
Baik Edward dan Emil menatap laki-laki yang berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang.
Edward bersungut,lalu kembali menatap Emil lagi.
"Ada apa dengan kalian?"tanya laki-laki itu yang ternyata adalah Edrick.
Dia masuk dan duduk di sofa masih menatap keduanya,beralih ke Emil yang tertunduk.
"Katakan,apa yang akan kamu jelaskan padaku?"tanya Edward lagi pada Emil dengan tatapan tajamnya.
"Tuan muda duduk dulu,saya akan jelaskan sambil duduk."kata Emil lagi menenangkan majikannya itu.
"Jangan bertele-tele Emil,katakan apa yang terjadi pada Sania waktu itu!"suara Edward menggelegar.
Dia sudah tidak sabar,Emil mempermainkannya.Dia sudah sangat sabar sejak tadi,namun Emil masih belun mau mengatakan apa pun.
Lalu dengan terpaksa Emil menceritakan kejadian waktu itu,yang awalnya dia sedang bertemu klien menggantikan Edward yang pulang ke Indonesia.Kemudian selesai pertemuan itu dia melihat Sania dari jauh sedang duduk yang terlihat mabuk,namun bukan mabuk seperti sesuatu menyelimutinya.
Datang seorang laki-laki menarik Sania,tapi Emil keburu datang menarik kembali sampai terjadi percekcokan.
Pada saat itu Sania sudah di liputi kabut gairah hingga tanpa sadar Sania memeluk Emil dan hampir menciumnya
Baru setelah di dalam mobil Sania bertingkah aneh,dan Emil menyadari itu.Dengan melajukan mobilnya,Emil harus cepat sampai di apartemen Edward,dia akan memandikan Sania atau mengguyur Sania di air yang dingin.Namun ternyata efek obat itu sangat cepat bekerja.Dan Emil tidak bisa menghindarinya.
Emil diam,sampai cerita di mana dia membantu Sania pelepasan,dia belum menceritakannya.
"Lalu apa yang kamu lakukan,hah?!"
"Edward,jangan marah sama Emil."kata Edrick membela Emil.
"Diam kamu,ini tidak ada hubungannya denganmu.Jadi jangan ikut campur."ujar Edward pada Edrick.
Edrick diam,dia harus menunggu apa yang akan di lakukan sahabatnya itu pada asistennya.
"Saya,membantu nona Sania tuan muda."ucap Emil ragu,dia merasa bersalah.
"Apa yang kamu lakukan pada adikku?!"
"Saya tidak melakukan apa-apa tuan muda,sudah saya katakan saya hanya membantu nona Sania.Maafkan saya,tapi waktu itu terdesak sekali,nona Sania memang harus di tolong."ucap Emil lagi.
"Brengsek kamu Emil!"
Edward memukul Emil dengan keras dan tidak terduga.Edrick langsung menarik lengan Edward yang sudah kalap.Dia mendorong Edward untuk menjauh dari Emil yang sejak tadi hanya diam.
Emil tahu dia salah,namun ada yang harus menjekaskan secara jelas pada Edward agar Emil tidak menjadi sasaran kemarahan Edward saat itu juga.
"Edward,kamu tidak tahu yang di maksud Emil menolong Sania itu apa,hah?!"kini Edrick yang marah pada Edward.
Edward masih menatap tajam pada asistennya itu.
"Apa yang kamu tahu?"tanya Edward yang heran sejak tadi Edrick membela Emil.
Edrick menghembuskan nafas kasar,lalu dia menatap Edward dan ke Emil lalu ke Edward lagi yang masih dengan dada memburu.
__ADS_1
"Apa kamu tahu ceritanya?"tanya Edward kini marah pada Edrick.
"Ya,aku tahu ceritanya.Emil tidak melakukan seorang laki-laki brengsek.Sudah dia katakan kalau dia hanya membantu Sania untuk melepaskan dari obat perangsang itu.Dia tidak sebejat apa yang kamu pikirkan,dia masih berpikir normal tapi dia sendiri tersiksa dengan itu.Apa kamu pikir menyelamatkan seorang perempuan dalam keadaan gairah tinggi dan agresif itu mudah?Tersiksa,dia tersiksa dengan itu.Dan kamu harus ingat Sania masih suci.Emil belum menyentuhnya,hanya menggunakan cara lain untuk menyelamatkan Sania.Kamu harus berterima kasih pada asistenmu itu."kata Edrick panjang lebar.
Dia kesal Edward hanya mengedepankan emosinya saja.Edward menatap Emil yang masih tertunduk dalam.
"Dan kamu sendiri tahu memahan gairah laki-laki itu susah,apa lagi ada perempuan menggodanya.Tapi Emil bisa melakukan itu,dia tahu batasannya.Dia takut kamu marah,dia memikirkan keluarganya dan dia juga memikirkan nasibnya nanti bagaimana.Dan dia di minta oleh adikmu untuk tidak mengatakan apapun padamu,Edward."ucap Edrick lagi,kali ini lebih tenang.
Edward sendiri sekarang lebih tenang,dan sekarang memikirkan siapa yang membuat Sania seperti itu.
"Lalu,siapa yang membuat Sania seperti itu?"tanya Edward akhirnya lebih bisa berpikir positif.
"Nathalie."jawab Edrick.
"Apa?!"teriak Edward lagi.
"Nona Sania bertemu Nathalie sebelumnya tuan,dia mengajak nona Sania pergi ke klub malam di mana saya bertemu klien itu.Memang dia tadinya pergi dansa di lantai dansa,tapi mungkin nona Sania haus dan dia meminum jus yang di berikan Nathalie.Dari situ nona Sania berubah agresif."kata Emil menjelaskan.
