Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
102. Kejutan Untuk Sania


__ADS_3

Tidak ada yang peduli dengan protesnya Sania, dia ingin lari rasanya. Namun itu tidak mungkin. Benar apa kata papanya, jika dia membatalkan pernikahan secara mendadak maka yang akan malu adalah keluarganya.


Mungkin dia tidak menyesal membatalkan pernikahannya seperti kata papanya, pikirnya lagi.


Sania masih termenung pagi ini. Dia terasa tidak ada gairah hidup lagi. Menghubungi Emil sejak tadi malam tidak juga tersambung, ingin dia menangis.


Pintu di ketuk dari luar, Sania mendongak lalu dia beranjak bangun untuk membuka pintu, siapa yang pagi-pagi begini sudah mengganggunya.


"Halo Sania." satu sapaan yang begitu lembut dari mulut kakak iparnya.


"Ya kak, ada apa?" tanya Sania.


"Boleh aku masuk?" tanya Aya sambil tersenyum.


"Ya, masuklah."


Aya masuk ke dalam kamar Sania, dia memang sengaja ingin mengobrol berdua dengan Sania pagi ini, sebelum jam sepuluh nanti terjadi peristiwa sakral untuk Sania.


Aya duduk di tepi ranjang Sania, kamarnya memang tidak di hias seperti layaknya kamar pemgantin. Karena acara ijab kabul dan resepsi ada di hotel berbintang milik keluarga Alexander, seperti dulu Edward menikah.


"Kak Aya mau apa?" tanya Sania, dia duduk di samping Aya dengan wajah sendu.


"Kok wajah kamu seperti tidak bahagia.?" tanya Aya.


"Semua orang tidak mau mendengarkan aku kak. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki tua dengut teman papa, aku protes sama papa tapi tidak di pedulikan. Kak Aya, aku harus bagaimana? Hik hik hik..." suara tangisan Sania pecah.


Aya memeluk Sania dengan erat. Dia ingin tertawa dan memberi tahu Sania jika calon suaminya bukan seperti itu. Namun dia ingat ucapan Edward bahwa itu untuk kejutan Sania. Di hari pernikahannya memang di ambil tanggal ulang tahunnya.


Aya mengelus punggung Sania pelan, kini dia hanya bisa memberi nasehat saja.


"Kamu tahu Sania, dulu waktu kaka menikah tidak tahu kalau aku sudah menikah dengan kakakmu seminggu kemudian. Uwakku tidak memberi tahu kalau aku sudah menikah satu minggu kemudian setelah aku pulang dari kota mencari ibu. Tiba-tiba malam kakakmu datang dan masuk ke dalam kamar tanpa sepengetahuanku. Aku kaget waktu dia sudah duduk di depanku.


Dia mengatakan kalau dia adalah suamiku sudah satu minggu. Ya aku tidak percaya, tapi kemudian dia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan video ijab kabulnya dengan uwakku. Jadi mau tidak mau aku pun menerima karena memang dia yang selama ini kakak tunggu.


Dulu aku pasrah karena dia tidak pernah datang sejak peristiwa penyelamatanku dari penculikanku. Dia tertembak. Namun setelah itu dia tidak memberi kabar padaku.


Tapi dia datang tahu-tahu sudah jadi suamiku. Aku bahagia dan tidak percaya rasanya."


Aya berhenti sampai di situ, dia menarik pundak Sania untuk tegak kembali.


"Lalu sekarang kakak bahagia dengan kak Edwrad?" tanya Sania.


"Ya, kakak bahagia dia yang jadi suamiku. Sejak lama aku menunggunya tanpa kabar, dia datang sudah jadi suamiku."


"Cerita kakak kok sedih dan enak banget ya. Coba aku begitu, pasti rasanya sangat senang dan bahagia." kara Sania menunduk sedih.


"Cobalah untuk menerima pernikahan ini. Setiap cerita orang itu berbeda. Coba kamu pasrahkan semua pada Allah swt, pasti kamu akan menemukan kebahagiaan seperti kakak." kata Aya menasehati.


