
Setelah menunggu satu jam pak Robert di ruangan dokter,akhirnya keluar juga.Edward dan Sania menghampiri papanya,sedangkan Nicko sedang ke kantin untuk membeli cemilan untuk di makan.
"Bagaimana mama pa?"tanya Edward penasaran.
"Nicko kemana?"tanya pak Robert belum mau menjawab pertanyaan anaknya itu.
"Sedang keluar membeli cemilan untuk mengganjal perut pa."jawab Sania.
"Pa?"Edward masih penasaran.
"Mama ada yang meracuni minumannya waktu di pesawat."ucap pak Robert lirih.
"Apa?!"ucap Edward dan Sania berbarengan.
Mereka bertiga syok mendengar kenyataan itu.Pak Robert pun duduk di bangku panjang,bersandar dengan lemas.Berpikir siapa yang ingin mencelakai istrinya.
Kemudian dia merogoh kantong celananya,mengambil ponselnya dan menghubungi pak Dori.
"Halo Dori,kamu ada di mana?"tanya pak Robert.
"Saya masih di bandara tuan.Apa nyonya sudah siuman?"tanya pak Dori di seberang sana.
"Belum,masih di tangani oleh dokter.Ternyata benar perkiraanku Karina di racuni oleh seseorang di dalam pesawat."ucap pak Robert.
"Saya akan mencari tahu siapa orangnya tuan.Emil juga sudah saya suruh mengawasi rumah nyonya Septa."kata pak Dori.
"Kamu sigap sekali,terima kasih Dori.Memang benar,mungkin ada hubungannya dengan dia."ujar pak Robert.
"Karena saya curiga dari keberangkatan tuan,saya pernah melihat ada nyonya Septa ikut naik pesawat di kelas ekonomi.Dan kemungkinan di Makaysia juga nyonya Karina di buntuti terus."
"Baiklah,awasi dan cari terus di bandara,siapa saja yang dia libatkan.Akan saya usut tuntas semuanya.Biarkan satu keluarga di penjara semua."
"Baik tuan besar."
Setelah berucap seperti itu,pak Robert menutup sambungan teleponnya.Dia masukkan lagi ponselnya ke dalam celananya.
"Bagaimana pa?Siapa yang meracuni mama?"tanya Edward pensaran.
Berbarengan dengan datangnya Nicko yang juga terkejut dengan ucapan papanya.
"Kemungkinan Septa pelakunya.Dia sudah mempersiapkannya sejak keberangkatan papa dan mama ke Malaysia.Waktu keberangkatan,pak Dori melihat Septa ikut naik pesawat."ucap pak Robert.
Dia mendesah,rupanya dia ingin balas dendam.Suami dan anaknya masuk penjara dengan hukuman yang berat.
"Pa,apa mama akan baik-baik saja?"tanya Nicko ikut duduk di samping papanya.
Sania dan Edward juga ikut duduk,pak Robert meraih pundak Sania yang masih sesunggukkan karena sedih mamanya masih terbaring belum sadarkan diri.
"Mama masih di tangani,dokter sedang berusaha menetralkan racunnya.Racunnya memang tidak mematikan,karena mama minun kopi hanya sedikit waktu itu seingat papa.Mungkin di kopi racunnya di berikan.Tapi kalau kopi itu di minum semua,akan fatal akibatnya."ucap pak Robert.
"Mungkinkah pramugari di sana ikut terlibat pa?"tanya Edward.
__ADS_1
"Bisa jadi,pak Dori sedang menyelidikinya di bandara.Mungkin dia bisa menemukan cctv uang ada di pesawat yang papa tumpangi.Ya,mungkin butuh waktu lama karena itu menyangkut orang banyak jadi harus hati-hati juga."
Baik Edward,Nicko dan Sania menghela nafas panjang.Mereka tidak memyangka jika memang itu adalah ulah tantenya.Tapi siapapun pasti akan melakukan balas dendam jika keluarganya di jebloskan ke dalam penjara.Walau hukumannya sedikit di peringan dengan bantuan pengacara yang handal,tapi tetap saja hukuman itu sudah cukup bagi pak Hendro dan Reynald.
