kemudian menarik tengkuk Aya lalu mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya, dia belai leher Aya lalu tangannya perlahan menelusup ke bagian dada Aya. Sebenarnya sudah dari empat puluh hari lalu, namun dia kasihan. Dan sekarang dia tidak bisa menahan sampai dua bulan.
"Kamu sudah selesaikan nifasnya? Aku lihat tadi kamu sudah sholat." ucap Edward masih terus bermain di leher Aya.
__ADS_1
"Euuh, eem iya bie. Kamu tidak sabaran sih." kata Aya sambil memejamkan mata menikmati cumbuan suaminya.
Edward tersenyum, dia lalu menatap istrinya yang masih terpejam. Dia membuka baju Aya perlahan satu persatu, Aya membuka matanya dan juga senyuman manisnya mengembang.
"Memang mau di sini?"
"Di mana pun, aku suka."
Dan tanpa banyak bicara lagi, mereka akhirnya melakukan percintaan di sofa. Keduanya menikmati harsat terpendam dan baru di salurkan sekarang.
_
Edward dan Aya sudah naik pesawat beserta anak mereka. Di rumah nyonya Karina masih terasa sepi. Pak Robert belum pulang dan Nicko juga sepertinya masih ada pertemuan dengan rekan bisnisnya.
Sedangkan Sania kini masih di butik. Dia menunggu Emil menjemputnya. Entah sejak kapan Sania jadi kurang bergairah, dia ingin bercerita pada Edward kakaknya kalau dirinya di jodohkan dengan teman papanya.
Cerita sama Emil pun, dia hanya diam saja. Tanpa memberikan komentar yang membuatnya tenang. Dua minggu lagi pernikahannya. Keputusan papanya tidak bisa di ganggu gugat.
Tapi ada yang di tutupi ternyata, Sania tidak tahu dan memang semuanya kompak tidak memberitahu Sania kalau dia akan menikah dengan Emil.
Mobil Emil datang, Sania bangkit dari duduknya dan langsung masuk ke dalan mobil ketika mobil berhenti. Wajahnya di tekuk. Emil melihat Sania begitu tidak bergairah.
"Nona kenapa?" tanya Emil belum menjalankan mobilnya.
"Sudah sih jalan aja mobilnya. Aku malas bicara." kata Sania ketus.
Emil diam, dia menatap Sania lama. Namun kemudian dia melajukan juga mobilnya tanpa bertanya lagi.
"Nona tidak.mau menikah dengan rekan papa nona?" tanya Emil, dia takut Sania tidak mau menerimanya.
"Papa kenapa tidak mengenalkan dulu temannya itu padaku. Kalau sama kak Emil sih tidak apa, tapi kan ini sama teman papa. Mungkin dia sudah tua, jelek lagi." ucap Sania kesal.
"Kamu mauenikah denganku?" tanya Emil tanpa melihat ke arah Sania, matanya menatap jalanan yang gelap dan ramai.
"Iiyaa itu kalau kak Emil mau, tapi dari pada dengan teman papa yang sudah tua mending sama kak Emil." jawab Sania semakin pelan suaranya.
Dia menunduk malu, wajahnya merona. Emil malah senang dengan tingkah Sania seperti itu. Dia tetawa kecil hingga Sania semakin menyembunyikan wajahnya di pinggir kaca mobil.
"Terima saja menikah dengan teman papa anda, nona. Barangkali dia tampan sepertiku." ucap Emil dengan enteng.
Semakin membuat Sania cemberut, dia menatap Emil kesal.
"Percuma cerita sama kak Emil, sama saja dengan papa dan mama." ucap Sania.
Termyata semua mengerjai Sania sampai waktu akad tiba nanti. Emil senang memberi teka teki seperti itu pada Sania.
Alasan kenapa tidak ada yang mau bicara tentang calon suami Sania karena mereka ingin melihat Sania lebih dewasa, dengan begitu Sania bisa belajar menerima apa yang dia dapatkan adalah sebuah pilihan untuknya yang harus di jalaninya.
"Aku mau protes sama papa, nanti minta tolong sama kak Edward."
"Minta tolong apa?"
"Minta tolong bicara sama papa, jangan maksa anaknya menikah dengan laki-laki yang tidak di kenalnya."
"Tapi kakak anda pasti menyetujuinya juga."
__ADS_1
"Kak Edward aja menikah dengan pilihannya sendiri, masa aku di jodohkan sih."
" Mungkin karena nona masih terlalu kekanak-kanakan jadi papa mama anda harus menjodohkan dengan pilihannya."
"Kak Emil! Bisa tidak sih jangan membuatku kesal?"
" Sudah sampai, silakan turun." ucap Emil tanpa mengindahkan Sania yang marah padanya.
Emil membuka pintunya karena Sania tidak juga turun. Akhirnya Sania turun juga dengan wajah cemberutnya.
"Aku tidak mau di jemput lagi sama kak Emil!"
"Oke."
"Kak Emiiil!!"
Sania berteriak, membuat nyonya Karina keluar tergopoh-gopoh.
"Sania, ada apa?"
Di susul dengan Edward yang baru sampai di rumah. Sania tidak melihat mobil pak Dori terparkir di depan yang tadi menjemput Edward di bandara.
"Emil, kenapa dia berteriak?" tanya Edward melihat Sanja yang kesal pada Emil.
" Dia tidak.mau di jemput olehku."
"Kak Edward, kapan datang. Aku kangen." ujar Sania sambil berlari menuju kakaknya itu.
Semua mata yang memandang tingkah Sania hanya mengeluh kesal.
Lalu mereka masuk ke dalam rumah, Emil berjalan di samping Edward.
"Selamat datang tuan muda."
"Haish, aku sudah katakan belajar memanggilku kakak."
Edward memeluk Emil erat, keduanya berpelukan seperti baru beberapa tahun tidam bertemu.
"Selamat atas kelahiran anaknya."
"Ya, terima kasih. Dia akan jadi keponakanmu juga."
Sania sudah masuk ke dalam kamar Aya untuk melihat keponakannya. Sedangkan Edward dan Emil duduk di ruang tamu, berbincang-bincang tentang Sania yang tadi berteriak.
"Oh, jadi dia belum tahu mau menikah denganmu?"
"Belum, sepertinya tuan besar dan nyonya sengaja menyembunykkannya."
"Waah, menarik ini. Biarlah seperti itu sampai di hari ijab kabulmua. Pasti dia akan terkejut dan senang."
Obrolan demi obrolan bergulir, menanyakan kabar dan kantor masing-masing hingga waktu sudah terlalu malam, Emil berpamitan pulang.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆☆