Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
33.Kebenaran Dari Pak Imron


__ADS_3

Edward masih menyebarkan biji kacang hijau di sepanjang jalan yang dia lewati.Sampai di sebuah rumah di tengah ramainya rumah penduduk,namun sangat sepi.


Biji kacang hijau terakhir dia sebarkan di sekitar rumah sebelum dia di giring dan di periksa masuk oleh kelompok mereka yang sudah menunggunya sejak tadi.


Ada lima orang di luar yang berjaga,Edward memperhatikan penampilan kelima penjaga tersebut.Memastikan kekuatan dan kemampuan ilmu bela diri yang di miliki masing-masing penjaga.


Edward bisa menebak seberapa kuat dan mampu bertahan lawannya untuk melawan pertarungan dengannya.


Kali ini Edward menatap satu orang yang dia kira cukup tangguh untuk berkelahi.Akan bertahan lama jika dia melawan satu orang di belakang orang yang menyeringai padanya.


Edward berjalan dengan tenang,dia masih menatap satu persatu orang-orang di sekelilingnya.


Dia menghitung dari luar orang-orang itu.Di luar ada lima orang dan di dalam malah lebih sedikit,kemudian matanya berkeliling lagi mencari keberadaan Aya.


Tas besar yang sejak tadi dia bawa masih di tentengnya dengan erat.


Rahangnya mengeras ketika dia melihat samar seseorang yang dia kenali di sekap di pojok bangunan itu.


"Periksa dia!"perintah orang yang menutup kepalanya dengan topi besar juga menggunakan masker pada anak buahnya yang di sampingnya.


Lalu anak buahnya itu maju mendekati Edward memeriksa segala sudut baju yang di kenakan Edward.


Mata Edward masih memandang ke arah perempuan yang di sekap,karena perempuan itu belum sadar akan kehadiran Edward.


Edward meletakkan tasnya kemudian merentangkan tangannya,memberi kesempatan pada penjaga yang memeriksanya.


Dengan tenang namun gelisah dia masih menatap Aya.Mungkin karena ada ikatan batin,Aya menatap balik Edward yang sedang merentangkan tangannya dan menatapnya.


Aya terkejut,tapi dia diam saja.Ada rasa bahagia ketika Edward datang ingin menyelamatkannya.Dia tersenyum dan berucap lirih.


"Edward,kamu datang?"


Seolah tahu apa yang di ucapkan Aya,Edward mengangguk pelan,dia masih menatap.Memberinya ketenangan walau dalam keadaan sulit dan berbahaya.


Dan Aya merasa lebih tegar ketika melihat Edward dari jauh.Senyumnya mengembang lalu menunduk ketika tiba-tiba hatinya merasa rindu itu telah terobati dengan melihat Edward dari jauh.


Setelah Edward di periksa,penjaga itu kembali ke tempatnya semula.Memberi tahu bosnya kalau Edward tidak membawa senjata apapun.


Edward masih diam,menunggu sedikit lebih lama untuk bernegosiasi.Menunggu pengawal dan asistennya sampai di tempatnya sekarang dengan petunjuk sebaran biji kacang hijau di setiap jalan yang dia lalui tadi.


"Mana uangnya?"tanya orang yang di anggap bos itu pada Edward dengan keras.


"Serahkan dulu perempuan yang kalian culik!"ucap Edward lebih lantang.


Mereka diam,Edward masih memegang tali tasnya dengan erat.Dia melirik jam di tangannya.Sudah setengah jam dia di sini,seharusnya sudah dekat pengawalnya menyusul.


Tapi mungkin agak susah juga karena biji kacang hijau itu kecil dan tidak mudah untuk di lihat dari jauh.


Ketiga orang yang menghadap Edward diam menatapnya,tapi sikap tenang Edward membuat bosnya itu menyuruh anak buah di sampingnya untuk membawa gadis yang mereka tawan.


Edward sama sekali tidak mengenali mereka semua,sempat dia curiga kalau penculikan Aya berhubungan dengan pak Imron.Karena hanya pak Imron yang tahu dia sering mengantar Aya pulang dari pesantren walau tidak sering.


Orang yang di anggap bos itu menjauh dari hadapan Edward karena ponselnya berbunyi.


Edward menajamkan telinganya,dia ingin mengetahui siapa yang menelepon orang itu.Tapi karena terlalu jauh,dia tidak bisa mendengarnya.


Tak lama anak buah yang di suruh membawa Aya menghadap,kini sudah berdiri di depan Edward sambil tangannya mencengkeram lengan Aya yang di ikat.