"Apa aku akan bahagia setelah pernikahan ini?" tanya Sania ragu.


"Ya, kamu akan bahagia setelah ijab kabul itu selesai. Percaya sama kakak asal kamu pasrahkan semuanya pada Allah, berdoa memohon keridhoan padaNya."


Sania diam, dia lalu mengangguk. Memang lebih baik pasrah pada Yang Di Atas, dari pada menlrengek minta di batalkan pernikahan. Dia akan coba menerima keputusan kedua orang tuanya untuk menikah dengan teman papanya.


"Baiklah kak, aku akan menerima semua pilihan papa." kata Sania, dia menarik nafas panjang.

__ADS_1


Aya tersenyum senang, dia lalu memeluk Sania lagi. Dia membayangkan akan sesenang dan sebahagia apa nanti setelah Sania tahu suaminya itu adalah Emil. Eperti dirinya dulu, sangat bahagia ketika tahu Edward adalah suaminya setelah sekian lama dia gelisah menunggu Edward datang.


"Ya sudah, kakak juga mau siap-siap untuk ke acara kamu nanti. Sekarang harus lebih lama karena ada Ali yang harus di dandani juga." kata Aya mengurai pelukannya.


"Iya kak, terima kasih ya atas ceritanya. Aku jadi bersemangat, siapa tahu nanti kebahagiaanku sedang menunggu." kata Sania.


"Nah, begitu dong. Dari pada meratapi yang tidak jelas lebih baik menerimanya dengan ikhlas." kata Aya lagi.


"Iya kak, terima kasih ya kak Aya." kata Sania kembali memeluk Aya.


"Ya udah, kakak ke kamar lagi. Takut Ali nangis, dia belum bangun, soalnya kalau bangun pasti minta asi."


Aya beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Sania. Setelah Aya keluar, Sania kembali melamun. Memikirkan apa yang di ucapkan kakak iparnya itu.


"Ya sudahlah, aku terima apapun yang akan terjadi. Kalau aku tidak bahagia, aku akan protes sama papa nanti." ucap Sania, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap pergi ke hotel jam tujuh pagi.


_


Jam sembilan lebih Sania menunggu di kamar hotel, dia sudah di dandani dengan cantik oleh perias pengantin. Sudah siap untuk bersanding dengan calon suaminya. Walaupun dia menerima, tapi dia juga gugup. Bagaimana nanti suaminya, apakah memang dia tampan walau sudah tua.


Nyonya Karina masuk ke kamar Sania, dia tersenyum pada anaknya sudah siap dan sangat cantik itu.


"Duh, sayang anak bontot mama mau jadi istri orang. Mama bahagia jadinya."kata nyonya Karina menghampiri anaknya itu.


Sania hanya tersenyum saja, dia memandang mamanya dengan sedih. Tak terasa air matanya mengalir lalu memeluk nyonya Karina.


"Lho, kok menangis?" tanya nyonya Karina memeluk anaknya itu.


"Aku tidak tahu ma, tiba-tiba saja air mataku mengalir." kata Sania menghapus air katanya dengan tisu.


Sania mengangguk pelan. Dia lalu duduk tegak kembali. Nyonya Karina menemani anaknya yang sedang gugup itu Sedangkan di ballroom sedang persiapan ijab kabul pernikahan Emi dan Sania.


Emil juga tampak gugup dengan pernikahannya itu. Beberapa menit lagi keluarga Alexander akan jadi bagian keluarganya juga. Dia akan menjabat tangan tuan besarnya mengucap janji suci di hadapan majikannya dan akan berubah jadi mertuanya.


"Kamu gugup?" bisik Edward pada Emil.


Dia tersenyum sinis pada mantan asistennya itu. Seperti halnya dulu dirinya sering di ledek Emil ketika menikah namun mempelai wanita tidak ada.


"Lumayan." jawab Emil singkat saja.


