Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
38.Interogasi


__ADS_3

Pak Imron masih diam,tatapan sengit dia tujukkan ke arah Edward.Kemudian senyum sinisnya mengembang.


"Apa yang kamu ingin tahu dariku?"tanya pak Imron,seolah sadar akan maksud dari penangkapannya itu.


"Hahaha....,kamu sudah menyadarinya? Bagus kalau begitu,aku tidak perlu lagi memancing-mancing ikan untuk memberi umpan."ucap Edward dengan bahasa kiasannya.


Pak Imron masih menatap sinis Edward,dia tidak memyangka akan tertangkap dengan mudah.Apa lagi seperti kucing yang ketangkap basah mencuri ikan di dapur.


"Aku hanya ingin bertanya,siapa di balik penculikan kakakku?"tanya Edward langsung saja.


"Hehm,kamu masih belum peka juga tuan muda,siapa dalang dari semua kekacauan keluargamu?"tanya pak Imron dengan tegas.


"Aku tahu,hanya saja aku ingin secara tahu dari orang suruhannya langsung."


"Menarik,bisa untuk negosiasi dalam mendapatkan uang lebih banyak lagi di bandingkan penculikan tetanggaku.Aku ingin mengajukan,bagaimana kalau aku minta uang sepuluh miliar untuk informasi dariku?"kata pak Imron.


Jiwa brengsek dan matrealistis sedang dia gunakan untuk memanfaatkan apa yang dia tahu.


"Oh ya?menarik juga tawarannya,tapi aku lebih suka dengan cara menyiksamu terlebih dulu pak Imron.Kamu belum tahu Edward Alexander?"


"Hahaha...,silakan saja.Saya bekerja karena benar-benar cari uang.Sekalipun kamu menyiksaku,aku akan tetap bungkam.Lebih baik gunakan kecerdasanmu tuan muda.Kamu butuh informasi,aku butuh uang."


"Oh benar juga.Agar anakmu yang di rumah sakit jiwa tetap di rawat di sana.Ck ck ck..."


Rahang pak Imron mengeras,matanya membelalak.Sedetik kemudian kembali normal,senyumnya memgembang.Dia tidak menyangka Edward mengetahui keadaan anaknya yang di rawat di rumah sakit jiwa.


"Pasti Aya yang memberitahumu,ck ck ck.Sekalipun aku membiayai perawatannya aku tidak peduli dia sembuh atau tidak,yang aku butuhkan hanya uang."


"Ternyata,sikap alim dan sopan santunmu di pesantren hanya kedok belaka.Sifat busukmu benar-benar menjijikkan.Apa hanya ada uang di pikiranmu pak Imron?"


"Aku sudah bosan hidup susah.Semua orang seakan mudah sekali mendapatkan uang banyak.Memang benar,di pikiranku hanya ada uang.Sama dengan maling uang rakyat di departemen pemerintah,mereka hanya berpikir uang adalah segalanya.Jadi apa salahnya aku mencari uang banyak dengan cara seperti mereka?"


"Baiklah,berapa yang kamu minta?"tanya Edward lagi.


"Anda sungguh tidak sabar tuan muda.Sudah aku katakan,aku minta sepuluh miliar untuk semua informasi dan juga jadi saksi kebenaran."kini pak Imron tidak main-main.


Edward memandang pak Imron tajam,dia ingin memastikan semua informasinya harus akurat.Akan sia-sia saja jika hanya setengah-setengah.


Edward meninggalkan ruangan itu,dia masuk ke dalam kamarnya.Lalu berpikir sejenak.Kemudian dia memanggil pengawalnya.


"Bagaimana Emil,apa dia bisa di hubungi?"


"Belum tuan muda."


Edward mengambil ponselnya,kali ini dia mencoba keberuntungan.Siapa tahu Emil sedang di perjalanan menuju kota.


Tut tut tut


Masih belum bisa di hubungi.Ini tengah malam,mungkin besok pagi akan tersambung.Pikirnya.


