
Rumah pak Robert begitu sibuk menjelang dua hari pernikahan. Sania sudah tidak di izinkan berangkat ke butik lagi. Dia kesal setiap orang di rumahnya.mengabaikan pertanyaan dan protesnya karena tidak mau di jodohkan oleh pilihan papanya yang menurutnya sudah tua dan gendut.
Justru Edward sering sekali membuat Sania marah karena selalu menggodanya.
"Sania, calon kamu itu pintar. Kamu juga harus mau dengannya." kata Edward suatu kali mereka duduk di belakang rumah.
"Pintar apanya, yang ada dia jelek. Kak Edward tolong aku dong, mumpung ini belum terlambat. Pernikahannya tinggal dua hari lagi."
"Kamu mau apa? Meminta sama papa untuk membatalkan pernikahannya?"
"Iya. Papa tega banget sih sama aku, kak Edward aja menikah sama kak Aya saling jatuh cinta, masa aku sama kakek-kakek tua sih?"
"Ya kan nanti kamu bisa menuntun kakek-kakek itu. Biasanya kakek-kakek lebih sayang sama istrinya, tapi biasanya dia sudah punya istri empat."
"Ih, kak Edward kok nakutin aku sih."
"Siapa yang nakutin. Papa bilang kamu jadi istri yang ke lima. Sayang lho dia kaya raya,pasti kalau kamu minta keliling dunia di turuti."
"Kak Edwaaaard!"
Edward pergi meninggalkan Sania yang merajuk, dia hampir menangis karena terus di goda Edward dan pikiranya sudah ketakutan jika yang di katakannya itu benar.
"Kamu kenapa teriak-teriak?" tanya Nicko yang sedang lewat di depan Sania.
"Kak Edward nakutin aku kak,. Kak Nicko tolongin aku sih bicara sama papa di batalkan saja pernikahannya. Masa anaknya jadi tumbal kakek-kakek rekan bisnis papa sih."
"Ya memang kenapa? Dalam binsis bisa saja bertukar dengan apa yang dia punya. Contohnya sekarang, kamu akan menikah dengan kakek itu. Nanti imbalan dari calon suami kamu akan di kasih rumah besar dan perusahaan papa jadi lebih maju." Nicko menambahkan cerita Edward dengan menakut-nakuti Sania.
" Kak Nicko sama kak Edward sama saja. Aku kesaal!" teriak Sania.
Sedangkan nyonya Karina hanya menggelengkan kepakanya saja.
"Pa, lihatlah anak-anakmu. Mereka seperti waktu masih kecil dulu, selalu menggoda Sania." kata nyonya Karina melihat Sania berteriak pada kedua kakaknya.
"Biarkan saja ma, papa juga suka melihat mereka seperti itu. Itu artinya mereka saling menyayangi. Papa bahagia mendengarkannya." kata pak Robert merangkul istrinya.
"Aah, dua hari lagi Sania menikah. Nicko satu bulan lagi, kita nanti jadi kesepian pa karena mereka sudah punya pasangan masing-masing." kata nyonya Karina, wajahnya sendu mengingat anak-anaknya akan menikah.
"Kan ada papa di samping mama. Setelah Emil sepenuhnya memegang perusahaan, papa akan ajak mama keliling dunia." kata pak Robert,dia mencium pipi istrinya.
"Benar pa?" tanya istrinya kembali berbinar.
"Iya. Itu impian papa sejak dulu, mengajak mama keliling dunia hanya berdua setelah anak-anak punya pasangan masing-masing."
"Duh, papa romantis sekali sih. Seperti anak muda." ucap nyonya Karina merangkukkan tangannya di pinggang suaminya.
__ADS_1
"Mama baru sadar sekarang kalau papa itu romantis?"
"Iya, papa selalu romantis kok. Mama tahu, papa selalu sayang sama mama. Buktinya mama banyak kesalahan papa selalu maafkan mama. Terima kasih ya pa." ucap nyonya Karina kembali mengeratkan pelukannya.
Mereka tidak sadar kalau ketiga anaknya di atas melihat kemesraan kedua orang tuanya.
"Mama sama papa selalu romantis ya kak, aku suka lihat mereka selalu rukun dan romantis begitu." kata Sania memeluk lengan Nicko.
"Ya, papa sangat sayang sama mama. Makanya dulu mama selalu membela om Hendro papa selalu sabar." kata Edward.
Ketiga anak pak Robert dan nyonya Karina masih melihat ke bawah pada kedua orang tuanya. Senyum mengembang di bibir masing-masing.
Hingga lamunan ketiga anak itu buyar oleh tangisan keras Ali di dalam kamar Edward.
Edward berlari masuk ke dalam, ternyata Aya tidak ada di ranjangnya. Mungkin anaknya itu haus dan Aya masih ada di kamar mandi, entah sedang buang air besar barangkali.
Dia lalu menggendong anaknya dan menimangnya, sejak anaknya lahir Edward belajar menggendong bayi. Dan sekarang dia sudah lihai menggendong Ali anaknya.