__ADS_1


Edward berusaha tenang,karena dia ingin Aya tidak panik dengan keadaan ini.Tapi bukan Aya namanya ketika dia di situasi seperti ini,dia juga terlihat tenang walau di hatinya setiap saat merasa takut pada sekelompok orang yang menculiknya itu akan melecehkannya bahkan memperkosanya.


Dia selalu memohon pada Sang Maha Penolong pada setiap hambaNya yang meminta tolong agar di jauhkan dari orang-orang yang mencari keuntungan pada tubuhnya.


"Lepaskan dia."ucap Edward lantang.


Penjaga itu hanya menyeringai saja,lalu dia menoleh pada bosnya yang sudah selesai berbicara di telepon.Kemudian mendekati Edward.


"Ambil tasnya,periksa apakah benar itu uang semua!"perintah bosnya dengan menunjuk tas yang Edward bawa.


Anak buah satunya berusaha mengambil tas yang di pegang Edward dengan erat.Mereka tarik menarik sebelum tas itu terlepas,Edward sekali lagi berucap.


"Lepaskan gadis itu atau aku lempar semua uang ini keluar jendela!"dengan suara tegas dan keras Edward bernegosiasi.


Rupanya ketiga orang ini tidak bisa untuk berbucara baik-baik,pikir Edward.


Baiklah,dia akan siap menyerang jika mereka mengambil paksa tasnya tapi tidak mau melepaskan Aya.


"Kamu pikir saya bodoh,saya akan memeriksa uangnya.Jika benar itu semua uang asli,saya akan lepaskan gadis itu.Sayang sekali,gadis itu tidak boleh saya cicipi."kata sang bos dengan menyeringai.


Darah Edward kini mendidih mendengar kata itu,walaupun dia beruntung Aya tidak di lecehkan tapi dia sangat marah mendengar akan di apa-apakan.Wajahnya merah padam,tapi masih diam dengan tangan mengepal.


Edward melempar tas besar itu di hadapan mereka.Dia sekali lagi menatap satu persatu orang tersebut.


"Hahaha,bagus.Kamu sangat pintar sekali."suara tawa menggelegar di ruangan itu.


"Cepat lepaskan dia,atau kalian saya bunuh!"kali ini Edward tidak bisa lagi berbuat tenang.


"Silakan saja kamu bunuh kami,tapi sebelumnya kalian berdua akan kami hilangkan jejak."


Edward mengumpat dalam hati,kenapa Emil dan pengawalnya belum juga datang.Sial.


Sedangkan Aya tampak berpikir,dia melihat Edward yang sedang marah namun masih di tahan.Entah dia sedang menunggu siapa.Apa menunggu temannya datang?


Tangan Aya kembali di gesekkan agar ikatan di tangannya terlepas perlahan.Dia mencoba melepaskan ikatan talinya,agar jika nanti Edward di serang dia bisa membantu,setidaknya jangan sendirian.


Sedikit demi sedikit tali itu merenggang,Aya terus menggesekkan tangannya.Dan terlepas tali itu perlahan.Kembali tangannya diam,dia menatap Edward yang masih memandang tajam pada ketiga orang di depannya.


Ingin dia memberi tahu dengan isyarat matanya kalau dia sudah terbebas.


Dan Edward pun menatap Aya,tak membuang waktu Aya menunjukkan tangannya yang terlepas lalu tersenyum.


Edward melihatnya ikut tersenyum,dia lega Aya bisa melepaskan diri dari ikatan talinya.


Ketiga orang itu sedang melihat tas yang di lempar Edward tadi dan buru-buru mengambilnya.Membuka isinya kemudian mereka saling pandang.


Senyum mereka mengembang melihat uang yang begitu banyak dalam tas yang Edward bawa sebagai tebusan untuk gadis yang mereka tawan.


"Bagus,ini kelihatannya uang semua.Baiklah,serahkan gadis itu.Biarkan mereka melewati penjaga di depan dengan tenang.Jika di jalan mereka membuat gaduh,tembak saja keduanya.Kita hilangkan jejak sekalian."uvapa sang bos pada penjaga itu.


Baru saja Aya di dekatkan pada Edward,suara laki-laki dengan berat menahan Edward dan Aya untuk di lepaskan.


"Tunggu.Jangan biarkan mereka lepas,biarkan mereka membusuk disini."ucap laki-laki yang baru masuk.


Baik Aya dan Edward saling menatap,karena suara itu mereka tahu siapa laki-laki yang memerintahkan padanya untuk tidak melepskannya.


