
Edward diam menatap Aya,dia meneliti wajah Aya yang merasa antara curiga dan penasaran.
"Kamu siapa?"tanya Aya kembali.
Karena Edward tidak segera menjawab dan masih diam menatapnya.
"Apa yang ingin kamu ketahui tentangku?"kini Edward balik bertanya.
"Mungkin semuanya,kamu siapa,dari mana dan punya tujuan apa ke pondok pesantren.Karena kamu sangat berbeda dari yang lain di sini."
"Penting buatmu mengetahui tentangku?"masih membuat teka teki Edward bertanya lagi.
Kalaupun dia katakan yang sebenarnya,dia tidak mau meninggalkan sesuatu yang nantinya membuat dia akan melupakan.
Aya diam,dia beralih pandangannya ke arah yang lain.
"Kamu sudah janji akan menjelaskan semua kemarin."kata Aya.
"Ya aku tanya dulu sama kamu,apa penting kamu tahu tentangku?"ucap Edward memastikan Aya tidak kaget mendengar kebenaran dirinya.
"Bagiku penting."ucap Aya pelan,dia menunduk malu.
"Apa kamu akan menghindar kalau aku cerita sebenarnya,karena jauh dari bayanganmu itulah tentang diriku."kata Edward lagi.
"Kenapa tanya seperti itu lagi,kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa.Kamu tidak penting bagiku."kata Aya ketus,dia benar-benar kesal di permainkan seperti itu.
Edward tersenyum,dia masih menatap Aya yang terlihat kesal padanya.Masih ada guratan keraguan di hati Edward,karena dia yakin Aya akan syok dengan kebenaran dirinya.
"Ya sudah sana pulang,ini sudah menjelang magrib."ujar Aya semakin kesal.
"Hei,kamu mengusirku?"Edward tersenyum,lucu melihat Aya merajuk.
"Ya."jawabnya singkat.
"Hahaha...,baiklah.aku akan pulang.Tapi satu hal yang kamu harus percaya,bahwa aku tidak akan berbohong padamu.Untuk saat ini,percaya padaku kalau semua tentang kebersamaan kita membuatku senang dan bahagia.Karena jika aku cerita sekarang,akan ada seseorang yang terancam nyawanya saat ini."jelas Edward dengan meyakinkan Aya.
Aya menatap mata Edward memastikan kalau ucapannya itu benar.Walau dia tidak menegerti apa yang di ucapkan Edward,tapi dia mencoba mengerti.Lalu dia tersenyum tipis.
"Ya,baiklah.Mungkin saat ini kamu belum mau membukanya.Aku ngga apa-apa."
"Aku hanya takut,jika kamu lebih jauh mengenalku,akan ikut terancam bahaya.Aku tidak mau itu terjadi pada kamu.Bersabarlah,saat ini aku sedang punya misi."kata Edward lagi.
"Baiklah,aku pegang janjimu,suatu saat aku tagih itu."
Edward tersenyum,kemudian dia bangkit lalu berpamitan hendak pulang ke pondok.
"Mm,Ay.."kembali berbalik pada Aya.
"Ya?"Aya kaget Edward tiba-tiba berbalik,mau tidak mau Aya menghentikan langkahnya.
"Apa kita bisa berjodoh?"satu kalimat yang ambigu bagi Edward dan Aya.
Hanya Tuhan yang menjawab pertanyaan itu.
Aya diam,dia mengerjapkan mata.Tak percaya dengan pendengarannya.Dia menunduk,tapi dalam hati dia mengaminkan.Hanya dia tidak bisa berharap banyak itu terjadi.
__ADS_1
"Ya sudah,aku pulang."kata Edward tanpa menunggu Aya menjawab pertanyaannya.
Seperti Bayu yang menunggu adiknya di temukan untuk melanjutkan niatnya menikahi kakaknya Aya,dia pun akan menunggu kakaknya kembali di temukan,setelahnya dia akan mengesahkan dirinya bahwa dia menginginkan Aya selalu bersamanya.Itu pasti,ucap Edward dalam hati.
Lalu Edward benar-benar keluar dari rumah Aya,dan terdengar suara azan berkumandang di masjid.
"Aku pamit,assalamu alaikum.."
"Wa alaikum salam."
Motor Edward melaju dengan kencang,malam ini dia harus bersiap untuk ikut mengintai langsung di hutan jati itu.
_
Hari sudah begitu gelap,seperti fitnah malam yang selalu menyelimuti bumi hati yang selalu haus akan keserakahan.Seperti liang gulita yang selalu kehausan akan sinar lentera.Itulah malam,tak ada yang bisa mengumpakan dengan pasti tentang gelapnya malam.
Dan malam ini,Edward tidak sabar untuk ikut mengintai dan bergerak bila perlu.Satu hal yang akan dia pastikan,siapapun yang memang di sana menyiksa dan menyekap kakaknya,akan berhadapan dengannya.Sekalipun dia itu saudaranya sendiri.
Memang dia sudah curiga ketika pamannya Hendro mulai mendekatkan istrinya,tante Septa pada mamanya.Kali ini yang dia utamakan adalah kakaknya.Dan bisa jadi semua insiden yang menimpa papanya adala ulah anak dan orang tua itu.
Dia yakin,paman Dori akan selalu siaga untuk menjaga mamanya.
"Apa tuan muda akan ikut kesana?"tanya Emil heran dengan persiapan Edward yang begitu siaga.
"Kamu pikir aku akan di hantui rasa bersalah dan hanya berdiam diri saja di sini?"tukas Edward.
"Saya pikir ini berbahaya tuan muda,makanya saya pikir lebih baik tuan muda di pondok saja,jika mereka mengetahui identitas anda mereka tidak akan menyerang anda jika di pondok."