Tiba-tiba dokter kembali menghampiri pak Robert dan mengajaknya bicara.Pak Robert bangkit dari duduknya dan mendekat pada dokter.
"Tidak apa-apa dokter bicara di sini saja,mereka semua adalah anak saya.Dan mereka juga berhak tahu tentang mamanya."ucap pak Robert.
Lalu dokter memberitahukan jika besok pagi nyonya Karina belum bangun,kemungkinan racun itu menyebar ke syarafnya dan bisa mengakibatkan koma.Tapi jika besok pagi bangun,bisa berangsur pulih.Dan harus di pantau juga di beri obat penawar yang sepadan dengan racun yang terminum.
"Apa di rumah sakit ini ada obat penawarnya dokter?"tanya Nicko.
"Sementara sih masih bisa di tangani dengan obat-obatan yang ada di rumah sakit ini.Makanya kita tunggu sampai besok pagi,namun jika masih belum sadar terpaksa harus import obat dari negara lain."ucap dokter.
"Biar mama di bawa ke Inggris saja pa jika besok belum sadar juga."ucap Edward.
"Bisa juga di bawa ke Inggris jika belum sadar besok pagi.Nicko kamu siapkan semuanya buat besok,biar tidak repot nantinya.Kita tunggu sampai siang hari."ucap pak Robert.
"Baik pa."
Lalu dokter itu kembali lagi ke ruang ICU untuk memeriksakan kondisi nyonya Karina.
Ponsel Edward berdering,dia melihat nama Emil di sana.
"Apa yang kamu temukan?"tanya Edward pada asistennya itu.
"Rumah nyonya Septa masih sepi sejak siang hari tuan muda.Mungkin dia belum kembali dari Malaysia atau nyonya Septa kabur."ucap Emil.
"Ya sudah,kamu tunggu sampai besok siang.Jika ada yang mencurigakan atau ada orang di sana segera tanyakan keberadaan tante Septa."
"Baik tuan muda."
"Apa kata Emil?"
"Rumah tante Septa sepi sejak siang tadi.Ada satpam saja di sana."
"Sudah pasti dia akan kabur,kamu suruh Emil untuk berangkat ke Malaysia mencari perempuan itu.Tangkap dia."
"Apa yang akan papa lakukan sama tante Septa?"
"Papa akan kirim dia ke Afrika.Papa juga kesal lama-lama sama perempuan itu.Sejak dulu papa tidak suka dengan dia,tapi mama kamu tidak bisa di beritahu.Makanya papa pikir dia akan menyesalinya."
"Orang seperti tante Septa itu pendendam pa.Dulu juga pernah waktu kecil aku hampir di dorong ke ke tengah jalan ketika aku berebut mainan dengan Reynald.Dia memang perempuan ambisius."ucap Edward dengan kesal.
"Kamu kok baru bilang sama papa sekarang,udah lama banget kan itu?"
"Waktu itu aku sempat takut karena dia mengancam akan di laporkan ke polisi.Anak kecil kalau sudah dengar di tangkap polisi ya takut pa.Apa lagi kalau setiap ketemu,pasti dia ngomong seperti itu,ya takutlah."
"Ck,benar-benar perempuan itu.Jodoh memang sama kelakuannya."ucap Sania ikut kesal juga.
Malam hari sudah sangat larut,jam menunjukkan pukul dua dini hari.Baik pak Robert dan ketiga anaknya masih belum ada yang bisa tidur walau mereka sudah beberapa kali menguap.Tidak ada yang beranjak pergi dari ruang tunggu di depan ICU itu.
__ADS_1
_
Setelah pukul setengah empat,mata mereka tidak bisa di tahan lagi untuk berjaga.Akhirnya ke empatnya tertidur dengan posisi duduk semua,sesekali pak Robert terbangun,memastikan ruang ICU itu aman tidak ada yang masuk ke dalam.
