Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
90.Pembicaraan Serius


__ADS_3

Pak Robert menyuruh Emil pulang ke Indonesia,dia ingin membicarakan tentang hubungan Sania dan Emil. Dia juga akan menyuruh Edward untuk mencari pengganti Emil jadi asistennya.


"Sayang,aku ke bawah dulu ya. Papa mau bicara serius sama aku."kata Edward pada Aya.


"Mengenai apa bie?"tanya Aya.


"Entah,mungkin masalah pekerjaan atau acara empat bulanan anak kita."jawab Edward.


Dia merapikan anak rambut yang menpel di pipi istrinya,kemudian menciumnya.


"Tapi kalau masalah empat bulanan biasanya perempuan yang repot. Mama kan yang mengurusi semuanya."


"Ya tidak tahu juga sayang,ya sudah aku ke bawah dulu ya. Jangan tidur,aku mau makan kamu nanti malam"kata Edward mengerlingkan matanya pada istrinya.


Aya hanya tersenyum malu,Edward pun tertawa senang kalau Aya senyum malu-malu seperti itu. Dia lalu menyambar bibir mungil itu dan memcumbunya sebentar.


"Sudah ya,nanti keterusan."kata Edward menyudahi ciumannya.


Lalu dia beranjak pergi dari hadapan istrinya dan melangkah keluar menemui pak Robert yang sudah menunggunya bersama istrinya di ruang keluarga.


Edward melihat kedua orang tuanya yang duduk saling menempel,keduanya masih terlihat harmonis dan romantis. Dia salut dengan papanya,walaupun mamanya sering melakukan kesalahan dan kecerobahan karena adiknya,tapi papanya tidak memarahinya,malah papanya bertindak sendiri yang bisa membahayakan banyak nyawa agar mamanya sadar akan kesalahan adiknya dulu.


Edward menghampiri kedua orang tuanya lalu duduk di sofa yang bersebelahan dengan nyonya Karina.


"Malam pa,ma."kata Edward menyapa keduanya.


"Malam juga sayang,Aya sudah tidur?"tanya nyonya Karina.


"Belum ma,mungkin sedang menelepon kakaknya."jawab Edward.


"Papa mau bicara apa?"tanya Edward yang masih diam sejak tadi.


"Kamu tidak apa-apa kalau Emil keluar dari pekerjaannya?"tanya pak Robert.


Edward mengerutkan dahinya,dia mencerna kemana arah pembicaraannya.


"Maksudnya pa?"masih belum mengerti arah pembicaraan papanya.


"Emil kamu suruh risign dan menikah dengan Sania."ucap pak Robert tanpa basa basi lagi.


Tentu saja Edward kaget,papanya menyuruh Emil menikah dengan Sania. Apa papanya tahu kejadian di Inggris?


"Kenapa papa menyuruh Emil menikahi Sania?"


"Papa hanya tidak mau Sania ada yang menjaga selain orang dekat. Papa juga ingin Emil yang menjaga Sania,karena papa tahu Emil."ucap pak Robert.


Edward menghela nafas panjang,sejauh ini dia belum tahu apakah papanya sudah mengetahui kejadian Emil dan Sania di Inggris. Masih meraba arah pembicaraannya.

__ADS_1


"Mama selalu dengar Sania sering menelepon Emil,dan juga dia bertanya apakah dia boleh menikah. Kata mama,ya kalau ada jodohnya kenapa tidak. Eh dia malah memberi contoh Emil,jadi mama pikir Sania suka sama Emil."kata nyonya Karina.


Edward memandang mamanya,lalu tersenyum. Jadi ternyata hanya dugaan mamanya saja,dan mungkin menceritakannya pada papanya.


"Ya,mungkin juga Sania suka sama Emil. Lalu apa aku harus memecatnya pa? Bagaimana nanti dia bekerja di mana?"tanya Edward.


"Dia nanti bekerja di kantor papa,nanti papa yang pensiun dan dia yang menggantikan. Karena tidak ada lagi yang menggantikan papa selain suami Sania."kata pak Robert.


Kini tahu maksud dari papanya,dia memang setuju. Siapa nanti yang mengambil alih perusahaan papanya. Dia dan Nicko kakaknya sudah memegang perusahaan sendiri-sendiri,lagi pula papanya juga sudah tua dan kelihatannya ingin pensiun.


Dia paham kenapa Emil yang di tunjuk untuk menikahi Sania bukan karena papanya tahu tentang kejadian mereka di Inggris,karena memang pak Robert tidak percaya dengan rekan bisnisnya yang meminta perjodohan dengan anak gadisnya.


Dulu saja dia di jodohkan karena mamanya,tapi papanya sediri santai saja. Papanya tahu Edward tidak akan mau di jodohkan.


"Ya pa,aku sudah memikirkan itu. Nanti aku suruh Emil pulang ke Indonesia."kata Edward.


