
Seperti janjinya,Edward berkunjung ke rumah Aya.Layaknya seseorang yang akan mengapel pacarnya,Edward kini berpakaian rapi.
Jangan di tanya pakaian seperti apa,tapi pakaian yang menurut dia lebih baik dari biasanya yang dia pakai sehari-hari.
Wajah senang dan ramah selalu dia tampilkan ketika berpapasan di jalan dengan orang lain.
Setiap orang yang berpapasan dengnnya dia sapa dan selalu melihatnya aneh,tapi dia tidak peduli.
Edward berpapasan dengan Emil di jalan,dia mengendarai mobil menuju balai desa.Tidak terpikir olehnya akan sebahagia ini untuk bertemu dengan Aya.
Apakah dia jatuh cinta?
Mungkin,sesungguhnya Edward belum pernah jatuh cinta pada seseorang,karena dia sendiri yang menghindarinya.Edward terus berjalan tanpa mempedulikan Emil yang melihatnya dari dalam mobil.
Dia terus berjalan,melewati mobil Emil.Sedangkan Emil hendak keluar,tapi tangan Edward di lambaikan agar Emil tidak usah keluar dari mobil.
Dia hanya ingin jalan kaki.Hati yang sedang bahagia tidak terasa akan lelah dan sejauh mana dia melangkah,ini yang di rasakan Edward.
Sementara Emil masih diam terpaku di tempat duduknya,dia merasa heran dengan majikannya yang terlihat wajah kebahagiaan.
Lalu tanpa pikir panjang,Emil melajukan kembali mobilnya untuk urusan bisnis menuju balai desa.Karena di sana sudah berkumpul orang-orang penting dalam urusan bisnis pembangunan sambungan telekomunikasi di daerah itu.
_
Edward berhenti sejenak di depan halaman rumah Aya.Dia pandangi rumah yang sederhana itu.Di kanan kiri ada pohon jambu dan pohon mangga,menambah teduh suasana rumah Aya.Seteduh hatinya saat ini.
Entah kenapa dia tiba-tiba gugup,merapikan kembali penampilannya,padahal hanya makan siang.Dia tidak tahu jika makan siang itu hanya di sawah seperti dulu,dan sudah pasti penampilannya akan rusak lagi karena terpaan angin sawah yang kencang.
Edward tarik nafas,lalu melangkah maju menuju rumah yang saat ini baginya seperti rumah sang bidadari..(lebay 😄).
Dia sampai di depan pintu,begitu tangannya akan mengetuk pintu tiba-tiba pintu terbuka muncullah Aya yang sedang membawa bakul nasi,sehingga keduanya terkejut.
Aya mundur ke belakang sambil memegang dadanya karena kaget dan berucap istighfar.
"Astaghfirullah..."menatap Edward dengan terpaku.
Begitu pun Edward sama kagetnya,namun dia langsung menguasai diri dan bersikap biasa saja sembari tersenyum manis pada Aya.
"Selamat siang Ay,apa aku tidak terlambat?"tanya Edward masih menampilkan senyum manisnya.
"Eh,ngga kok.Ini aku mau bawa bakul nasi juga lauk pauknya."kata Aya grogi dengan yang tadi.
Dia jadi salah tingkah melihat Edward yang begitu berbeda dari biasanya.Aya sekilas melirik Edward yang memperhatikan bakul nasi,kemudian pandangan Aya di alihkan ke arah yang lain.
"Apa kau sedang mengagumiku?"tanya Edward dengan percaya diri.
Mau tidak mau Aya tertawa kecil,dia lalu menunduk kemudian menatap Edward dengan senyum dikulum.
"Ya ya ya,kamu sedang percaya diri.Bukan narsis.Hahaha..."kali ini Aya meledek Edward dengan tawa renyahnya.
Edward bersedekap,menatap wajah Aya intens.Lama,dia menatap Aya.
Aya yang di tatap seperti itu langsung merah pipinya,dia kemudian mengambil bakul nasi dan di berikan pada Edward untuk menghindari rasa grogi di tatap olehnya seperti itu.
Ada apa dengan Aya?
"Kamu bawa bakul nasi,aku akan ambil lauk yang ketinggalan di dapur."kata Aya,kemudian dia masuk lagi kedalam rumah.
Mata Edward dia edarkan ke segala penjuru,dan terhenti di rumah yang kemarin dia intai.
Masih sepi,belum ada tanda orang yang mengintainya dari dalam rumah itu.
Tak lama Aya pun keluar membawa rantang dan ketel berisi air untuk minum.
Edward mengambil ketel yang di bawa Aya,karena kelihatannya berat.
"Aku bawa juga yang ini."kata Edward.
__ADS_1
Aya hanya mengangguk,lalu mereka melangkah pergi menuju pondok sawah yang dulu mereka pernah makan di sana.
_
Sampai di pondokan sawah,keduanya langsung duduk dan meletakkan bawaan mereka.Pandangan Edward tertuju pada sebuah mobil yang dia kenal terlihat dari jauh.
Lalu matanya tertuju pada sekumpulan orang yang sedang berjalan dan berbincang dengan beberapa orang.
Ya,dia adalah Emil perwakilan dari perusahaan pak Robert dari perusahaan telekomunikasi.
Entah hubungan hati kedua sahabat sejak SMP itu,Emil menatap ke arah gubuk.Dia menatap tajam ke arah gubuk itu memastikan pada orang yang duduk berdua salah satunya adalah majikannya.
