
Seperti kata Edward,Emil pergi ke bandara untuk menjemput adik majikannya itu.
Emil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang,karena Sania akan landing pukul delapan malam.Sania sudah di beritahu kalau Emil yang akan memjemputnya di bandara.
Sebelum sampai di bandara,dia mampir dahulu di coffe shop,menenangkan pikiran dengan kopi latte kesukaannya.
Emil masuk ke dalam coffe shop dengan suasana temaram yang memang di buat untuk para penikmat kopi yang suka dengan kesunyian.Di mana pelanggannya hanya orang-orang yang suka menyendiri dengan kesibukan dalam gadgetnya.
Ya,orang-orang seperti Emil yang mengurusi semua masalah kantor ataupun mahasiswa akhir yang harus menyelesaikan tugas akhirnya di coffe shop ini.
Emil memilih duduk di pojokan,sembari melihat orang lalu lalang sepulang dari kerjanya atau sekedar jalan-jalan bagi para pelancong dari berbagai negara yang sedang berkunjung di negeri ratu Elizabeth II itu.
Pelayan menghampiri Emil yang sedang menatap ke arah jendela,menikmati suasana ramai di jalan dari dalam.
"Pesan apa,tuan?"tanya pelayan dengan sopa.
"Coffe latte satu."jawab Emil.
"Ada lagi?"
"Tidak,terima kasih."
"Di tunggu pesanannya tuan."
Lalu pelayan pergi membuat pesanan Emil.
Emil melirik jam yang melingkar di tangannya.Baru pukul enam tiga puluh.Cukup satu jam lebih dia menikmati kopi lattenya di coffe shop ini.
Sambil melihat-lihat ponselnya,dia memeriksa beberapa dokumen yang memang sudah dia serahkan untuk di tanda tangani Edward.
Besok pagi dia harus menyelesaikan penanda tanganan dokumen,agar selanjutnya dia tidak kerepotan ketika bosnya pulang ke Indonesia untuk melangsungkan resepsi pernikahan.
Emil tidak pulang ke Indonesia karena dia yang mengurus perusahaan Edward di negara ini.
Tak berapa lama pesanan Emil datang,dari jauh aroma latte sangat terasa.Emil mengendus dengan kuat aroma latte itu.
Pelayan menaruh kopi latte itu di meja,lalu berlalu menuju belakang lagi.
Dia menyeruput kopinya,matanya terpejam menikmatinya.Dia sangat suka sekali menikmati kopi sambil memejamkan mata,rasanya seperti terjun bebas melepaskan segala penat.
Dia letakkan lagi kopinya,lalu melanjutkan memeriksa dokumen di gadgetnya.Lama dia memeriksa,hingga tak terasa waktu sudah pukul tujuh tiga puluh.
Emil menutup aplikasi dokumen perusahaan,dan mengakhiri pemeriksaannya.Dia menyeruput kopi latte untuk terakhir kalinya.Lalu dia meletakkan uang di meja dan langsung bangkit dari duduknya dan keluar,memeruskan niatnya untuk menjemput Sania.
_
Sampai di bandara,Emil menelepon nomor Sania,tapi rupanya Sania belum mengaktifkan ponselnya semenjak dia turun dari pesawat.
Akhirnya Emil mengambil kertas dan menulis nama Sania lebih besar,agar Sania menyadari namanya tertera setelah Emil mengacungkan kertas bertuliskan Sania.Dan dia akan langsung menghampirinya.
Benar saja,Sania melihat ada kertas di acungkan dengan tulisan namanya.Dia melihat siapa yang menjemputnya,lalu dia menghela nafas lega.Ternyata Emil,sang asisten kakaknya.
__ADS_1
Sania menghampiri Emil,lalu dia menyerahkan koper pada Emil.
"Kak Emil ya yang bawa kopernya."kata Sania.
Emil hanya mengangguk saja,dia berpikir memang itu tugasnya.
Sania mengikuti Emil dari belakang,karena dia tidak tahu mobil yang di bawa Emil untuk menjemputnya.
Tak jauh dari bandara,hanya butuh lima ratus meter untuk sampai di parkiran dari bandara.
Emil membuka bagasi dan menyimpan koper Sania,lalu dia masuk ke dalam mobil.Dia belum menjalankan mobilmya,heran dengan Sania yang duduk di depan bersamanya.
"Nona kenapa anda duduk di depan?"tanya Emil.
"Aku pengen duduk di depan kak."kata Sania.
Dia mengibaskan rambutnya yang bergelombang.Sejenak Emil terpaku,namun dia berpaling ke arah samping jendela dan membuang nafas kasar.
Kemudian dia menjalankan mesinnya,melaju dengan kecepatan rata-rata menuju apartemen Edward.
"Kak,kita mampir di coffe shop ya,aku pengen ngopi soalnya."pinta Sania.
"Baik nona."jawab Emil.
