
Hendro kecil seperti anak tiri di mata ayahnya menurutnya,dia benar-benar kesal ketika sang ayah hanya menuruti kemauan Karina kakaknya.
Seperti sore ini,Hendro ingin pergi ke pasar malam bersama temannya.Namun ayahnya tidak memberinya ijin,namun ketika Karina ingin pergi ke pasar malam dengan pacarnya saat itu di perbolehkan.Alasannya dia ada yang menjaganya yaitu pacarnya,sedangkan dia hanya anak kecil yang baru berumur sebelas tahun.Belum bisa mengenal keadaan dan belum berbuat mandiri,seperti kakaknya.Padahal dia laki-laki.
Walaupun dia laki-laki tapi di mata ayahnya Hendro tetaplah anak kecil yang belum bisa apa pun.Beda dengan Karina yang sudah usia tujuh belas tahun,sudah bisa membawa diri dan mandiri.
Walaupun begitu,Karina sangat sayang pada adik laki-lakinya itu,dia tidak membedakan antara adik beda ibu.Selalu saja apa yang di minta adiknya dia berikan.
Suatu hari,Hendro ingin membalas ayahnya,dia merasa kesal.Maka dia membuat jebakan kursi yang biasa di duduki ayahnya di teras rumah.Dia memotong sepertiga kaki agar jika di duduki kursi itu akan tumbang miring sebelah.
Pagi itu,seperti biasa ayah Karina duduk-duduk di kursi di teras setelah sarapan pagi.Karena ini hari minggu maka semua kegiatan di luar rumah libur.
Hendro pergi berpamitan untuk olah raga di lapangan sepak bola bersama teman-temannya,dia sengaja pergi agar perbuatannya tidak di ketahui oleh siapapun nanti jika ayahnya memang jatuh dari kursi itu.
Satu jam Hendro bermain di lapangan,dia pulang berharap ada kejadian sesuai harapannya dari perbuatannya.
Dan benar saja,Hendro masuk ke dalam rumah.Ayahnya sedang berbaring di kursi panjang di dampingi kakaknya sambil mengelus pinggang ayahnya.Dengan wajah polosnya itu,Hendro mendekati ayahnya yang sedang meringis kesakitan.
"Ayah kenapa mba?"tanya Hendro pura-pura tidak tahu.
"Tadi ayah jatuh dari kursi.Entah kenapa kursinya kok tiba-tiba patah,jadi ayah jatuh.Pinggangnya sakit."jawab Karina.
"Kenapa bisa patah,ayah biasanya teliti."ucap Hendro melirik ayahnya yang masih meringis.
"Ya namanya juga musibah,ya mana tahu kursi itu patah.Lagi pula mbak lihat seperti ada yang motong tuh kaki kursi.Masa kayu kokoh begitu bisa patah,itukan kayu jati.Jadi mana mungkin bisa patah begitu."ujar Karina.
Hendro diam,dia sedikit salah tingkah.Namun dia cepat kuasai agar tidak terlihat mencurigakan.
"Memang siapa yang berani memotong kursi ayah?"tanya Hendro pura-pura tidak tahu.
"Ngga tahu,orang lewat mungkin."
Akhirnya,tukang urut yang di minta datang ke rumah sampai juga.Karina memberi tahu kalau tukang urut sudah datang.Ayahnya di suruh membaringkan tubuhnya di ranjang.Kemudian tukang urut itu pun mengurut dengan telaten.
Hendro hanya menatap datar pada ayahnya itu,dia masih belum bisa menerima perlakuan tidak sama dari ayahnya.
_
Enam tahun berlalu,kini Hendro semakin dewasa.Dia masih merasa di perlakukan tidak adil oleh ayahnya.Ketika Karina kuliah,ayahnya langsung menyetujui dengan jurusan yang di minta Karina,yaitu jurusan desainer.Sedangkan dirinya meminta kuliah dengan jurusan kedokteran tidak boleh oleh ayahnya.Ayahnya meminta dia mengambil jurusan manajemen bisnis yang kelak akan menjadi pengusaha.Walau bidang yang di geluti ayahnya bukan bisnis,namun ayahnya meminta Hendro menjadi pengusaha sukses.