Pandangan mata mereka saling bersitatap lama,lalu Edward memutus pandangan itu.Di sana Emil hanya tersenyum tipis,benar tuan mudanya sedang jatuh cinta pada gadis yang di ceritakan oleh pengawal itu.
Selama dia bisa menjaga dan mengawasi gadis yang bersama tuan mudanya dengan sembunyi-sembunyi,maka dia akan membiarkan tuan mudanya mendekatinya.
Kembali ke Edward dan Aya,kini Aya mempersiapkan nasi dan lauk pauk untuk mereka makan.Semua serba sederhana,hanya ada perbedaan sedikit.Di tambah ayam bumbu sambel kecap yang kental.
Edward menatap masakan ayam itu,dia sepertinya tertarik dan ingin mencicipinya.
Aya yang tahu Edward sangat ingin mencicipi masakan ayam buatannya,dia menaruhnya di piring beserta nasinya.
"Kamu mau ini?"tanya Aya yang di angguki oleh Edward.
"Sepertinya enak ayamnya."kata Edward mengambil ayam tersebut.
"Coba saja,kamu akan ketagihan makan lagi."
"Benarkah? Aku coba."
Edward menggigit potongan ayam tersebut dan mengunyahnya.Dia merasakan pedas manis di lidahnya,tapi dia menikmatinya.
"Mm,ini memang enak."masih terus mengunyah,lalu mengambil lagi dan menggigitnya lagi.
Aya hanya tersenyum,dia senang Edward menyukai masakannya.
"Kamu kenal orang yang berpakaian rapi itu?"tanya Aya sama Edward.
"Yang mana?"
"Yang berjas hitam itu,memakai kacamata hitam sedang memandang ke arah sini."kata Aya menunjuk Emil.
Edward menatap Emil dari kejauhan,dia kemudian mengangguk masih menikmati makanannya.
"Dia siapa?"
"Dia sahabatku."
"Sahabatmu? Wah,kebetulan sekali.Apa dia sudah mengunjungimu?"
"Sudah,dia kemarin malam mengajakku begadang dan jalan-jalan."kata Edward sambil mengunyah.
Aya diam,dia masih menatap Emil dari jauh.Dan Edward mengetahui itu.
"Apa kau suka laki-laki berpenampilan seperti itu?"tanya Edward memyelidik.
Aya hanya menatap Edward,lalu dia kembali memungut makanannya di piring.
"Ngga juga,aku suka laki-laki yang berwibawa juga penyayang."kata Aya sekenanya saja.
"Kamu suka laki-laki seperti itu?"
"Mm,"
"Jika aku yang berpenampilan seperti dia,bagaimana menurutmu?"
Aya menatap Edward,lama.Tatapan itu seolah ingin meyakinkan kalau memang Edward adalah orang yang bukan sembarangan.
__ADS_1
"Bagus juga."Aya tidak tahu harus berkata apa.
"Jika aku benar-benar orang seperti itu,apa kamu mau denganku?"tanya Edward serius.
Tapi tanggapan Aya lain lagi,dia malah menganggapnya Edward bercanda.
"Hahaha..,kamu kerja yang rajin dulu.Bahagiakan orang tuamu,lalu bisa kamu dapatkan seperti orang yang di sana.Ridho orang tua akan selalu mengiringi langkah anaknya di jalan yang lurus."kata Aya lagi.
"Ck,kamu berkata seperti itu menganggapku orang tidak benar."kata Edward pura-pura kesal.
Aya menatap Edward dalam,sesungguhnya dia tidak bermaksud bicara seperti itu.Lagi pula tidak ada sifat yang jelek dari Edward.
"Maaf,aku hanya mengumpamakan saja.Aku yakin kamu orang yang baik dan..."kata Aya menggantung.
"Dan apa?"
"Ah,tidak."ucap Aya menundukkan wajahnya,dia menahan malu telah membayangkan jika seandainya Edward adalah calon suami yang di idamkannya.
Ups!
"Ay,kamu kenapa?"Edward menatap Aya dengan intens,dan terlihat di pipi Aya merona.
Aya masih menunduk,namun Edward tersenyum senang.
"Ay,pipimu merah?"
Aya berbalik,dia benar-benar malu dan menahan senyumnya.Kontan saja membuat Edward tertawa.
"Jangan tertawakan aku."kata Aya dengan kesal dan masih memunggungi Edward.
"Aku tidak mentertawakan kamu,aku hanya senang."masih dengan senyumnya.
"Itu sama saja meledekku."
"Hahaha..,aku ngga meledekmu.Hanya saja..."ucapannya menggantung.
"Kenapa?"
"Aku suka pipi merahmu."
Aya semakin malu dengan perkataan Edward,dia kemudian hendak bangkit dari duduknya tapi ujung kerudung Aya di tarik sehingga kepala Aya terdorong kebelakang.
"Iseng banget sih?"umpat Aya,dia kesal dengan kelakuan Edward yang menarik kerudungnya.
"Kamu jangan pergi."
"Suka-suka aku."
"Aku juga suka-suka aku narik kerudung kamu."
"Ish!"
"Hahaha..,kamu kalau marah tambah cantik,Ay."
"Udah aku pulang kalau masih ngeledek terus."
"Lho,kok marah.Ya udah,aku diam tapi kamu duduk aja jangan pergi."
Aya pun duduk kembali,dia mengambil gelas dan mengisinya kemudian meminumnya.
_
_
_
☆☆☆☆☆
__ADS_1
\=> yang nungguin up,dah lunas ya.tunggu lusa up lagi..😉😊🙏🙏