"Lama tidak berjumpa tuan muda.Anda benar-benar nekad dan mau berkorban demi seorang gadis tetanggaku ini."ucap laki-laki itu yang tak lain adalah pak Imron.

__ADS_1


"Pak Imron,aku sudah mencurigaimu kalau kau bersengkokol menyembunyika kakakku.Kamu pura-pura alim di mata kyai Sobri,ternyata pekerjaanmu busuk!"ucap Edward lantang


"Hahaha..,yang lebih busuk itu saudaramu.Dia telah ingkar janji.Aku murni cari uang,tapi saudaramu telah ingkar janji"


"Pak Imron kenapa melakukan semua itu?"tanya Aya heran dengan tetangganya itu.Dia baru tahu sifat pak Imron yang sebenarnya.


"Neng Aya,kamu tahu kenapa ayahmu meninggal?Aku yakin kamu bukan orang yang bodoh,tapi aku juga yakin kamu tidak bisa berbuat apa-apa."


Aya diam dengan fakta yang terungkap oleh pak Imron.Dia ingin tahu kenapa ayahnya meninggal secara misterius,walaupun di kabarkan ayahnya meninggal karena jatuh di pematang sawah.


"Kenapa pak Imron? Katakan pada saya!"teriak Aya tidak sabar.


"Ayahmu telah mengetahui pekerjaan kotorku ini,sehingga dia mengadukan pada istri dan anakku.Istriku lari ketika ku kejar,tapi dia malah jatuh ke jurang.Sedangkan anakku stres mendengar tentang kenyataan ayahnya ini,sehingga dia harus masuk rumah sakit jiwa.Jadi,semua adalah kesalahan ayahmu.Dia aku siksa sampai dia lari ke pematang sawah,sampai akhirnya dia hilang nyawanya.Aku sangat bersyukur sekali ayahmu meninggal oada saat itu."


"Kau jahat pak Imron,apa salah ayahku?!"kini Aya benar-benar syok di buatnya.


Matanya memerah,kini dia yang sudah terlepas tangannya ingin menyerang pak Imron.Tapi tiba-tiba Edward mencegahnya.


"Aya jangan gegabah,kita tunggu apa yang akan mereka lakukan pada kita."kata Edward memegang tangan Aya.


"Hahaha,silakan kalian beriskusi.Tapi sebentar lagu kalian akan tinggal nama di sini.Dan aku tidak peduli dengan kau Aya!"mata pak Imron menatap Aya tajam.


Rasa dendamnya sudah memuncak,kali ini dia benar-benar akan menyelesaikan misinya.


Tapi Aya sudah di ambang batas kesabarannya,dia menyerang pak Imron dari samping sehingga pak Imron terhuyung.


"Kurang ajar! hajar mereka,bila perlu buang mayatnya di tepi sungai di belakang.Biar jadi santapan buaya-buaya di sana."setelah berkata seperti itu,pak Imron mengambil tas yang berisi uang yang Edward bawa.


Kemudian anak buah pak Imron menyerang Aya dan Edward.Tiga orang di tambah empat orang jadi tujuh orang yang melawan Edward dan Aya.


Mereka berkelahi saling membantu,satu persatu mereka lawan.Hanya empat orang yang melawan Aya dan Edward,tiga orang lainnya berjaga di tempat,sedangkan orang-orang di luar sana masih siaga di depan.


Dua orang tumbang,dan tiga orang yang lainnya maju kedepan melawan Aya dan Edward begantian.


Aya kewalahan,rupanya mereka tahu Aya hanya sediki saja pandai ilmu bela diri.Aya hanya bisa mengihindar saja.Edward yang mengetahui Aya terdesak dia membantu Aya sebisa mungkin dengan melawan kelima orang tersebut.


Tiba-tiba dari samping,Edward di tendang pundaknya sehingga dia terdorong hampir menabrak Aya.Mau tidak mau dia menghindar,lengannya hanya mengenai tangan Aya.


Keduanya pun terjatuh.Belum sempat Edward berdiri,perutnya kini di tendang hingga kembali dia terjungkal.


"Edward!"teriak Aya.


Aya menghampiri Edward yang terpental.Ketujuh orang itu hanya tertawa sinis.Darah segar keluar dari mulut Edward,Aya menatap cemas dengan keadaan itu.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa,tenang saja.Aku sedang mengulur waktu,anak buahku sedang menuju kesini."ucap Edward,kembali dia menatap Aya.


"Jangan beri ampun pada dua orang itu,serang mereka!"


"Hiaaat...!"teriak mereka bersamaan.


_


_


_

__ADS_1


\=> 😉😊😊✌


__ADS_2