Satu jam mobil melaju dengan lambat,karena Sania meminta Emil untuk melambatkan laju mobilnya,dia ingin menikmati pemandangan kota London di malam hari.Walaupun dia sering menikmatimya jika ada di kota ini,namun tetap saja dia suka kota London di malam hari.
Mobil Emil pun berhenti di depan coffe shop yang tadi dia mampir sebelum menjemput Sania.Dia mempersilakan Sania masuk sendiri,karena dia sudah lebih dulu ke coffe shop itu.
"Nona masuk saja ke dalam,saya tunggu di mobil."kata Emil.
"Tidak nona,saya sudah ngopi tadi di sini sebelum menjemput nona."tolak Emil.
"Emm baiklah,kakak tunggu di mobil saja."kata Sania.
"Waktunya hanya lima belas menit,nona.Karena kakak anda memberikan waktu sampai jam sepuluh malam harus sudah sampai di apartemen."kata Emil lagi mengingatkan.
"Kok sebentat banget sih?"
"Maaf nona,itu perintah kakak anda."ucap Emil lagi.
Sesungguhnya dia ingin cepat sampai di apartemennya juga untuk beristirahat,namun adik majikannya itu memintanya berhenti di coffe shop.
Sania pun akhirnya masuk,tidak membantah apa yang di sampaikan Emil tadi.Dan Emil akan mengawasi Sania dari mobil sambil kembali memeriksa dokumen di gadgetnya.
Sesekali Emil melihat Sania dari dalam mobil,dia melihat Sania yang sedang berbicara dengan laki-laki pengunjung coffe shop itu.Lalu dia kembali menatap gadgetnya.
Ponselnya berbunyi,nama tuan muda tertera di sana.Emil sigap mengambil ponselnya dan memencet tombol warna hijau.
"Ya tuan muda?"tanya Emil.
"Kamu di mana Emil?"tanya Edward di seberang sana.
__ADS_1
"Saya sedang di coffe shop tuan muda.Nona Sania pengen mampir ke coffe shop."jawab Emil.
"Jangan lama-lama,dia kalau tidak di ingatkan akan kemana-mana nantinya."ucap Edward mengingatkan.
"Baik tuan muda."
"Langsung pulang ke apartemen setelah dari coffe shop."
"Baik tuan muda."
Lalu sambungan telepon terputus.Emil meletakkam lagi ponselnya di dashboard,kemudian dia melihat lagi Sania yang masih di dalam sana.Dia seperti menikmati di sana,apa lagi ada laki-laki yang entah siapa menemaninya santai sambil minum kopi.
Emil melihat jam di tangannya,sudah pukul sepuluh kurang tujuh menit.Emil keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam coffe shop,mengingatkan Sania untuk segera pulang ke apartemen kakaknya.
"Nona,tadi kakak anda menelepon,agar anda segera pulang."kata Emil.
"Baru juga datang kak,kok harus cepat pulang sih."kata Sania protes.
"Tapi tuan muda mengingatkan anda untuk segera pulang karena ini sudah malam."kata Emil lagi.
Sania cemberut,dia kesal dengan asisten kakaknya itu,kenapa tidak bisa beralasan yang bisa masuk akal.
"Aku kan tidak pergi ke klub,hanya di coffe shop aja.Sebentar lagi ya kak."kini Sania memohon.
Pasalnya jika dia di Inggris dan ada kakaknya yang setiap kali bertemu pasti ribut.Tapi kalau di Inggris dia benar-benar di jaga ketat oleh kakaknya itu.
Dulu saja dia di tugaskan menjaga perusahaan Edward karena ada Edrick.
"Nona,anda jangan membantah lagi."ucap Emil lagi tidak mau memberi toleransi.
"Sepuluh menit kak,sepuluh menit lagi langsung pulang."tawar Sania.
Emil mendengus kesal,tapi dia akhirnya memberikan waktu juga.
"Lima menit,tidak ada tawaran lagi."
Dengan berlalu,Emi meninggalkan Sania yang masih cemberut karena waktu berkurang setengahnya.
Apa boleh buat,akhirnya Sania memanfaatkan waktunya untuk menikmati kopi yang dia pesan.Lima menit waktu berlalu begitu cepat,Sania meneguk habis kopinya lalu beranjak pergi keluar dari coffe shop itu dan masuk ke dalam mobil.
Kini dia duduk di belakang,menghembuskan nafas kasar karena kesal harus pulang lebih cepat.Dia melirik Emil yang sedang menatapnya dari kaca,lalu pandangannya di alihkan lagi ke arah jendela.
Emil yang di depan hanya melihat adik dari bosnya itu dari kaca spion,lalu menggelengkan kepalanya saja.
Tanpa menunggu lagi,Emil langsung menjalankan mobilnya pulang menuju apartemen Edward.
Malam di kota London sangat indah,beberapa orang menikmati suasananya sampai tengah malam di kafe-kafe atau di klub-klub malam.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