"Biarkan laki-laki tua itu,kita istirahat saja dulu.Besok kita interogasi lagi,sekalian kamu hubungi terus Emil.Suruh datang kemari."


"Baik tuan muda."


Lalu pengawal itu keluar dari kamar Edward,lalu menutupnya pelan.


Edward berbaring,menerawang jauh ke pesantren.Mengingat Aya yang sudah satu bulan lebih tidak bertemu dengannya.Dia tidak menyangka,rasa rindunya semakin menggebu.Apakah memang seperti ini namanya jatuh cinta?


_


Jam lima pagi,Edward sudah bangun dan melaksankan sholat subuh berjamaah dengan tiga pengawalnya yang kebetulan sedang berjaga.


Sedangkan dua orang menjaga kamar di mana pak Imron di sekap.Sekali pun di sekap,pak Imron selalu di beri hak untuk makan.Namun masih di ikat juga di awasi dengan ketat.

__ADS_1


Walaupun dia bukan orang yang pandai berkelahi,tapi otaknya cukup cerdik untuk bisa mengelabui pengawal.Dan Edward tidak ingin pak Imron sampai kelaparan,bagaimanapun dia manusia yang harus di beri makan sekalipun itu buronan.


Edward sudah selesai sholat,dia mencoba untuk menghubungi Emil,dan tersambung.


"Halo tuan muda,ada apa?"tanya Emil di seberang sana.


"Kamu sudah ada di kota?"tanya Edward.


"Saya baru sampai di apartemen,tuan muda.Ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu sibuk?"


"Tidak."


"Bisa kamu kemari menyusulku?"


"Kenapa tuan muda?Apa sulit menangani pak Imron?"


"Ck,kamu jangan meremehkanku.Aku hanya ingin dengar kabar tentang Aya padamu."elak Edward.


"Saya tidak sibuk tuan muda.Mungkin akan ke kantor dulu bertemu direktur kemudian menyusul tuan muda."


"Aku sharelock tempatnya."


"Baik tuan muda."


Lalu Edward menutup sambungan teleponnya dan meletakkannya di meja.Dia kembali berbaring kembali di ranjang kasur kapuknya.


Tidak ada kata mewah di tempat ini,hanya ada kasur kapuk serta meja dan lemari kecil.Tapi dia tidak masalah,di pondok malah lebih kecil ukuran ranjangnya.


Tok tok tok


Pintu kamar di ketuk dari luar.Edward bangun dari tidurnya,kemudian.melangkah ke arah pintu dan membukanya.


"Ada apa?"tanya Edward pada pengawal yang tadi mengetuk pintu itu.


"Boleh,kamu belikan nasi dengan lauk ayam kecap."kata Edward.


Tiba-tiba dia rindu makanan Aya yang pernah dia makan waktu itu di sawah.


"Baik tuan muda."


Lalu pengawal itu pergi meninggalkan Edward,tapi Edward memanggilnya kembali.


"Tunggu,ini uangnya dan jangan lupa kamu sekalian beli sarapan juga buat pak Imron."kata Edward menyerahkan uang dua lembar berwarna merah.


"Baik tuan muda."ujar pengawal itu.


Edward lalu masuk lagi ke dalam kamarnya,dia belum mau mengintrogasi pak Imron lagi.Pengawal yang bertugas menjaga pak Imron pun di ganti,karena mereka juga belum istirahat malam.


_


Edward kembali masuk ke dalam ruangan di mana pak Imron di sekap olehnya.Dia duduk seperti biasa,memperhatikan pak Imron yang duduk tenang walau dirinya di ikat dan di bungkam mulutnya dengan lakban.


Edward ingat ketika Aya di sekap seperti ini,duduk terkulai lemas tidak seperti pak Imron sekarang.Wajah Edward kini berubah dingin memgingat dulu Aya di sekap,ada rasa marah kembali muncul di hatinya pada pak Imron.


Namun dia tahan,walau tangannya masih terkepal.Mungkinkah dia ingin membalas dendam dengan itu?


