Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
103. Kaum Laki-laki


__ADS_3

Acara pernikahan berjalan dengan lancar dan meriah. Sekarang waktunya untuk pesta resepsi. Sania yang sejak tadi kaget siapa yang kini jadi suaminya senyumnya selalu mengembang pada setiap tamu yang datang.


Tangan Sania selalu mengapit di lengan Emil, hingga Emil tidak keluasa bergerak. Wajah bahagianya terpancar jelas, siapa pun yang melihatnya akan menyangka kalau Sania sangat mencintai Emil.


Kedua orang tuanya serta kedua kakaknya ikut senang. Kejutan untuk Sania berhasil mereka laksanakan. Senyum mengembang di wajah Sania tanpa henti. Mereka percaya anak bungsunya itu sangat mencintai Emil, meski di awali peristiwa memalukan itu.


Hanya Edward dan pak Robert yang tahu, namun demikian hal memalukan itu tidak boleh tersebar, oleh karena itu pak Robert menjaga anaknya pada orang yang tepat.


Edward sendiri merasa tenang jika adiknya ada di tangan yang tepat.


Ed, kelihatannya Sania sangat menyukai Emil. Apa kamu tahu mereka punya hubungan apa sebelum papa menjodohkan mereka?" tanya Nicko ketika mereka berdua duduk tepat di depan Sania dan Emil.


"Yang jelas hubungan mereka di mulai dari pesta pernikahanku dulu kak. Ada sesuatu yang membuat secara tidak sadar Sania begitu percaya dan nyaman dengan Emil." kata Edward.


"Bisa kamu jelaskan apa itu?" tanya Nicko lagi.


"Rasanya tidak enak jika bicara di sini. Mungkin lain waktu saja. Papa juga sepertinya tidak tahu, tapi aku curiga papa mengetahui sesuatu."


"Ck, kamu bicara membuat teka teki saja. Aku bingung jadinya." kesal Nicko pada adiknya itu.


"Sudah jangan di pikirkan. Mereka sudah bahagia, sekarang bagaimana dengan dirimu kak? Bulan depan akan menikah.Kamu lebih maju selangkah di depan."


"Ya, aku sudah melamarnya. Kedua orang tuanya juga setuju."


"Apa gadis itu juga menyetujuinya?"


"Aku sudah bilang, dia dulu teman kuliahku. Aku tidak pernah bertindak sebelum semuanya pasti. Dan dia menerimanya. Cinta kami perlahan tumbuh seiring berjalanya waktu. Cukup singkat memang, tapi kita sama-sama dewasa jadi tidak perlu di tunda lagi."


Pemikiran Nicko cukup dewasa, tentu saja karena dia laki-laki dewasa dan anak tertua dari keluarga Alexander.


Sedang asyik mengobrol dengan kakaknya, Edrick menghampiri mereka.


"Hai Ed, hai Nicko." sapa Edrick.


"Hai Edrick. Kamu telat datang?" tanya Nicko.


"Maaf, pesawatku delay sejak semalam. Jadi syukurlah aku datang tepat waktu." jawab Edrick.


"Kamu langsung kesini dari bandara?" tanya Edward.


"Ya, aku tidak mau ketinggalan momen bahagia adikku." kata Edrick.


Edrick sudah menanggap Sania adalah adiknya. Dia lalu menatap kedua mempelai yang terlihat sangat bahagia.


"Wah, benar-benar Emil jodoh dengan Sania karena tragedi ya." ucap Edrick tanpa sadar.


"Hei, kamu bicara apa? Tragedi apa?" tanya Nicko penasaran.

__ADS_1


Edward kesal dengan ucapan Edrick yang keceplosan itu, dia lalu menendang kaki sahabatnya dan menatapnya tajam. Nicko melihat Edward menendang Edrick jadi tambah curiga.


"Apa yang kalian sembunyikan dariku?!" tanya Nicko curiga pada kedua orang itu.


Edward dan Edrick saling pandang. Lalu Edrick melihat Aya menggendong Ali, dia berlari menghampiri Aya untuk merebut anak Edward itu.


"Waah, itu Ali. Aliii, uncle dataaaang.." teriak Edrick menghampiri Aya.


Sedangkan Nicko menatap adiknya itu. Dia seperti ketinggalan informasi mengenai Emil dan Sania.


"Kamu mau bicara di mana?" ancam Nicko pada adiknya itu.


"Kak, di sini sangat ramai. Nantilah kalau sudah di rumah." kata Edward.


"Ayo ke kamar hotel, kamu harus bicara padaku Ed." kata Nicko mendesak adiknya.


Edward pikir masalah itu cukup bertiga saja yang tahu dan sudah selesai, tapi kakaknya malah memaksanya untuk memberitahunya.


Lalu mereka pergi ke kamar hotel yang kebetulan kamar Nicko dekat dengan acara di ballroom tersebut.


"Ck, kak Nicko kenapa jadi pemaksa begini." kata Edward setelah mereka sampai di kamar.


"Aku harus bertindak jika Emil mendapatkan Sania dengan cara yang kurang jantan Ed." kata Nicko meninggi.