Hendro menantang,dia kabur dari rumah dan tinggal bersama teman-temannya yang secara pergaulan kurang bagus untuk remaja menginjak dewasa.Pergaulannya dengan teman-teman berandalannya membuat Hendro jadi anak yang selalu membangkang.
Jika dia butuh uang,dia hanya meminta pada kakaknya Karina.Dan Karina selalu memberikan uang sakunya pada adik satu-satunya itu.
"Dek,kamu pulang ya.Kasihan sama ayah."ucap Karina pada Hendro yang menyambanginya ke kampusnya.
"Ngga mba,aku sudah nyaman dengan teman-temanku sekarang."ucap Hendro.
"Apa kamu ngga kasihan sama ayah?Beliau selalu memikirkanmu."
"Kalau memikirkanku masa ayah ngga pernah menyuruh aku pulang."
"Kan ini mbak suruh kamu pulang."
"Itu kan mbak Karina yang nyuruh,bukan ayah."
"Sama saja dek,ayah juga bilang sama mbak untuk mengajakmu pulang.Lagi pula kamu berteman kok sama orang-orang seperti mereka sih?"
"Seperti apa?Mereka teman-temanku,mbak.Mbak jangan menghalangiku untuk berteman dengan mereka!"
"Bukan tidak boleh berteman dengan mereka.Tapi kamu kurangi berteman dengan mereka.Mereka itu kurang baik,selalu minum-minuman keras main merampas barang orang lain.Itu ngga baik dek."
__ADS_1
"Stop mbak.Aku mau pergi,percuma bicara sama mbak Karina,sama saja dengan ayah!"ucap Hendro ketus.
Lalu Hendro pergi dengan keadaan kesal.Karina hanya geleng-geleng kepala saja melihat adiknya pergi dalam keadaan kesal padanya.
_
Malam ini Hendro pulang dalam keadaan mabuk,dia menggedor pintu karena terkunci.Lama tidak di buka sehingga dia berteriak kencang.
"Bukaa!"
Masih belum ada yang membuka pintunya.
"Buka pintunya!!"
Brug! brug! brug!
Hendro menggedor pintu dengan kencang,dan tak lama pintu terbuka.Hendro terhuyung hampir jatuh jika tidak di tahan oleh ayahnya.
"Kamu datang-datang mabuk begini,Hendro!"bentak ayahnya dengan marah.
"Memang kenapa,hah?!"Hendro balik membentak ayahnya sambil berkacak pinggang.
"Kamu,anak kurang ajar!"ucap ayahnya hampir mengayunkan tangannya ke pipi Hendro.
"Tampar saja,ayah kan senang dengan ketidak adilan ayah sama aku.Ayah lebih sayang sama Karina itu!"
"Hendro! Bagaimana mungkin ayah tidak adil padamu?"
"Heh! Ayah lebih senang mbak Karina kuliah jurusan desainer,sedangkan aku? Aku hanya minta jadi dokter,tapi ayah menolaknya."ucap Hendro dengan tubuhnya yang sempoyongan sambil tersenyum sinis.
Wajah merah padam ayahnya kembali redup,dia tidak menyangka akan keputusannya mengenai pendidikan anaknya bisa berbalik jadi membencinya.
"Sudah terlambat,aku sudah tidak berminat lagi."ucap Hendro berjalan menuju tangga.
Ayahnya diam di tempatnya,dia memandang anaknya yang menaiki tangga dengan sempoyongan.Dia kemudian mendekati anaknya yang masih berdiri di tangga ke lima,berniat untuk membantunya.Hendro malah menepis tangan ayahnya.
"Aku bisa sendiri,jangan membantuku."
"Kamu jalan seperti itu mana bisa sampai di atas."
"Aku bilang,aku bisa jalan sendiri.Tidak usah peduli padaku!"
Tangan ayahnya dia hempaskan dengan kencang,sehingga laki-laki tua itu kaget dan hilang keseimbangan lalu terjatuh berguling dari tangga kesepuluh sampai bawah.
Hendro kaget,dia diam memandang ayahnya terjatuh dari tangga.Dia melihat ayahnya tak bergerak,dia turun kebawah memastikan ayahnya masih sadar.
Lima menit dia berjongkok memastikan ayahnya bangun,namun ayahnya masih diam.Malah dari belakang kepalanya keluar darah segar.