Dan pukul lima pagi,seperti biasa Edward bangun lebih dulu.Karena dia sudah biasa jika memasuki waktu subuh pasti bangun lebih dulu,walaupun terlewat satu jam.Tapi dia tetap bangun untuk sholat subuh lebih awal.
Edward menatap ruang ICU,masih di jaga ketat oleh beberapa pengawal yang memang sengaja di utus untuk menjaga.Karena mereka takut,secara diam-diam nyonya Septa atau suruhannya menyelinap masuk ke dalam seperti halnya dulu pak Robert yang hendak di bungkam,namun ternyata pak Robert lebih cerdik,dia mengumumkan kematiannya waktu itu.Bekerja sama dengan dokter yang menanganinya.
Tapi nyatanya memang keluarga mereka selalu saja di ganggu oleh saudaranya sendiri.Dan karena ambisi anak,suami dan istri itu pada kekayaan.Sampai mereka tidak peduli dan tidak mengenal sauadara lagi karena ambisinya.
Edward menuju mushola rumah sakit yang ada di sebelah kantin,dia menuju kesana untuk sholat subuh dan berdoa agar mamanya cepat sadar.
Selesai berwudhu,dia langsung sholat dengan khusyu dan khidmat.Memanjatkan doa pada Sang Pencipta dan Pelindung bagi hambaNya yang bertakwa.Dia berharap semua masalah keluarganya cepat selesai.
Usai sholat dan berdoa dengan khusyu,Edward kembali ke tempat ruang ICU di mana papanya dan saudaranya masih tertidur dengan lelap.
Mereka tidak merasakan posisi tidur dengan duduk seperti itu membuat sakit dan kaku pada tulang.
Edward duduk menatap pintu ruangan di mana mamanya berbaring.Lalu beralih pada lorong ke arah ruangan rawat inap,pikirannya menerawang jauh di kampung sana.Ada sejuta perasaan di hati Edward.
Berbagai macam pertanyaan dan rasa gelisah,apakah istrinya itu sudah pulang.Apakah Aya tahu dia menikah dengannya?Bagaimana reaksinya nanti jika tahu dia adalah suaminya.
Senyuman Edward mengembang,dia kemudian mengambil ponselnya.Membuka galeri poto yang berisi acara ijab kabul yang di rekam oleh Emil sebelumnya.
Dia memperhatikan dirinya sendiri di poto itu,serasa takjub dirinya mengucapkan kalimat ijab kabul yang lancar dan cepat tanpa kesulitan atau gugup.
Mungkin karena pengantin perempuan tidak ada di tempat,jadi dia merasa santai saja.Seolah seperti mainan atau seperti sebuah adegan film yang hanya pura-pura saja.
Tapi dia kembali ingat,bahwa ijab kabulnya itu benar adanya.
Jam menunjukkan pukul enam pagi,tak terasa Edward melamun hampir satu jam.Dia lalu membangunkan Sania,Nicko dan pak Robert untuk sholat subuh.
Seharusnya tadi dia membangunkannya,tapi Edward merasa kasihan karena baru jam tiga pagi ketiganya itu baru bisa tidur.
"Kalian sholatlah dulu di mushola,biar aku yang nungguin mama disini."ucap Edward pada Sania dan Nicko kakaknya.
Lalu kedua kakak beradik itu beranjak pergi,sedangkan pak Robert masih bertahan di situ bersama Edward.
"Papa ngga sholat?"
"Papa nunggu adik dan kakakmu selesai,baru nanti papa menyusul."ucap pak Robert.
Edward hanya diam,dia tidak mungkin menyuruh papanya atau memaksanya.Karena papanya sudah mengerti sendiri,mungkin karena kekhawatirannya saja pada istrinya.
_
_
_
☆☆☆☆☆
__ADS_1
\=> 😉😊✌✌