Kemudian Edward membuka lakban yang menutup mulut pak Imron dengan cepat,sehingga pak Imron sedikit kaget.


"Anda begitu tenang pak Imron?"tanya Edward membuang nafas agar amarahnya pada pak Imron tidak dia lampiaskan.


"Ya tuan muda,aku sangat yakin jika anda akan memberikan uang yang aku inginkan."kata pak Imron dengan penuh keyakinan dan senyum miringnya mengembang.

__ADS_1


"Oh ya? Mm..,bisa jadi aku akan berikan uang padamu."kata Edward lagi.


"Hahaha...,tentu saja tuan muda.Aku sangat yakin kamu akan memberikan uangnya.Karena informasi yang aku punya sangat akurat dan benar."ucap pak Imron dengan menatap Edward penuh keyakinan.


Senyum smiriknya mengembang,dia yakin orang di depannya akan mengikuti permainan dia.Pikir pak Imron.


Dan Edward membalas tatapan pak Imron dengan begitu tenang.


"Seberapa banyak kamu mengetahui informasi itu?"


"Ku kira dari mulai rencana sampai eksekusi."


Edward memasukkan kedua tangannya di saku celana.Dia berjalan mengitari pak Imron sambil tangannya di dalam saku menyalakan rekaman di ponselnya.


"Baik,katakan padaku sejauh apa yang kamu tahu tentang rencana dari saudaraku itu?"tanya Edward.


Dia tahu,pak Imron tidak mudah di bohongi dan di akali.Harus bisa bermain taktik cerdik.Orang tua itu sangat licik,namun demikian cara kerjanya benar-benar untuk uang dan kesenangannya saja.


"Bukankah sudah aku katakan tuan muda,aku butuh uang dan anda membutuhkan informasi."kinu dengan wajah penuh kesriusan pak Imron menatap Edward.


"Apa yang akan kau lakukan dengan uangmu nanti?"


"Aku akan pergi jauh,bila perlu ke luar negeri.Jika aku dapatkan uangku,aku tidak akan mengganggu keluargamu Edward Alexander."ucap pak Imron menekankan.


"Baik,aku akan siapkan uang,berapa yang kau minta?"


"Aku sudah bilang,sepuluh miliar cukup untukku."


Edward kini menelepon Emil.Dia meminta untuk menyiapkan selembar cek.


"Halo,Emil kamu siapkan cek sepuluh miliar."


"Buat apa tuan muda?"


"Untuk mendapatkan informasi penting dari tua bangka yang sudah bau tanah."kata Edward melirik pak Imron.


Pak Imron tentu saja tertawa terbahak mendengar ucapan sindiran Edward untuknya.Dia memang laki-laki tua brengsek dan pandai bersandiwara.


"Baik tuan muda."


Lalu Edward menutup teleponnya,dia melangkah mendekat pada wajah pak Imron.Senyum pak Imron mengembang sembari matanya menatap Edward.


"Sekarang ceritakan bagaimana sepupuku terlibat perencanaan penculikan."


"Kenapa anda tidak menangkapnya langsung?"


"Karena ini untuk bukti buat mamaku,dia tidak percaya saudaranya yang melakukan penculikan itu."


"Mm,,menarik.Kalau begitu aku akan menunggu asistenmu datang membawa selembar cek itu."


"Kamu memang licik dan cerdik,baiklah.Aku lelah meladeni seorang laki-laki tua yang licik."


"Hahaha...!!"


Suara tawa pak Imron menggelegar seisi kamar,hingga membuat pengawal yang menyaksikan pak Imron tertawa jadi bergidik.


Edward melangkah keluar kamar,karena waktu sholat zubur sudah masuk.Dia aka sholat dan beristirahat,kepalanya pusing terasa berat.


Ternyata dia laki-laki jenius tapi ada yang melebihinya.Bukan,pak Imron bukan jenius tapi licik.


_


_

__ADS_1


_


☆☆☆☆☆


__ADS_2