Hendro kaget,dia panik.Lalu dia bergegas keluar rumah,berlari sekencang-kencangnya walau larinya jatuh bangun karena dalam keadaan mabuk.Dia keluar gerbang dan terus berlari meninggalkan ayahnya yang masih tergeletak di lantai bawah.
_
Karina terus menghubungi adiknya,dia terus mondar mandir di lorong rumah sakit.Wajah paniknya tampak jelas.Seorang perawat menghampiri memberitahunya untuk menemui dokter yang menangani ayahnya.
Karina bergegas menuju ruangan dokter yang tadi memanggilnya.Dia mengetuk pintu.
Tok tok tok
"Masuk."
Karina masuk ke dalam ruangan itu,dia duduk di depan meja dokter setelah di persilakan duduk.Karina menunggu penjelasan dokter yang sedang menulis sesuatu.
__ADS_1
Karina menunggu dengan tidak sabar,dia kini bertanya.
"Dokter,bagaimana keadaan ayah saya?"tanya Karina gelisah.
"Ya,baik.Begini ibu Karina,kepala ayah anda terbentur sangat keras,akhirnya mengeluarkan darah.Dengan benturan keras itu,membuat ayah anda koma."ucap dokter.
"Apa,koma?"ucap Karina kaget dengan penjelasan dokter itu.
"Iya,ayah anda dalam keadaan koma."
"Sampai kapan dokter?"
"Saya tidak tahu,di lihat dari hasil ct scan benturan kepala sangat keras dan mengakibatkan syaraf di kepalanya terganggu.Dan syarafnya ini saling menempel karena tidak segera di bawa ke rumah sakit,jadi untuk berapa lama koma itu tidak tahu.Berdoa saja,semoga ada keajaiban dari Tuhan."
"Maksudnya apa dok?"
Dokter menghela nafas panjang,menatap Karina dengan ragu untuk menyampaikan kemungkinan yang di alami ayahnya.
"Dokter,katakan apa maksudnya?"Karina mendesal dokter untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Anda harus sabar,kemungkinan untuk selamat itu kecil.Karena syaraf vital sudah terputus di dalam."ucap dokter pelan,berharap anak dari pasiennya itu tidak syok mendengarnya.
"Ya Allah,cobaan apa lagi ini."teriak Karina menutup mulutnya sambil menangis.
Dia tidak sanggup mendengar kenyataan pahit itu.
"Tidak dokter,dokter pasti salah diagnosa.Ayah saya pasti sembuh kan dok?"teriak Karina.
"Tenang dulu,mba.Mba harus sabar.Mungkin ini sudah ketentuan Tuhan,jika ayah anda langsung di bawa ke rumah sakit mungkin bisa terselamatkan"
"Hik hik hik..Ayah..!"
Karina menjerit,dia berlari keluar ruangan menuju ruang ICU menemui ayahnya yang terbujur kaku.Beberapa alat medis menempel di tubuhnya.Alat pengitung detak jantung awalnya berjalan normal,kemudian tersendat.
Karina menatap ayahnya yang terlihat pucat,dia melihat alat medis yang menempel di tangan,mulut serta hidungnya.Karina mendekap ayahnya sambil menangis.
"Ayah,jangan tinggalkan Karin ayah,hik hik hik."
Satu tangan menyentuh lengan Karina,dia menoleh siapa yang memegang tangannya.
"Hendro,ayah sakit Hendro hik hik hik."ucap Karina menatap Hendro yang tadi memegang lengannya.
Dia memeluk adik satu-satunya lalu menangis kencang.
"Sudah mba,mungkin ini takdir Tuhan."ucap Hendro menenangkan kakaknya.
Dia menatap alat-alat yang menempel di tubuh ayahnya.Ada rasa sedih di hatinya,namun dia hanya diam saja.
Beberapa detik,bunyi tut panjang di alat penghitung jantung.Menandakan bahwa nafas ayahnya berhembus terakhir kali.
Karina menjerit histetis,Hendro menahan kakaknya yang memegang erat tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa beberapa menit lalu.
_
_
_
☆☆☆☆☆
\=> jangan lupa dukung othor ya,like & komennya di tunggu..😉😊✌🙏🙏
__ADS_1