Lalu pembicaraan beralih ke pekerjaan masing-masing,dan tak terasa waktu menunjukkan sudah begitu malam. Nyonya Karina sudah mulai mengantuk dan sejak tadi mulutnya menguap terus.


Obrolan di sudahi dengan masuknya nyonya Karina ke dalam kamarnya,di susul pak Robert lalu Edward masuk ke kamarnya.


_


Acara empat bulanan menunggu besok saja,tapi di rumah Edward belum ada kesibukan karena hanya mengadakan pengajian saja. Salma dan Bayu sebenarnya di undang,namun Salma mulai mengidam dan baru hamil muda. Jadi tidak bisa bepergian jauh,sedangkan kyai Sobri sedang pergi ke pesantren kyai temannya,karena ada saudaranya yang meninggal.


Edward menelepon Emil untuk segera pulang dan menyelesaikan pekerjaan di sana. Setelah acara empat bulanan,Edward dan Aya akan berangkat lagi ke Inggris. Aya juga akan melahirkan di sana agar nanti tidak usah bolak balik Indonesia Inggris.


"Halo tuan muda,ada yang bisa saya bantu?"tanya Emil.


"Emil,kamu bisa pulang tidak dalam minggu ini?"


"Kenapa tuan muda?"tanya Emil heran.


"Papa mau bicara denganmu."jawab Edward. Emil diam,lalu bertanya lagi.


"Apakah ada yang serius tuan muda?"


"Ya,kukira sangat serius. Jadi bisa kan pulang?"memastikan Emil bisa pulang dalam minggu ini.


"Lalu pekerjaan di sini bagaimana tuan muda,jika saya pulang? Anda sendiri belum pasti kapan berangkat ke Inggris."


"Selasaikan yang terdekat dulu,baru nanti sisanya aku yang mengerjakan. Setelah acara empat bulanan Aya,aku langsung berangkat dengan Aya. Jadi selesaikan yang terdekat dulu."kata Edward lagi


Emil tampak berpikir,dia menebak ada apa tuan besar menyuruhnya pulang?


"Kamu jangan khawatir,papa tidak tahu kejadian waktu itu. Dan kalaupun tahu itu sangat menguntungkanmu."kata Edward lagi yang tahu kebingungan asistennya itu.


"Maksudnya apa tuan muda?" pura-pura tidak mengerti.

__ADS_1


"Sudahlah,nanti kamu tahu sendiri. Jadi kapan kamu akan pulang?"


"Mungkin empat hari lagi tuan muda,karena saya harus ke Irlandia menemui marketing di sana dan juga bagian penanggung jawabnya."


"Baiklah,aku akan kasih tahu papa kalau kamu pulang dalam waktu empat hari lagi."


"Iya,tuan muda."


"Aku berangkat tiga hari lagi,menunggu Aya kuat untuk bisa naik pesawat."


Lalu setelah obrolan itu selesai,Edward menutup sambungan teleponnya. Dia tidak keberatan jika Emil nanto jadi iparnya,dia malah setuju. Waktu dia tahu Emil menolong Sania dalam cara lain,dia semakin percaya dengan asistennya itu.


Dia akan marah jika cara Emil gunakan hanya memanfaatkan Sania yang sedang butuh pertolongan. Tapi dia tidak salah mengambil Emil,Sania akan dia jaga sepenuhnya oleh Emil.


Aya menghampiri suaminya yang masih memainkan ponselnya dan memegang pundaknya.


"Sedang apa bie?"tanya Aya


"Memeriksan data perusahaan. Ada apa sayang,kamu tidak capek kan?"Edward balik tanya.


"Tidak bie,aku kan tidak boleh ada di dapur sama mama."jawab Aya lagi.


Aya duduk di samping Edward,Edward malah menarik pinggang istrinya untuk duduk di pangkuannya dan melepas kerudung instannya.


"Aku suka kamu yang tidak pakai kerudung,lebih cantik sayang. Cup."kata Edward,bibirnya langsung menyambar bibir istrinya.


Mau tidak mau Aya tertawa kecil,dia mengibaskan rambutnya yang masih panjang dan hanya di gulung ke belakang dan masih tergerai ujungnya.


Tangan Aya menempel di leher suaminya berpegangan,mata mereka beradu lalu kembali keduanya terhanyut dan kedua bibir mereka saling menempel dan memagut lembut.


Edward mengelus perut Aya lalu naik ke atas kedua puncak kembar istrinya dan meremasnya. Satu lenguhan lolos dari mulu Aya,membuat Edward semakin bersemangat meremas kedua puncak bukitnya.


Lama mereka saling menyelami kehangatan masing- masing dan akhirnya terlepas ketika Aya sudah kehabisa nafas. Dia menarik diri dan mendorong dada suaminya pelan.


"Bie,aku sesaak."ucap Aya manja.


Edward pun melepas ciumannya,lalu menghapus bekas air salivanya di bibir Aya.


Keduanya pun tersenyum dan berpelukan.


_


_


_


☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2