"Kurang ajar,ternyata dia masih penasaran denganku.Aku tidak menyangka Nathalie berbuat sampai sejauh itu."ucap Edward geram,dia benar-benar marah pada gadis itu.
"Setelah kejadian itu nona Sania juga bertemu Nathalie di minimarket dan mereka bertengkar,Nathalie memang sengaja ingin menghancurkan anda tuan muda melalui nona Sania.Setelah mencelakai non Aya tidak bisa."kata Emil lagi.
"Apa dia masih di negara ini? Aku ingin membuat perhitungan padanya."kata Edward pada Edrick.
Dia tahu Nathalie adalah saudara jauh Edrick.Dia ingin memastikan Nathalie tidak bisa berbuat seperti itu lagi.
"Besok dia akan pulang ke negaranya.Aku sudah mengurus kewarganegaraannya di rubah kembali ke negaranya.Emil memintaku waktu itu untuk mendeportasi Nathalie.Dulu juga aku sudah mengancam dia,tapi rupanya dia belum juga sadar dan tidak mengindahkan ucapanku.Aku minta maaf atas semua kelakuannya Ed."kata Edrick yang kembali manggil Edward dengan akrab.
Edward diam,seharusnya bukan Edrick yang meminta maaf,tapi Nathalie.
"Dan jika kamu macam-macam pada Emil,aku juga tidak segan mendeportasimu,Ed."kata Edrick bercanda.
Edward hanya tersenyum saja,lalu dia memandang Emil.
"Maafkan aku,Emil.Aku hanya tidak mau terjadi apa-apa pada Sania.Dia terlalu manja dan ceroboh,sekali lagi maafkan aku dan terima kasih."ucap Edward dengan tulus.
Emil hanya tersenyum saja.
"Saya mohon jika anda bertemu nona Sania jangan memarahinya tuan muda.Dia juga ketakutan dan sangat malu."ucap Emil pada Edward.
"Baiklah,aku akan terima saranmu."kata Edward.
"Tunggu dulu,kamu tahu dari mana?"tanya Edrick pada Edward.
Dia yakin Emil tidak mungkin menceritakan itu pada Edward.
Edward melempar beberapa poto Sania pada Edrick.Edrick kaget,namun dia melihat poto-poto itu.
"Aku tidak tahu siapa pengirim paket itu,tapi memang kemungkinan Nathalie yang mengirimkannya ke apartemenku pagi-pagi."kata Edward,dia duduk bersandar di sofanya.
"Wah,dia benar-benar sudah merencanakan semuanya."
"Ya,itulah Nathalie.Perempuan licik dan obsesif."
__ADS_1
"Ternyata sebelum dia pulang ke negaranya,dia sudah mempersiapkan kejutan buatmu,Ed."kata Edrick.
Edward mendengus kesal,bisa-bisanya dia bercanda seperti itu.
"Apa yang akan kamu lakukan pada Sania?"tanya Edrick lagi.
"Entahlah,aku harap tidak ada insiden seperti itu lagi.Aku pusing memikirkannya."kata Edward.
"Kalau Sania seperti itu lagi,panggil Emil.Dia bisa menjinakkan Sania,walau juniornya meronta."kata Edrick melirik Emil yang duduk santai namun salah tingkah.
"Kamu mendoakan adikku yang tidak baik,Edrick?"tanya Edward sinis,dia tidak suka ucapan Edrick seperti itu.
"Tidak,ada baiknya kamu jodohkan adikmu dengan asistenmu itu,dia pandai menjaganya."ucap Edrick lagi dengan tertawa kecil.
Edward menatap sahabatnya itu tajam,lalu mendengus kasar.Kemudian dia melirik Emil,seolah menyelidik bagaimana dengan asistennya itu.
Emil tahu Edward melirik padanya,dia hanya menunduk saja.
Telepon Emil berbunyi,dia mengambil ponselnya dan terlihat di sana nama Sani muncul.Dia menatap Edward ragu,apa yang akan dia lakukan.
"Siapa?"tanya Edward.
"Nona Sania,tuan muda."jawab Emil ragu.
"Angkat saja,besarkan volumenya."kata Edward lagi.
Dia ingin tahu apa yang di katakan oleh adiknya itu pada Emil.
"Halo nona,ada apa?"tanya Emil.
"Kak Emil tidak bilang kan sama kak Edward?"tanya Sania.
Emil diam,dia melihat Edward yang sama melihat padanya begitupun juga Edrick.Tangannya bertopang dagu.
"Kak Emil,kenapa tidak jawab?"
"Aku sudah tahu Sania,apa yang akan kamu lakukan hah?!"
Klik.
Sambungan telepon terputus,Emil menatap Edward yang masih kesal pada adiknya.
"Jangan memarahi nona Sania tuan muda,sudah saya katakan dia juga menyesal dan merasa malu."ucap Emil lagi.
"Ed,sudahlah.Jangan di perpanjang lagi,dia adikmu.Saya yakin dia juga punya pikiran untuk memikirkan rasa malu dan rasa bersalah.Benar kata Emil,kamu jangan marah lagi padanya.Semua sudah selesai,Nathalie sudah di deportasi dan Sania baik-baik saja.Apa yang kamu ingin marah?"kata Edrick menengahi.
Jika tidak ada Edrick,mungkin Edward marah dan membabi buta pada Emil.Dan Sania akan terkena juga.
Akhirnya setelah berpikir,Edward pun mengucapkan istighfar.Dia akan melupakan semuanya,yang penting tidak ada masalah kedepannya.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