Lalu pak penghulu datang menyalami semua yang hadir. Pak Robert dan pak Dori kini sudah duduk berdampingan layaknya seorang besan.


Kini semua bersiap, duduk menghadap Emil dan pak penghulu. Di samping pak penghulu ada pak Robert menghadap Emil yang duduk dengan tegak. Dia berusaha untuk tenang, merapalkan doa agar semuanya berjalan dengan lancar.


Edward mendampingi Emil di sebelahnya, dia ingin mendapningi mantan asistennya yang sebentar lagi akan jadi adik iparnya.


"Semua sudah siap ya." tanya pak pemghulu.


"Siap." jawab Emil dan pak Robert berbarengan.


Lalu sebelum menjabat tangan, pak penghulu menyamoaikan pesan-pesan pernikahan. Membacakan doa dan khotbah pernikahan, semua mendengarkan dengan khusyuk tak lupa juga Emil yang siap melepas masa lajangnya.


Para hadirin juga mendengarkan dan memandang acara sakral tersebut.


Dan tibalah pengucapan ijab kabul, Emil menarik nafas pelan. Dia menjabat tangan pak Robert dan menatapnya yakin kalau nanti dia akan membahagiakna anaknya nanti.

__ADS_1


"Saya nikahkan dan saya kawinkan Emil Laksamana bin bapak Daud dengan ananda Sania Pratiwi Alexander binti bapak Robert Alexander dengan mas kawain emas sebesar seratus gram di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Sania Pratiwi bin bapak Robert Alexander dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah!"


Suara sah menggema di ballroom hotel tersebut, dan tepukkan tangan juga mengiringi kemeriahan acara sakral tersebut.


Dan kini Emil menyalami pak Robert dengan mencium tangannya dengan khidmat. Lalu dia di giring ke tempat pelaminan.


Sania yang mendengar pengucapan kata sah dari ponsel yang di tujukan padanya menjadi lega dan juga sedih. Pasalnya dia masih belum tahu suaminya itu.


"Sayang ,ayo kita ke pelaminan. Di sana suamimu sudah menunggu." kata nyonya Karina.


Sania masih diam, dia ragu untuk melangkah. Namun nyonya Karina membimbingnya untuk segera keluar dari kamarnya menuju ballroom hotel.


Beberapa menit Sania dan nyonya Karina sampai di ballroom, tampak tamu undangan menatap Sania dengan takjub. Dia begitu cantik, tidak lupa Emil menatap istrinya itu dari jauh. Dia juga tampak gugup.


Sania berjalan dengan menundukkan kepalanya sampai di pelaminan, dia enggan melihat siapa suaminya.


Semua mata memandang Sania dengan senyum mengembang. Mereka yakin Sania akan terkejut siapa suaminya itu sekarang.


Setelah sampai di depan Emil, Sania mencoba melirik laki-laki yang sejak tadi menatapnya. Dia mendongak sebentar lalu menunduk lagi.


Ada yang aneh, apa benar penglihatannya itu?


Lalu Sania mendongak lagi pada Emil, Emil tersenyum manis padanya. Sania terkejut, jadi suaminya itu Emil?


"Kak Emil?" tanya Sania tidak percaya.


"Ya."


"Apa benar ini kakak?"


"Ya, kenapa? Kamu tidak suka menikah denganku?"


Mata Sania mengerjap beberapa kali, namun dia tetap melihat Emil di depannya dengan senyumnya mengembang.


"Aaah, kaka Emil. Aku mau." ucap Sania dengan manjanya.


Dia menngandeng tangan Emil dengan erat. Edward dan Nicko menghampiri keduanya yang tampak bahagia.


"Ehm, yang sudah menikah. Katanya laki-laki gendut dan jelek. Tapi tetap saja di gandeng teruuuus." ledek Edward.


"Kalian jahat!" teriak Sania.


Semua nampak gembira dengan pernikahan itu sekaligus mereka memberi tahu kalau pernikahan itu tepat di tanggal Sania ulang tahun.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆☆


__ADS_2