"Kamu menyuruhku jadi laki-laki pengecut? Kalau begitu,untuk apa aku di tugaskan untuk penyamaran ini?"kini Edward sudah mulai kesal dengan ucapan asistennya.
"Baiklah tuan muda.Anda boleh ikut,dan kabar baik tuan,pengawal yang kuminta dikirim kesini sudah sampai,mereka menunggu di desa sebelah,hanya siap bergerak dari perintah kita saja."kata Emil.
"Baiklah,kita akan kesana pukul sepuluh malam,ini baru jam delapan malam.Siapkan semua yang kita perlukan"
"Baik tuan muda."
Lalu Emil kembali memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di rumah serta menyuruh pengawal lain untuk memberi tahu bahwa rencana akan di laksanakan jam sepuluh malan.Juga pengintaian dan sekaligus penggerebekan itu harus di persiapkan secara matang.
_
Tiba di tempat yang sudah di intai sebelumnya bahwa di hutan itu memang terlihat sangat sepi.Edward dan Emil mengendap maju lebih dekat.
Di belakangnya dua orang pengawal mengikuti mereka sambil berjaga-jaga.
Edward mengedekat lebih jauh ke tempat di mana pengawalnya dulu mengintai.Dia memperhatikan dengan seksama jendela yang menutup rapat dan memang sinar cahaya dari dalam memantul keluar dari kisi-kisi lubang.
Tampak sayup-sayup suara obrolan seorang perempuan dan laki-laki,di sertai bentakan seseorang.
"Kalian jangan banyak bicara,cepat layani laki-laki itu,setelah itu kamu cepat keluar!"kata orang yang membentak di dalam.
"Iya."jawab perempuan itu.
Baik Emil dan Edward saling berpandangan,siapa perempuan yang di dalam sana?pikir Edward dan Emil saling bersamaan di benak mereka masing-masing.
Kembali mereka mempertajam pendengarannya,memastikan kali-laki yang di sekap adalah Nicko.
__ADS_1
Edward begitu tidak sabar,dia ingin masuk dan memukul penjaga yang sombong dan kasar pada perempuan.
Emil memegang tangan tuannya,agar lebih menahan keinginannya untuk masuk dan menghajar mereka.Dia menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar Edward diam saja.
Edward mendengus kesal,dia kembali berjongkok dan mendengarkan suara yang di dalam.
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari arah depan,rupanya perkelahian terjadi di sana.Emil dan Edward kini waspada,lalu mereka berlari ke arah depan.Situasinya sangat tegang sehingga Edward tidak bisa memastikan apakah yang di sekap itu benar-benar kakaknya.
Sebelum maju kedepan,Emil menahan Edward untuk menampakkan diri.Dia harus waspada,dan ternyata kedua pengawalnya kena bekuk oleh penjaga yang tinggi dan kekar.
Mereka di bawa masuk ke dalam rumah.Entah mereka di apakan,mungkin mereka akan di interogasi.Tapi Edward yakin kedua pengawalnya itu tidak akan membuka identitasnya.
Tapi di sela-sela kekhawatirannya,dia mendengar suara teriakan dari dalam.
"Cari mereka yang tersisa di luar! Pasti ada lagi teman-temannya.Dan kau,cepat kamu pergi ke bukit laporkan semuanya pada bos Rey,kita sepertinya sudah ketahuan.Bawa ponselnya."
Belum selesai teriakan itu,dengan cepat Edward maju ke depan dan mendobrak pintu itu,sehinga orang yang di dalam kaget.
Emil yang tidak mengetahui tindakan Edward juga terkejut,mau tidak mau dia ikut maju ke depan,masuk mengikuti Edward di belakang.
Penjaga di dalam langsung menyerang Edward dengan cepat,penjaga yang tinggi besar juga ikut menyerang Edward,tapi di tangkis oleh Emil yang sudah siap melawan mereka.
Perkelahianpun tidak bisa di hindari,dua lawan tiga orang.Dan perkelahian itu cukup lama karena kedua ketiga penjaga sangat kuat,Emil langsung mengakhiri perkelahian itu.Dia membekuk penjaga tinggi dan sangar.Dia terjatuh,mulutnya berdarah.
Emil masih siaga,dia melirik Edward yang masih menghadapi kedua penjaga,tapi seketika keduanya langsung roboh.
Pengawal yang tadi tertangkap di bebaskan dan berjaga pada kedua penjaga yang sudah lumpuh.
Edward masuk lebih dalam,di mana dia mendengar dari luar tadi suara perempuan.Dia membuka setiap pintu ruangan.Dan pintu ruangan paling belakang,dia melihat ada perempuan yang sedang terikat.
Tampak pintu belakang terbuka,namun Edward langsung menuju ruangan yang tertutup itu.
Keadaanya biasa saja,namun dia kaget dengan perempuan itu,begitu juga sebaliknya.Dia meronta ingin melepaskan ikatannya,Edward membantu membuka ikatannya.
"Kamu sendirian di sini?"tanya Edward masih melepas ikatannya.
"Tadi sih sama orang yang di sekap di kamar sebelah,tapi dia keburu di bawa lari."
"Kurang ajar!"
Edward lalu berlari keluar dari ruangan tempat di mana laki-laki yang di pastikan itu adalah Nicko Edward kembali melihat pintu belakang yang terbuka,kemudian dia berjalan cepat ke depan.
"Emil,kak Nicko di bawa lari,cepat kita kejar mereka.Dan kalian bawa perempuan itu keluar."perintah Edward.
Setelah ketiga penjaga itu di ikat tangan dan kakinya.Edward dan Emil langsung keluar mengejar orang yang membawa kabur kakaknya.
_
_
_
☆☆☆☆☆
\=> 😉😊🙏🙏
__ADS_1