"Cup cup sayang, bunda sedang buang air di kamar mandi. Sabar ya kalau haus." ucap Edward menenangkan anaknya.
Sania masuk ke kamar Edward, memghampiri kakaknya dan mengambil keponakannya itu dari tangan Edward.
Sania mencium bau tidak sedap, dia lalu memegang pantat bayi itu dan membuka pampersnya sedikit.
"Emm, pantas aja dia nangis kak, kan tidak nyaman di bawahnya. Dia pup." kata Sania.
Edward mengambilkan pampaers dan tisu basah untuk mengelapnya. Di bukanya pampaers yang menempel itu lalu di lepas. Sania dengan telaten mengelap pantat bayi kecil itu sampai bersih. Lalu memakaikan lagi pampers yang baru.
Setelah selesai, dia serahkan lagi Ali pada kakaknya dan mencuci tangannya di wastafel.
Edward sendiri takjub dengan Sania tadi yang telaten dan cekatan membersihkan dan mengganti pampers anaknya. Apakah setiap perempuan mudah sekali melakukan kegiatan yang berhubungan dengan anak-anak?
_
Sania berguling-guling di kasurnya, dia ingin mengutarakan maksud hatinya membatalkan pernikahan yang tingga satu hari, belum terlambat pikirnya.
Lalu tanpa membuang waktu lagi, Sania pergi ke kamar kedua orang tuanya, namun dia tidak menemukan papanya. Dia kemudian menuju ruang kerja papanya, di sana dia mendengar ada suara antara papanya dan pak Dori.
Sania mengetuk pintu, kedua orang itu menoleh melihat Sania. Dan kini akhirnya pembicaraan pak Dori dan pak Robert terhenti karena pak Dori pamit untuk keluar.
Sania mendekati papanya, dia duduk di hadapan meja kerja papanya dan menatap pak Robert yang sedang memeriksa hasil laporan yang tadi di bawa oleh pak Dori.
"Pa." Sania memanggil papanya.
"Mm..," hanya deheman kecil saja tanggapan pak Robert.
__ADS_1
"Pa.."
Kembali Sania memanggil pak Robert karena tidak di perhatikan.
"Ada apa?"
Kini pa Robert menanggapi anak bungsunya itu yang sedang cemberut. Dia menghela nafas panjang, dia tahu anaknya itu pasti meminta membatalkan pernikahannya dengan calon yang ada di pikirannya itu seorang laki-laki tua dan gendut.
"Papa tega banget sih sama aku." Sania merajuk.
"Tega bagaimana?" tanya pak Robert pura-pura tidak mengerti.
"Masa aku menikah dengan laki-laki tua dan gendut teman papa itu. Masa aku di tukar dengan bisnis papa itu sih. Itu namanya menjual anak pa." pikiran Sania semakin melantur.
Pak Robert tersenyum kecil, pikiran anaknya itu benar-benar membuatnya ingin tertawa lepas. Namun dia kasihan kalau sampai itu dia lakukan. Sudah banyak yang membuat Sania semakin putus asa dengan pernikahannya itu. Kedua kakaknya terus saja menggoda adiknya.
"Masa papa menjual anak sendiri, itu ceritanya bagaimana?" tawanya keluar,namun masih dia tahan.
"Ih, kok papa malah tertawa sih?" kesal Sania karena papanya malah mentertawakannya.
"Dengar Sania, papa itu memberikan yang terbaik untuk anak-anak papa. Termasuk kamu, mana ada papa menjual anaknya demi bisnis papa." kata pak Robert.
Dia pikir mungkin itu akal-akalan Nicko atau Edward saja, kembali senyumnya mengembang.
"Tapi kata kak Nicko aku menikah karena pertukaran bisnis papa dengan laki-laki tua itu. Hik hik hik." Sania tidak bisa menahan tangisnya, berharap pak Robert membatalkan rencana pernikahannya besok.
"Kamu ucapan kakakmu saja percaya. Percaya ucapan papa, papa hanya memberikan yang terbaik untukmu sayang."
"Batalkan saja besok pernikahannya pa. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki tua dan gendut itu." masoh merajuk pada papanya.
"Kata siapa? Memang kamu tahu calon suamimu itu laki-laki gendut dan tua?"
"Ya itu, kata kak Edward."
"Sudah, pokoknya besok kamu terima saja. Tidak tahu calon suamimu siapa malah mau membatalkan. apa jadinya besok kalau di batalkan pernikahannya? Papa dan mama yang malu, kamu juga akan malu dan pastinya menyesal."
Sania diam, sia-sia sudah usahanya bicara sama pak Robert. Lalu dia bangkit dari duduknya, keluar tanpa berpamitan dengan papanya dan menutup agak kasar pintunya.
Sedangkan pak Robert sendiri hanya tersenyum lebar dan menggelengkan kepala saja.
Hari sudah sangat sore, Sania menuring diri di kamarnya. Semua sibuk mempersiapkan pernikahannya besok. Dia tidak peduli dengan semuanya, sekarang ingin menangis sepuasnya di kamar sendirian.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆☆☆