"Tapi Emil tidak begitu. Kakak sendiri tahu aku sangat menjaga Sania, kalau sampai Emil berbuat seperti itu pada Sania, aku yang pertama menghajarnya dan menendangnya keluar dari perusahaanku dan pergi jauh. Tapi nyatanya papa menyetujuinya pernikahan itu. Malah Emil di percaya untuk menggantikan papa nantinya. Tidakkah kak Nicko melihat ini memang semua di ketahui oleh papa."tanya Edward.


Edward mendesah, dia akhirnya menceritakan kejadian waktu itu dari awal sampai akhir. Dia sebenarnya tidak mau menambah orang tahu kejadian itu, namun kakaknya memaksanya untuk bercerita.


"Kamu kenapa tidak bilang dari awal."


"Yang penting papa setuju merencanakan sesuatu yang baik buat mereka. Tidak ada yang perlu di kahawatirkan, Sania memang pantas bersanding dengan Emil. Emil itu laki-laki yang setia dan pasti akan menjaga kepercayaan keluarga kita kak. Aku sangat setuju sekali Sania menikah dengan Emil."


Nicko diam, dia juga memang sangat setuju. Tapi dia hanya penasaran ada cerita apa di balik semuanya itu.


"Aku juga setuju mereka menikah, tapi aku penasaran saja dengan tragedi itu. Apa lagi Edrick tahu sedangkan aku kakaknya saja tidak tahu sama sekali." ucap Nicko masih kesal pada adiknya itu.


"Maafkan aku kak, ku pikir itu cukup aku Edrick dan Emil saja yang tahu. Hal yang memalukan yang tidak perlu di ceritakan. Tapi memang harus Emil yang menikahi Sania, agar dia bisa menerima sifat kekanak-kanakan Sania dan dia juga sudah merasakan apa yang Sania punya."


" Jadi mama tidak tahu tentang ini?"


"Tidak, dan aku harap mama tidak perlu tahu. Ku pikir juga papa berpikir seperti itu, mama tidak perlu tahu tragedi Sania dan Emil. Cukup aku, kak Nicko dan Edrick saja."


"Apa Edrick bisa di percaya, tidak akan menceritakan pada orang lain?"


"Dia juga sangat menyayangi Sania seperti kita, dan Emil percaya padanya sebelum dia menceritakannya padaku, Edrick lebih dulu tahu dari pada aku."


Nicko diam, kedua kakak beradik itu saling diam.

__ADS_1


"Sudahlah jangan memikirkan hal sudah berlalu. Sekarang kakak pikirkan bagaimana caranya aku mengenal calon kakak iparku nanti." ucap Edward.


Nicko tersenyum, lalu dia mengajak Edwrad keluar dari kamar hotel tersebut kembali ke ballroom. Nicko bilang calon istrinya akan datang jam satu siang. Dia juga sudah mengatakan pada papa dan mamanya.


_


Acara resepsi pun telah usai tepat malam hari jam sembilan malam, karena acaranya benar-benar meriah. Memang acara itu tidak sampai larut malam karena di mulai pagi hari. Jadi kalaupum di lanjutkan akan kelelahan semua.


Seperti sekarang, Sania sudah tertidur di kamar pengantin di kamar presiden suit. Sedangkan Emil masih bicara dengan Edward mengenai poto istrinya pak Imron yang di curigai adalah ibunya Aya.


"Kamu menyimpan poto itu?" tanya Edward pada Emil.


"Aku tidak menyimpannya, tapi ada di ponsel pengawal yang waktu itu aku tugaskan menyelidikinya. Sebentar aku telepon dulu, barangkali dia masih di hotel ini." kata Emil.


Dia lalu menghubungi pengawal itu, meminta di kirimkan poto tersebut. Namun ternyata Edward tidak beruntung, pengawal itu malah menghapusnya.


"Maaf, ternyata potonya di hapus." kata Emil.


Edward mendesah, dia harus mencari kemana ibunya Aya.


"Apa nona Aya mencari ibunya?"


"Ck, kakak iparmu." kata Edward melirik tajam pada Emil.


Emil menunduk, lalu tersenyum.


"Dia marah waktu itu, sampai kontraksi dan akhirnya melahirkan Ali. Aku berjanji padanya untuk mencarinya. Aku dengar pak Imron lari ke Malaysia, aku harus cari informasi kesana."


"Coba tanya sama papa, barangkali ada kenalan di sana dan meminta bantuan untuk mencarikan orang yang kabur ke sana dari Indonesia." kata Emil memberi saran.


"Idemu bagus juga, oke nanti aku bicara sama papa. Ya sudah sana masuk kamar, Sania mungkin sedang menunggumu." kata Edward.


"Dia tertidur sejak masuk kamar karena kelelahan."


"Ck ck ck, malam pertama gagal." sindir Edward.


"Tapi setidaknya aku pernah merasakan meski tidak secara langsung." balas Emil yang membuat kakak iparnya itu geram.


"Awas saja kamu sampai menyakitinya!" ancam Edward.


Emil melengos pergi, berlalu dari hadapan Edward menuju kamarnya tanpa mempedulikan Edward kesal padanya. Toh sekarang Sania sudah jadi miliknya.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆☆


__ADS_2